Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Segelas Wine.


__ADS_3

Setelah 20 menit lamanya.


Kiana keluar, melewati pintu kamar Jovian yang terbuka sangat lebar. Keadaanya sudah terlihat berbeda, tampak lebih segar dengan pakaian yang juga Jovian pinjamkan.


"Cukup? Aku kira akan sangat kebesaran?" Jovian yang saat ini berada di area dapur langsung berjalan menghampiri.


"Kebesaran ini juga, tapi masih bisa di akalin lah." Kiana menatap dirinya sendiri.


Jovian tersenyum, menatap apa yang Kiana pakai malam hari ini. Kaos oblong kedodoran, dengan celana pendek miliknya, yang membuat lekuk tubuh Kiana tersamarkan, namun tidak membuat penampilan Kiana terlihat buruk.


"Senyum-senyum terus." Kiana balas menatap pria yang masih betah berdiri di samping sofa ruang tengah.


Jovian segera mendekat, kemudian duduk di dekat Kiana.


"Kamu tidak marah?" Pria itu berbisik.


"Kenapa marah?"


"Karena aku sudah berbuat sangat jauh tadi."


Dia menatap manik kelam milik Jovian lekat-lekat. Sampai dia dapat menemukan cinta dengan porsi yang sangat besar di dalam netra sana.


Sementara itu tangan Jovian bergerak menyentuh rambut Kiana, menyingkirkannya ke arah belakang, dan mengusap lembut pipi gadis yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Aku tidak yakin. Kamu akan aman jika kita terus seperti ini."


Kiana menatap Jovian dalam diam.


"Berada jauh darimu, aku merasa tidak sanggup. Tapi berdekatan seperti ini justru membuat kamu berada dalam bahaya."


Tiba-tiba saja kedua sudut bibir Kiana membentuk sebuah senyuman tipis. Matanya bergerak-gerak, dengan raut wajah berbinar.


"Memangnya kenapa?"


"Karena aku takut mengambil hal paling berharga itu sebelum kita menikah." Katanya dengan suara pakan, bahkan hampir berbsisik.


"Apa orang dewasa harus melakukan hal seperti tadi? Maksudku, pria dewasa seperti kamu?" Dia mengingat kejadian itu dengan hati yang bergemuruh.


Jovian tentu saja menganggukan kepalanya.


"Apalagi jika pernah menikah. Rasanya sangat sulit menahan perasaan itu."


Kiana mengangguk paham, dia beringsut mendekat, lalu memeluk Jovian dengan segera, membenamkan wajah di dada bidang sana.


"Kamu harus tahu. Jika dengan wanita yang tidak mereka cintai saja sudah mampu menggugah nafsu. Lalu apa kabar aku? Yang memiliki banyak cinta, apa menurut kamu ini mudah? Tentu saja tidak. Ada hal lain yang ingin aku lakukan, tapi tidak boleh karena belum waktunya." Jovian mengusap-usap puncak kepala Kiana.


Mereka diam dalam posisi saling berpelukan. Membuat suasana apartemen itu kembali hening, dan hanya terdengar debaran dada masing-masing.


"Aku pernah jatuh cinta, pernah menikah juga. Tapi rasa yang sekarang ini, sungguh membuat aku tidak bisa menjabarkannya dengan kata-kata. Jika dulu aku hanya diam saat seseorang pergi, … tidak dengan sekarang! Bagaimanapun aku akan tetap mempertahankanmu, meski ribuan kali kamu akan menolak ku!" Katanya, kemudian mengecup kening kekasih hatinya dengan sangat lembut.


"Aku mencintaimu, kau tahu kan!?"


Kiana mengurai pelukannya, mengangkat pandanga, kemudian menganggukan kepala.


"Kamu bicara seperti ini seperti sedang meragukan aku tahu. Seolah-olah aku nggak percaya kalau kamu itu cinta sama aku."


Jovian menggelengkan kepalanya. Dengan raut wajah yang memang terlihat sedikit berubah.


"Ada banyak hal yang aku alami. Di sertai banyak kegagalan di dalamnya. Aku hanya takut, … jika suatu hari nanti masalah datang kepada kita, kamu akan menyerah seperti yang sudah pernah seseorang lakuka. Dan itu rasanya sangat menyakitkan, dimana kita memberikan cinta yang sangat penuh, tapi mereka memilih untuk pergi, sementara aku sedang berusaha merangkai sebuah kebahagiaan untuk masa depan." Jovian berujar.


Kiana menatap calon suaminya lekat-lekat. Dan ada banyak ketakutan yang saat ini Jovian perlihatkan. Entah apa yang dia alami saat mereka tidak bertemu selama 2 Minggu lamanya, namun ketakutan itu semakin terlihat jelas dari sorot Jovian.


"Ada sesuatu?" Kiana menyentuh wajah Jovian.


"Tidak ada. Hanya sedikit takut saja!" Jovian tersenyum.


Dia hampir bangkit, namun dengan segera Kiana menahannya.


"Aku sudah menyiapkan beberapa bahan. Nyalakan tv nya. Dan tunggu aku menyelesaikan semuanya, oke!" Jovian tersenyum.


"Ish, … bilang dulu kamu kenapa?" Kiana menarik ujung kaos yang Jovian kenakan.


Pria itu terkekeh.


"Aku tidak kenapa-kenapa, Baby!"


"Terus apa maksudnya bicara seperti itu. Pasti ada yang lagi kamu pikirkan!"


"Hanya ingin mengungkapkan isi hati saja, sayang. Kamu ini gadis belia, kadang suka salah melangkah, dan aku mengatakan ini agar kamu mempunyai banyak pertimbangan. Entah itu untuk aku, kamu, atau kita berdua." Dia mengusak rambut Kiana, sampai terlihat sedikit acak-acakan.


Kali ini Jovian benar-benar bangkit, kemudian berjalan ke arah dapur, yang seketika di ikuti Kiana di belakangnya.


"Steak!" Mata Kiana seketika berbinar.


Saat mendapati dua potongan besar daging sapi, di atas sebuah tatakan kayu.


"Ya, ini adalah salah satu keahlianku. Kamu pasti ketagihan kalau sudah mencobanya."


Jovian menekan-nekan daging sapi itu menggunakan tisu, membawa teflon yang langsung di letakan di atas kompor mati, lalu menyalakannya dengan segera.


Kiana diam memperhatikan. Seraya memikirkan kata-kata yang Jovian ucapkan tadi.


"Seenak itu yah steaknya?" Kiana menatap Jovian.


Sementara pria itu mengangguka tanpa mengalihkan pandangan, dia hanya fokus kepada dagingnya, yang segera dia bubuhkan lada hitam, garam dan sedikit olive oil.

__ADS_1


"Padahal sebelum steak kamu udah bikin aku ketagihan, … eh!" Dia langsung mengatupkan mulut, dengan wajah yang seketika memerah.


Jovian menoleh, dia menatap Kiana dengan raut wajah datar, dan satu alis yang tampak sedikit terangkat.


"Emmmm, … maksud aku bukan itu!"


Jovian tidak menanggapi, dia meraih daging sapi yang sudah dia bumbui terlebih dahulu, dan meletakannya di atas teflon yang sudah panas.


Setelah itu Jovian berjalan mendekati kran air, membasuh tangannya, kemudian mendekati Kiana yang terlihat sedang menahan malu karena sudah asal berbicara.


Tidak, lebih tepatnya Kiana yang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri saat ini.


"Jangan terus memancing. Kamu sedang berada di dalam kandang singa kelaparan tahu!" Katanya dengan suara rendah seperti biasa.


Tangannya segera terulur, meraih pinggang gadis itu, dan menariknya sampai mereka kembali saling menempel. Mata Kiana membulat sempurna, retinanya bahkan terus bergerak-gerak, menatap wajah tampan Jovian dari jarak yang sangat dekat.


"Ya, … kalau kelaparan makan lah. Itu lagi masak steak!"


"Tapi steak bukan makanan singa yang satu ini."


Kiana diam.


"Astaga! Kapan wisudamu di gelar. Rasanya aku ingin mempercepat waktu saja."


Jovian melepaskan rangkulan di pinggang ramping milik Kiana, lalu kemudian kembali mendekati meja kompor untuk memeriksakan steaknya.


"Salah kamu! Kenapa mau di undur sampai aku selesai wisuda. Padahal bisa akad dulu seperti yang sempat di usulkan Papa."


Pria itu menatap Kiana. Dan sesuatu langsung melintas di dalam otaknya.


"Apa itu masih berlaku untukmu?"


"Apanya?"


"Akad."


"Sudah tanggung. Persiapan sudah enam puluh persen, jadi sabar saja dulu. Bulan depan aku wisuda, kalau nggak bulan depannya lagi." Tukas Kiana.


"Ah, itu terdengar sangat lama yah!" Jovian tertawa.


Kiana mengendikan bahu, kemudian berjalan ke arah belakang tubuh tinggi besar Jovian, lalu memeluknya kembali, dan menempelkan pipinya di punggung kokoh milik calon suaminya.


"Apa aku boleh sedikit memaksa?" Jovian menyentuh tangan Kiana yang sekarang melingkar di pinggangnya.


Kiana tidak menjawab.


"Sayang, aku boleh egois?"


"Egois apa? Fokus saja dengan steaknya, nanti gosong!" Ucap Kiana.


"Hey, aku sudah ahli dalam hal memasak, jadi tidak mungkin."


Kiana melepaskan Jovian, kemudian menunjuk sofa besar yang terletak di hadapan televisi. Hendak pergi, namun Jovian meraih pergelangan tangannya, sampai Kiana tidak dapat bergerak untuk menjauh.


"Kapan Papa dan Mamamu pulang?"


"Empat hari lagi."


Jovian mengangguk, senyuman di bibirnya langsung merekah, dan melepaskan tangan Kiana bergitu saja.


"Kenapa? Mau bahas bisnis yah?"


"Bukan."


Balas Jovian seraya membolak-balik steaknya agar mendapatkan tingkat kematangan yang dia inginkan.


"Lalu?"


"Mau minta izin, … agar acara akadnya di majukan saja. Menunggu kamu selesai wisuda itu sangat lama."


Mata Kiana mendelik.


"Dasar tidak sabaran!" Gimana Kiana.


Namun Jovian masih bisa mendengar itu dengan sangat jelas, sampai membuat dia berbalik badan, menatap Kiana yang sudah berjalan lebih dekat lagi ke arah sofa.


"Ya, dan dengan sengaja kamu terus menguji kesabaran aku. Jadi siapa yang salah disini?" Jovian tidak mau kalah.


"Pak Yanto!" Jawab Kiana asal.


"Pak Yanto?" Dia meracau. "Kenapa Pak Yanto?" Lanjut Jovian.


"Hih, jangan bicara terus. Itu steaknya cepetan, aku laper. Terus udah itu aku harus pulang. Mana harus ambil mobil dulu, kasian lho kamu ngasih tanggung jawab security kampus untuk menaga mobil aku, … padahal tadi itu tinggal nungguin Pak Yanto datang saja, baru kita pergi."


"Pak Yanto sudah membawa mobilnya. Aku yang meminta tadi."


"Hah!?" Kiana terkejut. "Tapi kunci mobilnya ada di tas aku! Kok bisa Pak Yanto bawa pulang?" Suaranya memekik kencang.


"Ya dia ada kunci cadanganlah. Makanya bisa ambil mobil kamu."


Kiana menghela nafasnya lega.


"Sayang, remotnya dimana?" Kiana terlihat celingukan.


Mendengar panggilan itu Jovian tersenyum-senyum sendiri. Hatinya berdebar-debar, dengan desiran yang mulai terasa di sekujur tubuh.

__ADS_1


"Di laci, sayang! Carilah."


"Laci yang mana? Terlalu banyak laci disini!"


Jovian meninggalkan daging sapi yang sedang dia panggang, berjalan mendekati Kiana, dimana gadis itu sedang membuka laci yang terletak di bawah televisi satu-persatu.


"Sa …."


Kiana hampir kembali berteriak, tapi dia urungkan ketikan melihat Jovian mendekatinya.


"Disini." Pria itu membungkuk, membuka satu laci paling ujung, membukanya, dan memberikan sesuatu yang Kiana cari.


"Terimakasih." Ucap Kiana.


"Hemmm, … jangan nonton yang aneh-aneh. Atau aku tidak jadi memakan steak, tapi justru memakanmu." Tegas Jovian.


Kiana melirik sekilas.


"Om kanibal?"


Pria itu menghembuskan nafasnya kasar.


"Om lagi!" Dia protes.


"Iya sayang, iya."


"Good girl!" Jovia mencubit ujung hidung Kiana sangat kencang, membuat gadis itu meringis dan memukul lengannya dengan segera.


"Ayolah. Aku lapar!" Kiana merengek.


"Sebentar lagi. Lima ratus gram itu cukup besar, Baby. Tidak bisa terburu-buru." Jelas Jovian kepada kekasihnya.


Setelah itu Jovian kembali beranjak. Dia mendekati sebuah lemari pendingin, lalu mengeluarkan kentang dari dalam sana.


Setelah cukup lama, akhirnya Jovian selesai. Dia membawa dua piring berisikan steak daging sapi, lengkap dengan kentang goreng, dan beberapa macam sayuran rebus. Seperti wortel, kacang polong, dan jangung.


"Emmmm, … wanginya sangat lezat."


"Ya, kamu harus menghabiskannya. Agar pulang nanti kamu langsung tidur saja tanpa harus mencari sesuatu terlebih dulu karena lapar."


Jovian meletakan dua piring berisikan steak itu di atas meja. Lalu dia kembali ke arah dapur, dan membawa dua buah kaleng minuman di dalam chiller sana.


"Mau aku bantu potong-potong dulu?"


Kiana segera menggelengkan kepala.


"Aku bisa." Ucap Kiana.


"Baiklah."


Jovian meletakan dua kaleng minuman itu di atas meja. Lalu dia segera duduk, mulai menggenggam pisau dan garpu untuk memotong steak yang terlihat sangat menggugah selera.


"Om nggak ada wine?"


Tiba-tiba saja Kiana bertanya demikian.


"Ada. Kenapa?" Sahut Jovian sembari menjejalkan potongan steak ke dalam mulutnya.


"Aku mau."


"No!" Tegas Jovian.


"Udah lama aku nggak minum. Sedikit kayanya nggak apa-apa."


"Tidak Kiana."


"Sayang, ayolah!" Gadis itu memohon, dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu memelas.


"Sekali tidak, ya tidak Kiana."


"Tapi …."


"Baby!" Jovian menatap Kiana tajam, sampai membuat gadis cantik itu terdiam.


"Ah ya sudah. Nanti aku beli sendiri, sekalian refreshing malam."


Mata Jovian membulat sempurna ketika mendengar penuturan Kiana. Menoleh, dan menatap gadis itu tajam. Sementara Kiana terlihat mengendikan kedua bahunya, lalu memakan daging itu dengan sangat anggun.


Jovian menghela nafas, dia bangkit dan berjalan kembali ke arah dapur.


Suara kulkas di buka kembali terdengar, beralih dengan dentingan suara gelas kaca bersentuhan, dan Kiana tahu apa yang sedang Jovian ambil saat ini.


"Hanya satu gelas, tidak boleh lebih."


Dia datang dan meletakan satu botol anggur merah, lengkap dengan dua gelas berukuran kecil.


Kiana menatap Jovian, dan tersenyum penuh arti.


"Hhheuh!" Lagi-lagi dia hanya mampu menghela nafanya.


Membuat Kiana tertawa kencang karenanya.


*


*

__ADS_1


*


...Jangan lupa like, komen sama timpukin pake hadiah yah 🤩🤩...


__ADS_2