Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Extra Part : Masa Lalu Yang Hilang


__ADS_3

"Sayang! Aku pulang!" teriak Angga saat ia sudah memasuki kediamannya. Rumahnya terlihat sepi tapi bunyi suara tangisan bayi membahana mengisi kesunyian rumah tersebut. Senyumnya merekah dan segera mempercepat langkahnya untuk menuju kearah kamar kedua anaknya.


Saat ia membuka pintu, pemandangan tampak menakjubkan didepan matanya. Kedua anak kembarnya tampak bergelantungan menyusu dengan ibunya. Mereka begitu kehausan seolah tidak ingin saling berbagi. Dan berlomba untuk mereguknya sebanyak dan sedapat mungkin ASI dari ibunya.


Angga berjalan dengan perlahan, ia meraih kepala kedua anaknya, kemudian mencium kening istrinya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Rika.


"Tentu saja sayang. Kalau aku sudah ada didepanmu, berarti aku sudah pulang," sahut Angga. Ia duduk tepat dihadapan istrinya, menatap kedua buah cintanya.


"Mana Nia?" tanya Angga sambil matanya berkeliling mencari keberadaan wanita yang dipercayakan untuk membantu Rika mengasuh kedua anaknya.


"Dia sedang di dapur. Mempersiapkan susu buat mereka," sahut Rika.


"Wah anak papa cepat besar, susu mama saja tidak cukup ternyata," sahut Angga sambil membelai kepala kedua anaknya.


"Oh ya sayang. Kita mendapat undangan dari rekan bisnis papa. Apa kamu tidak keberatan untuk pergi bersamaku." Angga menatap penuh harap.


Membuat Rika mengangguk dan melepaskan kedua bayi kembarnya yang baru saja selesai menyusu. Angga meraih satunya dan membantu Rika meletakkannya di ranjang.


Kapan acaranya sayang?" Rika masih sibuk membereskan barang-barang bayinya.


"Satu jam lagi," Angga melihat kearah jam yang bertengger di pergelangan tangannya.


"Baiklah. Aku akan bersiap-siap sekarang!"


"Tunggu sayang!" Angga meraih tubuh Rika dan mendekapnya. Ia mengangkatnya ala bridal style.


"Sudah lama kita tidak melakukannya," ucapnya lagi sambil membawa Rika melewati pintu yang menghubungkan antara kamar mereka dan kamar kedua putra mereka.


"Bukannya kita ingin pergi ke pesta!" protes Rika.


"Sekali saja, hanya sebentar!" pinta Angga.


Rika mendesah mendengarnya, yang dikatakan suaminya sebentar pastilah memakan waktu berjam-jam lamanya. Ia tidak mungkin juga menolak keinginan suaminya, karena sudah cukup lama mereka tidak melakukannya.


Setelah satu jam berlalu. Rika sudah selesai mandi. Begitupun dengan Angga yang sejak tadi terus-menerus mengukir senyumnya, membuat Rika merasa heran.


"Kamu kenapa? Sejak tadi selalu tersenyum. Apa tidak kering itu gigi." Menatap heran kearah Angga.


"Tidak sayang." Angga kembali mendekap dan menciumi wajah istrinya.


"Kamu sangat harum dan manis!"


"Sayang! Kita jadi tidak pergi ke pesta?" tanya Rika saat tangan Angga mulai merayap di tubuhnya.

__ADS_1


"Jadi dong sayang," sahut Angga sambil melepaskan dekapannya tapi sebelum itu ia kembali melayangkan ciumannya di wajah istrinya.


"Ayo kita berangkat sekarang, nanti telat!" Ajak Angga.


Rika hanya bisa mendesah. Dia yang berbuat dia juga yang mengingatkan.


"Aku ingin menemui ibu dulu, menitipkan si kembar," sahut Rika.


***


Sesampainya di pesta mereka tampak berbaur dengan pengusaha lainnya. Angga tidak pernah melepaskan istrinya bahkan tangannya juga tidak membiarkan Rika pergi darinya walau sejengkal.


Dari pojok ruangan tampak berdiri seorang wanita dengan tatapan tajamnya. Senyum sinis terukir di bibirnya. Dialah pemilik pestanya.


"Seharusnya kamu yang mati waktu itu! Bukan dia!" geramnya saat menatap Eland dan Angga secara bergantian.


Kebenciannya pada Eland dan keturunannya benar-benar mendarah daging hingga membuatnya selalu di buru nafsu saat melihat keberadaan mereka.


"Tuan Eland dan juga tuan Angga, apa kabar?" wanita itu tampak berbasa basi menyapa tamunya.


"Kami baik, nyonya!" sahut Eland sambil mengangguk dan menerima uluran tangan wanita tersebut.


"Wah istrimu sangat cantik!" menatap kearah Rika dan kembali menjabat tangan Angga.


"Terima kasih," Rika juga mengangguk.


Angga tampak terkekeh mendengarnya membuat wanita tersebut tampak sedikit masam. Tapi ia menyembunyikan wajah masamnya di balik senyum manisnya.


"Bukan hanya seorang. Tapi kami mendapatkan dua orang putra sekaligus!" Angga terlihat bangga, tangannya bergerak membelai tangan Rika yang terus digenggamnya.


"Owh... kalau begitu selamat untuk Anda tuan Angga. Anda sungguh beruntung!" kembali tersenyum.


"Katanya Anda juga baru saja melahirkan? Apa itu benar, Nyonya?" Angga menatap wanita tersebut dengan senyum tipisnya.


Senyum wanita tersebut berubah menjadi sendu saat di ingatkan tentang anaknya.


"Iya. Saya memang melahirkan tapi dia sudah dalam keadaan yatim!" menggenggam tangannya erat.


"Ma'af. Saya tidak bermaksud begitu!"


"Tidak apa-apa. Semuanya sudah takdir yang di Atas. Jadi tidak ada yang perlu di sesalkan."


"Oh iya. Sebaiknya kamu tidak memanggilku nyonya. Panggil saja aku Haruyan saat kita bertemu lain kali, dan jangan terlalu formal padaku."


Angga mengangguk.

__ADS_1


"Silahkan nikmati pestanya!" Haruyan berjalan meninggalkan mereka dengan senyumnya yang sangat mengerikan.


"Rupanya kalian sama sekali tidak mengingatku. Wanita yang terbuang di masa lalu dan wanita yang tidak dianggap keberadaannya." Haruyan kembali tersenyum sinis sambil terus-menerus menggenggam erat tangannya.


Ia berjalan kearah lain untuk menyapa tamu yang lainnya.


"Pa! Papa kenapa?" Angga menghampiri Eland yang sejak tadi hanya melamun dan memandangi Haruyan yang pergi meninggalkan mereka.


"Tidak apa-apa," sahut Eland. Ia kembali mengubah ekspresinya menjadi tersenyum seperti semula.


"Kalau papa kurang enak badan, sebaiknya papa pulang saja," sahut Angga.


Eland mengangguk, "Ya. Sepertinya papa memang harus pulang." Eland mengangguk. Ia berjalan meninggalkan kedua sejoli yang sedang menikmati waktu mereka berdua.


Sedangkan di mobilnya, Eland terus-menerus berusaha untuk mengingat wajah Haruyan. Wanita muda itu terus-menerus mengingatkannya pada seseorang di masa lalu. Seseorang yang sekarang sudah mulai ia lupakan.


"Putar arah. Aku ingin mengunjungi seseorang di tempat xxx!" ucap Eland saat ia mengingat alamat yang sering di datanginya.


"Baik Tuan," sahut sopir.


Eland terhenyak menatap bangunan tua yang kosong dan terlihat angker. Bangunan itu sudah sangat lama di tinggalkan penghuninya. Apalagi sejak kematian Erland di masa lalu.


Menyesal Eland sekarang karena ia baru mengingat tentang mereka saat bertemu dengan Haruyan. Apakah benar Haruyan adalah putri mereka? Eland bergegas berjalan meninggalkan rumah kosong tersebut menuju kearah mobilnya.


Langkahnya tampak terseok bahkan fokusnya tidak pada tempatnya. Ia masih sibuk terpaku dengan kejadian di masa lalu. Masa yang sangat pahit untuk di ingat dan masa yang sulit untuk dilupakan.


"Kita pulang!" Perintahnya masih dengan wajahnya yang dingin. Kepalanya kembali menoleh ke sisi kirinya untuk kembali menatap bangunan tua yang tidak berpenghuni tersebut. Ada begitu banyak sesal saat ia melupakan mereka berdua.


Eland meraih handphonenya. Pada deringan pertama, sudah diangkat.


"Kamu selidiki nona Haruyan dan laporkan hasilnya dalam 1 hari kedepan!" perintahnya. Ia mematikan handphonennya dan mendesah beberapa kali.


"Apa ada yang tuan perlukan?" tanya sopir yang sejak tadi terus-menerus memperhatikan tuannya.


"Tidak ada. Aku hanya sangat kelelahan saja, maklum saja karena faktor usia," Eland terkekeh untuk mengusir rasa bersalahnya.





******


1 part lagi in syaa Allah akan memasuki season kedua. Terima kasih buat semuanya yang selalu setia mengikuti alur cerita ini. Walaupun amburadul tapi dukungan kalian selalu menyemangati author.

__ADS_1


Salam manis untuk kalian semua 😘


__ADS_2