Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
bab 10


__ADS_3

“Kamu mau ngapain? Main masuk aja!” katanya ketus, sembari menjangkamu handuk yang tergantung di dinding kemudian melilitkannya ke tubuh.


Khalid tidak menjawab, hanya tatapan matanya yang mulai melebar.


“Keluar!” perintah Khaula keras.


“Aku mau mandi dan berwudu,” jawabnya pelan.


“Kan, bisa gantian!”


“Takut terlalu malam, nanti kena paru-paru basah!”


“Biarin! Sekarang keluar!” Khaula kembali membentak.


“Khaula, kamu halal bagiku dan kamu tidak berhak mengusirku ke luar dari kamar mandi ini!”


Belum selesai Khalid bicara, Khaula menyela, “Halal atau tidak, itu tidak penting. Sekarang kuminta, kamu keluar. Atau mau kurendam dalam bak ini?” ancam Khaula.


“Apa kamu tidak pengen ditemani?” gurau Khalid, yang membuat Khaula semakin berang.


“Khalid, keluaaar!”


“Kita salat berjamaah, ya. Kamu ‘kan sekarang sudah resmi jadi makmumku."


“Keluar!” Khaula menggeram.

__ADS_1


Khalid mengalihkan pandangannya dan tersenyum. Ternyata Khaula masih tidak berubah. Garang dan suka teriak. Dari pada malu didengar kerabat yang masih menginap, akhirnya Khalid hanya berwudu tanpa mandi.


Selesai salat, Khalid duduk di tepian ranjang. Menunggu Khaula keluar dari kamar mandi. Lelaki itu menarik napas panjang, ternyata Khaula belum bisa menerima dan memaafkan dirinya. Khalid tahu, kalau Khaula sangat terluka, namun, semua itu demi kebaikannya. Sehingga Khalid memilih pergi, tapi tidak juga untuk mendekati Nazima.


Khaula hanya salah sangka, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Sakit hati yang diderita Khaula membutakan logikanya.


“Kamu nggak salat?” tanya Khalid setelah Khaula mengganti pakaian.


“Nanti aja, waktu isya masih lama,” bantahnya pelan.


“Kalau sebelum salat, malaikat maut menjemputmu, bagaimana?” tanyanya lembut.


Mendengar itu Khaula membelalak, lalu bertanya dengan nada keras.


”Jadi kamu doakan aku mati, begitu?”


“Tidak! Aku belum siap, besok-besok aja!”


“Bukankah itu kewajiban kamu sebagai seorang istri?”


“Iya, jika aku mencintaimu. Tapi aku nikah karena amanat Ayah, bukan karena mencintai kamu!” tolak Khaula keras.


Khaula tidak peduli dengan Khalid yang masih duduk di ranjang. Ingatannya berkelana kepada Juki. Bertanya-tanya bagaimana keadaan pria sekarang? Ada debar indah yang membuat ia tidak peduli pada Khalid yang menatap lekat punggungnya.


***

__ADS_1


Malam semakin larut. Kamar pengantin yang seharusnya merona karena pasangan halal itu memadu cinta, kini mencekam seperti di kuburan, hening. Hanya desahan napas yang terdengar di sela tatapan mata mereka.


“Khaula, kamu tau kewajibanmu sebagai seorang istri?” tanya Khalid memecah hening.


Khaula menoleh kepada Khalid, lalu tersenyum sinis. Wajah perempuan itu berubah dingin.


“Tau, tapi aku tidak mau!”


“Apa kamu mau malaikat mencatat dosamu sampai pagi?”


“Khalid! Aku tidak mencintaimu, jadi aku tidak bisa melayanimu sebagai seorang istri. Pernikahan ini hanya karena amanat dari Ayah. Andai saja beliau tidak berpesan kepada Ibu, aku tentu tidak mau menikah dengan orang yang pernah melukai batinku,” sergah Khaula.


“Khaula, kamu salah sangka. Kecemburuanmu pada Nazima berlebihan, aku tidak memiliki hati pada dia. Tuhan saksinya!”


“Alah! Itu ‘kan, alasanmu saja! Seharusnya kamu sadar, aku pernah kecewa, aku pernah terluka olehmu. Sekarang kamu meminta hakmu, apa kamu sudah berpikir sebelumnya?”


“Khaula, jika memang kamu belum siap. Aku ikhlas. Memang sulit bagi seorang perempuan melepas kesuciannya. Aku paham ketakutanmu,” jawab Khalid lembut.


Setelah itu, Khalid kembali ke kamar mandi, berwudu. Sementara Khaula mematung di peraduan, berkelana bersama pikiran yang melayang-layang, antara kebencian dan takut kepada Allah. Namun, apa daya. Khaula masih belum bisa menerima Khalid, pintu maafnya masih tertutup untuk sang suami.


Khaula tertidur dengan kegalauan, sedang Khalid bersimpuh di hadapan Rabb-nya. Meminta agar pemilik hati, membuka pikiran Khaula. Karena semua ini hanya salah sangka. Tidak ada sedikit pun rasa yang ia punya untuk Nazima. Air mata Khalid meleleh ke pipi.


Angin malam yang masuk melalui celah ventilasi mulai menusuk persendian. Sesaat Khalid menoleh pada Khaula yang tertidur tanpa selimut. Laki-laki muda itu beranjak dari sajadah. Mendekati wanitanya, membelai rambut panjang Khaula yang tergerai ke bantal. Tidurnya meringkuk karena kedinginan. Ingin lelaki itu memeluk tubuh ramping Khaula, tapi ia tidak ingin berseteru malam-malam begini. Ia tahu kalau Khaula belum bisa menerimanya, memeluknya berarti menambah masalah. Akhirnya Khalid menutup tubuh sang istri dengan selimut tebal yang masih beraroma baru.


Khalid menarik napas dalam menenangkan hati yang gelisah. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan ketika Khaula telah ia halalkan, namun, wanita itu kini enggan disentuh. Padahal dulu, Khalid sering mencium aroma wangi sampo dari puncak kepala wanita ini. Ketika Khaula bersandar manja di bahunya yang tegap.

__ADS_1


Khalid memejamkan mata, terkenang masa dulu yang membuat hatinya menangis. Dosa itu semoga diampuni Allah. Dosa bersentuhan dengan wanita yang tidak muhrim, dosa yang ia lakukan karena ketidaktahuannya.


Khalid benar-benar menyesali diri, satu-satunya tempat mengadu hanya Allah. Lirih doanya mengetuk pintu langit menjelang subuh. Semoga ujian ini cepat berakhir, dan membalikan Khaula seutuhnya padanya.


__ADS_2