
"Daffi, ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu!" ucap Aina saat mendapati Daffi yang berjalan di lorong rumah sakit.
"Tentang apa?" tanya Daffi.
"Sesuatu. Kemarin aku ingin menyampaikannya padamu tetapi terhambat oleh gadis tomboy itu, apa kamu masih mengingatnya?" tanya Aina.
"Iya. Aku masih mengingatnya. Kalau tidak salah kamu ingin membicarakan kehamilan Anggia, bukan?" sahut Daffi.
"Benar. Tetapi disini bukan tempat yang tepat untuk kita membicarakannya. Sebaiknya kita ke ruanganku saja."
Sesampainya di ruangan Aina, Daffi di buat bingung karena Aina justru menyerahkan handphone miliknya.
"Ini apa?" heran Daffi.
"Kamu buka saja video yang ada disitu. Aku harap kamu tidak terkejut saat melihat dan mendengar percakapan mereka."
Aina berjalan kearah mejanya dan duduk menghadap Daffi.
Daffi memperhatikan dengan srksama video yang ada disana. Matanya terbelalak saat melihat Anggia bersama lelaki lain yang di sebutnya sebagai kekasih.
"Jadi?" tanya Daffa.
"Ya, anak yang di kandung Anggia adalah anak lelaki yang bernama Alfa tersebut. Dan saudaramu lah yang harus memikul perbuatan mereka," sahut Aina.
"Aku kasihan dengan Daffa. Dia begitu di permainkan oleh yang namanya cinta. Bahkan Anggia juga tega mempermainkan pernikahan mereka yang sakral," tambah Aina.
"Pantas saja tadi malam Daffa mengatakan kalau yang di kandungan Anggia bukanlah anaknya," gumam Daffi. Ia mendesah merasa miris dengan nasib kembarannya.
"Jadi, Daffa sudah mulai curiga?" tanya Aina.
"Sepertinya ia memang sudah tahu sejak awal, tetapi ia belum bertindak. Tapi yang aku takutkan ia justru bakal mema'afkan dan mau menerima anak Anggia atas nama cinta."
Aina terdiam mendengarnya.
"Seandainya seperti itu, lalu bagaimana nasib Azza yang menjadi korban perbuatan mereka berdua?"
Aina kembali teringat dengan gadis manis itu.
"Entahlah. Aku juga tidak bisa menebaknya. Hanya saja apapun yang di minta oleh Daffa, maka aku akan siap sedia untuk menolongnya. Dan seandainya Daffa menyakiti Azza maka papa dan mama serta aku tidak akan tinggal diam. Kami akan bertindak!" sahut Daffi.
***
"Azza? Kamu datang membawakan makan siang untukku?" tanya Daffa begitu terkejut melihat kedatangan Azza di depan ruangannya.
"Iya!" sahut Azza tanpa menatap kearah Daffa. Ia segera meletakkan rantang miliknya di atas meja yang ada diruangan tersebut.
Daffa mengerutkan dahinya saat mendapati perubahan sikap Azza padanya. Wanita itu sepertinya menyimpan kemarahannya.
"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu begitu keras?" tanya Daffa. Membuat Azza mendelik kearahnya.
"Sebaiknya kamu makan sekarang! Aku ingin cepat pulang!" sahut Azza.
Daffa tersenyum menggeleng.
"Katakan saja padaku ada masalah apa denganmu sehingga kamu kelihatan marah seperti itu padaku?"
Daffa berjalan mendekat kearahnya.
"Sejak awal aku selalu marah padamu bukan? Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang?"
Azza berusaha menjauh saat Daffa semakin mendekat kearahnya.
"Jangan mendekat, jaga jarakmu!" ucap Azza.
"Kalau aku menolak bagaimana?" goda Daffa.
Azza segera memalingkan wajahnya saat jarak Daffa tinggal beberapa centi saja darinya.
Daffa berdehem dan segera menjauhkan dirinya setelah menatap leher mulus milik Azza. Ia melonggarkan sedikit dasinya dan duduk menghadap kearah makanan diatas meja.
"Kita makan bersama!" ajak Daffa.
Azza menggeleng. "Aku sudah kenyang," sahutnya.
"Kenyang darimananya? Kamu bahkan sama sekali tidak makan di rumah tadi."
Azza terdiam, ia menatap curiga kearah Daffa. "Darimana lelaki ini tau?" Azza membatin.
"Sudahlah, jangan memikirkan itu. Ayo kita makan bersama!"
Daffa menatap kearah Azza yang kembali ingin menggeleng.
"Kalau tidak mau makan maka kamu yang akan aku makan!"
Azza mengangguk dengan cepat, ia meraih nasi dan lauk-pauk yang ada disana. Menyuapnya dengan cepat tanpa menatap kearah Daffa. Membuat Daffa tersenyum melihat tingkah lucu gadis tersebut.
__ADS_1
Selesai makan Azza tampak gelisah dan semua itu tidak luput dari tatapan Daffa.
"Kenapa kamu gelisah?" tanya Daffa.
"Aku mau ke kamar mandi. Kamar mandinya dimana?" Azza memindai setiap pintu yang ada disana.
"Itu!" tunjuk Daffa pada pintu pertama yang ada di ruangan tersebut.
Azza segera berjalan dan memasuki kamar mandi.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Apa aku tidak mengganggu kebersamaan kalian?" tanya Zainal saat ia memasuki ruangan Daffa. Matanya bergerak mencari keberadaan Azza.
"Dia sedang berada di kamar mandi. Apa yang ingin kamu katakan padaku?"
"Aku hanya ingin kamu menanda tangani berkas ini!" Zainal menyerahkan berkasnya.
"Baiklah!"
Daffa membuka berkas tersebut, membacanya dengan teliti dan membubuhi tanda tangan disana.
"Hari ini dr Aina ingin bertemu langsung denganmu," ucap Zainal.
Daffa mengerutkan dahinya.
"Apa yang ingin di bicarakan olehnya?" tanya Daffa.
"Mengenai rencana tes DNA pada kandungan Anggia."
"Apa aku ada jadwal yang penting setelah ini?" tanya Daffa.
"Tidak ada."
"Baiklah kalau begitu. Jadwalkan pertemuanku dengannya 1 jam kedepan."
"Ok. Aku akan menjadwalkannya untukmu."
"Bagaimana hubunganmu dengan istri mudamu? Apakah sudah berjalan dengan baik?"
Daffa menatap sekilas kearah Zainal kemudian menatap kearah kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Sabar ya Daffa. Azza pasti masih mengingat semua itu dan hal seperti ini wajar saja karena waktu pernikahan kalian baru berjalan dalam hitungan hari."
Braakkk!!!
Pintu terbuka dengan kasar membuat Zainal dan Daffa menoleh secara bersamaan.
"Jadi benar apa yang dikatakan oleh mama kalau kamu menikah lagi?"
Anggia berdiri di depan pintu ruangan Daffa, menatap mereka berdua bergantian.
"Daff, aku keluar dulu, ada urusan yang masih harus kuurus." Zainal berdiri dan berjalan keluar ruangan Daffa.
"Kenapa? Kamu senang aku menikah lagi?" tanya balik Daffa.
"Kenapa kamu tega padaku, Daff? Aku sedang hamil!!" berteriak marah.
"Hamil? Apa kamu yakin kalau itu adalah anakku?" Menatap kearah perut Anggia yang mulai membuncit.
Anggia menggenggam tangannya erat, rupanya Daffa sudah menyadari semuanya. Bahkan ia juga sudah memperlihatkan foto kebersamaan dirinya dengan Alfa kemarin.
"Walaupun dia bukan anakmu, kamu tetap akan mengakuinya sebagai anak. Karena ia ada dalam lingkaran pernikahan kita," sahut Anggia dingin.
"Jadi sekarang kamu mengakui kalau itu bukan anakku?" Daffa terlihat emosi.
"Iya. Dia bukan anakmu. Dia adalah anakku. Karena aku yang mengandungnya. Kenapa? Kamu terkejut?"
Anggia membalik keadaan.
"Tentu saja aku tidak terkejut lagi. Aku sudah tahu semuanya sejak awal. Sebab itu aku selalu menghindar darimu. Lagi pula motifmu untuk menikahiku hanyalah motif yang tidak masuk akal."
"Kamu terlalu mempermainkan ikatan pernikahan kita, Anggia!" ucap Daffa keras.
Azza yang sedang berada di kamar mandi, tidak sengaja mendengar kegaduhan di luar. Ia menguping tetapi tidak mendengar dengan jelas.
"Oh jadi ini wanita yang kamu nikahi?"
Anggia menatap Azza yang baru saja keluar dari kamar mandi. Menelisik Azza dari atas sampai bawah.
"Wanita yang sudah merusak rumah tangga kita dan juga membuatmu berubah!" teriak Anggia.
"Cukup Anggia! Aku berubah bukan karena dia tetapi karena kamu. Dan yang perlu kamu tahu. Rumah tangga kita rusak juga bukan karena dia tapi karena kesalahanmu yang justru berselingkuh di belakangku!"
__ADS_1
"Tapi sekarang aku sudah sadar Daff."
Daffa hanya menatap sekilas kearah Anggia, matanya beralih menatap Azza yang terpaku pada posisinya.
"Apa yang kamu lihat darinya Daff, bahkan dia masih di bawah umur. Untuk mengurus dirinya sendiri saja ia tidak becus, bagaimana bisa ia mengurus dirimu."
Daffa terlihat emosi mendengar hinaan yang keluat dari mulut Anggia.
"Dia memang di bawah umur tetapi dia sangat pintar dalam mengurusi diriku. Biktinya saja, baru beberapa hari dia menjadi istriku, dia sudah mau mengantarkanku makan siang!"
"Tidak seperti dirimu yang setiap harinya hanya bisa bersenang-senang bersama Alfa. Dan selalu mengurusi kepentingannya daripada kepentingan suamimu sendiri."
Anggia menatap tajam kearah Daffa dan Azza.
"Jadi kamu berubah karena dia. Dan karena dia juga sekarang kamu tidak adil padaku?"
Anggia terisak, ia begitu lemah sekarang. Hatinya tersentil dengan perhatian yang Daffa berikan pada Azza. Bahkan Daffa selalu membela Azza sekarang. Dimana Daffa yang dulu, yang hanya memperhatikan dirinya seorang. Daffa yang selalu membelanya dan melindunginya.
"Aku memang salah, dan aku sudah mengakuinya. Tidakkah kamu berikan satu kesempatan untuk kita memulai semuanya dari awal?"
Daffa mendesah frustasi, ia merasa tidak tega menatap Anggia yang terluka. Tetapi pengkhianatan Anggia selalu membayang di pelupuk matanya.
"Aku akam menceraikanmu setelah anakmu lahir."
Anggia membeku mendengar kata cerai yang keluat dari mulut Daffa.
"Tapi Daffa, aku mohon jangan menceraikanku. Biarkan aku menjadi istrimu. Aku tidak akan mempermasalahkan kamu yang sudah menikah lagi."
Daffa beralih menatap Azza yang menunduk, bahkan wanita itu sejak tadi hanya bungkam saja. Ia tidak tahu harus berkata apa di situasi seperti ini.
"Ma'afkan aku Gia. Keputusanku sudah bulat. Sebaiknya kamu bersama Alfa dan hidup bahagia dengannya. Aku akan melepaskanmu asalkan kamu berjanji padaku untuk hidup bahagia dengannya."
Azza menatap sekilas kearah Daffa. Sedalam itukah cinta Daffa pada wanita di depannya ini hingga wanita itu menyakitinya tetapi dirinya masih berharap agar Anggia hiudp bahagia.
Azza meremas dadanya, ada rasa yang tercubit di dalam sana.
Anggia menggeleng. "Aku tidak bisa Daffa, aku sudah bertekad untuk belajar mencintaimu dan menerima dirimu. Bahkan aku sudah putus dengan Alfa."
"Ma'afkan aku Gia. Aku tidak bisa menerima kamu lagi. Cukup bagiku penderitaan ini kita akhiri saja. Aku sadar kalau kamu tidak sepenuhnya mencintai aku!"
Anggia semakin terisak mendengar keputusan Daffa padanya. Matanya beralih menatap kearah Azza yang menunduk dan meremas tangannya.
"Apakah kamu mencintai wanita itu sehingga kamu menikahinya?" tanya Anggia.
Daffa terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Anggia. Pernikahannya dengan Azza juga suatu kesalahan.
"Aku akan berusaha untuk mencintainya!" sahut Daffa.
"Kenapa kamu juga tidak berusaha melupakan kesalahanku?" desak Anggia.
"Pulanglah! Kamu perlu istirahat. Kasian bayimu, dia akan kelelahan kalau kamu menangis terus."
Anggia mengangguk, ia berjalan keluar ruangan Daffa dengan lemah. Pada akhirnya semua orang yang mempunyai kesalahan pasti kalah dan tidak bisa kembali pada keadaan semula.
"Kamu juga Azza, pulanglah. Setelah ini aku ada pertemuan dengan rekan kerjaku."
Tanpa sepatah katapun Azza meraih rantang yang ada disana. Ia melangkah keluar ruangan Daffa dengan melamun.
"Hai...!" sapa lelaki tepat di samping Azza saat ia berdiri menunggu lift naik.
Azza menatap dengan penuh waspada lelaki asing tersebut.
"Sepertinya kamu baru pertama kalinya kesini. Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya!" ucapnya.
Azza hanya diam saja menatapnya.
"Perkenalkan, namaku Yadi." Menyodorkan tangannya tetapi tidak dihiraukan oleh Azza.
"Baiklah kalau begitu, tidak apa-apa kamu tidak ingin mengenalku. Tetapi bolehkah aku tahu namamu?" tanyanya.
Azza masih diam saja.
"Nona Azza. Mari kita pulang!" Mang Udin tiba-tiba muncul di balik lift yang ada di hadapan mereka.
Azza mengangguk dan segera masuk kedalam lift tersebut meninggalkan Yadi yang menggaruk kepalanya.
"Apakah gadis itu gagu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
•
•
•
****
__ADS_1