Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Suasana kebun teh


__ADS_3

Pandangan Jovian tak pernah berhenti memperhatikan Kiana. Semenjak keduanya sampai di atas bukit perkebunan teh sana, perempuan itu terus mengarahkan kamera handphone pada spot-spot tertentu yang menurutnya sangatlah indah. Berjalan kesana dan kemari tanpa merasa lelah, sementara sang suami menunggu di dalam sebuah bangunan yang terbuat dari bambu, dengan senyuman yang tak pernah terlihat surut.


"Baby? Kemarilah, tidak boleh terlalu jauh!" Jovian berteriak.


Kiana menoleh, mengangkat satu tangannya, dengan ibu jari yang dia acungkan.


"Hanya sampai sini. Lembahnya indah, sayang! Apa kita bisa ke bawah sana? Lihat, … disana ada sungai kecil." Ujar Kiana.


Perempuan itu segera berbalik badan, dan berjalan perlahan mendekati tempat dimana suaminya menunggu saat ini.


"Sayang ayo ke bawah, ada sungai kecil. Airnya jernih, bahkan aku dapat melihat bebatuannya dengan sangat jelas." Katanya lagi setelah jarak mereka cukup dekat.


Namun, Jovian tidak menjawab apa-apa. Dia hanya mengulurkan tangan, mengisyaratkan agar perempuan itu segera mendekatinya.


Kiana menurut, dia meraih tangan Jovian, yang langsung menariknya sampai perempuan bertubuh mungil itu duduk di atas pangkuannya.


"Sayang, ayo kita ke bawah. Sebentar saja!" Pinta Kiana lagi.


Bahkan kali ini dia membuat suaranya selembut mungkin. Saking lembutnya bahkan sampai terdengar begitu manja dan mendayu-dayu.


"Mau apa? Main air? Yang benar saja, … cuacanya memang bagus, cahaya matahari juga terik. Tapi apa kamu tidak merasakan jika di sekitar kita angin berhembus kencang, dan terasa sangat dingin? Lagi pula jalannya sangat terjal, banyak bebatuan licin, … bahaya untuk ibu hamil." Jovian tersenyum.


Dia menatap wajah cantik istrinya lekat-lekat, lalu menyingkirkan beberapa helai rambut yang sempat menghalangi wajah, kemudian menyelipkan di daun telinga seperti biasa.


"Rambut kamu sudah panjang, … kamu cantik." Kata Jovian dengan suara rendah.


Namun, sudah pasti Kiana dapat mendengarnya dengan sangat jelas, karena posisi keduanya yang hampir tidak berjarak sama sekali.


"Memangnya kapan aku terlihat jelek?" Balas Kiana.


Membuat keduanya tertawa secara bersamaan.


"Tidak pernah." Pria itu menjawab, yang kemudian mengecup pipi Kiana lembut. "Kamu cantik, selalu cantik! Bahkan kecantikannya bertambah berkali-kali lipat saat kamu mengandung."


Kiana tersenyum malu-malu, dengan pipi yang terlihat merah merona.


"Kamu jadi tukang gombal sekarang, padahal dulu tidak seperti ini. Bahkan cenderung dingin dan cuek!"


Mendengar itu Jovian hanya mengulum senyum.


"Ah aku lupa, kalau dulu kan masih suka Tante Eva yah!?" Kiana tertawa kencang.


Namun, Jovian segera membekap mulut Kiana sampai perempuan itu berhenti bersuara.


"Jangan bahas masa lalu, Baby. Nanti kita jadi bertengkar lagi, … kamu tahu? Akhir-akhir ini kamu sangat sensitif, dan aku tidak mau menerima kemarahanmu yang sangat sulit di redakan itu!" Katanya sambil menatap Kiana.


Orang yang di maksud tidak menjawab, dia hanya menyingkirkan tangan Jovian dari mulutnya, lalu kemudian memberikan kecupan manis di bibir pria itu.


Cupp!!


"Aku serius, kamu gombal akhir-akhir ini. Sampai aku sempat berpikir, jika dulu kamu tidak melakukan itu karena masih ada seseorang di hati kamu. Tapi sekarang aku bahagia, setidaknya aku tahu jika akulah satu-satunya wanita yang kini mengisi pikiran dan relung hatimu." Ujar Kiana.


Dia terlihat sangat bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Aku juga serius, kamu terlihat sangat cantik. Apalagi setelah hamil. Coba tanya Mami, mungkin aura pada dirimu di rasakan Mami juga."


Kiana tergelak.


"Ngaco!"


"No!" Sergah Jovian. "Aku lagi nggak ngaco, … kamu beneran berbeda sekarang. Seperti ada sesuatu yang memancar, dan itu membuat aku sama sekali tidak bisa berpaling darimu."


Tawa Kiana terdengar semakin kencang.


"Memangnya suami mana yang bisa berpaling saat istrinya mengandung? Hanya pria gila yang berpaling padahal istrinya sedang bersusah payah mengandung anak-anak mereka."


Jovian membuat lilitan tangan di tubuh Kiana semakin erat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kiana.


"Maafkan aku yah!" Suara Jovian dengar pelan. "Aku sudah membuat kamu kecewa, membuat kamu berpikir yang tidak-tidak. Tapi sungguh, tidak ada sedikitpun rasa yang tersisa buat wanita itu. Yang terjadi kemarin hanya refleks aku saja, … membantu dia yang terlihat begitu lemas."


Kiana diam, menundukan pandangan, untuk menatap wajah suaminya. Meskipun itu sangatlah tidak mudah, karena posisi Jovian yang saat ini menunduk.


"Semenjak kamu pergi bersama Sita. Aku semakin merasa tidak berguna. Bagaimana tidak, bukankah keluh kesah seorang istri selalu kepada suaminya? Tapi waktu itu kamu memilih Tuhan yang menjadi sosok pendukungmu. Aku takut, sungguh aku takut ia akan murka kepadaku!"


Bibir Kiana memperlihatkan senyuman tipis. Tangannya bergerak, seraya mengusap kepala suaminya dengan sangat perlahan.


"Setidaknya itu cukup membuat kamu segera sadar. Jika ada orang yang sangat mencintaimu, dan akan lebih baik jika membalas cintanya, dibandingkan hanya terus berharap pada sosok lain yang sudah tidak pantas kamu harapkan."


Kiana menatapnya dengan lembut. Tidak ada lagi kemarahan, atau rasa kesal seperti sebelum-sebelumnya. Dan ini menandakan jika Kiana benar-benar sudah ikhlas dengan semua yang sudah terjadi.


"Ya, aku sudah sadar. Dan betapa aku mencintai kamu, sampai aku tidak bisa hidup tenang saat kamu tidak ada bersamaku."


Pandangan Jovian menengadah, menatap wajah Kiana dengan sorot mata sendu. Rasa sesal jelas masih menguasai relung hatinya. Kala dirinya sadar saat Kiana mencintainya dengan begitu tulus, sementara dirinya masih sibuk melupakan Eva, wanita yang sudah jelas menggoreskan luka sangat dalam.


Jovian mengangguk.


"Maafkan Papa, oke?" Kata Jovian lagi.


Kali ini tangannya bergerak mengusap perut Kiana. Dimana benih cinta keduanya tumbuh disana.


"Baiklah, ayo kita kembali. Tidak enak lama-lama disini juga! Mereka sibuk bekerja." Kiana berbisik sembari mengarahkan pandangan ke arah pada orang-orang yang sedang sibuk memetik daun teh. "Sementara kita hanya diam sambil pangku-pangkuan begini! Duh, tidak sopan yah." Dia tertawa.


"Kau benar."


Kiana mengangguk. Kemudian dia turun dari pangkuan Jovian, lalu berdiri seraya mengusap-usap pinggangnya yang entah mengapa tiba-tiba terasa sedikit pegal.


Jovian kita bangkit, meraih tangan Kiana, dan membawanya pergi dari area perkebunan sana.


Hamparan hijau terlihat sejauh mata memandang. Terlihat sangat memukau, apalagi dalam keadaan jalan menurun, sehingga mereka dapat melihat ke segala arah dengan leluasa.


"Karena Mama dan Papa kesini. Selain syukuran karena kamu hamil! Sepertinya bagus juga kita mengadakan resepsi pernikahan di rumah Papi."


Kiana menoleh sekilas.


"Menurut kamu begitu? Tapi apa kamu tidak rugi? Ratusan juta hangus lho, kemarin!" Ujar Kiana sambil terus berjalan.


"Uang bisa dicari. Tapi aku tidak bisa melewatkan momen ini!"

__ADS_1


Kiana mengangguk.


"Ya sudah, gimana kamu saja. Aku ikut!"


Langkah kakinya berjalan semakin kencang, membuat Jovian merasa sedikit ketakutan. Jika saja tidak hati-hati, mungkin Kiana akan terjatuh. Jalanan yang terjal, berbahan bebatuan yang sedikit berlumut, membuat keduanya harus ekstra hati-hati.


"Be careful, Babe!" Jovian memperingati.


Kiana menoleh, tersenyum lalu mengangguk.


"Disini nyaman. Suasananya sejuk, aku yakin Mama sama Papa juga betah."


"Oh ya? Kamu betah?"


"Hu'um." Perempuan itu mengangguk.


"Bagus, jadi kita tetap disini sampai kamu mau pulang."


"Hemmm, … dan kamu harus membuat jadwal mengantarku untuk berkeliling di desa ini. Setidaknya bawalah aku ke salah satu tempat yang pernah kamu kunjungi waktu kecil, atau mungkin saat masih tinggal disini."


Kiana berbicara sambil terus berjalan. Sementara Jovian mengikuti dari arah belakang, dengan tangan yang terus saling berpegangan.


"Nanti kita keliling pakai motor. Tapi tidak sekarang, oke?"


"Iya."


***


Jonathan segera bergegas keluar, ketika terdengar derum mesin mobil memasuki pekarangan rumahnya. Dan benar saja, Pajero hitam sudah berhenti tepat di samping beberapa mobil milik mereka, yang salah satu di antaranya terdapat mobil milik Jovian juga Kiana.


Pria berambut putih dengan bola mata kebiruan itu tersenyum saat melihat orang-orang di dalamnya keluar satu-persatu.


"Pak Jonathan!" Danu mengangkat satu tangannya.


Dengan senyuman dan ekspresi wajah yang terlihat berbinar.


"Syukurlah Bapak sampai tanpa halangan apapun." Jonathan berjalan menuruni tangga rumah panggungnya.


Danu mengangguk, dia mendekat, lalu mengulurkan tangan, dan saling merangkul setelahnya.


"Kecanggihan teknologi sekarang membuat semuanya terasa semakin mudah. Hanya lihat layar hape, kita bisa sampai dengan selamat tanpa salah jalan sedikitpun." Jelas Danu kepada besannya.


Herlin terdiam menatap keadaan rumah dari mertua putrinya. Rumah panggung dengan suasana yang asri, terdapat beberapa pepohonan besar di sekeliling rumah, dan rerumputan yang membentang di sekitaran sana. Membuat Herlin tak bisa berkata-kata dengan keindahan yang terdapat di area rumah besannya.


Sementara Yanto, sang supir. Mulai membuka bagasi, dan menurunkan beberapa barang bawaan majikannya.


"Bu Herlin, mari masuk." Jonathan memanggil.


Lalu tersenyum saat wanita yang di maksud menoleh.


"Anak-anak sedang keluar. Kata Jovian sebelum pergi, dia mau membawa Kiana melihat-lihat kebun teh di bukit sana."


Jonathan segera menjelaskan, yang segera dijawab anggukan oleh Herlin maupun Danu.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka, Pak. Mungkin sedang menikmati momen yang sempat hilang." Kata Danu.


Jonathan tertawa pelan, seraya terus berjalan menggiring kedua orang tua Kiana naik keatas rumah panggungnya.


__ADS_2