
Jam sudah menunjukan lewat tengah siang hari. Setelah cukup lama menunggu Kiana di cafetaria seperti biasanya, Jovian memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan menunggu Kiana di dalam sana sambil berbalas pesan dengan Denis, sahabatnya yang terus bertanya guna mengawal perkembangan hubungan antara Jovian dengan putri atasannya, Jasmine Kiana Danuarta.
Sosok gadis cantik, namun dengan kepribadian yang sangat luar biasa dari pada gadis pada umumnya.
Tentu saja pria itu terlihat begitu mendukung, pasalnya Jovian tak pernah membuka hati untuk siapapun selama 2 tahun terakhir, dia terus mengharapkan Eva kembali, meski mulutnya mengatakan dirinya tidak akan kembali kepada siapapun yang sudah pergi darinya begitu saja.
Namun hati dan otaknya tidak searah. Egonya mengatakan tidak, sementara hatinya terus meronta-ronta meminta Eva untuk kembali.
"Kukuhkan hati dan pendiriannya, Jo!"
Pesan Denis dengan emot senyum mengejek.
Jovian memutar bola matanya, kemudian mengutak-atik layar ponsel, seraya membalas pesan dari Denis.
"Apa maksudnya itu!"
"Kiana lebih cantik, kau harus menyadari itu. Dia juga daun muda, … jadi jangan sampai kau masih menyimpan Eva di dalam hatimu, jika kalian sudah menikah nanti."
Balas Denis.
"Jangan sok tahu!"
"Hey! Kita berteman sudah sejak SMA. Jadi jangan mengelak, aku tahu betapa bodohnya kau jika sudah mencintai seseorang. Termasuk kepada Eva, walaupun dia sudah memutuskan untuk meninggalkanmu. Mulai hari ini kalian sudah mulai memiliki ikatan, kau bukan hanya meminta Kiana untuk menjadi kekasih, namun untuk menjadi calon istrimu, Jo. Jangan pernah kecewakan Pak Danu dengan dengan alasan apapun, karena aku juga akan ikut kecewa."
Pesan balas kembali masuk.
Jovian membacanya dengan ekspresi wajah serius, tapi setelah itu dia menekan tombol power, dan memasukan handphone ke dalam saku jasnya, tanpa berniat membalas pesan dari Denis terlebih dulu.
"Dia ini kenapa bersikap seperti orang tuaku sekarang." Jovian bergumam.
Suara bell terdengar berbunyi. Dan tidak lama setelah itu para pelajar tampak berhamburan keluar, mendatangi kendaraan pribadi masing-masing yang terparkir di area sana. Sorot mata Jovian memindai setiap gadis yang berjalan keluar, dengan pikiran yang entah terbang kemana.
Apakah yang dia lakukan sudah benar? Awalnya memang semua itu berawal dari sebuah tawaran, namun kini dirinya berpikir, jika tidak ada salahnya membuka diri, dan mencoba melangkah untuk hidup kedepannya. Tiba-tiba Jovian merasa takut, ucapan Denis memang benar, dia selalu bertindak bodoh jika sudah berurusan dengan wanita.
"Apa aku bisa?" Dia bertanya pada dirinya sendiri. "Tapi bagaimana jika aku mengorbankan perasaan wanita lain? Aku takut akan menyakiti Kiana jika nanti aku tidak berhasil!" Jovian terus bermonolog.
Pria itu menyapu wajahnya kasar.
"Kenapa rasa itu sangat sulit dihilangkan. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa menggantikan Eva, dengan Kiana. Gadis yang sudah jelas mempunyai cinta untukku. Bukankah seharusnya aku senang? Jika hubungan ini berhasil maka aku pria pertama untuknya? Cinta pertama untuk Kiana karena dia tidak pernah merasakan hal seperti itu, seperti yang Kiana katakan beberapa waktu lalu. Jika dia belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Ah Jovian, … kau ini kenapa?" Dia merutuki dirinya sendiri.
Jovian terus melamun, sampai tidak menyadari jika Kiana terlihat berjalan mendekat, membawa tas juga buku-buku di pelukannya.
Dreuk!!
Pintu mobil terbuka, membuat Jovian segera menoleh karena terkejut.
__ADS_1
"Dih, Om ngelamun." Katanya, lalu masuk dan duduk seperti biasa, di kursi samping kemudi.
"Memangnya tidak boleh?"
"Boleh. Cuma aneh aja kalau Om kaya gini, nggak biasanya!" Kiana menarik tali seatbelt dan memasangkannya sampai tombol berbunyi 'klik'.
Jovian tidak menjawab, dia hanya memindahkan persneling, memutar setir, dan menatap spion saat mobil itu mulai bergerak mundur.
Keadaan hening cukup lama. Hanya terdengar musik yang mengalun di dalam sana. Sementara Jovian dan Kiana fokus menatap kedepan tanpa banyak berbicara.
"Kiana?" Jovian memulai obrolan.
"Iya Om?" Gadis itu segera menoleh.
"Apa kamu benar-benar akan menerima ajakan saya?"
"Ajakan kemana?"
Jovian melirik sekilas, sampai pandangan keduanya sempat beradu, sebelum Jovian kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalanan di depannya.
"Ajakan saya tadi pagi? Kamu belum menjawab di depan kedua orang tuamu. Mereka memberimu waktu bukan? Bagaimana? Apa kau menerima ajakan saya jika mereka bertanya lagi?" Jovian mencerca Kiana dengan beberapa pertanyaan.
"Oh, itu! Aku udah bilang mau kan sama Om? Kenapa? Om berubah pikiran yah!?"
"Kalau tidak. Apa itu artinya kita pacaran?" Dengan polosnya gadis bertanya.
Jovian belum menjawab.
"Aku masih bingung. Memangnya orang kalau mau pacaran begini yah?"
"Mungkin tidak. Banyak laki-laki di luar sana yang lebih romantis, … hanya saja saya tidak bisa melakukan itu."
"Kenapa?" Kiana menatap Jovian lekat-lekat.
"Ya tidak bisa saja. Tidak ada alasannya!" Pria itu menjawab.
Sementara ingatannya berputar, betapa manisnya dulu dia menyatakan cinta kepada Eva. Menyiapkan segala hal yang istimewa, termasuk hadiah, karangan bunga dan coklat, sementara kini? Jovian tidak mau melakukan hal berlebihan seperti itu.
Tentu saja, karena dia belum yakin dengan hatinya sendiri.
"Aneh yah!" Kiana terkekeh sambil menepuk-nepuk tangannya. "Kevin nembak aku dengan banyak hal gila. Bunga, hadiah, ucapan romantis, … tapi aku nggak bisa. Sementara Om?" Dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah pria di samping kanannya.
"Om nggak melakukan apapun. Bahkan Om cenderung sangat cuek, tidak peduli dan dingin, terus galak lagi. Tapi kok bisa bikin hati aku sampai bergetar begini, … menurut Om normal nggak kalau jantung aku itu lebih deg-degan kalau di dekat Om, … lebih kenceng daripada lagi di Deket pengawas ujian, atau dosen galak." Katanya.
Pria itu hanya melirik sekilas tanpa berkomentar apapun.
__ADS_1
"Aku masih mikir kalau Om itu lagi bercanda sama aku. Om nggak beneran ngajak aku nikah, … Om lagi peres aja sama Papa dan Mama, .. atau …"
"Memangnya harus bagaimana?" Sergah Jovian segera memotong ucapan Kiana.
Kiana diam, gadis itu terlihat berpikir.
"Memangnya ada pacaran kaya gini? Aku rasa nggak!" Kiana tertawa, dia berusaha menyingkirkan rasa gugupnya.
"Memangnya orang pacaran itu harus seperti apa? Dan bagaimana?"
Tanya Jovian tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Aku nggak tau, kan belum pernah pacaran. Tapi yang aku lihat, entah itu teman-teman kampus, atau film. Ya seenggaknya mereka bergandengan tangan, terus obrolannya juga nggak sekaku Om sama aku!"
Jovian melepaskan tangan kirinya dari setir mobil, lalu menadahkan dan mendekatkan kepada Kiana, sampai membuat gadis itu menatapnya bingung.
"Kemarilah!"
Jemarinya bergerak.
Kiana menatap telapak tangan itu dengan wajah Jovian bergantian
"Apaan sih!?"
Dengan bingun Kiana menepuk tangan Jovian, menyerupai tos. Yang seketika membuat senyum di bibir Jovian muncul.
"Malah senyum!"
"Mana tanganmu!" Jovian menggerakan jemari tangannya lagi, setelah terlebih dulu mengubah letak perseneling nya seperti biasa.
Kiana menatap tangan itu dengan perasaan ragu, namun tak urung dia meletakan tangan kanannya di atas tangan kiri Jovian, yang seketika pria itu genggam dengan erat.
Kiana membeku.
"Bagaimana?" Jovian menoleh.
Gadis itu masih mematung. Tubuhnya memang membeku, namun jantungnya tentu saja berdebar lebih kencang lagi dan lagi, dengan perasaan yang entah harus bagaimana Kiana menjelaskannya, namun itu hangat indah.
Bahkan Kiana merasakan dadanya dipenuhi ribuan kupu-kupu yang sedang mengepakan sayapnya, sehingga menghadirkan desiran yang sangat luar biasa.
"Om? Jantung aku nggak aman!" Cicit Kiana.
Gadis itu mengusap dadanya, seraya mengatur nafas beberapa kali, menarik dan menghembuskannya melalui mulut.
Sementara Jovian terus menggenggam tangan Kiana dengan senyuman samar yang terus dia perlihatkan.
__ADS_1