Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Malam Minggu.


__ADS_3

Tok tok tok!!


Pintu kamarnya terdengar diketuk beberapa kali, membuat Kiana yang baru saja selesai mempelajari beberapa materi kuliahnya segera menoleh ke arah suara berasal.


"Non?"


"Iya Mbak?"


Kiana segera menutup bukunya, merapikan berang-berang di atas meja belajar sana, hingga terlihat rapi seperti semula.


"Masuk saja, Mbak. Nggak aku kunci." Katanya kemudian bangkit, dan mendekati pintu kamar kala seorang asisten rumah tak kunjung membuka pintu kamar meski dia sudah memanggilnya sedari tadi.


Klek!!


Kiana menarik pintu kamarnya sampai benar-benar terbuka.


"Kenapa, Mbak?"


"Ibu dan Bapak meminta saya memanggil, Non Kia. Di tunggu di taman belakang rumah, Non!" Jelas asisten rumahnya.


Kiana sedikit memutar tubuh, menatap jam yang menempel di dinding kamarnya, yang sudah menunjukan pukul 21.30 malam.


"Ada apa? Sudah malam masih berkumpul di belakang rumah? Ada acara minun teh kah?" Kiana menatap perempuan di hadapannya penuh tanya.


"Saya kurang tahu, … tadi cuma disuruh manggil Non Kia!"


Kiana pun akhirnya mengangguk, dia segera melangkah keluar, dan berjalan tepat di belakang asisten rumahnya.


Kiana berjalan menuruni tangga satu-persatu, dan setelah sampai di lantai bawah keduanya berpencar, Kiana berjalan ke arah pintu belakang yang terbuka, sementara Ipah berlalu ke arah sebuah ruangan dimana mereka beristirahat setelah melakukan banyak kegiatan.


Suara obrolan Kiana dengar samar. Yang dia tahu pasti adalah itu suara ayah juga ibunya, yang entah apa maksud keduanya meminta Kiana menemui mereka bahkan selarut ini, saat dirinya hendak pergi beristirahat.


"Jadi bagaimana dengan keluargamu Jo?" Danu bertanya.


"Ehemmm!" Kiana berdehem, dia berdiri di ambang pintu keluar, membuat semua pandangannya tertuju kepadanya.


Dress tidur selutut berwarna merah maroon, memiliki aksen polkadot berwarna putih. Wajah pucat tanpa make-up, dengan bando menggemaskan berbentuk telinga beruang menghiasi rambut pendeknya.


Jovian mengunci pandangannya pada gadis yang kini sudah memiliki status yang berbeda. Bukan anak asuhnya lagi, melainkan seorang gadis, yang sudah menyandang gelar calon istrinya.


"Apa benar gelarnya sudah menjadi calon istriku?" Jovian berbicara di dalam hatinya.


"Kia? Kemarilah." Danu melambaikan tangan, meminta putrinya untuk segera mendekat.


"Syukurlah kamu belum tidur, jadi kita bisa membahas sesuatu yang sempat tertunda bukan?" Herlin kini terlihat lebih bersemangat, berbeda dengan sikapnya di awal, yang terlihat sedikit ragu kepada keduanya terutama Kiana.


Gadis itu mengangguk, kemudian dia berjalan mendekat, dan duduk di sofa tepat di samping Jovian. Pria yang kali ini datang dengan pakaian yang lebih santai.


Hoodie abu-abu, dengan celana denim. Tidak ada kemeja, setelan jas dan dasi, namun tentu saja itu tidak sedikit pun mengubah cara pandang Kiana kepada Jovian.


Gadis itu terus memuji ketampanannya, meski raut datar terus mendominasi wajah pria itu.


"Membahas apa lagi?" Tanya Kiana. "Mama dan Papa minta Om Jovian datang lagi? Padahal tadi sudah pulang?"


"Ya karena ini sangat serius," Danu menjawab. "Bukan begitu, Jo?" Pria itu beralih pada pria yang duduk tepat di samping putrinya.


Jovian mengangguk, sementara Kiana menoleh sekilas, dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, dengan jantung yang terus berdebar kencang.


Sudah lewat satu Minggu. Namun itu tak membuat Kiana merasa terbiasa, terlebih hubungan yang terjadi tiba-tiba itu seperti masih kaku, dan memiliki batasan yang cukup tinggi.


Tidak ada hal yang lebih manis yang Jovian lakukan, selain beberapa kali menawarkan sebuah genggaman tangan. Sisanya pria itu selalu bersikap seperti biasa, dingin, acuh dan sangat cuek.


"Kamu sudah siap untuk tidur?" Herlin bertanya.


"Nggg, … belum! Selesai mandi langsung ngerjain tugas, terus mempelajari beberapa materi."


Herlin tersenyum.


"Jadi bagaimana? Kamu setuju? Dengan apa yang Jovian utarakan waktu itu?" Danu menatap putrinya lekat.


Kiana menoleh ke arah Jovian. Dengan perasaan heran, karena dia sudah mengakui sebuah ikatan yang ada, tapi kenapa pria itu tidak mengatakan apapun kepada kedua orangtuanya?

__ADS_1


"Emmmm, … apa jawaban aku mempengaruhi semuanya? Maksudku dengan rencana Papa dan Mama mungkin?"


Danu hanya tersenyum, pun dengan istrinya.


"Memangnya harus begitu? Aku menikah dengan cepat? Sementara kuliahku masih berlangsung selama beberapa bulan kedepan, … apa Papa dan Mama tidak bisa sedikit bersabar? Menunggu Kia sampai wisuda dulu, atau apapun itu?"


"Niat baik tidak boleh di tunda-tunda. Lagi pula Papa akan merasa tenang jika Jovian bisa benar-benar melindungimu, tidak terikat jam kerja seperti sekarang." Jelas Danu lagi.


Kiana kembali menoleh ke arah samping, dimana Jovian terus diam menyimak pembicaraan dirinya bersama kedua orang tua.


"Ini aneh!" Kiana membatin.


"Om? Nggak mau berkomentar? Atau protes gitu karena Papa sudah meminta Om datang kesini malam-malam?"


"Sekarang yang di tanya kamu, bukan saya. Jika saya yang di tanya maka saya akan segera menjawabnya." Jovian menjawab singkat.


Kiana menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.


"Sudah Papa jelaskan. Papa tidak sedang mau lepas tanggung jawab, hanya saja Papa dan Mama melihat jika perubahan besar kamu alami saat berada di bawah kendali Jovian."


Mendengar itu Kiana memicingkan mata. Berusaha mencari sebuah kebenaran di dalam manik kedua orang tuanya, sampai Kiana menatap Danu dah Herlin bergantian.


"Sudah! Kalau kamu masih mau berpikir, kita kembali pada pertanyaan yang belum kamu jawab, Jo!"


"Bagiamana dengan orang tuamu? Mereka ada dimana? Lalu apa mereka mengetahui jika kamu akan segera menikah? Ya walaupun Kiana belum menjawab tapi saya pastikan Kiana akan menerima kamu." Kata Danu dengan perasaan gembira.


"Untuk hal ini belum ada yang tahu. Mungkin jika Kiana sudah memberikan jawaban, maka saya akan membawa Kia menemui kedua orang tua saya."


Herlin mengangguk.


"Baiklah. Obrolan sepertinya kita sudahi dulu, Kiana masih bingung untuk menjawab, … jadi sebaiknya kalian pergilah keluar malam mingguan, terserah mau kemana saja, tapi pulanglah seblum lewat tengah malam."


Herlin mengatakan hal konyol, yang membuat Kiana sedikit terkejut.


"Ya, pergilah. Mungkin Kiana masih butuh penjajakan!" Danu menyetujui usulan istrinya.


"Apa?!" Kiana bereaksi dengan raut wajah penuh keterkejutan, meski jauh di dalam hatinya dia bersorak germbiri, karena akan menghabiskan waktu bersama pria dinginnya.


"Cepat! Waktu kalian hanya sampai tengah malam saja." Kata Herlin seraya menatap keduanya penuh arti.


"Tempat apa yang bisa di datangi jam sepuluh malam." Kiana menoleh ke arah samping, saat dia melewati beberapa restoran dan cafe sudah hampir tutup, terlihat dari lampu tempat itu yang mulai terlihat di padamkan.


"Setidaknya turuti saja apa kemauan orang tuamu. Yang penting kita keluar saja, … sebagai formalitas agar mereka tidak terus memaksa seperti tadi." Sahut Jovian.


Kiana menoleh, menatap Jovian untuk beberapa saat, lalu kembali menatap ke arah jalanan padat di hadapannya.


"Jadi mau kemana kita?" Akhirnya pria itu bertanya.


"Entah, aku pun bingung. Terserah Om ajalah."


Jovian mengalihkan pandangannya.


"Saya ajak ke satu tempat mau?"


"Tempat apa?"


"Seperti tempat nongkrong, … yang di penuhi jajanan kaki lima."


Kiana mengangguk.


"Mau?" Jovian meyakinkan.


"Iya, nggak apa-apa asal sama Om saja, … eh … emm maksud aku …"


"Tidak apa-apa. Begitulah jika kau sedang jatuh cinta, hati, otak dan pikiran benar-benar tidak pernah sejalan." Jovian mengulum senyum.


Dan setelah berkeliling jalanan kota, mencari sebuah tempat untuk di kunjungi. Akhinya mobil Jovian menepi di salah satu tempat jajanan kaki lima yang terlihat sangat ramai.


Keduanya keluar dari dalam mobil bersama-sama. Berjalan memasuki kawasan itu, dengan Kiana yang tak mengubah penampilannya sama sekali. Masih dengan dress tidur dan bando berbentuk kuping beruang yang terus melekat di atas kepalanya.


Jika biasanya Jovian yang selalu mengulurkan tangan menawarkan sebuah genggaman untuk Kiana. Kini gadis itu melakukannya tanpa aba-aba seperti biasa, dia segera menggenggam tangan besar milik Jovian dengan sangat erat.

__ADS_1


Jovian menundukan pandangan, menatap tangan mungil yang saat ini sedang memegangi tangannya.


"Kita kemana dulu, Om?" Kiana menengadahkan pandangan, menatap pria yang juga sedang menatapnya.


"Nanti kita beli makanan. Tapi saya mau menunjukan satu tempat dulu kepadamu. Tidak mewah, tapi nyaman untuk di jadikan tempat menikmati malam cerah seperti sekarang."


Jovian berjalan lebih dulu, menarik genggaman tangan Kiana, membawa seorang gadis yang entah bagaimana dia menyebutnya ke arah sisi lain tempat itu.


Tanpa banyak berbicara Kiana mengikuti kemana Jovian membawanya, sembari menatap genggaman tangan dengan senyuman tertahan.


"Ini gimana sih konsepnya? Tiba-tiba ngajak nikah, tapi nggak tau kita itu pacaran atau nggak." Batin Kiana bermonolog.


Langkah Jovian berhenti, tepat setelah menapakan kaki di atas rerumputan, dengan sebuah danau kecil buatan, yang membentangkan sebuah jembatan, dengan air mancur yang terlihat di tengah-tengah sana.


Mereka terus berjalan, mendekati jembatan kayu itu, dan benar-benar berhenti di tengah-tengah.


Angin bertiup cukup kencang pada malam hari ini, membawa percikan air ke arah Jovian juga Kiana. Yang seketika membuat keduanya merasa sejuk.


"Disini sepi?"


Kiana menatap pria tinggi yang berdiri di sampingnya.


"Hemm, … karena memang ini bukan untuk umum."


"Terus kenapa kita bisa masuk?"


"Itu rahasia saya." Jovian tersenyum.


Kiana mengangguk. Mereka diam untuk beberapa saat, menikmati suasana dengan pikiran masing-masing.


"Om? Aku mau tanya boleh?" Dia mengangkat pandangannya.


Jovian mengubah posisi berdirinya sampai berhadapan dengan Kiana.


"Hemmm, … katakan!"


"Om harus jawab jujur tapi!"


Pria itu mengangguk.


"Ini soal lamaran Om waktu itu. Setelah aku pikir-pikir, kayanya ada yang aneh sama semuanya, termasuk Papa dan Mama. Kok aku ngerasa Om ada di bawah tekanan Papa yah? Disini yang seharusnya lebih maju kan Om, … kok malah Papa yang lebih bawel sama semuanya yah!"


Jovian memperhatikan dalam diam.


"Om di suruh Papah buat nikahin aku? Om di paksa, iya kan?"


Jovian masih diam, menatap wajah cantik Kiana lekat-lekat.


"Aku harap Om jujur. Aku bener-bener …"


"Ya."


Kiana mengatupkan mulutnya, dia merasa tidak percaya, tapi setidaknya kecurigaan yang dia rasakan benar-benar terjadi.


"Jadi iya? Om mau mau nikahin aku karena permintaan Papa? Bukan murni mau nikah sama aku?" Kiana merasakan dadanya begitu sesak.


"Awalnya iya. Pak Danu meminta saya untuk menikahimu, menjanjikan 10% dari tambangnya akan beralih menjadi milik saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, tidak ada salahnya saya mencoba hubungan ini, terlebih kamu sudah mengungkapkan perasaan kamu kepada saya, … jadi saya memutuskan untuk menerima tawaran Pak Danu, tapi tidak dengan sahamnya!"


"Jadi, …"


"Saya mencoba untuk membuka diri. Mencoba membiasakan dari apa yang sebelumnya saya jauhi. Jadi jika kamu belum mendapatkan sebuah tindakan manis, tolong di maklumi karena saya sedang berusaha untuk mencintai kamu."


"Mungkin akan sedikit memakan waktu, tapi saya janji akan membalas perasaan kamu." Suara Jovian perlahan terdengar semakin rendah.


Raut wajah kecewa jelas Kiana perlihatkan. Kepalanya bergerak mengangguk, mengulum senyum dengan kaki yang maju satu langkah, berjinjit dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Jovian.


Jovian mematung.


"Ini ciuman pertama aku, Om, … aku berikan sebagai tanda terimakasih karena Om udah berusaha membalas cinta aku." Dia mundur untuk menjauh.


Namun dengan gerakan cepat Jovian meraih tubuh Kiana, menarik pinggangnya agar kembali mendekat. Dan dia kembali menyatukan bibir keduanya, memangut belahan kenyal itu dengan penuh perasaan, sampai Kiana memejamkan mata, menikmati apa yang sedang Jovian lakukan saat ini.

__ADS_1


Jovian berhenti, melepaskan pautan bibir keduanya, lalu menempelkan kening, sampai hembusan nafas hangat dapat mereka rasakan satu sama lain.


"Saya bilang saya sedang berusaha." Bisik Jovian seraya mengusap bibir basah Kiana dengan ibu jarinya.


__ADS_2