Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 60


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Afika hanya diam saja tidak menggubris sedikit pun perkataan Adrian yang selalu menyebut kata sayang, bukan hanya pada baby L tapi juga pada dirinya. Hingga mobil berhenti tepat di sebuah mension megah yang tidak kalah dari mension yang berada di tengah hutan. Afika terdiam menatap mension dari dalam mobil.


"Kita sudah sampai sayang. Sekarang ini akan menjadi rumah kita." Ucap Adrian, yang menunjukkan kata sayang pada Afika dan juga Lion.


Saat pintu mobil telah di buka oleh Nadi, dengan segera Adrian keluar dari mobil, dan memutari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Afika.


"Ayo sayang."


"Berhenti memanggil ku sayang. Ingat! Aku bukan siapa-siapa mu." Jengah Afika yang merasa ingin muntah saat Adrian terus berkata sayang.


"Aku hanya memanggil Lion dengan sebutan sayang. Jadi jangan salah paham." Adrian beralasan membawa Lion. Senyum tipis terukir di wajah Adrian kala ia berhasil menak telak melawan perkataan Afika. "Terima kasih Lion sayang, kau sudah hadir di antara daddy dan mommy mu." Batin Adrian.


Afika keluar dari mobil dan berjalan beriringan dengan Adrian masuk ke dalam rumah.


"Kejutan..." Terika Baby, Farah saat pintu mension terbuka. Sungguh sangat lihai Farah beserta Baby menyiapkan kejutan untuk menyambut kedatangan Afika dan juga Lion di mension.


Tak lepas dari peran Rio, yang selalu saja bertugas menyempurnakan semua permintaan Baby dan Farah agar semua bisa selesai tepat saat Afika dan Lion tiba di mension.


Seluruh ruangan di penuhi dengan barang-barang milik Lion, yang entah sejak kapan berpindah dari rumah sakit langsung berada di mension. Dan juga, foto Lion yang sangat besar mengisi dinding yang membuat siapa saja yang masuk ke dalam mension langsung melihat wajah imut nan tanpan dari Lion.

__ADS_1


"Apa kau suka sayang." Lagi, dan lagi Adrian menyebut kata sayang.


"Di mana kamarku?" Kata Afika sambil melihat Baby. Karena sungguh Afika tidak ingin berurusan dengan Adrian yang terlihat begitu sangat aneh. Di mana sifatnya yang begitu sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang dulu, saat Afika baru pertama kali menjadi istrinya. "Baby, dimana kamar ku?" Tanya Afika untuk yang ke dua kalinya, karena tidak ingin berlama-lama berdekatan dengan Adrian.


"Kamar, tunggu dulu. Aku..." Ucapan Baby menggantung, karena sejujurnya ia pun tidak tahu di mana kamar Afika, karena sejauh ini hanya kamar Lion yang ia persiapkan dan itu berada di lantai dua mension, tepat di samping kamar Adrian. Dan tidak mungkin bukan, jika Baby mengatakan jika lebih baik Afika tidur di kamar Adrian. Karena pasti Baby pun akan tahu jawaban yang keluar dari mulut Afika. Ya, penolakan yang mutlak dan tak terbantahkan lagi.


"Baiklah, sepertinya aku harus pulang." Ucap Afika membalikkan tubuhnya.


"Sayang, jangan pulang. Kamar mu berada di lantai dua." Cegah Adrian agar Afika tidak keluar dari mensionnya lagi. Dan jujur Adrian pun berharap jika Afika mau menerima jika dirinya bisa sekamar bersama dengan Afika.


"Jangan panggil aku dengan sebutan yang menjijikkan itu lagi." Kata Afika lalu berjalan menuju kamar yang berada di lantai dua.


"Baik lah." Ucap Adrian yang tidak mau membuat Afika semakin panas.


"Buktinya, Afika datang. Dan sepertinya masih ada harapan walau itu hanya sebesar biji beras." Kata Farah.


"Ya." Timpal Rio yang sejak tadi diam.


"Kau!, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tidak punya pekerjaan? Sana! Jangan dekat-dekat dengan ku. Aku tidak suka!" Ucapan Farah mampu membuat Rio mengepalkan kedua tangannya. Andai saja Farah seorang pria mungkin sejak pertama kali bertemu dengan Rio, pasti Rio sudah memberikan pelajaran agar tidak lagi berlaku tidak sopan pada dirinya. Untung saja Farah itu perempuan jadi Rio masih bisa menahan diri untuk kali ini. Tapi tidak di lain hari.

__ADS_1


"Kalian berdua, selalu saja bertengkar. Ingat! Benci dan cinta itu beda tipis, setipis kulit bawang. Bisa saja benci kalian akan menjadi cinta."


"Tidak!" Ucap Rio dan Farah secara bersamaan membuat Baby tertawa melihat kekompakan keduanya.


••••


"Ini kamar kita." Ucap Adrian saat membuka pintu kamar. "Jika kau lelah, istirahatlah. Biar aku yang menjaga Lion." Lanjut Adrian sambil mengikuti langkah Afika masuk ke dalam kamar.


Lalu Afika berhenti melangkah dan meletakkan Lion di atas tempat tidur dengan merapikan bantal menyusun di samping Lion.


"Kenapa kau masuk? Apa kau perli sesuatu?" Tanya Afika yang tidak suka Adrian yang selalu mengikutinya.


"Bukan kah sudah aku bilang jika ini kamar kita. Itu artinya, aku, kau dan anak kita akan tidur di kamar ini."


Afika menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya secara perlahan. Ini yang Afika takutkan. Akan tidur di kamar yang sama dengan orang yang sudah menyakiti dirinya.


"Adrian. Aku tahu ini mension mu. Dan jika kau berharap aku akan tidur dengan mu maka jawabanku tidak! Ingat Adrian, antara aku dan kamu sudah tidak ada apa apa lagi. Jadi lebih baik kau keluar, karena aku ingin istirahat."


"Tapi ini kamar ku. Aku ingin tidur di sini." Ucap Adrian lalu mata Adrian tertuju pada sofa. "Jika kau tidak mengizinkan aku tidur di tempat tidur. Maka aku bisa tidur di sini." Kata Adrian sambil berjalan ke sofa dan duduk di sofa. "Aku akan duduk di sini. Menjaga mu dan juga menjaga anak kita."

__ADS_1


Tanpa menjawab. Afika langsung mengambil Lion yang sedang tertidur pulas menggendong Lion membawanya keluar dari dalam kamar.


"Afika.. Afika tunggu." Panggil Adrian


__ADS_2