
Happy reading 😊
Alex mengusap wajahnya kasar, ia benar-benar ingin membunuh Regan sekarang. Pria itu berhasil membuat jiwa psikopat Alex seketika bangkit rasanya ia ingin mencincang tubuh Regan dengan tangannya sendiri saat melihat Nadira tak kunjung sadar kan diri.
Alex tersentak saat tubuhnya didorong ia mendongak menatap orang yang telah mendorongnya
"Brengsekkk! Lagi-lagi kau membuat Nadira dalam bahaya!. Sebenarnya apa yang kau inginkan ha? " marah Kevin prihatin melihat kondisi adiknya sekarang
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu ini akan terjadi " ucap Alex prustasi sekaligus merasa bersalah
"Keluar! Tinggalkan kami berdua. Aku tidak butuh permintaan maafmu! " bentak Kevin marah
" Baiklah. Aku akan keluar tolong jaga dia. karena aku ada beberapa urusan "
Sementara Kevin tak menjawabnya masih sibuk meratapi kondisi Nadira membuat Alex keluar begitu saja.
Namun saat Alex menarik pintu ingin menutupnya tiba-tiba Indra, Gilang, dan Angle datang dengan wajah khawatir yang terlukis jelas di wajah mereka
" Bagaimana kabar Nadira? Apakah dia baik-baik saja?" tanya orang tersebut serentak
Alex menghela nafas lalu berjalan menjauh dari ruangan tersebut tak ingin kehadiran mereka mengganggu Kevin dan Nadira didalam.
"Untuk saat ini semuanya baik-baik saja" ucap Alex meskipun ia tak yakin dengan ucapannya karena sampai sekarang Nadira belum siuman.
Mendengar ucapan Alex ketiga orang tersebut menghela nafas lega
"Dari mana kalian tahu Nadira ada disini? Apa dari mama?"
Melihat ketiga orang tersebut mengangguk seketika Alex langsung paham
"Iya mama yang beritahu kalau Nadira di rawat disini " ucap indra memperjelas
"Kak aku ingin melihat Nadira. Apa boleh Angle masuk?"
"Tidak! Kalian berdua pulang saja lagi pula Kevin sedang didalam dia tidak ingin di ganggu, percuma juga kalau kalian disini. "
"T-tapi.. " rengek Angle
"Tolong Angle kali ini saja nurut apa yang Kakak ucapkan " bentak Alex
Mendapat bentakan itu Wajah Angle memerah tampak air mata mulai keluar dari pelupuk matanya. Gilang yang melihat itu langsung berbisik di telinga Angle
__ADS_1
"Hapus Air mata mu kau tampak seperti bocah 5 tahun jika seperti itu. dasar cengeng " ucap Gilang terkekeh sembari berlari kecil meninggalkan Angle
"Dasar Gilang sialan aku akan membunuhmu" teriak Angle berlari mengejar Gilang yang masih saja mengejeknya dengan menyebutnya bocah cengeng
"Mengapa kau harus membentaknya? Padahal kau bisa mengatakannya baik-baik"
Alex mengusap wajahnya " Aku juga tidak mengerti entah mengapa emosi ku susah untuk di kontrol akhir akhir ini "
"Kau harus banyak belajar Alex. Jangan sampai karena emosi kau menyakiti orang-orang terdekat mu"
"Iyaa pa. Alex Akan belajar mengontrolnya "
" Baguslah papa senang mendengarnya. Sebenarnya Ada yang ingin papa bicarakan dengan mu nak, tapi papa tidak ingin membicarakannya disini kita keruangan mu saja takutnya jika kita bicarakan disini ada yang mendengarnya selain kita "
Mendengar ucapan ayahnya Alex langsung mengangguk cepat
"Baiklah jika papa rasa disana aman "
Mereka pun bergegas meninggalkan rumah sakit tersebut berhubung kantor Alex tak jauh dari rumah sakit tempat Nadira di rawat.
Selang beberapa menit kemudian, keduanya tampak telah duduk diruang kerja Alex mereka tampak duduk saling berhadap-hadapan.
"Apa sebenarnya yang ingin papa bicarakan? " tanya Alex menatap indra tampak mengerutkan dahinya seperti sedang memikirkan sesuatu
"Apa jangan-jangan yang papa maksud Regan?"tanya Alex wajahnya tampak memerah menahan marah
Mata indra membulat sempurna saat Alex berhasil menebak pikirannya padahal ia belum mengatakannya
"Bagaimana bisa kau tahu padahal papa belum mengatakannya? "
"Ternyata benar si brengsek itu pelakunya pantas saja dia tiba-tiba muncul padahal sudah sekian lama menghilang dan tiba-tiba ingin bekerja sama dengan ku ternyata motifnya ingin menghancurkan ku "
"Hei?. Mengapa kau tidak menjawab pertanyaan papa?"
"Bagaimana bisa aku tidak menuduhnya pa, jelas-jelas dengan mata kepala ku sendiri dia hampir membunuh Nadira dan anakku mungkin jika aku telat beberapa menit saja nyawa Nadira pasti sudah melayang " amuknya
"Jadi maksudmu Regan yang telah membuat Nadira seperti itu?. Papa hampir tidak percaya bagaimana bisa dia melakukan itu pada mu. bukan kah kau sudah berteman dengannya sudah cukup lama ?"
"Entahlah pa. Aku juga tidak mengerti mengapa dia melakukan semua ini yang jelas sekarang aku ingin menangkapnya dan menanyainya langsung.
Keduanya tersentak ketika mendengar ketukan pintu
__ADS_1
"Permisi tuan! " ucap Lucas gugup
"Masuk! " teriak Alex yang membuat Lucas yang berada di luar ruangan seketika masuk dengan langkah yang masih pincang.
"Baik tuan."
Indra menatap intens ke arah Lucas yang di lihatnya pria tersebut tampak babak belur dan kakinya juga tampak pincang berbeda dari biasanya.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau tampak babak belur dan kenapa dengan kakimu? " tanya indra prihatin
"Ini bukan apa-apa tuan. Hanya luka ringan begitu juga dengan kaki saya hanya terkilir"
"Iya. Mungkin untuk saat ini hanya terkilir tapi sebentar lagi akan aku patahkan " tekan Alex
Mendengar ancaman Alex Lucas menelan ludahnya kasar
"Apa maksudmu bicara seperti itu Alex jadi kau yang membuatnya seperti itu?"
"Itu pantas dia dapatkan pa, pekerjaan begitu saja tidak becus. Dimana bajingan itu? Jangan bilang kau belum menemukannya " marah Alex langsung mencengkram kerah Lucas kasar
"Maaf tuan. saya belum berhasil menangkap Regan tapi .." ucapnya langsung di potong sengit oleh Alex
"Tapi apa ha! "
"Saya berhasil membawa Rossa tuan. " seketika cengkraman di kerah Lucas terlepas
"Dimana dia?" tanyanya marah
Lucas pun menggerakkan tangannya menyuruh bodyguard yang sejak tadi di luar masuk bersama dengan Rossa di sebelahnya
Wajah Alex memanas saat melihat Rossa telah di depannya yang tak punya keberanian untuk menatapnya
Tangan Alex melayang ke udara rasanya ia ingin memberi tamparan keras pada wanita itu tapi, entah mengapa rasanya ia tak bisa melakukannya tangan yang tadinya terangkat turun kembali
"Apa yang kau lakukan Rossa? Kau memang wanita gila! Lihat saja jika terjadi apa-apa dengan Nadira aku tak segan-segan menjebloskan mu ke penjara "
Tampak air mata Rossa mengalir ditatapnya Alex dengan tatapan sendu melihat tatapan itu Alex langsung mencengkram kuat dagu Rossa
"Jangan pernah menatap ku seperti itu. Aku membencinya!" marah Alex melepas cengkeramannya kuat membuat Rossa hampir terjatuh
Jujur saja saat Alex melihat tatapan Rossa seperti itu entah mengapa ia menjadi ingat saat bersama dengan wanita itu dimana dia paling benci melihat wanita itu menangis seketika membuat dirinya merasa bersalah
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf tolong jangan masukkan aku ke penjara"
"Aku bisa saja tidak memasukkan mu tapi ada syaratnya "