
"Ma, aku sudah mendapatkan apa yang mama minta," Anggia menyerahkan kertas yang terdapat tanda tangan Daffa tadi pada ibunya.
"Bagus. Kamu bergerak cepat sayang. Kita akan memprosesnya dengan segera."
"Iya ma, itu terserah mama saja," balasnya.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini!" ucap Anggia.
Mobil yang mereka tumpangi berjalan kearah kediaman Rahiyang. Dan mereka kembali merencanakan sesuatu.
***
Zainal memasuki ruangan Daffa untuk memberitahukan mengenai jadwalnya hari ini sekaligus ingin mengetahui kasus yang dibeberkan oleh Daffa kemarin mengenai jamu kuat tersebut.
"Aku sudah mendapatkan jamu tersebut," ucap Daffa pada Zainal.
"Benarkah. Kalau begitu serahkan padaku biar aku yang membawanya pada dokter Aina," sahut Zainal.
Daffa meraih tasnya dan mengeluarkan bungkusan transparan yang berisi jamu tersebut. Ia menyerahkannya pada Zainal.
"Emm baunya sangat menyengat. Bagaimana bisa kamu meminum jamu seperti ini?" tanya Zainal.
Ia mengibaskan tangannya di depan hidungnya.
"Baiklah kalau begitu aku ke rumah sakit sekarang!"
Daffa mengangguk saja. Ia duduk di kursi kebesarannya menunggu hasilnya dari Zainal hingga ia tidak bisa bekerja karena tidak dapat berkonsentrasi.
Tidak berapa lama Zainal datang dan memberikan informasi yang sangat mengejutkan bagi Daffa.
"Jadi jamu yang selalu diberikannya padaku itu mengandung obat tidur?" tanya Daffa.
Zainal mengangguk.
"Pantas saja setiap kali aku meminum jamu tersebut, aku selalu tidak bisa menahan kantukku. Dan keesokan paginya aku selalu terbangun dalam keadaan tanpa busana."
"Daff, dokter Ainanya ingin bertemu langsung denganmu untuk membicarakan hal ini," ucap Zainal.
"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang saja!"
Zainal dan Daffa menuju kearah tumah sakit tempat Aina bekerja. Sesampainya disana mereka langsung memasuki ruangan Aina yang kebetulan sudah tidak ada lagi jadwal para pasien berobat.
"Apa orang yang dalam pengaruh obat tidur bisa melakukan percintaan?" tanya Daffa pada dokter Aina.
Aina tersenyum mendengarnya. "Itu tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia. Untuk bangun saja, 'dia' harus perlu rangsangan dari seseorang ataupun sesuatu. Lalu bagaimana saraf-saraf motorikmu mengantarkan rangsangan itu keotakmu sedangkan dirimu masih belum sadar?"
"Jadi, selama ini aku terus saja di bodohi oleh Anggia?" Daffa terlihat geram.
"Begitulah," Aina terkekeh. Daffa memang pandai dalam dunia bisnis tapi dia sangat bodoh berhadapan dengan wanita licik seperti Anggia.
"Lalu apa tujuannya memberikan jamu tersebut padaku?" menatap Aina penuh tanya.
"Soal itu, sebaiknya kamu cari tahu sendiri saja," sahut Aina.
__ADS_1
"Baiklah. Aku paham."
"Kalau begitu, aku akan pergi," Aina meraih tas miliknya.
"Tunggu!"
"Ada apalagi?" tanya Aina.
"Bagaimana jawabanmu mengenai perasaan Daffi padamu. Tidakkah kamu mempertimbangkannya?"
Aina terdiam. Ia melirik kearah Zainal sesaat.
"Daffi benar-benar tulus mencintaimu dan sekarang dia terlihat frustasi karena terus-menerus mendapat penolakan darimu."
"Daff dengar ya. Kalian berdua adalah adikbagiku. Diantara hubungan kakak beradik tidak ada hubungan lawan jenis. Kamu mengertikan maksudku?"
"Iya. Aku paham. Tapi kita tidak kakak beradik yang sesungguhnya bukan?"
Aina mengangguk," aku tahu. Tapi dia terlalu muda bagiku."
"Jangan permasalahkan umur. Yang jadi masalah itu apakah ada lelaki yang tulus mencintaimu seperti Daffi?"
Aina terdiam mendengar ucapan Daffa barusan. Ia tidak mampu untuk menjawabnya.
"Aku pergi dulu," Aina meraih tas miliknya dan meninggalkan Daffa dengan perasaan yang berkecamuk.
***
"Sayang. Kamu sudah pulang?" Senyum sejuta volt Anggia terbit.
Daffa hanya melirik saja padanya.
"Ada apa denganmu sayang?"
Anggia memperhatikan suaminya yang terlihat tidak baik. Tadinya ia ingin memberikan kejutan pada Daffa. Tetapi ia merasa kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan?"
Daffa memperhatikan tangan Anggia yang berada di balik badannya, sedang memegang sesuatu.
"Bukan apa-apa. Sebaiknya kamu mandi dulu, aku akan menyiapkan minuman hangat untukmu."
Daffa mengernyit. Minuman hangat? Jangan-jangan obat tidur lagi?
"Tidak perlu sayang, cukup aku mandi air hangat maka pikiranku akan rileks lagi," tolaknya.
"Selesai mandi aku ingin berbicara berdua denganmu!" ucap Daffa serius sambil berlalu meninggalkan Anggia.
"Ada apa dengannya, baru kali ini ia bersikap dingin padaku?" gumam Anggia sambil menatap kepergian Daffa.
Didalam kamar mandi Daffa justru semakin terlihat frustasi. Ia ingin marah pada Anggia tapi ia tidak mampu. Haruskah ia diamkan saja Anggia untuk beberapa hari agar dia tahu kalau Daffa sedang marah padanya.
"Tapi aku harus mencari tahu dulu apa yang membuat dirinya memberikanku obat tidur tersebut!" gumam Daffa lagi.
__ADS_1
Daffa keluar kamar mandi dalam keadaan memakai handuk saja. Matanya beralih menatap Anggia yang sedang duduk di ujung ranjang menatap dirinya. Bahkan wajahnya terlihat sangat bahagia. Ada apa dengannya dan sangat bertolak belakang dengan keadaan Daffa saat ini.
"Duduklah! Aku ingin memberitahukan sesuatu padamu!" ucap Anggia.
Daffa hanya menurut saja. Ia duduk tepat di samping Anggia.
"Ada apa?" tanya Daffa.
Tangan Anggia bergerak perlahan menyerahkan sesuatu di tangannya. Daffa mengernyit menatap benda yang terasa asing di matanya.
"Apa ini?"
Daffa meraih dan memperhatikan benda tersebut. Ada tanda positif disana.
"Sayang, aku hamil!" teriak Anggia.
Daffa terbelalak mendengarnya, ia terkejut. Perasaan senang menelusupi hatinya tapi ia kembali merasa di bohongi. Bagaimana bisa wanita yang sedang menstruasi tiba-tiba hamil.
"Bukankah kamu bilang kemarin padaku kalau kamu baru saja datang bulan?" tanya Daffa.
Anggia menunduk. "Ma'afkan aku sayang, sudah membohongimu."
"Kenapa kamu berbohong padaku! Aku bisa mengerti kalau kamu menolakku melakukannya karena takut dia kenapa-napa." Menunjuk perut Anggia.
"Tapi jangan pernah ada dusta diantara kita. Aku tidak suka!!"
"Daff, aku minta ma'af," lirih Anggia. Ia ketakutan melihat Daffa yang terlihat sangat marah padanya. Dan baru kali ini ia melihat kemarahan Daffa selama mereka kenal.
"Sejak kapan kamu tahu kalau kamu sedang hamil?" Tanya Daffa melunak.
Ia tidak tega melihat ketakutan di wajah Anggia.
"Siang tadi. Aku pingsan saat di penggalangan dana buat anak yatim piatu. Setelah cek ke dokter ternyata aku hamil."
Anggia menunduk sambil memilin ujung bajunya.
Daffa terkejut mendengarnya. "Ma'afkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik!" ucap Daffa.
"Tidak apa-apa Daffa, tapi lain kali jangan perlakukan aku seperti tadi lagi."
"Aku lapar, sebaiknya kita makan malam dulu," sahut Daffa.
Selama mereka berada di meja makan. Daffa hanyut dengan pikirannya, ia masih mengingat ucapan dr Aina mengenau efek obat tidur.
"Bagaimana mungkin dia bisa hamil kalau setiap saat dia selalu memberiku jamu palsu tersebut?" gumam Daffa sambil melirik kearah Aina yang terlihat senang.
•
•
•
*****
__ADS_1