Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Ngidam


__ADS_3

Seperti aku memcintaimu, begitulah kamu mencintaiku. Dengan cara tak terbaca dan kejutan tak terduga


______________________________________


Rika tersenyum sesampainya disana. Mereka bukannya menuju kearah kebun bunga yang dimaksud oleh Angga. Justru menuju kebelakang kediaman penghuni rumah yang lainnya, yaitu kediaman yang di khususkan untuk para pelayan di mansion tersebut.


"Sayang. Apa yang kamu cari disini?" Angga menatap heran istrinya, namun tak disahuti oleh istrinya.


Bahkan sejak mereka di rumah sakit tadi, mendadak istrinya menjadi jarang berbicara. Hanya dirinya saja yang berbicara saat bersama Alvaro tadi. Ngomong-ngomong masalah Alvaro, sepertinya dokter itu tahu batasannya. Itu lebih baik baginya karena ia bisa tampil lebih berwibawa ketimbang seorang pencemburu.


Rika masih tersenyum sambil menunjuk kearah kubalan asap yang berasal dari pembakaran daun dan rerumputan.


"Apa, apa yang ingin kamu lakukan dengan api tersebut? Biarkan saja mereka yang melakukannya karena itu sudah menjadi tugas mereka." Berusaha membujuk Rika untuk kembali ke mansion karena udara disekitarnya sangat berpolusi.


"Kenapa mereka membakar sampah jam segini?" Angga bergumam sendiri sambil menatap kearah jam di pergelangan tangannya.


Baru saja Angga melangkah ingin berjalan kearah mereka. Suara Rika langsung menghentikannya.


"Sayang... aku ingin kamu mandi asap itu!" Tunjuk Rika pada gumpalan asap daun kering dan rerumputan yang terasa harum di indra penciumannya.


Angga langsung melotot, membeku menatap kearah Rika. Ingin ia menggeleng dan menolak permintaan istrinya tersebut, tapi ia tidak tega saat melihat tatapan memohon dari istrinya. Bahkan bibirnya yang tipis selalu di hiasi oleh senyum menawan yang sempat dibenci olehnya dulu. Tapi sekarang ia begitu tergila-gila dengan senyum itu, rasanya begitu membuatnya berdebar-debar.


"Sayang, itu berbahaya. Lagi pula, asap mengandung gas karbondioksida yang berbahaya bagi paru-paru." Dengan hati-hati Angga mengatakannya. Namun Rika tetap memandang kearah api tersebut bahkan ia sesekali memejamkan matanya untuk merasakan bau asap tersebut. Senyumnya sejak tadi tidak pernah luntur sehingga Angga akhirnya mengalah dan menjadi tidak tega menolak permintaan istrinya tersebut.


"Tapi setelah ini kita kedalam mansion ya, aku mau ke kantor." Mengusap kepala istrinya dengan lembut sembari memberikan kecupan di dahinya.


Rika tersenyum manis sambil menatap Angga disertai sebuah anggukan senang. Matanya beralih menatap kearah asap putih yang menggumpal.


Paham dengan keinginan istrinya, Angga berjalan kearah asap tersebut yang langsung menerpa tubuhnya. Setelah merasa cukup, ia berjalan kearah Rika.


"Emm harumnya...," Rika memeluk Angga dengan erat sembari membauinya. Bahkan ia begitu menempeli Angga hingga membuat Angga terkekeh senang.


Ia senang karena Rika yang memeluknya erat, bahkan melengketinya. Rasanya ia rela mandi asap setiap hari asalkan istri dan calon anaknya senang.

__ADS_1


Mereka berjalan sambil berpelukan, bahkan Rika selalu membaui tubuh Angga yang terkena asap tersebut. Ia akan senang apabila Angga mempunyai parfum seperti ini.


"Apakah ada orang menjual parfum dengan wangi daun dan rumput yang dibakar?"


Angga menatap Rika yang menggemaskan. Tangannya erat memeluk bahu istrinya, terkekeh sesaat.


"Tidak perlu membelinya sayang, setiap hari kita akan membakarnya. Rumput seperti apa yang kamu sukai untuk dibakar hemm?" Sembari memberikan kecupan singkat di bibir istrinya.


Rika tampak mayun, Angga semakin gemas dan kembali memberikan kecupan tapi di iringi dengan sedikit *******.


"Jangan!" Rika terengah dibuatnya. Entah kenapa perlakuan Angga terhadapnya menimbulkan libido yang kuat. Rasanya perutnya terasa mulas dan di lilit-lilit hingga membuat dadanya berdebar.


"Kenapa?" tanya Angga dengan serak. Ada sedikit kabut gairah di matanya. Rasanya ia ingin bermain sebentar sebelum pergi meeting hari ini.


"Itu...," tunjuk Rika pada beberapa bodyguard yang menunduk tanpa berani menatap kearah mereka. Wajahnya terasa panas karena malu kelihatan oleh mereka.


"Mereka tidak akan memperhatikan kita. Anggap saja mereka patung atau benda mati." Angga tertawa setelahnya kemudian memberikan kecupan singkat di bibir istrinya lagi untuk yang kesekian kalinya. Sungguh kebersamaan ini sangatlah menyenangkan.


"Sayang, aku mau ke kantor dulu," pamit Angga pada istrinya setibanya mereka di kamar.


***


Sesampainya di kantor, Angga langsung menuju kearah ruangannya. Ia tidak menyempatkan dirinya untuk mandi terlebih dahulu karena waktunya yang terlalu mepet.


"Kamu habis darimana?" Asra menghampiri Angga sambil sesekali menutup hidungnya. "Apa mansionmu sedang kebakaran sehingga kamu sebau ini?"


Angga melotot menatap kearah Asra. "Ini parfum terbaru milikku dan kamu tahu kalau Rika sangat menyukainya." Tersenyum sendiri sembari mengingat Rika yang selalu mencium dirinya dengan bau asap tersebut.


"Oh iya. Setiap harinya kamu harus selalu menyediakan rumput dan juga daun kering untuk dibakar di mansionku. Ingat! Harus setiap hari, terserah kamu mau membelinya dimana."


Asra melongo mendengarnya. Apa yang Angga katakan tadi? Apakah ia salah dengar? Dan kenapa kedengarannya sangat aneh?


"Hei. Ini tidaklah aneh seperti yang kamu pikirkan. Aku ingin menciptakan produk parfum terbaru untukku seorang. Dengan aroma rumput dan daun kering yang dibakar." Angga menatap serius Asra yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana dengan rumput dan daun kering tadi? Apakah kamu sekarang sedang berpindah profesi menjadi tukang ternak?" Asra masih syok dan belum kembali kealam sadar.


Angga mendelik kesal kearah Asra. Rasanya ia ingin mengeluarkan otaknya dan mencucinya dengan air kembang 7 rupa.


"Atau Bos sedang main dukun-dukunan?" Masih melongo dan menatap heran kearah Angga.


"Lupakan saja. Yang jelas, rumput dan daun kering harus ada di mansionku setiap harinya. Dan juga, kamu ciptakan produk baru. Parfum dengan aroma yang aku minta tadi."


"Apa jadwalku selanjutnya?" Mengalihkan pembicaraan setelah Asra mengerti dan mengangguk.


"Pertemuan di ruang rapat dengan kepala direksi pemasaran dan juga kepala direksi keuangan serta anggotanya."


Angga mengangguk sambil memeriksa berkas yang ada dihadapannya.


"Berkas ini! Coba kamu cek sekali lagi, perbaiki. Masih ada kesalahan." Menyerahkan sebuah map yang berisi berkas kearah Asra.


Asra meraihnya, "Baik Bos, akan kukerjakan dengan cepat." Meninggalkan ruangan Angga setelah Angga memberi kode mata kearahnya.


Angga berjalan cepat menuju kearah ruangan meeting setelah jadwalnya diberitahukan. Disana ia sudah ditunggu oleh semua petinggi perusahaan yang lainnya.


Desas-desus terdengar hingga ketelinganya saat dirinya membuka pintu kokoh tersebut. Semua matanya langsung terpusat kearahnya bahkan keramaian tadi mendadak senyap. Tapi Angga tidak perduli dengan semua itu, karena mulut mereka tidak menjadi urusannya.


Rapat berjalan selama 30 menit, hingga Angga sendiri mengakhirinya setelah didapat keputusan yang tepat.


Asra berbisik di telinga Angga setelah meeting selesai, Angga ingin berdiri dari kursi miliknya tetapi urung. Matanya terbelalak mendengar berita yang disampaikan oleh asistennya.


"Apa!?" Angga menghentakkan tangannya tiba-tiba sambil menatap tajam kedepan. Beberapa dari mereka tampak bergidik ngeri melihat kemarahan pimpinan mereka.


"Kita bicarakan di ruanganku saja!" Berdiri dan meninggalkan semua mata yang menatapnya takut bercampur heran.



__ADS_1



*******


__ADS_2