Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Rencana kunjungan kerja


__ADS_3

Suara nyaring dari ponsel Jovian terdengar, sehingga membuat pria yang sedang asik berbicara dengan janin-janin di dalam perut Kiana beranjak pergi mendekati nakas yang terletak tepat di samping ranjang tidur.


“Ya, Mang?” Sapa Jovian.


Dia berjalan menjauh dari sana, dan mendudukan diri di sofa yang terletak di sisi lain ruangan itu. Sementara Kiana memperhatikan sambil mengubah posisi duduknya.


“Sudah selesai semua?”


Jovian terlihat mengangguk-anggukan kepala, ketika lawan seseorang di seberang sana menjawab pertanyaannya.


“Pembukuan dan semuanya? Terus bagaimana pasokan ke pabrik? Apa masih kurang?” Tanya Jovian lagi.


“Ya sudah, lusa saya kesana. Sekalian buat rincian gaji para buruh ya, Mang!”


Dan setelah berbicara banyak seputar pekerjaan, akhirnya Jovian menjauhkan benda pipih itu dari daun telinganya, dan menekan salah satu tombol sehingga sambungan telepon keduanya terputus. Jovian bangkit, seraya berjalan mendekati ranjang tidur.


“Ada apa?” Pandangan Kiana mengikuti kemana Jovian pergi.


“Tidak ada apa-apa, hanya pekerjaan saja.” Jovian menjawab dengan senyuman tipis, lalu dia kembali naik, dan merebahkan dirinya di samping tubuh sang istri.


Tangannya kembali bergerak, mengusap perut yang sudah sangat membulat. 


“Kamu harus ke Pangalengan?” Kiana mengusap-usap rambut Jovian.


Pria itu menengadahkan pandangan, menatap wajah istrinya, tersenyum, lalu menganggukan kepala.


“Mang Adang sudah menyelesaikan pembukuan, jadi lusa aku harus kesana untuk membagikan gaji para buruh.”


Kiana menatapnya dalam diam. Dan itu cukup membuat Jovian berdebar-debar, pasalnya ia takut Kiana ingin memaksa ikut, padahal keadaannya sudah sangat tidak memungkinkan.


“Tidak apa-apa kalau aku tinggal beberapa malam?”


Perempuan itu tampak berpikir untuk sejenak, sebelum akhirnya menganggukan kepala sambil tersenyum tipis.


“Tapi janji jangan ngebut, yah? Inget ada aku sama si kembar yang nungguin kepulangan kamu disini.”


Jawaban yang cukup memuaskan, hanya saja ia merasa ada sedikit perasaan berbeda. Dia rindu suara rengekan Kiana, dan sikap manjanya yang persis seperti seorang gadis berusia 7 tahun. Namun, tiba-tiba saja menghilang, sehingga menimbulkan sedikit rasa takut di dalam dirinya.


“Kamu tidak mau ikut?”


“Mau. Tapi sepertinya tidak memungkinkan, jangankan duduk dengan waktu yang lama di dalam mobil


Di sini saja sudah banyak mencari posisi nyaman, dan ide untuk ikut sepertinya kurang baik. Aku titip salam sama Mami, Papi aja deh.”


Jovian terkekeh.

__ADS_1


“Masih lusa, Baby. Kenapa kamu menitipkan salam sekarang? Aneh sekali kamu ini!” Dia semakin mendekatkan wajah pada perut bulat Kiana, lalu memberikan banyak kecupan di sana.


“No Papa! Jangan, nanti kalau mereka bangun, aku yang susah. Mereka selalu membuat aku mau pipis tiba-tiba, … sama rasanya ngilu kalau mereka menendang dengan sangat kencang.”


Kiana menjauhkan Jovian dengan cara mendorong pundaknya, lalu mengusap permukaan perut, berusaha menenangkan dua janin di dalamnya yang masih diam.


“Oh ya? Padahal aku senang membuat mereka bergerak-gerak. Terlihat menggemaskan disini!” Katanya sambil menusuk-nusuk perut Kiana.


“Aih, berhentilah sebelum mereka benar-benar membuat kekacauan.”


“Tidak, Baby. Biarkan mereka tahu kalau aku ini Papa nya!”


Jovian terus menciumi permukaan perut Kiana, tak lupa mengusapnya dengan kencang, berharap janin di dalam sana memberikan respon. Sementara Kiana berusaha membuat Jovian untuk menjauh, dan berhenti mengganggu anak-anaknya yang masih tenang.


“Baby apa kamu berniat untuk memisahkan aku dan putra-putriku ini, hum?”


“Astaga berhentilah. Tidak usah menginginkan pengakuan, … jangankan si kembar, readers aja tahu kalau janin yang aku kandung itu anak kamu.” Cicit Kiana dengan sedikit nada kesal.


Dan Jovian hanya tertawa kencang ketika mendengar Kiana sedikit mengomel.


“Ya readers bahkan tahu bagaimana saat kita membuatnya.” Pria itu berbisik.


“Ah mereka itu yah!” Kiana menggeleng-gelengkan kepala.


Jovian sedikit menjauh, seraya berhenti mengusap dan menciumi perut Kiana. Namun, tiba-tiba saja Kiana meringis, saat merasakan tendangan yang luar biasa kencangnya dari dalam perut sana.


Jovian terkekeh.


Plak!!


“Idih malah ketawa, … cepetan anterin aku ke kamar mandi.” 


Jovian bangkit, kemudian dia turun dari atas ranjang, dan segera memegangi kedua tangan Kiana.


“Mau di bopong aja, atau digendong?” Lantas pria itu berbisik saat Kiana berusaha berdiri.


Kiana menoleh, sehingga mata mereka dapat kembali saling bertemu.


“Gendong saja yah?” Dia tersenyum sumringah.


“Apapun untukmu.” Katanya, lalu membungkuk dan mengangkat tubuh Kiana. “Pegangan yang kenceng, peluk akunya lebih erat lagi, … kalau tidak nanti kamu jatuh!” Lanjut Jovian, sambil menggerakan alisnya naik turun.


Kiana hanya tertawa, dan menuruti apa yang Jovian minta. Kedua tangannya melilit di pundak Jovian dengan sangat erat, sehingga Kiana dapat menatap ketampanan suaminya dari jarak yang sangat dekat.


Perempuan itu tidak pernah merasa bosan sedikitpun, bahkan menatap Jovian adalah salah satu kebiasaan yang harus terpenuhi, sejak saat dirinya mengandung. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi, dia merasa terus jatuh cinta kepada pria yang sama di setiap harinya. 

__ADS_1


Dan tidak menatap Jovian sehari saja, rasa rindunya sudah benar-benar tidak pernah bisa dibendung. Namun, itu terjadi saat kandungannya masih di trimester pertama. Syukurlah hal aneh itu sedikit demi sedikit mulai berkurang setelah kehamilannya memasuki trimester kedua.


***


“Hi Amih?” 


Suara Axel terdengar, lalu wajahnya mendominasi layar handphone milik Jonathan, setelah sambungan video call terhubung.


“Axel baru pulang sekolah, sayang?” Leni tersenyum bahagia.


Bagaimana tidak, kerinduannya kepada sang cucu pertama segera terobati, setelah sekian tidak berkomunikasi karena kesibukan Axel yang mulai padat di sekolah.


Pria kecil itu hanya mengangguk, dan tidak lama setelahnya Axel bergerak ke samping, lalu munculah Javier di layar handphone sana.


“Oh Papa ada di rumah? Tidak ke fresh market?” 


Axel menoleh kepada ayahnya.


“Aku sudah tambah karyawan, … jadi sepertinya sudah bisa aku tinggal-tinggal tanpa harus merasa takut dan khawatir. Lagi pula menjemput Axel, adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa dirubah, atau kalau tidak nanti dia merajuk dan tidak mau sekolah selama beberapa hari.” Jelas Javier sambil tertawa.


Sementara putra kecil di dekatnya hanya tersenyum malu, sambil menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan.


“Adline dimana?”


“Di toilet.”


“Kapan kalian pulang? Rasanya Mami sudah sangat kesepian. Jovian hanya sesekali kesini untuk memeriksakan kebun dan pasokan ke pabrik pamanmu. Tapi Kiana sudah tidak pernah, mengandung bayi kembar membuatnya sangat kesulitan. Padahal baru memasuki trimester kedua.”


Javier tersenyum.


“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bahagiannya Jovian sekarang. Dia menikah lebih dulu dariku, … tapi sampai mereka bercerai Eva masih tidak bersedia untuk mempunyai anak.” 


Leni tersenyum.


“Jovian sangat bahagia, … maka cepatlah pulang, agar kita bisa berkumpul. Dan Axel menemui adik-adik sepupunya.”


“Mungkin nanti kalau sudah liburan. Kami pasti datang. Oh ya, Papi dimana?” Javier segera bertanya setelah tidak mendapati Jonathan di dekat ibunya.


“Tadi cuma ngasih handphonenya, setelah itu kebelakang lagi, … sedang bersama pemborong. Kebun di belakang sudah waktunya panen lagi. Dan bagusnya harga daun bawang sedang naik.” 


“Mami selalu hoki. Menanam apapun, setiap kali waktu panen tiba, pasti harganya sedang naik. Entah itu wortel, sawi, daun bawang dan kol.”


Leni mengangguk.


“Rezeki anak cucu.” Katanya.

__ADS_1


Dan sambungan video call itu terus berlanjut. Apalagi ketika Adline mulai muncul, dan mereka membahas banyak hal, setelah mengutarakan rasa rindu satu sama lain tentunya.


__ADS_2