
Decitan ranjang tidur di dalam salah satu ruangan apartemen milik Jovian terus terdengar, ketika pria itu kembali mengulangi kegiatan panasnya untuk yang kesekian kali. Hasrat Jovian dan Kiana kembali menanjak, hanya karena sebuah pelukan dan kecupan hangat, yang seketika berubah menjadi lebih dalam dan menggebu-gebu.
"Oh Baby!!" Kepala Jovian mendongak kebelakang, dengan mata yang terpejam rapat, merasakan miliknya di cengkram kuat.
Sementara Kiana meremat kain pelapis tempat tidur, seraya membenamkan wajah pada bantal di bawahnya, berusaha meredam suara teriakan yang terus keluar tanpa bisa dia kendalikan.
"Nghhhh!!" Kening perempuan itu mengkerut, sampai alisnya terlihat hampir bersentuhan. Membuat Kiana kelimpungan saat Jovian menyerangnya dari arah belakang.
Satu tangan Jovian menyentuh rambut perempuan yang sedang berada di bawah kendalinya, sementara satu tangan lainnya menyentuh pinggang Kiana, dan terus bergerak-gerak mengusap hampir setiap lekuk tubuh sang istri yang selalu terlihat menggoda.
"Ahhhhh sayangghhhh!" Perempuan itu meracau.
Dia berteriak, dengan kedutan dan cengkram di dalam inti tubuhnya yang semakin meningkat. Menjadi sebuah tanda jika Kiana sudah hampir mencapai pelepasan.
Sekuat tenaga Jovian menahan kesadarannya, menikmati permainan yang sungguh luar biasa pada menjelang pukul 21.00 malam. Namun, nyatanya tidak semudah itu, reaksi Kiana di respon cukup baik oleh syaraf-syaraf yang ada di dalam tubuh Jovian, sampai dia sudah tidak dapat lagi bertahan, dan semakin mempercepat hentakan pinggulnya.
Kiana terus meracau, mengucapkan kata-kata yang tidak Jovian mengerti. Bersahutan dengan *******, rintihan dan suara geraman rendah dari Jovian.
"Oh Baby!!" Tangannya mencengkram kuat pinggul Kiana.
Wajah Jovian memerah, keningnya menjengit, suara nafas tersengal-sengal, dan dada yang naik turun dengan cepat. Ketika darahnya terasa mengalir dengan sangat deras, berkumpul di satu titik.
"Argghhh!!"
Erangan keduanya terdengar, ketika Jovian menghujam semakin dalam, bersamaan dengan sesuatu terpancar di dalam sana, terasa hangat dan mengalir keluar saat Jovian juga melepaskan tautan tubuh keduanya.
****
Tangan Jovian terulur, meraih pegangan salah satu pintu lemari pendingin, lalu menariknya perlahan-lahan sampai benda itu terbuka dengan sempurna. Dan tampaklah apa yang ada di dalam sana. Rak paling atas di penuhi beberapa macam jenis sayur juga bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, tomat dan cabai. Lalu di rak tengah terdapat buah-buahan segar, dan di laci paling bawah terlihat di isi oleh beberapa tempe, tahu kuning dan tofu.
Kemudian dia beralih membuka pintu yang lain. Dimana berbagai macam jenis daging berada di sana. Dua ekor ayam utuh, daging sapi, beberapa pack dada ayam filet, beef slice, ikan salmon dan udang. Belum lagi makanan-makanan cepat saji, seperti French fries, sosis, dan nugget dengan merk yang cukup terkenal di kalangan-kalangan selebgram.
Dia tersenyum.
"Astaga Kiana. Apa yang kamu lakukan sekarang, selalu membuat aku menyesali hidup yang sempat aku jalani sebelumnya. Kenapa kita harus terpaut sangat jauh? Coba saja kita hanya berbeda beberapa tahun saja, maka sudah di pastikan aku akan menikahimu sejak dulu, sehingga aku tidak akan pernah mengalami bagaimana rasa sakit dan pahitnya kegagalan."
Dia menutup kedua pintu lemari es itu dengan segera. Kemudian beralih mendekati dispenser, membawa gelas, dan mengisinya dengan air dingin, untuk kemudian Jovian teguk sampai habis tanpa sisa.
Jovian kembali melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Dimana lampu di dalam sana terlihat masih padam, dan hanya menyisakan sedikit cahaya yang masuk melalui ruang tengah, juga samar-samar dari arah kaca besar yang tertutup tirai tipis.
Trek!!
Pria itu menekan salah satu saklar, sampai lampu di ruangan itu menyala.
Kedua sudut Jovian tertarik saling berlawanan, membentuk sebuah senyuman tipis, ketika dia mendapati Kiana yang masih terlelap, dengan posisi berbaring menelungkup. Rambut yang masih dibiarkan terurai, juga selimut yang sedikit tertarik ke bawah, membuat punggung mulus itu dapat terlihat dengan sangat jelas.
Pria itu membungkuk, untuk kemudian mengecup kulit punggung Kiana, hingga membuat perempuan itu mengerang pelan, seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit pegal.
"Baby?"
__ADS_1
Jovian duduk di tepi ranjang, mengusap kepala sang istri, lalu punggung, dengan pandangan yang terus terarah pada bagian tubuh Kiana yang terbuka.
"Hey? Ayo bangun!" Akhirnya Jovian menepuk-nepuk pipi Kiana.
Dan itu berhasil. Mata yang tadinya terus tertutup rapat mulai mengerjap, sampai pandangan keduanya beradu untuk menatap satu sama lain.
"Kebiasaan!" Gumam Kiana dengan suara paraunya.
"Apanya yang kebiasaan?" Jovian tertawa pelan.
"Kamu suka nggak pakai baju." Pipi Kiana tampak sedikit memerah.
Pundak kokoh, bahu lebar dan dada yang bidang. Membuat pikiran Kiana selalu berkelana jauh pada sesuatu yang sangat indah. Padahal Jovian masih mengenakan celana jogernya, namun tentu saja itu membuat sang suami terlihat semakin seksi, apalagi dengan rambut acak-acakan yang terlihat belum sepenuhnya kering.
Jovian tersenyum. Lalu kemudian dia menyibak selimut yang menggulung tubuh polos istrinya, dan kembali berbaring dengan posisi saling menatap satu sama lain dari jarak yang sangat dekat.
Cupp!!
Jovian meraih bibir Kiana, dan mengecupnya singkat.
"Kamu berbelanja hari ini? Sampai semua tempat terisi penuh dengan bahan-bahan masakan dan makanan ringan. Chiller juga kamu isi penuh dengan minuman, bagaimana bisa kamu kepikiran seperti ini? Aku kira kamu hanya pergi berbelanja dan ke salon untuk melakukan perawatan." Jovian membingkai wajah istrinya.
Dimana kali ini terlihat sembab juga sedikit Pucak, mungkin karena kelelahan setelah menyelesaikan pertarungan yang terus berulang sampai beberapa kali.
"Aku pikir, mungkin kita tidak akan terus menerus tinggal bersama Papa dan Mama. Sesekali bolehlah disini, … dan jika kita tinggal disini, masa stok makanan tidak ada, terus kalau mau masak gimana? Kalau mau ngemil malem gimana? Kalo aku juga lagi mau minum yogurt gimana? Masa apa-apa harus beli dulu, kan ribet."
Tangan kanan Kiana bergerak menyentuh tengkuk Jovian, dan mengusapnya menggunakan jari-jemari seraya memperlihatkan senyuman yang paling manis.
"Nggak, aku hanya sedang suka mengusap kulit kamu. Semakin sehat dan halus, ya!?" Tukas Kiana, sembari terus menatap bekas merah keunguan di tengkuk sana.
Jovian segera meraih pergelangan tangan Kiana, kemudian mencengkramnya cukup kencang agar Kiana menghentikan aksinya.
"Berhentilah, atau kau akan membangunkannya lagi!" Jovian menggeram gemas.
Sementara Kiana hanya tertawa. Dia menarik tangannya cukup kencang, sampai benar-benar dapat terlepas dari cengkraman tangan sang suami, beringsut mendekat, lalu membenamkan wajah di dada bidang Jovian, yang selalu membuatnya merasa nyaman.
"Sayang?"
"Yes Baby?" Jovian mengusap-usap helaian rambut Kiana yang terasa sangat lembut, dan berbau harum.
"Satu Minggu lagi aku wisuda."
Jovian merasakan hembusan nafas hangat Kiana menyapu permukaan kulit dadanya yang terbuka.
"Selamat. Setelah itu kamu akan mendapatkan apa yang sudah kamu perjuangkan selama beberapa tahun lamanya."
Kiana menjauhkan kepalanya, sedikit mengangkat pandangan, agar dapat melihat wajah suaminya dengan jelas.
"Setelah itu resepsi. Lalu kita akan benar-benar menjalani kehidupan sesungguhnya. Kamu bekerja, dan akupun sama." Raut wajahnya muram.
__ADS_1
Tampak jelas jika Kiana masih merasa keberatan untuk terjun kedunia bisnis yang keluarganya geluti.
"Jika di pikirkan memang terlihat berat. Tapi jika sudah dijalani, kamu akan merasa terbiasa nantinya, toh tidak akan setiap hari juga kita sibuk, pasti ada waktu untuk kita bersama-sama." Katanya, lalu mencium kening Kiana.
Perempuan itu tersenyum.
"Besok kita fitting. Apa Papi, Mami dan Kak Vier akan datang?"
"Ya tentu saja. Tapi Javier belum memberi kabar lagi, kapan dia akan berangkat dari Belanda sana."
Kiana mengangguk, lalu helaan nafas terdengar cukup kencang.
"Sayang?" Panggil Kiana lagi.
"Ya?"
"Kamu pernah dengar tidak? Kalau perempuan yang baru saja selesai haid itu rahimnya sedang dalam keadaan subur?" Tiba-tiba saja Kiana bertanya demikian.
Membuat Jovian terdiam, dengan manik yang terus terlihat bergerak-gerak.
"Aku mau hamil."
Dan ucapan itu membuat Jovian semakin tidak bisa berbuat apapun. Isi kepalanya terasa kosong, darahnya berhenti mengalir, namun dengan rasa bahagia yang menyeruak di dalam dada sana.
"Kalau aku hamil. Yang senang tidak hanya kamu, tapi Mama, Papa, Papi, Mami, … atau mungkin Axel karena dia akan memiliki adik sepupu." Ujar Kiana lagi, namun Jovian masih betah untuk diam.
"Sayang?"
Jovian mengangguk, dia bergeser semakin mendekatkan diri, lalu kemudian menyatukan kening keduanya.
"Baiklah. Aku akan berusaha lebih keras agar kamu segera hamil! Tapi tidak sekarang, nanti kamu kelelahan. Bagaimana kalau kita bangun, … dan ayo masak bersama." Kata Jovian dengan suara setengah berbisik.
Kiana mengangguk.
"Mau aku bantu?"
"Tidak usah. Kamu boleh tunggu di dapur, aku akan mandi dulu sebentar, nanti aku menyusul kesana, oke?"
Jovian tersenyum.
Terlebih dulu Kiana mengurai lilitan tangan yang melingkar di pinggang Jovian, bangkit, mencium bibir suaminya singkat, lalu beranjak pergi memasuki pintu kamar mandi yang terbuka lebar setelah melepaskan lilitan selimutnya terlebih dulu.
Jovian mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha menetralkan perasaan yang tidak karuan, hanya karena mendengar permintaan dari istrinya. Ditambah Kiana yang semakin berani melakukan apapun di hadapannya, seperti beberapa detik lalu, dia pergi meninggalkan tanpa mengenakan sehelai benangpun, dan Kiana tidak terganggu sama sekali.
"She's so cute!" Gumam Jovian, seraya menyapu wajahnya kencang. "Tidak Jovian, dia justru terlihat semakin nakal sekarang." Lanjutnya lagi.
Jovian menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidur, berjalan mendekati lemari pakaian, lalu membawa satu kaos rumahan tanpa lengan, dan mengenakannya sambil berjalan ke arah luar kamar.
......................
__ADS_1
Cuyung!! jangan lupa di like, komen, hadiah sama vote kalo yang ada. Kawal si Om sampe 1M pop dong 🤩 apalah daya othor kalau kalian nggak ada.
Aylopyutu banyak-banyak 🥳🥳