
"Azza!! Kamu disini!!?"
Seorang gadis berpenampilan tomboy berlari menghampiri sahabatnya yang sedang duduk melamun di sebuah restoran.
"Azza, apa yang terjadi padamu?" Febry memindai penampilan Azza yang berantakan dan sangat kucel. Tadinya ia pikir kalau yang sedang duduk di meja ini adalah orang gila, tapi ternyata sahabatnya sendiri.
Azza bergeming, ia masih hanyut dalam lamunannya. Bahkan ia tidak menghiraukan keadaan sekitarnya yang sejak tadi semua orang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Hei Azza, apa kamu mendengarku!?" tanya Febry disertai dengan tepukan tangannya di bahu Azza.
Gadis manis dan sangat berantakan itu terperanjat dan berpaling. Ia mendapati sahabatnya yang menatapnya heran.
"Apa yang terjadi dan kenapa tadi malam kamu tidak pulang kerumahmu? VAku mengkhawatirkanmu!"
Azza langsung memeluk erat Febry, bahkan ia mulai terisak. Lagi, ia kembali menjadi pusat perhatian.
"Ceritakan padaku apa yang sudah terjadi padamu?" bisik Febry.
Febry menyudahi pelukan mereka, ia menggenggam erat jari jemari Azza yang terasa dingin.
"Ayo kita pulang! Kamu ceritakan saja nanti di rumah."
Azza hanya menurut saja bahkan saat ia di giring oleh sahabatnya.
Saat Febry ingin membukakan pintu mobil untuk Azza. Ia terpaku menatap Azza yang ketakutan, bahkan ia seperti melihat hantu di siang hari. Mata Febry beralih menatap kearah pandangan Azza.
Matanya menyipit saat melihat penampakan 2 orang pemuda tampan tapi sedikit berantakan sedang berjalan keluar dari mobilnya bersama seseorang yang penampilannya sangat rapi.
"Ayo masuk!" perintah Febry acuh.
Azza masuk dan duduk di samping kemudi. Sejak tadi ia hanya diam saja sambil menggengam erat tangannya dan menundukkan kepalanya.
Sesekali gadis tomboy itu melirik padanya. Ada perasaan terluka saat mendapati sahabatnya seperti ini. Ia masih ingat hal yang terakhir membuat Azza dalam keadaan kacau adalah saat ia kehilangan kedua orang tuanya. Tapi lebih kacau lagi saat sekarang ini. Ada apa ini?
Febry melirik kearah Azza yang masih bergetar ketakutan. Ingin rasanya ia menenangkan sahabatnya tapi sekarang bukan waktu yang tepat.
Sesampainya di rumah mungil bercat hijau tua. Azza justru berlari dan masuk kedalam kamarnya. Ia menangis dan menyesalkan apa yang sudah terjadi padanya.
"Kenapa? Kenapa ini terjadi padaku!?" raung Azza.
"Ya Tuhan...!" Azza bersimpuh dengan keadaan badannya yang lemah tidak bertenaga. Ia tidak menghiraukan lagi keadaan dirinya yang berantakan dan kacau balau.
"Azza, ada apa denganmu dan apa yang sudah terjadi?" bisik Febry menghampiri sahabatnya.
Febry mendekap sahabatnya dan berusaha menenangkannya.
"Bagaimana kalau sekarang kamu mandi dulu. Setelah itu kita makan. Kamu pasti belum makan kan sejak pagi tadi?" bujuk Febry.
Azza menggeleng, ia masih sesenggukan dengan tangisnya.
Tangannya bergerak menyelipkan rambut Azza yang kusut dan berantakan kebelakang telinga.
Walaupun Febry tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ia yakin kalau masalah yang menimpa sahabatnya ini sebenarnya sangat besar.
"Feb, apakah kamu masih mau bersahabat sama aku?" tanya Azza di sela isak tangisnya.
"Za, apapun yang terjadi padamu, kamu tetap akan menjadi sahabatku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Walaupun kamu mendapat banyak kekurangannya."
Azza menyeka matanya yang bengkak dan terasa sipit.
__ADS_1
"Kamu kebanyakan menangis. Makanya matamu sipit dan susah untuk melihat."
"Sekarang kamu mandi dulu. Makanan sudah aku masak tadi pagi."
Azza menggeleng. Ia kembali menangis.
"Za, apapun masalahmu, berbagilah denganku. Jangan kamu memendamnya seperti ini. Aku adalah sahabatmu, saudaramu. Sudah sepatutnya kamu percaya padaku."
Febry menatap lekat Azza. Ia kembali membenarkan rambut Azza yang menutupi wajahnya.
"Lihatlah wajahmu. Jadi semakin jelek saat kamu menangis!" Febry terkekeh, mencoba membujuknya dengan bercanda.
Tetapi gadis manis itu tetap terisak bahkan ia juga memukul-mukul badannya sendiri.
"Aku kotor! Sekarang aku kotor!!" raung Azza dengan tangisan pilunya.
Febry mengerutkan dahinya, mencoba mencerna ucapan Azza yang tertangkap olehnya.
"Aku tau kamu kotor, jadi kamu bersihkan dulu badanmu. Setelahnya kita akan bicara!"
Febry menggiring sahabatnya menuju kearah kamar mandi. Ia menutup pintunya saat Azza sudah masuk kedalam.
Febry tampak gelisah bahkan sejak tadi ia bolak balik di depan kamar mandi, karena tidak ada bunyi percikan air sama sekali.
"Azza! Jangan tidur saat di kamar mandi. Nanti ada setan yang mampir!" teriaknya. Ia takut sahabatnya kenapa-kenapa. Disaat pikiran seseorang sedang kacau maka apapun bisa ia lakukan.
Sedangkan Azza, ia justru termenung meratapi nasibnya yang tragis. Matanya terus menatapi dirinya yang hina.
"Mama, papa, aku kotor. Ma'afkan Azza karena tidak bisa menjaga diri. Azza kotor! Azza hina!!" kembali meraung tanpa menghiraukan teriakan Febry yang semakin menjadi-jadi.
"Za, dengar ya. Kalau kamu macam-macam didalam sana aku tidak akan pernah mema'afkanmu!" teriak Febry.
"Apa aku telpon bang Daniyal saja ya?" gumam Febry sambil menggigit kukunya. Matanya kembali menatap kearah kamar mandi tetapi kali ini sudah terdengar guyuran air dari dalam sana.
Tidak beberapa lama Azza keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah mengenakan pakaian lengkap.
"Sekarang kita makan ke dapur, hari sudah hampir siang pasti perut kamu sangat lapar!"
Azza hanya mengangguk saja. Ia tidak membalas senyum manis sahabatnya.
Selama makan tidak ada yang bicara diantara mereka. Azza sibuk dengan lamunannya sehingga nasi yang ada dihadapannya hanya di aduk-aduknya saja sejak tadi.
"Za, di makan dong nasinya, jangan cuma di aduk saja!" ucap Febry yang sejak tadi memperhatikan Azza.
"Iya...," sahut Azza.
Satu suap, dua suap, tiga suap. Azza menggeser piringnya.
"Aku kenyang!" ucapnya. Ia kembali lagi dengan lamunannya dan tatapan kosong.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Febry hati-hati.
Airmata langsung mengucur di pipi gadis itu, ingatannya kembali berputar mengingat kejadian pahit yang terjadi padanya tadi malam.
"Aku kotor Feb, aku kotor. Aku hina!" raung Azza dengan tangisannya.
"Aku... aku... di perkosa tadi malam...," ucap Azza lemah.
Febry meneguk ludahnya kasar. Matanya memindai Azza yang menelungkupkan wajahnya di meja makan.
__ADS_1
"Siapa yang melakukannya padamu!!?" tanya Febry dengan emosinya hingga ia tidak sadar kalau tangannya menggebrak meja tepat mengenai piring yang ada dihadapannya hingga pecah.
Azza mendongakkan kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku tidak tahu, aku tidak mengenalnya!" sahut Azza lemah.
"Apakah salah satu diantara 2 orang lelaki yang bertemu dengan kita di halaman restoran tadi?" tanya Febry.
Azza hanya mengangguk lemah. Ia masih mengingat wajah lelaki yang sudah merenggut kehormatannya. Sampai kapanpun ia akan selalu mengingatnya.
"Kenapa tidak bilang sejak tadi Azza, biar aku mengulitinya!"
Febry mendesah frustasi. Ia masih mengingat wajah mereka berdua dan dia berjanji akan menyeret mereka ke hadapan Azza untuk bertanggung jawab.
Ingin rasanya ia memaki-maki dan menyumpahi lelaki baj*ngan tersebut sekarang tetapi ia tidak mau karena kasihan dengan Azza yang trauma.
"Sebaiknya kamu kekamar saja, istirahat."
Febry membawa Azza ke kamarnya, gadis itu terlihat sangat kacau bahkan kemungkinan ia memgalami trauma.
Sesampainya di kamar Azza berbaring meringkuk dan diselimuti oleh Febry.
"Aku ingin keluar sebentar!" ucap Febry tegas.
"Jangan tinggalkan aku. Aku takut!" sahut Azza.
Febry menjadi tidak tega setelah melihat sahabatnya menggigil ketakutan.
"Tidurlah. Aku akan menunggumu disini!" sahut Febry.
Mata Azza terpejam dengan perlahan. Ia mencoba melupakan sejenak kejadian kelam yang menimpanya.
Sedangkan Febry meraih handphone miliknya dan menelpon ibunya.
"Ma, mama kesini sekarang juga. Ada yang ingin aku sampaikan pada mama," ucap Febry.
"Mengenai apa?" sahut Ambar.
"Mengenai Azza ma, ini sangat penting!" sahut Febry.
"Baiklah. Mama akan segera kesana!"
"Iya ma. Kak Daniyal sudah pulang?" tanya Febry lagi.
"Sudah. Tapi dia kembali lagi!" sahut Ambar.
"Baiklah kalau begitu, mama segera kemari ya!"
Telpon dimatikan.
Febry hanya berharap agar ibunya segera kemari dan menjaga Azza yang sedang tidur. Ia takut hal-hal buruk akan di lakukan oleh Azza. Sementara dirinya akan mencari lelaki brengs*k tersebut.
•
•
•
*****
__ADS_1