Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Kenyataan


__ADS_3

Azza kembali ke rumah mertuanya dengan perasaan yang kurang nyaman, ia selalu kepikiran dengan ucapan terakhir Anan. Entah darimana lelaki itu berkesimpulan seperti itu tentang dirinya padahal mereka baru pertama kalinya bertemu hari ini.


"Azza. Kamu sudah pulang sayang?" tanya Rika.


"Iya ma!" sahut Azza.


"Kenapa wajahmu pucat seperti itu, apakah kamu sakit?" Rika tampak cemas.


"Ma, aku tidak apa-apa. Aku hanya kepanasan saja jadinya pucat seperti ini."


"Sebaiknya kamu banyak minum air putih, sayang, kamu sepertinya dehidrasi."


"Ma, aku baik-baik saja, percaya deh sama aku." Azza tersenyum untuk menenangkan hati mertuanya.


Rika mengangguk, ia tampak ragu untuk mengatakannya melihat Azza yang kurang sehat.


"Apa yang ingin mama sampaikan? Katakan saja ma?" pinta Azza melihat ekspresi Rika.


"Eh. Kamu benaran tidak apa-apa."


Azza mengangguk. "Iya ma, aku hanya kepanasan saja kok. Percayalah, dan ini hal yang biasa." Azza menggenggam tangan mertuanya lembut.


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kamu ikuti mama saja."


Azza mengangguk dan mengikuti langkah Rika menuju kearah kamar mereka.


Rika mengambil sebuah kotak dari lemarinya dan meletakkannya tepat di hadapan Azza.


"Bukalah menggunakan liontin kalung yang kamu miliki."


Azza tampak bingung mendengarnya, tetapi ia menurut saja. Entah darimana Rika tahu kalau liontin miliknya adalah sebuah kunci yang berpasangan dengan sebuah gembok. Padahal liontinnya hanya terlihat sebagai perhiasan saja.


"Aku tidak tahu apa isinya tetapi Ambar berpesan padaku agar kamu membukanya dan melihat isinya," ucap Rika.


"Memangnya ini kotak siapa ma?" tanya Azza heran.


"Itu milikmu, peninggalan dari kedua orang tuamu!" sahut Rika.


Azza menatap sendu kearah kotak tersebut. Ia membukanya dengan perlahan dan mendapati sebuah foto sepasang suami istri yang tidak di kenalinya dengan sebuah surat di atasnya.


"Siapa mereka?" meraih foto tersebut dan menatapnya dengan intens. "Apakah mama mengenalnya?" tanya Azza sambil menyerahkan foto tersebut pada Rika.


"Aku tidak mengenal mereka. Mungkin mereka adalah keluargamu yang tersisa," sahut Rika.


"Tapi mama dan bapak selagi mereka hidup pernah mengatakan kalau mereka benar-benar tidak punya sanak saudara." Azza tampak ragu.


Rika mengerutkan dahinya mendengar ucapan Azza.

__ADS_1


"Mungkin mereka memang sengaja menyembunyikannya karena ada sesuatu hal yang terjadi. Sebaiknya kamu buka saja surat itu!"


Azza mengangguk dan meletakkan foto kedua orang yang tidak di kenalinya tersebut serta meraih surat tersebut. Dengan tangan gemetar ia membaca sebaris demi sebaris isi surat tersebut hingga tangisnya pecah.


"Jadi selama ini aku bukanlah anak kandung mereka!" Azza tergugu mendapati kenyataan yang baru di dapatnya.


"Kemana aku harus mencari orang tua kandungku dan kenapa mereka membuangku?" kembali menatap foto sepasang suami istri yang ada disana.


"Sayang, terima kenyataan ini dengan lapang dada. Masih ada kami sebagai keluargamu. Jadi kamu jangan sedih seperti itu lagi." Rika memeluk Azza erat, ia merasa kasian dengan nasib menantunya.


"Jadi benar apa yang di katakan oleh lelaki asing tadi. Kenapa semuanya kebetulan seperti ini. Lalu dimana kedua orang tuaku yang asli? Apakah di foto itu?" gumam Azza dalam hati sambil menatap foto tersebut.


"Haruskah aku menemui lelaki itu lagi dan meminta penjelasan darinya serta menerima sesuatu yang di tawarkannya padaku," Azza kembali membatin.


"Aku ingin istirahat ma, aku lelah!" Azza mengakhiri pelukan mereka dan meninggalkan Rika yang menatapnya sendu.


****


Pintu kamar terbuka dengan kencang. Daffa berlari kearah Azza yang termenung di balkon kamar mereka. Bahkan sejak tadi ia hanya diam saja dengan pikiran kosong.


"Sayang, apa yang terjadi padamu? Aku sangat khawatir." Meraih tubuh Azza dan memeluknya erat.


"Daff, aku... aku... aku bukan anak kandung mereka. Aku... aku...."


"Sttt... diamlah. Aku sudah tau semuanya, tadi mama sudah menceritakan semuanya padaku. Kamu tenang saja, selama aku berada disisimu maka apapun jalan yang kamu lalui maka akan kita lalui bersama-sama. Berpegangan tangan seperti ini bersama sepanjang jalan hidup kita."


"Apakah mereka tidak menginginkan hidupku sehingga mereka membuangku dari sisi mereka?"


"Jangan berkata seperti itu. Kita tidak tahu apa yang menjadi alasan mereka menyerahkanmu pada orang lain. Apa yang kamu pikirkan belum tentu seperti apa kenyataannya. Kita akan bersama-sama mencari mereka dan meminta penjelasan mengenai semua ini!"


"Terima kasih Daff, kamu selalu membantuku."


"Jangan berkata seperti itu. Kita adalah suami istri, satu jiwa dalam dua raga. Apapun yang kamu rasakan, aku juga merasakannya."


Azza merasa tenang mendengarnya.


"Istirahatlah, aku akan menemanimu disini!" Membawa tubuh Azza kearah ranjang dan merebahkannya.


"Tidurlah, kamu terlalu lelah hari ini. Jangan takut, ada aku disini."


Azza tertidur dalam dekapan Daffa bahkan dahinya terlihat berkerut beberapa kali selama ia tertidur.


Dengan perlahan Daffa berdiri dan meninggalkan Azza kearah balkon kamarnya. Meraih selembar foto yang tergeletak di atas nakas.


"Kamu periksa kedua orang yang ada di dalam foto tersebut, apakah benar mereka adalah orang tua kandung Azza. Dan juga cari identitas mereka sedetail mungkin."


Daffa menutup telponnya dan berbalik menatap Azza yang tampak gelisah dalam tidurnya. Ia bertekad akan menemukan orang tua istrinya walaupun sesuatu akan terjadi nantinya.

__ADS_1


***


Suasana makan malam tampak senyap. Sejak tadi Azza terlihat sering melamun sedangkan Daffa terlalu sibuk membujuknya.


"Ada apa dengan kakak ipar, apakah kalian ada masalah yang berat?" Daffi menatap mereka satu persatu meminta penjelasan.


"Ataukah kakak ipar sedih karena dia belum bisa mengandung sekarang?" celetuk Daffi tanpa rasa bersalah.


"Diamlah saat makan, nanti akan kita bicarakan di ruang keluarga. Jadi fokuslah dengan makananmu!" sahut Angga.


"Baik pa," jawab Daffian.


Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga, sedangkan Azza pergi ke kamar karena ia merasa tidak enak badan.


"Sepertinya Azza begitu tergoncang menerima kenyataan ini," ucap Angga.


"Daffa, apakah kamu sudah menyelidiki identitas mereka?" tanya Angga.


"Sudah pa tapi aku belum mendapatkan hasilnya. Mungkin besok sudah ada hasilnya," sahut Daffa.


"Apa maksud kalian? Dan apa yang sedang kalian bicarakan?" Daffi mengerutkan dahinya. "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan!" tambahnya lagi.


"Papa akan menceritakannya padamu tapi tidak disini. Sebaiknya kita keruang kerja papa saja. Kamu Daffa, masuklah ke kamar kalian dan temui Azza. Ia sangat memerlukan dukunganmu saat ini."


Di kamarnya, Azza terlihat kembali melamun menatap kearah langit malam. Kembali dengan pikiran yang kosong seakan tidak dapat menerima kenyataan yang baru di dapatnya.


"Sayang. Kamu belum tidur?" Daffa berjalan kearah Azza.


"Aku tidak mengantuk Daff. Aku hanya takut saja kalau aku bertemu mereka dan mengetahui kebenarannya dan penyebab mereka membuangku."


"Sayang. Kamu jangan berpikiran seperti itu. Mereka tidak membuangmu, mereka hanya menitipkanmu saja. Mungkin mereka menghadapi sesuatu yang tidak dapat di selesaikan."


"Tetap saja mereka membuangku, Daff."


Daffa menggeleng, tangannya terulur membelai rambut Azza dengan lembut.


"Tidurlah. Ini sudah malam. Kamu harus istirahat. Besok kita akan mulai mencari mereka dan aku akan selalu bersamamu."


Azza mendongak dengan mata yang berkaca-kaca. Ia bersyukur memiliki suami yang begitu perduli padanya dan juga sangat mencintainya. Ternyata di balik kejadian buruk yang menimpanya dulu, ia bertemu malaikat yang baik hati. Dan semoga di balik kejadian buruk kali ini akan ada kejutan yang tak terduga.





*****

__ADS_1


__ADS_2