Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Kesal


__ADS_3

Ketika hati merindukan sang rembulan, aku hanya mampu untuk memandanginya saja tanpa mampu untuk menyentuhnya


______________________________________


Alvaro masih berada di penginapannya, belum beranjak dari tempat tidurnya. Pikirannya masih menerawang mengingat-ingat kejadian yang begitu cepat terjadi kemarin.


Ia masih memikirkan ucapan Bigas mengenai Nadia. Kemarin dirinya khusus bertamu ke tempat Bigas hanya untuk menanyakan sesuatu yang belum pasti.


Jadi selama ini benar kalau Bella adalah Nadia, istrinya yang di kabarkan kecelakaan pesawat waktu itu. Yang menjadi tanda tanyanya adalah, kenapa bisa dia selamat dari kecelakaan maut tersebut, padahal kecelakaan itu menewaskan seluruh penumpangnya.


Namun ia sangat bersyukur karena pada akhirnya Aina dapat melihat ibunya kembali.


Mungkin besok ia akan kembali berkunjung ke tempat Bigas di tahan untuk mendengarkan rinciannya secara jelas.


Hari ini ia berencana untuk menjenguk keadaan Rika dan Angga di rumah sakit. Hanya memastikan saja kalau wanita yang sempat singgah di hatinya dalam keadaan baik-baik saja.


Bergegas ia menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Cukup 20 menit saja, ia sudah keluar dari sana.


Dengan berbalut handuk saja, Alvaro berjalan kearah lemari pakaian yang ada di kamarnya tersebut. Meraih kemeja biru dongker dan celana hitam bahan kain.


Selesai bersiap, ia meraih kunci mobil miliknya.


***


Mobil Alvaro membelah keramaian kota Banjarmasin. Ia menepi tempat di depan toko bunga. Membeli seikat mawar putih dan membayar harganya.


Mobilnya kembali melaju menuju kearah rumah sakit. Tapi, sebelum itu ia membeli parsel untuk Rika.


Langkah tegapnya menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang panjang. Mencari keberadaan kamar yang sudah di beritahukan oleh resepsionis kepadanya sebelumnya.


Tok tok tok


"Masuk!"


Samar-samar Alvaro mendengar suara yang menyuruhnya untuk masuk. Tanpa ragu ia membuka pintu dan mendapati Angga seorang diri di ruangan tersebut.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Angga sambil menatap tajam Alvaro. Ia tidak suka kalau duda beranak satu tersebut dekat-dekat dengan istrinya.


"Aku hanya ingin menjengok Rika!" Mata Alvaro celingak-celinguk mencari-cari keberadaan Rika.


"Dia tidak ada disini." Menatap kearah barang bawaan Alvaro. Ia semakin kesal saat mendapati sebuket bunga mawar putih di tangan pesaingnya.


"Dia kemana?" Alvaro meletakkan bokongnya pada kursi sofa yang ada dihadapan Angga.


"Tidak tahu!" jawab Angga ketus. Ia semakin kesal karena Alvaro justru duduk di ruangannya. "Aku ingin istirahat, bisakah kamu keluar!"


"Oke. Aku akan keluar. Tapi aku akan menunggu Rika di luar saja!" Berdiri dan berjalan kearah luar.


"Jangan! tunggulah dia disini. Dia sebentar lagi akan datang!" sahut Angga. Alvaro menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Angga merasa takut kalau Alvaro akan berbuat sesuatu yang tidak diketahuinya di luar sana. Dan membuat Rika kembali mengubah keputusannya.


Tidak lama setelahnya pintu kamar Angga terbuka. Rika masuk dengan membawa beberapa makanan dalam kantong plastik yang ditentengnya. Rupanya dirinya baru saja dari kantin rumah sakit.


"Sam, sejak kapan kamu disini?" tanya Rika saat melihat keberadaan Alvaro. Wajah Angga seketika menjadi masam saat mendengar panggilan Rika untuk rivalnya.


"Tidak lama. Aku baru saja disini dan sedikit berbincang dengan Angga." Alvaro tersenyum manis kearahnya.


"Ini ada bunga dan juga parsel untukmu." Alvaro menyerahkan bingkisannya pada Rika.


"Makasih, Sam." Rika tersenyum dan menerimanya.


"Aku yang sakit, justru dia yang dapat!" Angga tampak mencibir tidak suka. Tapi tidak ada yang menanggapi dirinya membuatnya semakin kesal. Matanya menatap pergerakan Rika.


"Sayang, aku lapar!" Angga menyela pembicaraan mereka. Ia tidak suka kalau Rika dekat-dekat dengan Alvaro.


"Tunggu sebentar!" Rika duduk tepat disamping Alvaro. Meletakkan makanan yang dibelinya. Mengambil sterepoam yang berisi bubur ayam.


"Kapan kamu sembuh? Aku tidak diberi tahu?"


Rika berbalik menatap kearah Alvaro. "Kemarin aku sudah lepas infus. Keadaanku baik-baik saja, Sam. Seperti yang kamu lihat." Rika tersenyum.


"Sayang! Cepetan! Aku benar-benar lapar!" Angga kembali menyela pembicaraan mereka berdua. Ia tidak suka Rika berbicara dengan Alvaro.


Rika mengangguk dan berjalan kearah ranjang yang di tempati Angga. Duduk tepat di hadapannya. Tersenyum sebentar lalu mengarahkan sendok yang berisi bubur di tangannya ke mulut Angga.


Angga seketika menghentikan kunyahannya. Meraih gelas air yang ada di tangan Rika. Menatap tajam kearah Alvaro yang sengaja memancing emosinya.


"Apa maksudmu? Rika akan tetap berada disini. Dia istriku!" sahut Angga dengan sikap posesifnya.


Alvaro mengulum senyumnya. Ia semakin gencar menjahili Angga sekarang. Lelaki itu terlihat sangat cemburu dan marah karena miliknya sedang di ganggu.


"Mungkin saja Rika ingin bertemu dengan Aina, anaknya," sahut Alvaro enteng.


Angga semakin memerah mendengarnya. Kalau saja ia tidak sedang terbaring di ranjang. Sudah ia pastikan Alvaro akan mendapatkan bogem mentah darinya.


"Hey. Dia anakmu bukan anak Rika!" Angga mulai tersulut emosi.


"Memang anakku tapi nanti juga akan menjadi anaknya, kalau dia sudah menikah denganku." Masih bersikap santai.


"Hey! Dia istriku!" geram Angga.


"Istri kamu bilang? Suami macam apa yang membuat istrinya banting tulang sendiri. Dan suami macam apa yang membuat istrinya sengsara. Bahkan istri yang ingin diceraikan oleh suaminya sendiri," cibir Alvaro.


Skakmat! Angga terdiam dan tidak dapat menjawabnya. Wajahnya memerah, tangannya mengepal. Matanya beralih menatap Rika yang tampak sibuk mengaduk-aduk bubur di tangannya untuk mendinginkannya.


"Sayang! Aku janji aku tidak akan melakukan itu lagi padamu. Jadi, jangan tinggalkan aku ya," Angga memelas.


Rika tersenyum menatap suaminya. Ia melirik sesaat kearah Alvaro. Ia tahu kalau Alvaro hanya ingin memancing suaminya saja.

__ADS_1


"Makan dulu, setelah itu minum obatnya!" Rika tidak menjawab dan justru mengalihkan pembicaraan. Rika seketika langsung menurunkan amarah Angga. Walaupun sebenarnya ia sangat kesal pada Alvaro. Tapi disisi lain, ia masih was-was menatap kearah Rika. Sejak tadi Rika hanya tersenyum saja. Senyum yang saja sekali tidak bisa ditebak.


"Iya. Kamu jangan terus-menerus menyusahkan istrimu, Angga. Kasihan dia kelelahan. Dia juga baru sembuh dari sakit." Alvaro kembali menyulut emosi Angga.


"Hey. Dia istriku. Jadi apapun yang terjadi padaku. Dia harus selalu bersamaku." Angga kembali kesal.


"Sayang, aku tidak akan menyusahkanmu lagi setelah ini," Angga beralih menatap Rika dan berbicara dengan lembut.


"Iya. Aku tahu. Mas tenang saja." Rika beralih menatap kearah Alvaro sesaat.


"Sam, setelah ini aku ingin berbicara berdua sama kamu. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu."


"Oke! Aku akan tunggu disini saja."


Angga melotot mendengar ucapan Rika barusan. Ia menghentikan suapannya, selera makannya tiba-tiba menghilang. Tadinya ia ingin memperlihatkan pada Alvaro kalau dia dan Rika sudah baik-baik saja dan terlihat mesra. Tapi sekarang justru dia yang kebakaran jenggot.


"Sayang. Tanganku masih sakit dan kakiku juga belum bisa jalan. Lalu bagaimana nanti kalau aku ada sesuatu kalau kamu tidak ada disini," rengek Angga manja pada Rika. Ia benar-benar keberatan kalau Rika bersama Alvaro.


"Nanti aku akan memanggilkan suster untuk menjagamu disini."


"Tapi___,"


"Mas, aku hanya berbicara sebentar dengan Sam. Aku juga tidak akan meninggalkanmu. Percaya padaku!"


Alvaro terdiam mendengarnya. Ia menatap kearah Rika yang dengan ikhlas merawat dan menjaga Angga walaupun Angga sudah berulang kali menyakiti dirinya. Beruntungnya Angga mendapatkan cinta seputih kapas dari Rika. Ia bisa tenang sekarang apabila melepaskan Rika pada Angga.


"Kenapa tidak berbicara disini saja. Kalian seperti orang yang sedang selingkuh di belakangku!" Angga memberengut kesal.


Tawa Rika seketika pecah. Ia tahu sekarang kenapa Angga berusaha mencegahnya untuk berbicara dengan Sam. Ia bahagia kalau ternyata Angga benar-benar cemburu padanya.


"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu?" Ketus Angga.


Rika menggeleng, tangannya meraih tangan Angga dan mengusapnya.


"Hal seperti itu tidak akan terjadi. Apalagi aku akan menikah sebelum bercerai!" sindir Rika.


"Sudah. Sebaiknya kamu minum obat dan segera istirahat agar cepat pulih. Kita juga akan cepat kembali ke Jakarta," sambung Rika lagi.


Angga terlihat masih kesal karena Rika terus-terusan menyuruhnya untuk istirahat. Agar dirinya bisa leluasa bersama Alvaro tanpa pengawasannya. Baiklah. Ia akan berpura-pura tidur saja untuk menguping pembicaraan mereka.


"Baiklah. Aku akan istirahat. Tapi kamu jangan pergi dari sini ya," pintanya dengan memelas sehingga Rika yang melihatnya menjadi tidak tega. Rika menganggukkan kepalanya membuat Angga bersorak senang di dalam hatinya.





********

__ADS_1


__ADS_2