
Keesokan harinya tepat pukul 07.30 pagi hari.
Jovian berjalan memasuki salah satu pintu gerbang yang terletak di paling sudut. Wajahnya memerah, nafasnya tersengal-sengal, dengan celana training, Hoodie dan sepatu lari. Keringatnya terus bercucuran, setelah menyelesaikan lari beberapa putaran di tanah lapang yang berada tidak jauh dari rumah besar milik Danu.
Dan rasanya sedikit berat, setelah cukup lama tidak melakukan kegiatan yang awalnya selalu rutin Jovian lakukan. Namun, setelah menikah ada hal lain yang membuat pikirannya terus tertuju kepada Kiana, dan melupakan sesuatu yang menjadi kebiasaan baiknya.
"Ya, dan sekarang aku harus memulainya lagi dari awal. Ingat, Jo! Kamu memiliki istri muda, dan tentunya membutuhkan banyak stamina untuk mengimbangi." Jovian berbicara dengan suara rendah.
Dia duduk di salah satu kursi yang berada di area garasi. Dimana terdapat rak sepatu di sampingnya yang tertata dengan sangat rapi. Lalu Jovian bangkit, kemudian melangkah masuk melewati pintu samping. Yang menghubungkan antara area dapur dan ruangan khusus asisten rumah.
"Selamat pagi?" Jovian menyapa para perempuan yang sedang berkutik dengan bahan-bahan masak dan perkakas dapur disana.
"Pagi, Pak." Mereknya menyapa balik.
Jovian terus melangkahkan kakinya ke arah ruang tengah, yang dimana sudah terlihat Herlin dan Danu duduk di sofa ruang tv sambil berbincang-bincang.
Salah satu dari mereka menoleh.
"Kamu baru selesai, Jo?" Danu langsung menyapa, kala dia melihat pergerakan seseorang yang hendak berjalan menaiki tangga.
Sosok pria tinggi besar, dengan pakaian olahraga nya yang masih melekat.
Jovian mengulum senyum, kemudian mengangguk.
"Kiana belum turun?" Jovian balik bertanya.
"Belum. Tadinya Mama kira ikut lari denganmu." Kata Herlin kepada menantunya.
"Tidak. Aku pergi sendiri tadi!"
"Ah, mungkin badannya masih terasa tidak enak. Makanya dia belum bangun! Padahal sudah jam setengah delapan." Ucap Danu.
Jovian kembali menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu Jovian naik dulu."
"Hemmm, … cepatlah kembali! Kita sarapan bersama." Titah Herlin.
Jovian segera berjalan menaiki tangga satu-persatu dengan cepat, mendekati dimana pintu kamar Kiana berada, kemudian menekan handle pintu sampai benda itu terbuka dan segera masuk.
Ruang temaram dengan gorden tebal yang masih membentang menutupi jendela kamar. Lampu di kamarnya memang sengaja dimatikan sejak semalam saat keduanya hendak tertidur, dan cahaya matahari mulai menerobos memasuki celah gorden yang sedikit menyingkap, dan ventilasi udara berukuran sedang.
Jovian melihat seseorang yang masih berbaring di atas tempat tidur sana, menyembunyikan diri di balik selimut tebal, sampai hanya kepalanya yang menyembul sedikit. Awalnya Jovian hendak mendekati Kiana, namun dia berubah pikiran, sampai akhirnya beralih menjadi mendekati pintu kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Dari keringat yang membasahi sekujur tubuh, yang menghadirkan rasa lengket dan tidak nyaman.
Pria itu menutup pintu kamar mandinya rapat-rapat, tak lupa memutar kunci. Satu-persatu Jovian menanggalkan pakaiannya, untuk kemudian dia masukan ke dalam keranjang pakaian kotor. Dan setelah semuanya terlepas, Jovian melangkahkan kaki mendekati shower, membuka kran air, dan berjatuhanlah buliran air yang terasa begitu hangat.
***
Kesadaran Kiana mulai tertarik, kala indra penciumannya menghirup aroma segar. Yang berasal dari seorang pria di sampingnya.
Perlahan-lahan Kiana membuka mata, dan wajah tampan Jovian mendominasi penglihatannya. Pria itu tersenyum, kemudian semakin mendekatkan diri, dan kecupan hangat terasa menyentuh kening dan pipinya.
__ADS_1
"Bangunlah. Kita sudah ditunggu Papa dan Mama di bawah! Sarapan sudah siap, Ipah juga sudah memanggil kesini, … tapi kenapa kamu sangat susah untuk di bangunkan?" Kata Jovian sambil tersenyum.
Satu tangannya bergerak, menyentuh pipi sang istri dan mengusapnya dengan sangat hati-hati.
Kiana mengangguk, kemudian dia bergerak merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku.
"Kamu sudah mandi?" Suara Kiana terdengar parau.
Dia beringsut mendekat, dan membenamkan wajah di dada bidang suaminya, dengan mata yang kembali terpejam.
"Ya. Aku sudah lari sepuluh putaran, lalu mandi. Jadi cepat bangun, jangan terus seperti ini. Nanti awalnya aku yang ingin membangunkan kamu, tapi malah membangunkan yang lain." Katanya sambil berbisik.
Jovian menepuk-nepuk pundak Kiana. Lalu mengusap punggung, dan mempermainkan helaian rambut coklat Kiana yang mulai memanjang.
"Tunggu sebentar lagi." Suaranya terdengar manja.
"Tapi Mama dan Papa sudah menunggu kita untuk sarapan, Baby. Basuh saja wajahnya, gosok gigi, lalu kita ke bawah sekarang. Mandinya nanti saja setelah selesai sarapan, oke?" Pinta Jovian.
Namun, Kiana tidak menjawab lagi.
"Baby?" Pria itu mengguncang pundak istrinya cukup kencang.
"Aku masih ngantuk tahu! Mata aku rasanya berat sekali!" Kiana merengek lagi.
"Kalau begitu aku ke bawah dulu yah, tidak enak kalau membuat orang tuamu menunggu. Kamu tidurlah lagi kalau memang masih mengangguk, mungkin efek obat membuat kamu terus merasa ngantuk."
Kiana langsung membuka matanya , mendongakkan kepala untuk menatap wajah Jovian, sebelum akhirnya dia bangkit, dan turun dari atas tempat tidur. Berjalan ke arah kamar mandi, dengan langkah terseok-seok.
"Tunggu sebentar, oke?" Katanya kemudian masuk ke dalam kamar mandi sana. Setelah menoleh terlebih dulu, kemudian tersenyum kepada pria yang sangat dia cintai.
Sekitar 5 menit Kita menghabiskan waktu di dalam kamar mandi sana. Akhirnya perempuan itu keluar dengan keadaan segar. Bahkan rambutnya sudah terlihat disisir rapi, dengan andalan bando menggemaskan yang selalu Kiana pakai agar rambutnya tidak berantakan.
"Ayo." Ajak Kiana kepada suaminya.
Jovian yang sedari tadi menunggu sambil duduk di tepi ranjang pun mengangguk, dia berdiri dan meraih uluran tangan istrinya yang pagi hari ini terlihat sangat menggemaskan.
"Ada berapa banyak kamu memiliki bando seperti ini?" Tanya Jovian, kemudian menyentuh bentuk telinga macan Tutul di atas bando yang di pakainya.
"Entah. Aku nggak hitung! Coba saja lihat di laci dekat wastafel." Sahut Kiana sambil terus berjalan keluar dari dalam kamar.
"Semua telinga hewan kamu potong?" Pria itu melontarkan candaan.
Lalu tertawa pelan.
Kiana menoleh, sedikit menengadahkan pandangan untuk menatap wajah suaminya yang saat ini tampak tersenyum.
"Oh astaga, kamu terlihat seperti anak Paud yang sangat menggemaskan." Ucapnya gemas.
"Banyak pokoknya. Cuma kuping gajah yang aku nggak punya, … eh bukan nggak punya sih, tapi pas aku cari nggak ada." Jelas Kiana.
Mendengar jawaban itu Jovian menyapu wajahnya, berusaha menahan tawa kencang yang mungkin akan menyembur.
__ADS_1
Setiap anak tangga Kiana dan Jovian pijak dengan sangat hati, tak lupa saling menggenggam tangan satu sama lain, seolah tidak mau terpisahkan walaupun hanya sedetik saja.
"Mama kira kalian tidak akan turun." Herlin sambil meletakan satu piring nasi dan dua macam lauk yang dijadikan sebagai pelengkap.
Potongan dada ayam yang digoreng tepung, dengan saus telur asin yang tentu saja sangat menggugah selera. Tidak lupa dengan sayur capcay, dimana terdapat berbagai macam sayuran dan juga jamur di dalamnya.
"Kiana susah bangun." Ujar Jovian.
Dia menyentuh ujung sandaran kursi meja makan makan yang terbuat dari kayu, dan membiarkan Kiana untuk segera duduk. Yang kemudian disusul oleh dirinya.
"Efek obat Ma. Jadi bawaannya ngantuk terus, rasanya mata aku lengket, padahal dari tadi pagi aku sudah berusaha bangun." Kiana berujar, yang langsung dijawab anggukan oleh wanita paruh baya itu.
"Kalau begitu tanya suaminya, mau makan apa. Roti atau nasi?" Ucap Herlin kepada putrinya.
Lalu Herlin membantu mengisi gelas-gelas kosong disana dengan air teh hangat.
Kiana mengangguk. Sementara Danu tampak diam dan memperhatikan setiap apa yang Kiana lakukan. Betapa tidak menyangka nya Danu, kini putri kecilnya sudah tumbuh besar, sudah dapat melakukan banyak hal, dan salah satu pencapaian terbesar sebagai seorang tua adalah dapat melepas anaknya kepada seorang pria yang tepat.
"Rasanya baru kemarin aku menemaninya belajar berjalan di taman belakang rumah. Berusaha menghentikan tangisannya saat dia terjatuh, lalu mengantar dia memasuki sekolah untuk pertama kalinya di umur empat tahun bersama Herlin karena dia tidak mau ditinggal sendiri. Dan sekarang dia sudah menikah, bahkan bulan depan akan melangsungkan wisuda. Entah harus bagaimana aku sekarang, sedih atau bahagia?" Batin Danu berbicara.
"Selamat makan sayang, yang lahap makanya." Ucap Kiana sembari meletakan satu piring nasi beserta ayam saus telur asin dan capcay.
Jovian menerimanya dengan baik, namun tidak berkomentar apapun karena dirinya merasa malu, tampak jelas sekali jika saat ini pipinya terlihat merona.
Sarapan hari ini berlangsung dengan hangat. Mereka menikmatinya dengan berbincang-bincang santai seperti biasanya. Entah itu membahas apa yang akan Kiana dan Jovian lakukan kedepannya, atau masalah pekerjaan yang mereka sepakati untuk membantu satu sama lain.
***
"Bapak tidak pergi hari ini?"
Setelah menyelesaikan sarapannya, dua pria berbeda usia itu memilih untuk bersantai di kursi taman belakang, yang terletak tepat di hadapan sebuah kolam ikan koi yang berenang-renang kesana dan kemari.
"Hari ini tidak ada pekerjaan apapun. Rapat, memenuhi undangan atau apapun, … tidak ada." Kata Danu sambil tersenyum sumringah.
"Jadi hati ini cukup santai."
"Ya, kamu benar sekali." Danu mengamini. "Lalu bagaimana dengan kamu? Apa ada pekerjaan? Atau kesibukan apa hari ini?" Dia balik bertanya.
Jovian diam untuk beberapa saat, kemudian dia menoleh.
"Mungkin pergi menjenguk istrinya Denis."
"Itu ide yang bagus. Jika Kiana sudah merasa lebih baik, maka aja dia bersamamu yah sebagai perwakilan dari saya dan Mamanya." Pinta Danu.
"Kalau Kiana mau, nanti saya ajak, Pak." Jovian menjawab.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Cahaya matahari sudah semakin terik, suasana menjadi sangat panas."
Danu bangkit lebih dulu, kemudian disusul Jovian setelahnya, sampai mereka berjalan beriringan memasuki rumah.
......................
__ADS_1
Maaf telat up :) Jangan lupa like, komen sama tabur-tabur yah 🤭🤭
Cuyung kalian 😘😘