
"Katakan! Apa yang kau lakukan pada Afika? Katakan!" Tanya Farah setelah keluar dari ruang inap kamar Afika. Farah tahu betul jika ada sesuatu yang terjadi, terlebih pada saat Farah melihat sekujur tangan Afika terlihat banyak luka lebam. Farah menaruh sepenuhnya kecurigaan pada Adrian yang saat ini telah resmi menjadi suami Afika. "KDRT? Benar, kau pasti suami yang suka memukul istri." Ucap Farah sambil mendorong tubuh Adrian. Farah muak melihat laki-laki yang seharusnya bertugas untuk menjaga sang wanita namun nyatanya justru terbalik. Dimana pria yang ada saat ini di hadapannya justru menyiksa wanita.
Bukkhhhh, bukkkhhh, bukkkhhh,.. Farah memberika pukulan demi pukulan tepat di dada bidang milik Adrian. Adrian hanya tetap diam dan menerima semua pukulan yang di layangkan oleh Farah. Adrian tahu, ia bersalah dan pukulan yang di berikan Farah kepadanya tak seberapa dengan apa yang telah ia berikan pada Afika. Meningat sudah berapa bulan lamanya ia mengurung Afika dan juga menyiksa Afika.
"Farah!" Teriak Baby. Baby yang tadi sempat melihat mobil Adrian langsung bergegas karena tahu pasti hal seperti ini akan terjadi. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Kata Baby sambil mencoba melerai Farah.
Farah menghempaskan tangan Baby sehingga membuat Baby terhenyah mundur kebelakang, dan hampir terjatuh, untung saja ada Adrian yang langsung menahan tubuh sang adik.
"Kau juga! Kau itu seorang wanita harusnya kau mencegah apa yang kakak mu lakukan pada Afika. Bukan hanya diam saja!" Kata Farah. Ingin sekali Baby membantah ucapan Farah, namun sayang Adrian langsung mencegah Baby.
Benar, jika Adrian berada di posisi Farah. Pasti Adrian pun melakukan hal demikian. Siapa pun pasti tidak akan menerima jika keluarganya di perlakukan seperti ini.
"Kau!" Farah menunjuk wajah Adrian. "Jangan pernah nampakkan wajahmu di hadapan aku dan juga di hadapan Afika lagi."
"Kau siapa?" Tanya Baby dengan suara lantangnya. Ia tidak suka dengan apa yang barusan Farah katakan. "Ingat! Kau hanya teman sepanti Afika, dan dia." Baby memegang Adrian. "Dia suami Afika yang berhak atas diri Afika. Jadi kau, cukup diam saja, jangan banyak bicara."
"Kaliam berdua sama saja." Kata Farah lalu membalikkan badannya, ingin kembali masuk ke dalam ruang inap Afika.
"Maaf." Satu kata yang mampu keluar dari bibi Adrian sehingga membuat Farah menghentikan langkahnya. "Maaf, karena sudah menyakiti Afika. Aku sadar, aku salah. Tapi tolong beri aku satu kesempatan." Ucap Adrian sehingga membuat Farah membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Adrian.
__ADS_1
"Bahkan kata maafmu tidak akan mampu membuat Afika melupakan apa yang telah kau lakukan. Simpan kata maaf itu, sebagai penyesalan di dalam dirimu." Setelah berkata seperti itu, Farah pun langsung masuk ke dalam ruang inap Afika.
Adrian langsung lemas. Setiap ia berkata maaf, tidak ada satupun yang mau memaafkannya. Baby, menarik lengan Adrian dan membawa Adrian untuk duduk di kursi.
"Lebih baik kak Adrian pulang istirahat."
"Baby, bagaimana aku bisa istirahat jika keadaan Afika belum membaik."
"Lihatlah penampilan kakak." Ucap Baby. "Kakak sedang tidak baik-baik saja. Aku sudah memesan kamar hotel di depan sana. Lebih baik kak Adrian pulang dulu, bereskan diri kakak, dan kembali lah dalam keadaan yang baik." Saran Baby, karena memang penampilan Adrian saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sudah hampir dua malam ia belum juga mengganti sama sekali pakaiannya. Dan juga, Baby pun tidak ingat kapan terakhir kali sang kakak makan. Karena setiap Baby memberikan makan, Adrian selalu berkata jika dirinya sudah kenyang. "Kalau kakak sakit, lalu siapa yang akan menjaga Afika kelak. Jadi pulanglah dulu. Besok kak Adrian bisa datang kembali." Baby terus menyakinkan Adrian jika ada dirinya di sini yang akan menjaga Afika dan juga ada Siti ibu panti yang sudah di anggap Afika sebagai ibu kandungnya. Baby pun mengatakan akan tetap memberikan kabar kepada Adrian selagi Adrian berada di hotel. Beberapa lama berfikir akhirnya Adrian mengiyakan perkataan Baby, dan memutuskan untuk malam ini ia beristirahat di hotel.
"Baiklah." Kata Adrian. "Tapi ingat, jangan pernah pergi dan jangan pernah biarkan Afika sendiri. Kau harus tetap selalu ada di dekatnya. Dan jangan lupa kabari aku."
•••••
Baby merasa geram, karena hampir setiap lima menit Adrian menghubunginya dan menanyakan bagaimana keadaan Afika. Belum juga Baby memejamkan mata, Adrian kembali menelpon dirinya. Padahal Baby sudah jelas mengatakan jika saat ini Afika baik-baik saja dan sudah tidur pulas. Namun, Adrian masih belum percaya sampai Adrian melakukan panggilan video. Tapi Baby tidak menjawab karena ada Farah yang terus menatap tajam pada Baby saat Baby menerima panggilan dari Adrian.
"Bisa-bisa kau membangunkan Afika jika kau terus saja menerima panggilan." Ucap Farah yang sudah mulai bosan melihat Baby yang terus saja menjawab panggilan dan berbicara berbisik-bisik. Bagai seekor nyamuk yang terbang dengan suara yang terdengar nyaring di telinga. "Bukan hanya kau manusia di ruangan ini. Jika kau ingin menjawab panggilan mu lebih baik kau keluar saja." Kata Farah dengan ketus.
"Kak, sudah dulu. Kau dengar sendiri kan jika Farah sudah tidak betah mendengar ku berbicara. Besok lagi aku yang akan menghubungimu. Ini sudah malam. Lebih baik kak Adrian istirahat saja." Ucap Babt dengan suara yang berbisik.
__ADS_1
"Baiklah."
"Ingat kak, jangan hubungi aku lagi." Kata Baby mengingatkan kembali untuk kesekian kalinya. Dan Baby berharap ini adalah panggilan yang benar-benar terakhir kalinya.
Saat panggilan telah selesai. Baby pun langsung memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi. Begitupun dengan Farah dan juga Siti. Namun tidak pada Afika yang kini matanya terbuka lebar sambil menatap langit-langit ruangan. Afika mengusap perutnya. Entah kenapa malam ini ia merasa sangat lapar dan ingin sekali makan nasi goreng.
Ponsel Baby terus berdering, namun sang pemilik yang sudah tertidur dengan lelap sama sekali tidak mendengar panggilan dari kakaknya. Afika perlahan turun dari tempat tidur dan mencoba membangunkan Farah, namun Farah sama sekali tidak bergeming sampai-sampai membuat Afika merasa putus asa dan menutuskan untuk tidak membangunkan Farah lagi.
Karena ponsel yang terus berdering membuat Baby yang tertidur pulas, kini merasa terganggu dan terpaksa menjawab panggilan dari Adrian. "Kak, bisa tidak kak Adrian tidur. Ini sudah pukul dua dini hari kak. Aku ngantuk."
"Bagaimana keadaan Afika? Apa di masih tertidur?"
"Afika, dia..." Ucapan Baby menggantung kala melihat tempat tidur Afika yang saat ini sedang kosong.
"Baby, apa yang terjadi? Bagaimana dengan Afika, apa dia sudah tidur?"
"Kak, Afika.." Baby berusaha mencari Afika membuka pintu kamar mandi namun tidak menemukan Afika sama sekali. "Kak, Afika hilang." Ucap Baby.
"Apa?"
__ADS_1
"Afika tidak ada kak." Ucap Baby. Dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, kini Adrian pun langsung bergegas ke rumah sakit yang jaraknya sangat dekat dengan hotel yang ia tempati menginap