
"Mau apa?" Kiana bergeser.
Namun, uluran tangan Jovian bergerak cepat, menahan pergerakan Kiana sampai perempuan itu kembali berhenti.
"Kamu mau apa? Kenapa buka baju?" Tatapan Kiana terlihat panik.
Dia sangat ingin bergerak untuk menghindar, tapi cengkraman Jovian di pergelangan tangannya membuat Kiana tidak bisa berbuat apa-apa, selain menggunakan tangan yang lain untuk menahan dada Jovian agar pria itu berhenti mendekat.
"Jooviann!!" Kiana berusaha melepaskan diri.
Dia terkekeh kencang ketika Jovian semakin beringkut mendekat. Rasanya sangat gugup, meskipun ini bukan hal pertama untuknya. Padahal jauh sebelum mereka menikah, dirinyalah yang selalu terlihat lebih liar daripada Jovian, meminta sesuatu yang jelas belum boleh mereka lakukan.
"Diamlah! Aku hanya ingin menagih janjimu." Jovian ikut tertawa.
"Janji apa?"
Tawa Kiana terdengar semakin gugup. Tentu saja, dia hanya sedang berpura-pura lupa, tidak benar-benar melupakan apa yang sudah dia katakan tadi siang.
"Lagian kenapa di iyain sih!!" Batin Kiana berbicara.
Dia merutuki dirinya sendiri.
"Oh come on! Jangan berisik, nanti kau membuat perhatian semua orang tertuju pada kamar kita." Dia berbisik tepat di telinga Kiana.
Suaranya terdengar berat. Namun, tentu saja terdengar menggoda di pendengaran Kiana, sehingga mata perempuan itu terpejam, dengan perasaan yang mulai tak karuan.
Jovian menyeringai, kemudian dia segera melanjutkan aksinya setelah merasa Kiana mulai menerima setiap sentuhan yang dia berikan, meskipun pada awalnya sempat memberontak untuk menolak. Bibir Jovian mulai menciumi wajah Kiana, turun ke tulang rahang, kemudian tengkuk, dan sedikit berlama-lama disana untuk membuat tanda kepemilikan.
"Emmmhhhh!!"
Tangan Kiana bergerak mengusap kepala Jovian, menelusupkan jari-jemarinya di rambut sang suami, kemudian merematnya cukup kencang.
Jovian tersenyum di dalam setiap kecupan yang dia berikan kepada Kiana.
Nafas Kiana mulai memburu, tatkala hembusan nafas yang terasa semakin kencang, dengan dada yang naik turun dengan cepat.
__ADS_1
Jovian menarik diri, dia menatap Kiana yang sudah memejamkan mata dan terlihat pasrah. Lagi-lagi senyuman di kedua sudut bibir Jovian kembali terlihat. Bahagia sudah jelas, tetapi ada rasa lain yang tidak bisa di mengerti, bahkan oleh dirinya meskipun pria itu sudah mengartikan itu secara mendalam.
Namun, rasanya terlalu luar biasa.
Dadanya bergemuruh, seluruh tubuhnya berdesir, bahkan hanya keran tangan Kiana menyentuh secara acak, membuat dirinya merinding bukan main.
Dia melepaskan sepasang pakaian hangat yang Kiana kenakan. Membuka satu persatu dengan sabar tanpa menghentikan kegiatannya sedikitpun, sampai entah bagaimana perempuan di bawahnya sudah polos tanpa sehelai benangpun.
Kulit tubuh yang terlihat sangat terawat dan sehat. Postur tubuh yang sedikit lebih berisi. Apalagi dengan keadaan seperti itu, membuat perut bagian bawah Kiana sedikit menggembung. Sehingga membuat tanda-tanda kehamilannya mulai terlihat.
Tangannya bergerak menyentuh permukaan kulit perut Kiana. Lalu Jovian kembali membungkuk, meraih bibir sang istri, dan bermain-main disana cukup lama.
Kiana mulai melingkarkan kedua tangannya di pundak Jovian, seraya membalas setiap ciuman yang Jovian berikan. Dan suara decapan terdengar samar di dalam kamar yang masih terang benderang itu, bersahutan dengan suara televisi yang sedang menayangkan acara komedi malam.
"Pintar sekali. Kamu menyalakan televisi, dan volume yang sedikit kencang, yang tentu saja dapat menyamarkan suara merdumu, Baby!" Dia kembali berbisik di telinga Kiana, untuk kemudian menggigitnya perlahan, sampai membuat perempuan itu sedikit meringis dan terdengar rintihan pelan.
Jovian menghentikan kegiatannya untuk beberapa saat. Dia berusaha membuka helaian pakaian yang masih tersisa, sampai pada akhirnya pria itu pun polos tanpa sehelai benangpun.
Kiana membuka mata, dia menatap wajah sang suami dengan sesuatu miliknya yang sudah siap untuk bertempur.
Jovian tersenyum miring. Dia mendekat, membuka kedua kaki Kiana lebar-lebar, kemudian memposisikan diri seraya membungkukkan tubuhnya.
"Mereka kuat." Tatapannya terlihat tajam.
Namun, lagi-lagi membuat Kiana terpesona olehnya.
Cup!!
Dia mencium bibir Kiana singkat, sebelum akhirnya mengarahkan miliknya ke arah pusat tubuh Kiana, yang seketika membuat kening Kiana mengkerut kencang, sampai alisnya terlihat hampir bersentuhan satu sama lain.
Jovian tersenyum, dengan tangan kanan membingkai wajah cantik Kiana. Sementara tangan kirinya bertumpu untuk menahan bobot tubuh. Setidaknya dia tidak akan membahayakan sang cabang bayi jika membuat posisinya se aman mungkin.
"Ngghhhhhh, …"
Kiana mendorong lengan Jovian, sampai membuat pria itu bangkit dengan segera.
__ADS_1
"Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah." Ujar Jovian sambil mendorong masuk miliknya.
Tangan Kiana bergerak terulur menyentuh otot-otot perut Jovian, kepalanya mendongak ke arah belakang, dengan mata terpejam.
"Ahhh, … pelan-pelan Papa!" Rengekannya yang seketika membuat senyuman Jovian semakin terlihat.
Jovian terus mendorong miliknya hingga benar-benar masuk. Kemudian dia membungkuk, dan meraih puncak gunung kembar yang terlihat mencuat.
"Emmmm, … astaga!" Cicit Kiana.
Pria itu tak menghiraukan, dia terus menghisap tanpa ampun, dan mulai menggerakan tubuh bagian bawahnya.
Kedua tangan Kiana beralih berpegangan pada lengan kokoh Jovian, mengarahkan pandangan untuk menatap sosok pria di atasnya.
Jovian tersenyum saat pandangan keduanya beradu.
Keduanya sudah mulai terbang, mengarungi awang-awang yang mereka ciptakan sendiri. Suara Kiana dan Jovian terdengar samar juga tertahan, mengalun memenuhi langit-langit kamar, di iringi suara televisi yang terus terdengar.
"Ah sayang." Rintihan pelan Kiana tak hentinya terdengar, saat Jovian tak menghentikan aktivitasnya sama sekali.
Pria itu bergerak cepat. Sembari menciumi istrinya tanpa merasa puas sedikit pun.
"Ngghhhh, … Kiana!!" Geram Jovian, seraya menahan diri agar tetap bisa mengontrol perasaan yang terus menggebu-gebu.
Dia tak hentinya menatap Kiana.
Wajah memerah, mata terpejam, juga ekspresi yang begitu menggoda, membuat Jovian merasa semakin gemas.
Dan setelah waktu yang cukup lama. Hentakan Jovian semakin kencang. Tangannya sibuk membekap mulut Kiana yang mulai tidak bisa mengontrol diri, sampai akhirnya mereka sama-sama terdiam, setelah mendapatkan pelepasan yang luar biasa.
Tidak ada lagi suara geraman Jovian, rintihan, atau rengekan manja Kiana yang terus bersahutan. Kini hanya terdengar volume televisi, dan deru nafas keduanya yang masih tersisa.
......................
ffyuhhhh🥵
__ADS_1
Ayodong di like, komen sama di sawer🤭 biar cepet 1M gitu😉