
"Afika." Ucap Rangga saat tanpa sengaja matanya menatap wanita hamil yang wajahnya mirip dengan Afika. Rangga menepihkan mobilnya dan dengan cepat keluar dari mobil. "Afika." Panggil Rangga sambil menarik lengan wanita yang ia yakini adalah Afika. Dan benar saja, wanita itu pun berbalik, dan seketika Rangga langsung tersenyum. Spontan Rangga ingin memeluk tubuh Afika, namun Afika melangkah mundur. Dan, tatapan mata Rangga tertuju pada perut Afika yang kini sudah nampak besar. "Afika."
"Rangga." Ucap Afika sambil melihat sekeliling. Afika takut jika Adrian ada di sekitar dan menemukan dirinya.
"Afika. Kau dari mana saja, ayo naik di mobilku aku akan mengantarmu." Ajak Rangga.
"Tidak." Tolak Afika sambil memegang tangan Junisah dengan sangat keras. Junisah yang merasakan sakit, langsung menoleh ke arah Afika dan memperhatikan Afika yang saat ini sedang meringis menahan rasa sakit.
"Afika, ada apa nak?" tanya Junisah dengan panik.
"Jangan sekarang nak. Ibu belum siap." Kata Afika sambil mengusap perutnya.
Belum siap, bukan berarti Afika tidak ingin anaknya lahir. Hanya saja situasi yang saat ini masih berada di jalan membuatnya berkata jika belum siap.
"Sakit? Mungkin sudah mau keluar." Kata Junisah, "Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan secara perlahan." Jujur Junisah pun ikut takut, karena dia sama sekali belum pernah dan tidak tahu bagaimana itu melahirkan.
"Apa yang kau lakukan, ayo buka pintu mobilmu."Pinta Junisah pada Rangga.
Rangga bergegas membuka pintu mobil dan Afika yang di tuntun oleh Junisah kini masuk dan duduk di kursi belakang. Sesekali Afika berteriak meluapkan rasa sakit yang ia rasakan.
"Cari rumah sakit terdekat." Kata Junisah.
__ADS_1
"Tante." Lirih Afika, kini ia pasrah.
Rangga menancap gas mobilnya, melaju mencari rumah sakit terdekat.
•••••
Kini, Baby dan juga Farah tengah berada di salah satu rumah yang lumayan besar.
"Baby ini rumah siapa?" Tanya Farah yang sangat penasaran. "Apa ini rumah Adrian yang lain? Sebenarnya berapa banyak rumah yang kakak mu punya?"
"Ini bukan rumah kak Adrian, tapi ini rumah ibunya Afika."
"Apa?"
Baby perlahan melangkah dan berhenti tepat di depan pintu, menekan bel hingga seorang wanita paruh baya keluar membuka pintu.
"Bi Ani.." Sapa Baby, yang masih mengenal sosok bi Ani. "Ini aku Bi, Baby. Baby yang dulu kecilnya segini" kata Baby mempraktekkan pendeknya dirinya dahulu. "Tapi sekarang sudah setinggi dan secantik ini." Lanjutnya, sehingga membuat Farah seakan ingin muntah karena Baby memuji kecantikannya sendiri.
"Baby? Anak dari tuan Maganta?"
"Ya, bibi benar. Apa boleh aku masuk bi? Oh ya, bagaimana kabar tante Junisah?" Tanya Baby sambil berjalan masuk. "Dimana tante Junisah, Bi?"
__ADS_1
"Keluar bersama non Afika." Jawab Bibi dengan sejujurnya karena tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi. Bi Ani hanya tahu jika Afika sedang mengandung dan Bi Ani tidak di perbolehkan mengatakan pada siapa pun jika Afika berada di rumah itu. Tapi, menurut bi Ani tidak ada salahnya mengatakan pada Baby karena Baby adalah teman Afika semasa kecil.
Mendengar jawaban Bi Ani sontak membuat Baby bernafas lega. Akhirnya pencarian selama berbulan-bulan lamanya kini telah membawakam hasil.
"Bi, apa Afika dan tante Junisah keluarnya sudah lama?"
"Iya, ini sudah lebih dari dua jam. Ini pertama kalinya Afika keluar dari rumah." Jawab Bi Ani.
Dan pantas saja selama ini Adrian dan para pengawalnya kesulitan mencari Afika karena Afika hanya bersembunyi di dalam rumah.
"Bi boleh minta nomer ponsel Afika, atau nomer ponsel tante Junisah."
"Tentu non. Tunggu biar bibi cari."
Setelah cukup lama terdiam kini Farah akhirnya membuka suara.
"Ibu kandung? Jadi Afika orang berada? Sejak kapan kau tahu? Tunggu-tunggu, apa Adrian sudah tahu ini semua?"
"Non Baby, barusan nyonya Junisah menelpon katanya non Afika ada di rumah sakit Permata Bunda."
"Afika? Mau melahirkan?"
__ADS_1
"Iya non."
"Baiklah bi, kalau begitu aku permisi." Baby dan Farah pun bergegas menuju rumah sakit Permata Bunda. Dan tak lupa Baby mengambil nomer ponsel Afika dan juga nomer ponsel Junisah.