
"Sayang! Kamu sudah membulatkan tekadmukan untuk tetap menikah dengan Daffa?" Rahiyang menatap Anggia saat berada di ruang makan.
Anggia menatap ibunya dalam, dia tersenyum tipis di iringi dengan sebuah anggukan samar.
"Waktu itu...," Rahiyang kembali menerawang pada masa lalu.
Flashback
"Mas! Kamu kenapa? Kenapa seberantakan ini!?" Rahiyang menatap suamimya yang baru pulang dari kantor. Bajunya dalam keadaan kucel seperti tidak disetrika, bahkan rambutnya juga acak-acakan. Dan jangan lupakan raut wajahnya yang juga kusut dan terlipat-lipat.
"Perusahaan kita hampir di ambang kebangkrutan!!" Berteriak kesal membuat Rahiyang terpaku mendengarnya.
Baru kali ini ia melihat suaminya sefrustasi ini bahkan tidak dapat mengontrol emosinya di depan istrinya sendiri.
"Bahkan tender yang sudah hampir berada di tangan kita juga sudah di ambil oleh perusahaan keluarga Rahadian!" Menghempaskan tangannya.
Rahiyang semakin melebarkan matanya mendengar ucapan suamimya.
"Jadi, Angga yang sudah membuat kita menjadi bangkrut?!" berdesis marah sambil mengetatkan rahangnya.
"Iya. Anggalah yang sudah membuat perusahaan kita menjadi seperti ini!!" Masih berteriak kesal.
Rahiyang terduduk lemas mendengarnya. "Kenapa mereka lakukan semua ini padaku?" Berbisik dan menatap kosong kedepan.
Flashoff
"Mereka juga bahkan sudah mengambil orang yang paling berharga dalam hidupku!" ucap Rahiyang di sela amarahnya. Ada sebulir kesedihan yang mengucur di jiwanya.
"Orang yang paling menyayangi dan memperhatikanku selama aku hidup. Bahkan lelaki itu yang selalu menjengukku ke panti asuhan saat diriku benar-benar merasa kesepian." Menarik napas untuk menghilangkan rasa sesak, masih menatap kosong.
"Dia yang selalu hadir di saat aku sendirian dalam pengambilan raport, bahkan dia juga berperan layaknya orang tua bagiku."
Rahiyang menerawang ke masa lalu beberapa tahun silam.
"Saat itu, entah darimana kabar yang aku dengar dan tepat di saat diriku menantikan dirinya di acara kelulusan sekolahku."
"Dia tidak pernah muncul sampai acara selesai dan biasanya itu tidak pernah terjadi padanya. Hingga aku pulang ke panti dan mendapati ibu panti baru datang dari suatu acara layatan.
"Dan dia langsung memelukku setelah melihat diriku, sambil membisikkan bahwa Om Erland sudah meninggal karena di bunuh." Airmata Rahiyang mengucur deras, ia tidak dapat menahannya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak dapat menyembunyikan tangisanku lagi. Dan aku bertekad untuk membalas dendam pada orang yang sudah melakukan semua itu padanya."
"Aku tahu kalau Erland hanya di manfaatkan oleh Eland sebagai tamengnya, menggantikan posisinya di saat-saat bahaya yang sedang menghadang dan mengintainya."
"Kenapa mama bilang begitu?"
Setelah sekian lama, akhirnya Anggia membuka suara.
"Karena keberadaan om Erland di keluarganya di sembunyikan. Bahkan dunia hanya mengetahui kalau orang tuanya hanya memiliki putra tunggal yang bernama Eland. Tanpa tahu kebenarannya bahwa mereka terlahir kembar."
"Lalu, apa hubungannya dengan ayah yang meninggalkan kita?"
"Setelah mama bangkrut, ayahmu mulai keluyuran bahkan ia sering pergi minum. Hingga pada suatu hari dia mengatakan kejujuran pada mama bahwa dia sudah meniduri seorang perempuan hingga hamil." Rahiyang menyapu airmatanya.
"Tentu saja mama sangat terkejut mendengarnya, apalagi saat itu mama masih belum tahu kalau di perut mama juga ada janin, yaitu kamu."
Anggia merasa prihatin dengan ibunya tapi ia tetap menjadi pendengar yang baik. Walau bagaimanapun, ia juga merasakan perih yang di rasakan oleh ibunya. Sebagai anak yang terlantar dan tidak di inginkan oleh ayah kandungnya sendiri.
"Mama berusaha bertahan disisinya walaupun ayahmu sudah menghamili wanita lain. Hingga suatu hari ayahmu memutuskan untuk meninggalkan mama yang melahirkan anak perempuan dan menikahi wanita itu karena melahirkan anak laki-laki." Menyeka airmatanya dan menatap tajam kedepan.
"Lalu?" Anggia meraba dadanya yang terasa sangat nyeri. Ia tidak pernah tahu kalau kehidupan mamanya sepahit itu.
"Sekarang. Mama percaya padamu kalau kamu pasti akan membalaskan kehancuran keluarga kita agar mereka juga merasakan dengan hal yang setimpal." Rahiyang balas menatap Anggia dengan tatapan penuh harapan.
"Tapi ma, kenapa harus menikah? Bukankah mama tahu kalau Anggia sama sekali tidak mencintai Daffa bahkan sangat membencinya!" Anggia terlihat gusar.
"Karena dia mencintaimu dan kamu membencinya maka kalian harus menikah. Kamu bisa memanfaatkan kelengahannya dan juga bisa menghancurkan keluarganya dari dalam!"
Anggia tertunduk. Ini perdebatan yang selalu terjadi antara dirinya dan ibunya. Ia merasa takdir begitu mempermainkan dirinya.
"Urusan Alfa, kamu tenang saja. Biar mama yang atur!"
"Apa yang ingin mama lakukan pada Alfa?" Anggia menatap ibunya dengan intens.
"Bukankah kamu ingin bersamanya?" tersenyum. "Mama bisa melakukannya untukmu sayang. Jadi kamu percayakan saja pada mama soal itu." Menarik napas.
"Atur saja strategi kita yang dulu agar keluarga mereka hancur seperti hancurnya keluarga kita serta perasaan mama dan juga kamu."
Anggia mengangguk, ia menajamkan tatapannya.
__ADS_1
"Semakin Daffa mencintaimu maka semakin bagus dan semakin kamu menjadikan dirimu sebagai kelemahannya!"
"Tapi ma, kebenaran yang kutahu dari Daffa bahwa Helena dan orang tuanya lah yang menjadi dalang pembunuhan kakek Erland."
Rahiyang tersenyum miris mendengar penuturan Anggia.
"Memang mereka yang membunuhnya. Tapi peran Eland lebih buruk dari Helena. Mereka seolah bertransaksi mengenai hidup dan mati."
"Dan jangan kamu lupakan kalau ayahmu tidak pernah menjengukmu, apalagi menggendongmu. Kesemuanya karena mereka!" Rahiyang terlihat emosi.
"Mereka yang dulu sempat membuat perusahaan milik mama menjadi bangkrut dan mereka juga yang membuat ayahmu meninggalkan kita."
Dengan perasaan bersalah, Anggia meneguk ludahnya kasar. Ini yang pertama kalinya ia mendengar secara langsung penuturan ibunya yang penuh dengan amarah dan airmata.
"Ternyata semua orang mempunyai kedudukan yang sama di mata mama, semua orang selalu menyakiti mama," Anggia bergumam di dalam hati.
"Tapi semua ini berawal dari ayahnya Daffa, Angga. Dia benar-benar manusia berhati iblis!" kembali berbisik didalam hatinya. Anggia mengepalkan tangannya erat, rasa bencinya semakin menyeruak di dalam dadanya.
"Dia bahagia bersama keluarga lengkapnya tanpa ada seorangpun yang terlewat dalam dunianya. Berbeda dengan dirimu, kamu bahkan tidak pernah di akui oleh ayahmu sendiri." Rahiyang semakin sengaja menabur benih kebencian di hati anaknya.
Anggia menunduk, ia menutupi wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Ingatannya kembali berkelana pada masa-masa lalu. Saat semua orang sibuk piknik bersama ayah dan ibunya, dia hanya bisa duduk menatap mereka bersama seorang pengasuhnya.
Bahkan saat anak-anak lain tertawa di gendongan ayahnya, dia harus bisa melangkah dengan tegap untuk mencapai tujuannya. Bahkan di saat mereka menyambut kedatangan ayah mereka, Anggia hanya mampu menatap mereka dengan menggigit jari.
"Aku benci mereka. Kenapa ayah tidak menyukai kehadiranku, hanya karena aku terlahir sebagai seorang perempuan?" Terjun sudah airmata Anggia. Ia tersedu mengingat pahitnya masa kanak-kanaknya.
Rahiyang mengulum senyumnya, akhirnya benih-benih kebencian itu akan semakin berakar dan bertunas.
"Kamu cari tahu sendiri jawabannya. Tapi jangan pernah kamu sekali-kali tertipu dengan penampilannya!" sahut Rahiyang.
"Dia hanya sosok laki-laki yang menyukai kedudukan, harta dan kecantikan seorang wanita!"
Suasana makan malam menjadi suasana yang mengharukan. Bahkan perasaan mereka berbaur, antara benci, dendam dan marah. Terlebih lagi Anggia yang terus-menerus di hembuskan angin neraka oleh Rahiyang.
•
•
•
__ADS_1
*****