
Daffa kembali melangkah kearah kediaman orang tuanya sepulang ia dari kantornya. Ia ingin melihat keadaan Azza. Tepat pada saat ia datang mereka sedang berada di ruang makan.
Azza segera menundukkan kepalanya saat melihat kedatangan Daffa.
"Sayang. Kebetulan kami sedang makan malam. Sini, duduk di samping Azza," sahut Rika.
Daffa menurut saja, ia meletakkan bokongnya dan menatap Azza sekilas.
"Azza, isikan piring suamimu, sayang!" ucap Rika.
Azza mendongak dan menatap kearah Rika yang mengangguk padanya. Dengan ragu ia meraih sendok nasi dan juga mengisi piring suaminya. Bahkan ia juga menambahkan secara asal sayur dan lauk untuk suaminya.
"Azza, Daffa tidak suka---."
"Mama, apapun yang mama masakkan untukku, semuanya aku suka," sahut Daffa memotong ucapan Rika.
"Itu Azza yang masak Daffa, bukan mama," sahut Rika. "Dan masakan Azza rasanya sangat enak!" tambahnya lagi.
"Benarkah?" sahut Daffa. Matanya kembali melirik kearah Azza yang acuh saja.
Daffa menatap horor sayur tumis pare yang ada di dalam piringnya. Sayuran yang rasanya pahit itu sangatlah di benci olehnya. Tetapi ia ingin menghargai usaha Azza yang mau menyuguhkan makanan tersebut kedalam piringnya, juga mau memasak di rumah ibunya.
Matanya kembali melirik kearah Azza yang kembali menunduk.
"Sebaiknya cepat kamu habiskan makananmu sebelum benar-benar dingin," ucap Daffa.
Azza segera mengangguk, ia kembali menyuap nasi miliknya tanpa menghiraukan keberadaan Daffa.
Sedangkan yang lainnya hanya menatap kearah Daffa dan Azza secara bergantian. Mereka berharap agar Daffa mampu menghapus trauma yang sudah di berikannya pada wanita itu.
"Daff, sebaiknya kamu juga makan. Jangan hanya menatap piringmu saja," celetuk Daffi disertai dengan kekehan.
Akhirnya Daffa terpaksa menyuap nasinya bersama sayur pare saat Azza melirik padanya. Daffa meneguk ludahnya kasar saat rasa pahit menjalari seluruh rongga mulutnya dan tenggorokannya. Ia meraih segelas air dan meneguknya dengan cepat hingga tandas, rasanya perutnya mulas dan ingin muntah.
Daffi kembali terkekeh melihat penderitaan saudara kembarnya.
"Daffi, saat makan jaga tata kramamu!" ucap Angga. "Jangan terkekeh seperti itu, bisa-bisa kamu menelan tulang nantinya." Matanya beralih menatap Daffa.
"Daffa, kalau kamu tidak menyukai sayuran itu, sebaiknya kamu tidak usah memakannya, singkirkan dari piringmu" ucap Angga lagi.
Azza terkejut mendengarnya, dengan rasa bersalah ia melirik kearah pare yang ada di piring Daffa.
"Oh tidak apa-apa kok pa, Azza sudah bersusah payah mengisikan piringku, bahkan juga memasaknya. Sudah pasti enak. Jadi aku harus menghargainya."
Azza melirik kearah Daffa, ia merasa bersalah pada lelaki itu. Seharusnya ia bertanya dulu apa yang di sukai oleh lelaki itu, bukan asal masukkan kedalam piring seperti itu.
"Azza, jangan merasa bersalah. Sayur pare bagus untuk Daffa. Biarkan ia terbiasa dengan sayuran pahit tersebut!" ucap Rika.
Azza mengangguk dengan gerakan halus.
Selesai makan, Azza membantu asisten mereka untuk membereskan meja makan. Ia mendengar seseorang yang sedang muntah di wastafel ruang dapur.
"Non, tuan Daffa muntah-muntah di ruang dapur, sepertinya dia sedang sakit!" ucap bi Mini.
Azza hanya berdiri terpaku. Matanya menatap awas kearah ruang dapur. Perasaan bersalah kembali menggelayuti dirinya.
"Ayo non, bantu dia!" ucap bi Mini lagi.
Azza tampak ragu, ia meremas tangannya berulang kali. Tetapi perasaan bersalah muncul di benaknya karena dialah penyebab lelaki itu muntah.
Dengan gerakan lambat Azza menghampiri Daffa yang masih terdengar muntah. Ia tampak ragu mendekat kearah Daffa.
"Bibi, tolong buatkan Daffa air teh hangat! ucap Daffa tanpa membalik badannya.
Azza segera membuatkan pesanan lelaki itu. Ia bergerak dengan cekatan sesekali matanya menatap Daffa yang masih muntah.
Azza menyerahkan minuman tersebut kehadapan Daffa.
"Makasih...," mata Daffa terpaku menatap Azza yang berdiri di hadapannya dengan secangkir teh di tangannya. Mata mereka berpaut cukup lama hingga Azza tersadar.
"Ini tehnya."
"Ma'af. Aku pikir kamu tadi adalah bi Mini." Daffa meraih gelas tersebut. Meneguknya dengan perlahan.
"Kalau minum itu sebaiknya di bawa duduk," ucap Azza.
"Dan aku minta ma'af karena sudah membuatmu jadi seperti ini," tambah Azza lagi. Ia segera berjalan meninggalkan Daffa yang terpaku menatap dirinya yang menghilang di balik pintu dapur.
__ADS_1
Azza berlari kearah kamarnya, menutup dan menguncinya. Bersandar pada pintu tersebut sambil meraba dadanya yang berdebar hebat. Ia begitu gugup saat berdekatan dan berduaan dengan lelaki tersebut. Mungkinkah gugupnya karena takut ataukah karena hal yang lain.
Tok tok tok
"Azza? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Daffa di balik pintu.
Azza membelalakkan matanya, ia kembali resah saat mendengar suara Daffa berada di luar kamarnya.
"Azza. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja!"
Lagi, terdengar suara Daffa yang justru mengkhawatirkan dirinya.
"Lelaki aneh, seharusnya dia mengkhawatirkan dirinya yang sakit. Bukannya mengkhawatirkan aku," gumam Azza tanpa menjawab pertanyaan Daffa.
Daffa segera berlalu dari hadapan kamar Azza setelah tidak mendengar sahutan Azza.
"Mungkin saja wanita itu sudah tertidur," gumamnya.
"Daff, kamu tidak pulang?" tanya Rika saat Daffa melewati ruang keluarga.
"Aku malas pulang ma," sahut Daffa.
"Kenapa? Bukankah istrimu sedang hamil. Wanita hamil tidak bagus di tinggalkan sendirian. Apalagi dalam masa-masa ngidam. Dia perlu seorang pendamping yang bisa memperhatikannya."
"Ma, Anggia memang sedang hamil, tetapi dia tidak hamil anakku!" bantah Daffa.
"Kamu jangan mengada-ada Daff, bisa saja kata-katamu itu nantinya menjadi boomerang bagimu."
"Aku yakin ma kalau anak yang di kandung Anggia bukan anakku. Dan aku yakin kalau kami tidak pernah melakukannya."
"Suatu hari nanti aku pasti akan membuktikannya pada mama," tambah Daffa.
Rika terdiam mendengar penuturan anaknya. Sedangkan Daffi, kembali mengingat hal yang ingin di sampaikan Aina mengenai Anggia padanya siang tadi tetapi tertunda karena gadis tomboy tersebut.
"Daffi, apa yang sedang kamu lamunkan? Apakah mengenai Aina lagi?" tanya Rika.
"Bukan ma, mengenai hal yang lain. Dan hari ini aku sudah melupakannya." Mendesah.
"Ma, aku tidur disini saja. Aku perlu ketenangan ma," ucap Daffa.
Ia berjalan kearah kamarnya yang terletak di lantai dua.
Ia terbangun dengan terengah-engah, mengusap keringat yang membanjiri wajahnya.
"Aku mimpi itu lagi," gumamnya. Matanya menatap kearah jam dinding, sudah dini hari.
Matanya bergerak kearah nakas, tidak ada air minum disana, sedangkan tenggorokannya terasa begitu kering.
Dengan cepat Azza membuka pintu kamarnya, menelisik ke setiap sudut rumah yang masih terasa asing baginya. Berjalan dengan perlahan kearah dapur.
"Rumah sebesar ini, mungkinkah maling tidak bisa masuk," bergumam sendiri.
Saat ia mencapai pintu dapur dan ingin menyalakan lampu, ia urungkan karena terdengar suara berisik dari arah dapur, seperti orang yang mencari-cari sesuatu. Mungkinkah itu maling?
Azza mengambil sapu dan berjalan mengendap-endap kearah bayangan orang yang di kiranya maling. Ia memukulnya dengan keras.
"Aduhhh... punggungku... sakit...!!" teriakan kesakitan mengisi ruang dapur tersebut.
Mata Azza membulat saat mengenali suara itu. Ia melepaskan sapu yang ada di tangannya, sedangkan pria itu segera menyalakan lampu.
"Azza...."
"Daffa...."
Ucap mereka bersamaan.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Daffa sambil meringis, menatap penuh selidik kearah Azza.
"Aku... aku...aku mau ke kamar saja!" sahut Azza ingin segera pergi.
"Tunggu!"
Azza menghentikan langkahnya. Keringat dingin membanjiri badannya saat Daffa mendekat padanya.
"Aku ingin kamu...,"
"Apa?" potong Azza dengan cepat. Ia benar-benar takut kalau Daffa akan melakukan hal itu lagi padanya.
__ADS_1
"Aku ingin kamu memasakkan sesuatu untukku. Aku sangat lapar," ucap Daffa. Ia menatap penuh harap terhadap Azza.
"Tapi aku...."
"Za, aku tidak bisa memasak. Lagi pula aku tidak ingin membangunkan mama ataupun bi Mini."
Azza merasa kasihan menatap Daffa. Apalagi lelaki itu muntah terus-menerus setelah makan malam tadi, hanya teh buatannya saja yang mengisi perutnya. Pastilah lambungnya sedang kosong saat ini. Ia mengangguk.
"Aku mau memasakkanmu tetapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Daffa cepat.
"Kamu jangan mengikutiku, cukup duduk disana dan jaga jarak dariku," ucap Azza.
"Baiklah. Aku akan menunggu masakanmu dengan duduk di meja pantry ini!" sahut Daffa.
Azza segera mengeluarkan bahan-bahan yang ada di dalam kulkas. Ia ingin masakan yang cepat jadi. Mungkin nasi goreng dengan telor mata sapi.
Azza terlihat begitu cekatan dalam memotong sayuran, bahkan wajahnya terlihat begitu tenang tanpa terlihat rasa takut.
"Cantik...," tanpa sadar Daffa bergumam membuat Azza mengalihkan tatapannya kearah Daffa yang sejak tadi tidak pernah melepaskan pandangannya.
Azza mempercepat pekerjaannya agar tidak berlama-lama berduaan dengan Daffa di dapur.
Setelah matang, Azza segera menyuguhkan makanan tersebut untuk Daffa beserta air minumnya.
"Makasih sudah mau memasakkan untukku," ucap Daffa tulus.
"Ma'af, tadi aku memukulmu. Aku tidak tahu kalau itu dirimu. Aku pikir kamu tadinya seorang maling." Azza menunduk.
"Tidak apa-apa. Aku kira tadi itu pelampiasanmu selama ini padaku. Atau juga balas dendammu," tawa renyah Daffa terdengar.
Azza menatap sosok yang duduk di depannya, lelaki ini ternyata tidak semenakutkan seperti yang ada di bayangannya.
"Hei jangan menatapku seperti itu. Kamu layaknya seperti ingin makan orang saja."
Azza meringis, kembali menunduk.
"Aku ingin kekamar!" sahut Azza.
"Tunggu! Duduklah disini, temani aku makan sebentar. Aku tidak biasa makan sendiri," sahut Daffa.
Azza terpaksa menurut, ia duduk cukup jauh dari Daffa.
"Masakanmu sangat enak," celetuk Daffa saat nasi goreng masuk ke mulutnya. Menatap sesaat kearah Azza yang menatapnya sekilas.
"Kamu mau?"
Azza memggeleng.
"Sedikit saja. Buka mulutmu," perintah Daffa.
Azza kembali menggeleng.
"Baiklah kalau kamu tidak mau. Nasi gorengnya nanti habis, jangan di cari."
Azza hanya diam saja, sesekali matanya menatap pergerakan Daffa yang begitu lahap menyuap makanannya. Ia begitu kelaparan.
"Jangan menatapku terlalu lama, nanti kamu jatuh cinta padaku," goda Daffa lagi.
Azza segera menunduk, memilin ujung bajunya.
"Za... ma'afkan aku untuk kejadian tempo lalu karena merusak dirimu tanpa aku sadari."
Azza terlihat gelisah.
"Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak menyesali atas apa yang terjadi pada kita. Karena kamu sekarang adalah istriku dan aku akan berusaha untuk belajar mencintaimu."
Azza terhenyak mendengarnya. Ia bergeming, matanya bergerak memindai wajah Daffa.
"Aku mengantuk, mau tidur!" Azza berlari kearah kamarnya dan menutup pintunya.
Ia kembali meraba dadanya yang berdebar hebat di setiap bersama ataupun melihat Daffa.
•
•
__ADS_1
•
*****