Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Akhir dari sebuah jawaban.


__ADS_3

Tok tok tok!!


"Ya?"


Suara di dalam sana terdengar nyaring.


Klek!


Pintu salah satu ruangan di rumah besar itu terbuka dari arah luar, dan munculah salah satu dari ketiga asisten rumahnya.


"Pak Jovian sudah datang, Pak." Katanya.


Pandangan Danu yang sedari tadi tertuju pada layar ponsel pun segera beralih kepada asisten rumahnya.


"Minta Jovian untuk segera masuk." Titah Danu.


Wanita itu mengangguk, kemudian beranjak pergi tak lupa menutup pintu ruang kerja itu terlebih dahulu. Dan tidak lama setelah itu, pintu kembali di ketuk, di buka dari arah luar dan munculah Jovian dengan setelan jas hitamnya yang selalu dia kenakan.


Pandangan Danu langsung tertuju kepada Jovian. Sosok yang dia minta datang lebih awal untuk menyatakan sesuatu yang sudah sempat mereka bicarakan sebelumnya.


"Masuk, Jo. Duduklah!" Pinta Danu sembari menarik lepas kacamata yang sedang dia pakai.


"Baik." Jovian masuk, dan menutup pintu ruang kerja itu kembali.


"Maaf membuatmu datang sepagi ini." Danu tersenyum, sembari mengalihkan pandangan ke arah jam dinding ruangan itu, yang baru saja menunjukan pukul 06.00 pagi.


Sementara Jovian hanya kembali mengangguk, dengan ekspresi wajah seperti biasa. Dingin, datar, dan tidak terlalu banyak berbicara.


"Saya tidak mau berbasa-basi. Jadi langsung saja kepada intinya."


Danu membenarkan posisi duduknya. Seperti biasa, suasana langsung terasa berbeda, dan itu membuat Danu sedikit merasa lebih canggung, berbanding terbalik dengan Jovian yang selalu terlihat santai dan lebih tenang.


"Jadi, … bagaimana dengan usulanku waktu itu?" Danu memulai topik pembicaraan.


"Jika saya boleh bertanya untuk meyakinkan sesuatu, apa anda berkenan, Pak?"


Danu menganggukan kepalanya, sambil terus menatap Jovian, mencoba melihat sebuah jawaban dari mimik wajah pria yang dia idamkan menjadi menantunya.


"Untuk tawaran Bapak sudah saya pikirkan. Hanya saja disini saya tidak mau berpura-pura, atau terlalu banyak menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang sia-sia. Saya pria 37 tahun, jika saya menikah maka yang saya inginkan bukan lagi santai seperti pria muda lainnya, … saya ingin mempunyai anak dan menjalankan pernikahan sebagaimana mestinya." Jelas Jovian.

__ADS_1


Danu mendengarkan.


"Kiana masih muda. Perjalanannya masih panjang, tak apa jika Bapak berubah pikiran, … tentu saja kalau menikah dengan saya dia akan kehilangan masa mudanya. Dia harus menjadi seorang istri, atau mungkin seorang ibu."


"Lalu? Apa kamu menerima tawaran saya atau tidak? Mungkin saya terdengar jahat karena memaksa kamu untuk menikahi Kiana tanpa dia ketahui, … tapi percayalah niat saya baik, saya ingin melindungi putri saya dari pergaulan bebas, kamu tahu sendiri bagaimana dia kan? Jika tidak di tangani lebih awal maka dia akan semakin menjadi-jadi, banyak anak gadis di luar sana yang selalu memberontak ketika orang tua melarang sesuatu meski itu adalah hal baik. Saya yakin kamu tahu, beberapa gadis yang hidup di jalanan adalah anak yang terakhir dari orang tua berkecukupan, mereka memilih itu hanya karena ingin hidup bebas, dan saya tidak mau itu terjadi. Saya membebaskan Kiana setelah ini, tapi setelah menikah denganmu. Kalian boleh melakukan apa saja, entah itu pergi ke Clubing bersama, atau memiliki anak setelahnya, itu saya serahkan kepada kalian, setidaknya saya tahu jika Kiana aman bersamamu."


Jovian tampak berpikir untuk beberapa saat. Ingatannya kembali berputar ketika gadis itu mengatakan jika dia menyukai dirinya.


"Apa ini akal-akalan anak itu? Dia menggunakan ayahnya sebagai senjata untuk mendapatkan aku?" Hati Jovian mengira-ngira.


"Bagaimana? Kamu menerima tawaran itu? Ah jangan katakan sebagai tawaran, tapi aku benar-benar memintamu!"


"Apa ini permintaan Kiana, Pak?" Akhirnya Jovian mengutarakan rasa curiganya.


Dan jika itu benar, maka dirinya akan benar-benar mundur. Bagaimana bisa hidupnya di atur oleh seorang gadis belia seperti Kiana. Mau di simpan dimana harga dirinya, saat seseorang bisa mendapatkan apapun hanya dengan mengadu kepada kedua orang tua, memanfaatkan kekuasaan agar dia bisa mendapatkan dirinya hanya karena sebuah rasa ketertarikan.


Namun mendengar itu Danu terkekeh. Dia menghempaskan punggung pada sandaran kursi kerjanya.


"Bahkan dia tidak tahu apa-apa dengan apa yang kita bahas sekarang. Sebenarnya saya takut Kiana akan marah setelah ini, … tapi saya meminta Mama nya untuk ikut membujuk. Tapi jangan lengah, kau harus waspada takutnya dia kabur."


"Bu Herlin tahu?"


Danu mengangguk.


"Tidak. Dia sedikit ragu, … bukan kepada dirimu melainkan kepada putrinya sendiri. Dia takut Kiana akan menjadi janda di usia muda. Istri saya takut tidak akan ada pria yang sanggup menghadapi sikap anaknya."


Jovian mengangguk.


"Jadi kamu paham maksud saya? Saya memintamu bukan karena ingin lepas tanggung jawab, … tapi saya percaya kepadamu, kamu pasti biasa bersama Kiana, kamu akan menjadi pria yang tepat untuk dia."


Keadaan kembali hening, saat keduanya terdiam menatap satu sama lain. Danu dengan harapannya, juga Jovian perasaan yang belum benar-benar yakin.


"Jika keberatan. Maka …"


"Bagaimana dengan kuliahnya?" Sergah Jovian memotong ucapan Danu.


"Tetap berjalan. Dan mungkin jika memang ini terjadi, pernikahan kalian di sembunyikan dulu, … maksud saya hanya orang-orang terdekat yang tahu. Setelah wisuda baru kita adakan pesta."


Danu mendorong mudur kursi kerjanya, menarik sebuah laci yang terdapat di bawah meja kerja, mengeluarkan sesuatu, kemudian menggesernya sampai kini berada tepat di hadapan Jovian.

__ADS_1


"20% saya berikan kepadamu. 10% milikmu, dan 10% lagi milik Kiana. Setelah menikah nanti kau akan ikut andil bersama saya untuk mengurusnya agar tetap berjalan dengan baik."


Jovian menatap dokumen yang tadi Danu berikan.


"Jika setuju. Kamu tinggal tanda tanga, surat-suratnya sudah saya lengkapi dengan materai 10.000!"


Namun tanpa di duga Jovian menggelengkan kepalanya, lalu kembali menggeser sebuah dokumen yang terbungkus sebuah amplop berwarna coklat ke arah Danu, sampai pria paruh baya itu menjengit dengan ekspresi wajah penuh kekecewaan.


"Sebaiknya Bapak simpan saja untuk Kiana." Kata Jovian seraya mengukir senyum tipis.


Danu menghela nafas. Dia merasa kecewa dengan ekspektasinya sendiri.


"Baiklah, … tidak apa-apa!" Danu mengulum bibirnya, menekankan rasa kecewa yang terus menyeruak.


"Jika saya mau menikahi Kiana. Maka saya akan melakukan itu dengan sepenuh hati, bukan karena sesuatu yang anda berikan kepada saya, Pak." Ujar Jovian yang juga menyadari kekecewaan pria di hadapannya.


Danu mengangguk.


"Saya menerima tawaran Bapak. Tapi saya tidak mau menerima dokumennya."


Dan ucapan itu membuat Danu sedikit kebingungan.


"Maksudnya?"


"Mari bicarakan secepatnya. Jika Bapak bersungguh-sungguh, maka saya tidak mau memperlambat apapun lagi, sayang ingin semuanya segera di laksanakan. Terserah, … mau akad dulu, atau langsung pesta kecil-kecilan, yang tadi Bapak maksud karena Kia belum lulus."


"Kamu sedang tidak bercanda, Jo?"


Jovian tersenyum. Dia menggelengkan kepala.


"Jika Bapak serius, maka saya lebih serius. Tapi setelah ini, biarkan Kiana hidup dengan cara saya, tidak usah memberikan apapun yang berlebihan, saya takut itu membuat saya tidak bertanggung jawab atas keluarga saya sendiri."


"Baiklah-baiklah, kau memang yang terbaik saya tahu itu. Makanya hati ini begitu mantap memilihmu sebagai calon Kiana." Wajah Danu berbinar.


Setelah itu Danu bangkit dari duduknya.


"Mari sarapan bersama, kita beritahukan Kiana hari ini juga." Ajak Danu kepada calon menantunya.


Sementara Jovian hanya mengangguk, kemudian bangkit dan berjalan mengikuti Danu keluar dari ruangan kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2