Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Tawanan Kabur


__ADS_3

Kemarahanmu mencerminkan dirimu yang sebenarnya. Karena ucapan saat kamu marah adalah ucapan kejujuran yang meluncur dari hati dan pikiranmu.


______________________________________


Yakub tertawa terbahak-bahak saat mendapatkan laporan dari anak buahnya. Bahkan tangannya ikut serta bertepuk tangan karena kegirangan.


"Wah-wah... ayah dan anak sedang bernostalgia rupanya," ucapnya masih menyisakan kekehan.


Yakub meraih handphone yang menampilkan video ayah dan anak yang sedang melepas rindu. Ditatapnya dengan seksama, rahangnya tampak mengeras disertai tatapan yang tajam.


"Baguslah kalau mereka sudah berkumpul, jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk menangkap mereka karena sekali tepuk maka dua lalat yang akan mati."


Yakub menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya. Meraih gelas yang ada dihadapannya. Baru saja ia ingin menghirupnya, salah satu anak buahnya datang melapor padanya.


"Bos, tawanan kita melarikan diri!!"


Brussssss


Air kopi yang baru saja dihirupnya sudah disemburkannya begitu saja saat mendengar berita terbaru dari anak buahnya.


"Apa!!?" sahutnya sambil melemparkan gelas yang ada ditangannya kearah dinding. Ia menatap tajam kearah anak buahnya tersebut.


Kenapa bisa!!?" sambungnya lagi dengan nada teramat geram. Ia meraih tubuh anak buahnya yang tampak sedang berlutut dihadapannya. Tangannya melayang, menampar wajah anak buahnya tersebut hingga tersungkur kelantai.


"Panggil semua teman-temanmu kesini!!" hardiknya dengan kesal.


Yakub menarik resleting bajunya jaketnya yang terasa mencekik lehernya. Melonggarkannya sambil menunggu semua anak buahnya.


Hanya dalam hitungan menit, semuanya sudah berbaris dan menunggu hukuman dari tuannya. Mereka tertunduk, takut dengan kemarahan Yakub yang meledak-ledak.


"Kalian! Kenapa tidak becus dalam menjaganya!! Kalian benar-benar bodoh karena kalah dengan wanita lemah seperti dia!!" teriak Yakub murka sambil menempeleng satu persatu anak buahnya yang berjejer berdiri dihadapannya.


"Ma'afkan kami Tuan," sahut mereka secara bersamaan.


"Aku tidak butuh kata ma'af dari kalian. Aku hanya butuh tawananku kembali!!" teriaknya semakin murka.


"Cepat temukan dia!!! Kalau tidak, maka nyawa kalian sebagai taruhannya!!" Wajah Yakub memerah, ia benar-benar marah karena pionnya sudah kabur darinya.


Seluruh anak buahnya tampak berlari keluar untuk melaksanakan perintah Yakub. Mereka merasa ngeri mendengar ancaman Yakub yang akan membunuh mereka.


Dengan tidak sabaran ia menekan nomor telpon yang ada diatas meja dihadapannya.

__ADS_1


"Bigas! Bawa putrimu kemari, cepat!!" teriaknya sambil meremas rambutnya prustasi.


Bahkan Yakub tidak bisa diam barang sedetik pun. Ia terus mondar-mandir kekanan dan kekiri. Rasanya ia ingin melahap semua hutan yang ada di sekitar mereka agar ia dapat segera menemukan Rika.


Baru saja ia tertawa dan merasa senang dengan kabar yang didapatkannya. Tapi kenapa kesenangannya tidak sepenuhnya sempurna. Ia ingin terus-menerus merasakan kesenangan semua ini tanpa ada yang menghalanginya.


Brukkk


Pintu terbuka dengan kencang. Bigas masuk dengan tergesa bersama putrinya.


"Ada apa ka? Kenapa kakak terlihat gelisah?" tanyanya saat mendapati Yakub yang mondar-mandir.


Yakub melotot menatap kearah wanita yang sedang dibawa oleh Bigas. Menatapnya dengan tajam, seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Kamu tanya saja dia, wanita kurang waras ini!!" teriak Yakub marah.


Bigas terkejut mendengar teriakan keras Yakub. Kenapa Yakub bisa sampai semarah ini pada anaknya. Ia berpaling dan menatap kearah anaknya, Bella.


"Ada apa ini Bella? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bigas pada Bella. Ia menatap heran kearah anaknya karena hanya dirinyalah yang tidak tahu letak permasalahannya.


Wanita tersebut menunduk dalam, tangannya saling meremas menyalurkan rasa takutnya. Bahkan dia hanya diam saja tidak berani untuk membuka suara walau sepatah kata saja.


"Dasar kurang ajar kamu!! Wanita tidak berguna, bahkan setelah otaknya dicuci pun ia masih saja tidak berguna!!" teriak Yakub marah. Ia menatap Bella dengan berapi-api karena Bella sudah membuang tambang besar miliknya.


Ia mulai meragukan jati dirinya, mungkinkah dirinya bukan anak Bigas dan hanya di peralat sebagai kaki tangan mereka dan juga budak mereka.


"Bella. Jangan dengarkan apa kata pamanmu. Dia hanya dalam keadaan emosi sehingga ucapan yang dikeluarkannya adalah kata sembarang!" bujuk Bigas pada Bella yang terlihat mulai ragu.


Justru kata-kata orang yang sedang marah lah yang mengandung kejujuran. Ingin rasanya Bella menyahut seperti itu. Tapi ia tidak mampu, rasanya mulutnya begitu beku.


Bella hanya mengangguk saja. Ia bagaikan kerbau yang di cocuk hidungnya. Selalu menurut apa kata mereka walaupun bertentangan dengan hati nuraninya.


"Sudah. Sebaiknya kamu pulang saja bersama Usman. Dia yang akan membawamu sampai kerumah. Papa masih ada urusan dengan pamanmu."


Lagi. Bella hanya mengangguk saja mengiyakan ucapan orang yang dianggapnya sebagai ayahnya. Ia berjalan dan berlalu dari hadapan mereka tanpa melirik sedikitpun pada Yakub yang masih menatapnya dengan sangat tajam.


"Yakub. Apa-apaan kamu? Kenapa memarahi Bella yang tidak tahu apa-apa? Bahkan kamu mengatakan padanya tentang pencucian otak. Lancang kamu!!" tunjuk Bigas tanpa menyematkan embel-embel 'kakak' saat memanggil Yakub.


Yakub kembali menatap tajam kearah Bigas. Emosinya semakin naik saat Bigas tidak lagi menghormatinya sebagai orang yang lebih tua darinya hanya karena seorang anak yang tidak berguna dan bodoh.


"Dia sudah melepaskan tambang kita. Wanita itu kabur karena anak tidak berguna itu!!" tunjuk Yakub tepat di depan hidung Bigas dengan aura yang berapi-api.

__ADS_1


Bigas terkejut dan membelalakkan matanya. Menatap Yakub dengan tidak percaya.


"Apa!!? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Yakub terlihat sangat kesal karena Bigas menatapnya dengan tidak percaya.


"Bagaimana bisa Bella melepaskannya. Sedangkan dia tidak tahu kalau kita punya tawanan. Lagi pula Bella selalu bersamaku." Menarik napas sejenak untuk menghalau emosi yang ikut-ikutan terpancing.


"Kenapa kakak menuduhnya yang tidak-tidak. Dia hanyalah wanita lemah dan tidak bisa melakukan apapun juga," bela Bigas.


"Apa!? Kamu tidak percaya padaku dan justru menuduhku yang memfitnah anakmu!?" Yakub bertambah kesal.


Bigas menggelengkan kepalanya. Ia tahu disaat marah, kakaknya pasti tidak bisa dibantah ataupun dilawan. Lebih baik dirinya saja yang mengalah.


"Coba kamu cek CCTV kalau tidak percaya!"


"Baiklah! Aku percaya padamu. Aku janji akan kembali membawa tawanan kita kehadapanmu," sahutnya.


"Aku tidak butuh omong kosongmu. Buktikan kalau kamu bisa menangkapnya lagi untukku. Aku tunggu kabarnya!" sahut Yakub sambil berlalu meninggalkan Bigas yang menatap kepergiannya.


Ia bergegas berjalan kearah ruangan mesin CCTV untuk memeriksa kebenaran dari ucapan kakaknya.


Bigas memutar ulang kejadian beberapa waktu lalu. Matanya membulat menatap tidak percaya pada seseorang yang bercadar dan masuk kedalam ruang tahanan Rika setelah ia memberikan obat tidur kepada seluruh anak buah Yakub.


"Darimana dia menyimpulkan kalau Bella adalah pelakunya?" Bigas segera meninggalkan ruangan CCTV tersebut. Ia tidak tahu kalau memang benar wanita bercadar itu adalah Bella. Karena di akhir waktu, wanita itu membuka cadarnya yang sayangnya Bigas belum sempat menontonnya.





*****


**Mana suaranya tim :


Rika ❤ Alvaro


 


atau


 

__ADS_1


Rika❤ Angga


Bantu La ya untuk endingnya nanti ✌**


__ADS_2