
Banyak kata yang tak mampu untuk kugambarkan sebagai ungkapan rasa bahagia yang melimpah
______________________________________
Baru saja Rika ingin beranjak dari duduknya, Angga sudah menahan tangannya. Membuat Rika berpaling dan menatapnya dengan penuh tanya.
"Disini saja. Aku tidak mau jauh-jauh dari kamu, yank." Dengan wajah memelas.
Rika hanya bisa mengangguk dan kembali duduk ketempatnya semula namun dirinya duduk miring agar dapat sekaligus menatap Alvaro.
Alvaro tersenyum kecut menatap sikap posesif Angga terhadap Rika dan rasa perhatian Rika untuknya. Ia sadar kalau dirinya tidak akan pernah mendapatkan cela, apalagi mendapatkan kesempatan untuk memenangkan hatinya.
"Bagaimana kabar wanita yang menolongku kemarin?"
Alvaro terkejut karena Rika membuyarkan lamunannya. Ia menatap seksama kearah Rika, mencoba membaca apa yang sedang dipikirkan olehnya mengenai Nadia.
"Oh dia. Kabarnya baik-baik saja," sahutnya dengan senyum pahit. Ingatannya kembali pada sosok Nadia yang memgalami amnesia. Wanita itu bahkan hanya mengingat sosok Yakub dan Bigas. Sedangkan memori mengenai semua tentang dirinya telah terhapus.
"Rasanya aku pernah melihatnya sebelumnya, seperti pernah bertemu." Rika tampak berpikir sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu.
"Jangan terlalu berpikir, nanti kamu kerutan loh!" Angga menimpali sambil meraih tangan Rika yang menopang dagunya, dengan tangannya yang tergerak bebas. Matanya beralih menatap kearah Alvaro dengan sinis.
Rasanya ia tidak rela Alvaro berbicara dengan istrinya, apalagi membicarakan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Ataukah jangan-jangan Rika merasa tersaingi dengan keberadaan wanita tersebut.
Angga kembali melirik kearah istrinya yang kembali menatap kearah Alvaro. Ia merasa seperti di selingkuhi. Angga berusaha memikirkan cara untuk mengusir Alvaro dari ruangannya.
Alvaro terdiam, rupanya Rika mengingatkannya pada kembarannya Nadia, yaitu Anindia. Bukankah mereka pernah bertemu sebelumnya dikediaman Alvaro sewaktu Rika masih bekerja padanya.
Ia juga menatap masam kearah Angga yang sialannya sengaja untuk memanas-manasi dirinya.
Jujur saja, diakuinya bahwa dilubuk hatinya yang paling dalam, dia masih berharap pada Rika. Walaupun Nadia sudah ditemukan sebelumnya.
"Kamu memang pernah melihatnya. Apa kamu masih ingat dengan perempuan yang dibawa oleh Arkan sewaktu kita pulang dari menjemput Aina dari sekolahnya?" Mendelik kearah Angga dengan senyum miring. Angga tampak memucat dibuatnya. Bagaimanapun, Alvaro berusaha mengingatkan kesakitan yang dialami oleh Rika karena perbuatan Angga.
Rika menatap kearah Alvaro, berusaha memgingat yang dimaksud oleh Alvaro. Ingatannya jatuh pada saat Angga mendatanginya ke sekolah Aina.
"Yank, kepalaku sakit." Berekpresi dengan wajah kesakitan. Rika terlihat panik. Angga meraih tangan Rika dan meletakkannya di kepalanya. Menatap kearah Alvaro dan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Dasar kekanakan!" desis Alvaro menggerakkan mulutnya.
Angga tahu kalau Alvaro sedang memancing ingatan Rika pada kesalahannya. Angga tidak akan membiarkan semua itu karena ia begitu mencintai Rika sekarang.
"Kalau begitu, aku ingin pulang dulu. Nanti saja kita bicara di tempat yang tepat. Aku akan segera menghubungimu." Alvaro beranjak dari duduknya.
"Apa maksudmu dengan bicara di tempat yang tepat. Apakah disini tidak tepat?" Angga tersulut emosi mendengar sindiran Alvaro.
"Biasa, ada pengganggu!" sahut Alvaro ketus. Ia benar-benar terbakar cemburu melihat kemesraan yang diperlihatkan mereka berdua. Benar-benar membuatnya iri.
Angga membulatkan matanya mendengar kata pengganggu. Seharusnya yang menjadi pengganggu adalah dirinya. Bukan sebaliknya. Datang keruangan dirinya hanya untuk menjengoki istrinya. Apalagi itu namanya kalau bukan pengganggu.
"Hei. Aku bukan pengganggu! Yang jadi pengganggu itu seharusnya dirimu!"
Alvaro tidak menggubris kata-kata yang dilontarkan oleh Angga. Ia tetap melangkah keluar ruangan tersebut. Ia memantapkan hatinya untuk menjenguk Bigas, mencari keterangan yang sebanyak-banyaknya mengenai Nadia.
Sedangkan Rika hanya menghela napas saja sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Angga seperti anak usia 5 tahun.
"Enak saja mengatakan kalau aku pengganggu. Dia yang pengganggu." Angga masih saja menggerutu.
"Kamar mandi." Tersenyum kearah Angga dan meninggalkan Angga yang terus-menerus menatap pintu kamar mandi hingga tertutup sempurna.
"Ada apa denganku?" gumam Rika sambil membasuh wajahnya dengan air di kran. Ia menatap wajahnya yang terlihat memucat.
Ia menopang tubuhnya yang terasa lemas. Bahkan ia merasakan nyeri pada perut bawahnya, seperti orang yang sehabis lari marathon.
Sekali lagi Rika membasuh mukanya dan menepuk pipinya berulang kali untuk menimbulkan rona merah pada pipinya.
Baru saja ia membuka pintu, terdengar orang yang sedang bercakap-cakap dengan Angga. Dengan sebelah matanya ia menilik pada celah pintu. Rupanya Eland yang datang berkunjung.
"Wah menantu papa yang belum diakui." Eland berjalan kearah Rika yang tampak mengernyit karena tidak mengerti dengan ucapan yang di lontarkan oleh mertuanya.
"Apa kabar, sayang?" tanya Eland.
"Pa, yang boleh memanggil sayang pada Rika hanya aku pa. Karena aku suaminya!" Angga memotong percakapan mereka berdua.
Eland tertawa geli mendengarnya. Angga persis seperti seorang anak-anak yang direbut mainannya.
__ADS_1
"Itu terserah papa. Papa mau memanggilnya honey, manis atau apalah. Itu terserah papa!"
Rika kembali menggeleng mendengar Angga berbicara sangat posesif. Bahkan tingkahnya sedikit kekanakan.
"Sayang. Wajahmu kenapa pucat?" Eland menatap khawatir kearah Rika.
"Kamu pasti kecapean menunggui si anak bodoh ini!" tunjuk Eland pada Angga.
Sedangkan Angga tampak melotot mendengar gelar yang tersemat untuknya.
"Pa, aku ini pintar loh pa. Keturunan papa, masa bodoh?" Angga memberengut sambil menyilang tangannya di dada.
Sedangkan Rika hanya meringis saja melihat tingkah mereka berdua saat bertemu. Ia seperti melihat sosok baru dari seorang Angga.
Angga beralih menatap kearah Rika, benar saja wajahnya benar-benar kelihatan pucat sekali.
"Iya benar. Kamu pucat, yank. Kamu kenapa?" Angga melambai kearah Rika untuk menyuruhnya mendekat.
"Pa, panggilkan dokter untuk memeriksa Rika!" Cemas Angga.
"Mas, aku tidak kenapa-napa." Rika menahan Angga untuk tidak memanggilkan dokter untuknya. Rika merasa bahagia melihat Angga yang sangat cemas tersebut, rasanya melihatnya begitu saja sakit kepalanya sudah berkurang. Baru kali ini ia dicemaskan seperti itu, bahkan mengenai hal kecil sekalipun. Akhirnya pucuk dicinta ulampun tiba.
"Iya nak, sebaiknya kamu periksa keadaanmu dulu. Kamu kan baru sembuh juga dari sakit," Eland turut bersuara.
"Aku tidak apa-apa kok pa." Rika menyahut untuk menjawab kecemasan Eland. Bagaimanapun keadaannya, ia harus terlihat kuat dihadapan mereka berdua, karena Angga sekarang perlu seseorang yang menjaganya.
"Apa sebaiknya perawat saja yang berjaga disini? Kamu istirahat ke vila."
Wajah Angga terlihat tidak senang dengan usul ayahnya tersebut. Ia lebih senang Rika berada didekatnya. Karena ia bisa menatap Rika lebih leluasa disini.
•
•
•
*******
__ADS_1