
Jovian menarik lepas kaos yang saat ini melekat di tubuh kekarnya. Melemparkan ke arah sofa, lalu merangkak naik ke atas tempat tidur dengan sangat perlahan-lahan.
Sementara perempuan yang sudah berbaring terlentang di bawahnya tampak diam dan pasrah, membuat senyuman menakutkan di wajah Jovian semakin terlihat.
"Sayang ini masih pagi!" Akhirnya Kiana bersuara, dia menyentuh dada polos Jovian, berniat menahannya agar tidak semakin mendekat.
"Ya, aku tahu."
Jovian mencekal pergelangan tangan Kiana, lalu menyingkirkannya. Dia semakin membungkuk, menundukan wajah, dan meraih bibir Kiana tanpa aba-aba.
Awalnya Kiana berusaha menghindar, bahkan beberapa kali perempuan itu mendorong bahu suaminya. Namun lagi-lagi Jovian menepis tangan sang istri, bahkan kali ini dia mencengkram kedua pergelangan tangannya, dan mengunci di atas kepala Kiana.
Satu tangan Jovian menahan tangan Kiana, sementara satu tangannya lagi mulai bergerak-gerak tak tentu arah, mengusap apa yang dapat Jovian usap, menyentuh apa yang dapat Jovian sentuh, sampai kini pria itu dapat menemukan sesuatu yang sangat menggemaskan, terhalang busa dan kain renda di dalam sana.
Leguhan Kiana masih tertahan. Atau mungkin dia memang berusaha menahannya, mengingat kali ini mereka sedang berada di rumah Danu dan terdapat manusia lain di dalamnya. Berbeda ketika saat mereka ada di dalam apartemen, bahkan Kiana selalu mengeluarkan suara kencang, karena mungkin perempuan itu tahu, hanya ada mereka berdua di sana.
Jovian tersenyum, kemudian melepaskan Kiana terlebih dulu, membiarkan perempuan itu menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk bernafas.
"Masih sakit, sayang!" Kiana merengek pelan. Saat Jovian juga melepaskan cengkraman tangannya.
"Oh ya?" Satu alis Jovian terangkat, seolah sedang tidak percaya atas apa yang istrinya keluhkan.
Kiana menganggukan kepala, dengan senyum tertahan di kedua sudut bibir.
"Besok lagi saja yah!" Pinta Kiana.
Bola matanya bergerak-gerak, menatap wajah tampan suaminya dari jarak yang sangat dekat. Sementara Jovian terus tersenyum penuh arti, dengan satu tangan yang terus bergerak-gerak saat masih berada di balik pakaiannya.
"Ya sudah. Tapi setelah ini!" Katanya sambil berbisik.
Dengan susah payah Jovian melucuti sisa pakaian yang masih melekat. Dan setelah semuanya terlepas, dia beralih kepada Kiana, meskipun perempuan itu sempat menolak, tapi pada akhirnya Kiana menyerah juga.
Sampai kini keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Dengan posisi saling menindih di atas ranjang tidur yang terasa sangat nyaman.
Rengekan Kiana terus terdengar, tangannya bergerak-gerak mencoba menjauhkan Jovian dar dirinya. Namun pria itu tetap berusaha, membuka kaki Kiana secara paksa.
"Sayang!"
"Aku janji hanya sebentar." Sahut Jovian dengan suara rendah.
"Dan ucapan itu kamu katakan beberapa kali tadi malam!" Kiana berujar.
Gairahnya semakin menanjak, terlihat dari sorot mata Jovian yang sudah berkabut. Apalagi saat melihat Kiana dalam keadaan sekarang, sudah jelas pria itu tidak dapat dihentikan oleh siapapun, apalagi Kiana.
Perempuan yang selalu dia inginkan. Mulai dari semalam, hari ini, dan seterusnya.
"Sayaaang!" Kiana merengek lagi.
__ADS_1
Jovian tetap tidak mendengar, dia membuka kedua kaki Kiana lebar-lebar, menahannya sekuat tenaga, lalu memposisikan diri.
"Nggghhhhh!!"
Suara itu terdengar cukup kencang, saat Jovian menerobos inti tubuhnya sekaligus.
"Sakit." Dia merintih, dengan bibir yang meringis.
Tanpa merasa bersalah Jovian hanya mengulum senyum. Lalu kemudian dia membungkuk, dan kembali memangut bibir Kiana dengan lembut. Tangannya tak pernah diam, dia terus berusaha membuat Kiana rileks dari rasa panik yang menyerangnya.
Perlahan-lahan Kiana mulai terbawa suasana. Dia membalas setiap permainan yang Jovian lakukan. Bahkan kedua tangannya terus merayap ke atas, dan melingkar erat memeluk pundak Jovian. Tak jarang jemarinya bergerak, meremat rambut pria itu cukup kencang sampai membuat Jovian semakin memperdalam ciumannya.
Jovian berhenti untuk beberapa saat, dia menatap Kiana, hal yang sama perempuan itu lakukan lalu tersenyum.
Raut wajah Kiana seketika berubah. Mulutnya menganga, keningnya mengernyit, sampai membuat alis Kiana hampir menyentuh satu sama lain. Saat Jovian mulai bergerak maju mundur dengan sangat perlahan.
Jovian merasa dirinya dicengkram sangat kuat, membuat sesuatu miliknya yang ada di dalam inti tubuh Kiana sangat sulit di gerakan.
"It's okay, … nanti tidak akan sakit lagi." Tangan Jovian menyentuh pipinya, memberikan sentuhan lembut. Terus turun kebawah untuk memperlakukan si kembar menggemaskan milik istrinya.
Kiana tidak menjawab. Namun tubuhnya bereaksi hebat, dia terus menggeliat, bergerak tak tentu arah, dengan satu tangan yang menggenggam lengan berotot milik Jovian, dan mencengkramnya kuat saat menahan sesuatu yang menerjang, dan sangat menyiksa.
"Ahhhh!"
"Baby? Tenanglah!" Dia berbisik.
Jovian terus memindai wajah cantik Kiana tanpa merasa puas.
Jovian mengecup telinga bagian belakang Kiana, terus turun menelusuri tengkuk, dan berakhir di puncak buah dada yang terlihat sangat pucat, lalu menyesapnya dengan penuh semangat.
Semakin lama sentuhan Jovian semakin menggila. Bahkan saat ini dirinya sudah berpacu di atas tubuh Kiana, saat respon perempuan di bawahnya sudah sangat baik.
Rintihan kesakitan yang sedari tadi terus terdengar. Kini berganti dengan suara-suara erotis yang terdengar begitu memabukan.
Jovian melepaskan pautan tubuh terlebih dulu, memutar Kiana hingga posisinya telungkup membelakangi. Dan tanpa banyak bicara Jovian menghujam nya dari arah belakang.
"Astaga Jovian!!"
Kiana berusaha meredam suara teriakannya, dengan cara membenamkan wajah pada bantal yang saat ini ada di bawah tubuhnya. Bahkan jemari Kiana meremat kain pelapis kasur itu sangat kuat, ketika Jovian semakin menghentak tidak terkendali.
Rasanya sedikit tidak nyaman, inti tubuhnya terasa sangat dipenuhi. Namun Kiana tak dapat berbuat apa-apa.
"Emmmmm, … sayang!" Tangan Kiana menggapai telapak tangan Jovian yang sedang bertumpu pada pinggulnya.
Dan tanpa di sangka-sangka Jovian memukul pinggulnya sangat kencang, sampai menimbulkan bekas kemerahan disana.
Sementara Kiana kembali merintih.
__ADS_1
Jovian semakin merasa gemas. Suara itu terdengar seperti nyanyian yang sangat merdu, dan mampu membuatnya lupa diri untuk sesaat.
Suara-suara tertahan terus terdengar, mengalun di kamar Kiana pada pagi menjelang siang hari ini.
Inti tubuhnya terasa semakin sensitif. Bahkan Kiana sudah tidak mampu menahan rasa yang sudah sangat menggila itu. Hal yang sama Jovian rasakan, miliknya terasa diremat kencang, hingga di dalam sana terasa semakin sempit, di selingi kedutan yang luar biasa rasanya.
"Nggggg, … sayang … aku!"
"I'm done, Baby … I'm done!" Ucapan Jovian tersengal-sengal.
Dia semakin mempercepat pergerakannya, menghentak begitu kencang, dan setelah beberapa saat lolongan pria itu terdengar, saat Jovian menembakan sesuatu di dalam sana.
"Argghhh!" Jovian memejamkan mata.
Suasana menjadi hening. Meninggalkan suara hembusan nafas menderu-deru yang terdengar dari keduanya. Tubuh Kiana naik turun dengan cepat, dengan nafas yang menderu-deru.
Pria itu mengusap punggung Kiana, kemudian menarik diri sampai tautan tubuh itu terlepas, lalu mencium pipi Kiana, sebelum akhirnya dia berbaring tepat di samping istrinya.
Dia menatap ke adaan Kiana yang sangat berantakan. Wajah memerah, rambut acak-acakan, dan keringat yang bercucuran sampai membuat poni rambut istrinya terlihat basah.
"You okay Baby?" Tanya Jovian pelan dengan suara tersengal-sengal.
Lalu dia mengusap pipi Kiana menggunakan punggung tangannya.
Mata Kiana yang terpejam pun segera terbuka, menatap Jovian sekilas lalu menutupnya kembali sambil tersenyum.
"Kita sudah benar-benar gila." Gumam Kiana.
"Hemmm, … khususnya aku. Melakukan ini di rumahmu, bahkan saat jam baru saja menunjukan pukul sembilan pagi." Jovian terus mengusap pipinya.
"Sudah aku katakan. Nanti saja di apartemen, aku sesak nafas lalu harus menahan suara seperti tadi!" Kiana terkekeh.
"Baiklah, nanti kita ulangi di apartemen yah."
Kiana membelalakan mata seketika.
Sementara Jovian hanya tertawa kencang. Dia segera bangkit, turun dari atas tempat tidur, berniat mendekati pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Plak!!
Jovian kembali memukul punggul polos Kiana dengan gemas. Dan setelahnya pria itu menghambur masuk kedalam kamar mandi.
"Jovian!!" Suara Kiana memekik kencang, dengan raut kesal karena kejahilan Jovian yang mulai pria itu perlihatkan.
"Kenapa dia itu? Apa susahnya menampar b***ng sendiri." Kiana menggerutu.
Dia membenahi posisi berbaringnya, menyentuh ujung selimut, menarik kain tebal itu sampai menutupi leher jenjang yang terdapat beberapa bercak merah keunguan.
__ADS_1
......................
Kopi mawar kopi mawar 🤭🤭