Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Bulan Madu 2


__ADS_3

Daffa menatap kearah Azza yang tertidur dalam pesawat. Tangannya terulur menyentuh kepala Azza dan menyandarkannya dengan hati-hati di pundaknya.


Matanya beralih menatap tangan Azza yang tetap melekat di tangannya walaupun wanita itu tertidur pulas.


"Sayang! Kita sudah sampai," bisik Daffa lembut setelah pesawat yang mereka tumpangi mendarat.


"Sayang. Bangun, kita sudah sampai." Lagi. Daffa menepuk lembut pipi istrinya tetapi tidak ada pergerakan sama sekali dari wanita itu.


Dengan hati-hati Daffa melepaskan sabuk pengaman yang melekat di badan Azza kemudian ia menggendong wanita tersebut menuruni pesawat yang mereka tumpangi.


Sopir yang sudah sejak awal di sewa oleh Daffa sudah menunggu mereka di bandara.


"Sebaiknya kita langsung ke hotel saja, istriku sedang tertidur pulas!" ucap Daffa setelah mereka memasuki mobil.


"Baik, tuan!" sahut lelaki paruh baya tersebut.


"Apakah tuan tidak ingin melihat matahari tenggelam di tepi pantai?" tanya sopir tersebut setelah mereka melewati pantai.


"Bagaimana mungkin aku bisa melihatnya, sedangkan istriku masih tertidur pulas. Sepertinya dia sangat kelelahan!" sahut Daffa.


"Mungkin besok masih bisa mengabadikan momen indah ini, tuan. Dan semoga perjalanan bulan madu tuan dengan istri tuan berjalan lancar!" ucap Sopir setibanya mereka di depan kamar hotel.


"Darimana kamu tahu kalau kami sedang berbulan madu?" tanya Daffa.


Sopir tersebut terkekeh.


"Sepanjang usiaku, aku bekerja sebagai sopir dan begitu banyak penumpang yang aku bawa. Bahkan banyak diantaranya pasangan muda dan baru menikah. Dan mereka juga menjalani masa bulan madu."


Daffa mengangguk.


"Terima kasih!" ucap Daffa.


"Tidak masalah. Tapi kalau tuan memerlukanku kapan saja. Tuan tinggal hubungi aku saja, maka hanya dalam hitungan menit saja, aku sudah ada di depan tuan!"


"Baiklah. Aku pasti akan menghubungimu."


Daffa segera masuk ke dalam kamar hotel dan meletakkan Azza di tempat tidur. Ia ikut merebahkan dirinya di samping wanita tersebut.


"Ck ck ck, tidurnya pulas sekali. Bagaimana kalau dia tidur di alam terbuka? Bisa-bisa dia habis di bawa terbang oleh segerombolan nyamuk!" gumamnya.


Tangannya terulur memeluk wanita itu dan mencoba memejamkan matanya sesaat menghalau rasa lelahnya.


Azza membuka matanya, menatap ke sekelilingnya. Dengan segera ia mendudukkan dirinya tetapi sesuatu yang berat menindihnya.


Matanya beralih menatap kearah samping, Daffa tertidur dengan posisi memeluk dirinya.


"Kamu sudah bangun?" Daffa membuka matanya, menatap Azza yang masih menatapnya.


"Ma'afkan aku karena sepanjang perjalanan aku merepotkan dirimu," ucap Azza merasa bersalah.


"Tidak. Kamu sama sekali tidak membuatku repot. Jangan berkata seperti itu lagi," bisik Daffa.


"Tapi aku tertidur sepanjamg perjalanan, bagaimana mungkin itu tidak membuatmu repot."


Daffa menggelang.


"Kamu tidak biasa melakukan perjalanan udara dan sangat jauh. Jadi wajar saja kamu kelelahan dan tertidur!" sahut Daffa.

__ADS_1


"Ma'afkan aku!" bisik Azza lagi.


"Jangan meminta ma'af lagi sayang, kamu tidak bersalah. Jangan jadikan momen bulan madu kita menjadi tidak menyenangkan."


Azza tersenyum dan mengangguk, ia bergerak memeluk Daffa erat.


"Iya. Makasih semuanya!" Azza mengecup dahi Daffa sekilas. Membuat Daffa melototkan matanya, sedetik kemudian senyum nakalnya terbit di bibirnya.


"Kamu yang memulainya maka kamu harus bertanggung jawab, sayang!"


Daffa meraih tengkuk Azza dan menciumnya dengan lembut. Perjalanan bulan madu mereka pun di mulai.


***


Selepas pergumulan panas, Daffa memesan makanan sambil menunggu Azza yang masih berada di kamar mandi.


"Siapa tadi yang datang?" tanya Azza selepas keluar kamar mandi.


"Pelayan hotel sayang. Sebaiknya kita segera makan agar perut tidak kosong lagi. Karena setelah ini aku yakin kita akan membuat mata dan hidungnya dulu."


Azza bergerak kearah Daffa dan duduk tepat di hadapannya.


"Kamu selalu membahas soal itu," sahut Azza.


"Bagaimana aku tidak membahasnya, aku melakukannya yang pertama bersamamu. Lagi pula siapa suruh kamu membuatku nikmat dan ketagihan."


Azza merona, ia menunduk sesaat.


"Bagaimana kalau kita makan di luar saja. Sambil menyaksikan bintang dan gelapnya malam?" usul Azza mengalihkan pembicaraan.


Daffa tersenyum mendengarnya, rupanya istrinya sangat menyukai alam terbuka.


Daffa menatap Azza dengan tatapan nakal.


"Emmm, kita keluar sekarang saja!" Azza kembali mengalihkan pembicaraan. Ia benar-benar merasakan gelenyar aneh setiap kali Daffa membahas sesuatu yang int*m.


"Baiklah. Kita duduk di balkon saja!"


Azza meraih nampan dan segera melangkah kearah balkon hotel.


"Sekarang kamu ceritakan tentang dirimu. Aku ingin tahu banyak tentang kamu!" pinta Daffa selepas mereka duduk.


Azza tersenyum mendengarnya.


"Jadi judulnya kita kenalan nih sekarang?" Gantian, sekarang Azza yang menggoda.


Daffa terkekeh.


"Iya. Sekaligus kita pacaran. Bukankah selama ini kita sangat akrab. Dan kemarin kamu juga sudah menerima pernyataan cintaku, berarti sekarang kita sedang pacaran!" sahut Daffa.


"Kamu benar. Pacarannya melebihi pacaran biasa. Apapun yang kita lakukan semuanya tidak ada batasan dan juga tidak ada larangan!" sahut Azza.


"Kamu menggodaku atau sedang mengkodeku?" tanya Daffa.


"Hei... aku tidak menggodamu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."


"Itu sama saja kamu menggodaku, dengan mengatakan hal seperti itu kamu sudah memancing dirinya."

__ADS_1


Daffa menatap kearah Azza dengan tatapan memelas.


"Sekarang kita makan malam dulu."


Azza segera mengalihkan pandangannya kearah lain setelah melihat milik suaminya seperti biasa.


"Kamu semakin menggemaskan saat merona!"


Sebuah ciuman kembali hinggap di pipi kanan Azza.


Azza melirik sekilas dan tersipu malu.


"Hahaha kamu masih sama seperti awal-awal. Tetap malu walaupun sering melakukannya!"


Azza kembali melirik kearah Daffa, menggigit bibir bawahnya.


"Jangan menggigitnya, kamu semakin menggodaku."


"Sekarang kita makan dulu, sayang. Setelah itu apapun bisa kita lakukan," sahut Azza.


"Benarkah?" goda Daffa.


"Kamu jangan selalu menggodaku. Kapan aku makannya Daff."


Daffa kembali terkekeh. Tangannya terulur kearah Azza dengan sendok di tangannya.


"Makanlah. Aku yang suapi!" ucap Daffa.


Azza membuka mulutnya dan mengunyah dengan perlahan. Tangannya juga terulur menyuapi suaminya yang tidak berhenti menatap dirinya. Dan sesekali Daffa selalu mendaratkan kecupannya di pipi Azza.


Handphone Daffa tampak berkedip, rupanya ibunya yang sedang menelpon.


"Halo, ma."


"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Rika.


Daffa melirik kearah Azza. "Baik ma, Azza juga baik."


"Benarkah? Setelah tiba di hotel, kalian harus istirahat dulu. Jangan melakukan apapun juga karena ini perjalanan pertama Azza. Pasti dia sangat kelelahan, Daff."


Daffa hanya tersenyum nyengir saja sambil menggaruk kepalanya.


"Iya ma, mama tenang saja. Azza baik-baik saja. Bahkan ia juga tidak mabuk udara ma."


"Mama senang mendengarnya. Habiskan masa bulan madu kalian dengan hal yang romantis! Dan jaga baik-baik menantu mama!"


"Iya ma, tenang saja. Dia juga istri Daffa, ma!" sahut Daffa.


Rika mengakhiri panggilannya.


"Mama mengkhawatirkanmu!" ucap Daffa saat Azza menatapnya penuh tanya.


Azza mengangguk kemudian ia kembali menyuapi Daffa. Mereka meneruskan makan malam mereka.



__ADS_1



*****


__ADS_2