
Sesuatu yang manis belum tentu berakhir manis. Namun, sesuatu yang buruk pasti akan berakhir manis apabila dirimu ikhlas menjalaninya. Bahkan memperbaikinya selangkah demi selangkah. Demi mencapai tujuan hidup yang lebih baik
______________________________________
Sesuai dengan janjinya, akhirnya pergelaran pesta pernikahan Angga dan Rika yang kedua di gelar. Para tamu undangan terlihat sangat banyak, bahkan Angga juga tidak lupa mengundang para wartawan untuk mengklarifikasi kabar burung tersebut.
Rika terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna pastel miliknya. Dengan kerudung hitam yang menghiasi kepalanya. Ia terlihat tampil sederhana ditambah dengan riasan natural miliknya membuatnya terlihat sederhana tapi elegant.
"Sayang! Kamu hati-hati jalannya!" Angga menuntun Rika untuk menuju kearah sepasang kursi yang ada di depan kursi para tamu undangan.
Angga mengecup sesaat dahi Rika dengan perasaan hangat hingga membuat beberapa mata memperhatikan mereka. Bahkan beberapa wartawan tampak mengabadikannya. Banyak tanya yang muncul di benak mereka mengenai keberadaan Rika di sisi Angga. Bahkan wanita itu sebelumnya tidak pernah terendus oleh publik dan pihak luar.
"Aku mau kesana dulu, menyambut para tamu," Angga kembali mengecup pipi kanan dan kiri milik Rika. Ia sangat menyukai pipinya yang mulai cubby.
"Iya, kamu hati-hati," sahut Rika. Ia melepaskan pegangan tangannya pada lengan Angga.
"Kamu yang seharusnya hati-hati, sayang. Jaga dirimu disini dan jangan kemana-mana. Kalau perlu sesuatu, kamu panggil pelayan," Angga begitu cerewet mengingatkan Rika. Tapi bagi Rika itu adalah senandung rasa sayang yang didendangkan oleh Angga padanya.
"Iya sayang!" sahut Rika dengan senyum yang semakin mekar di bibirnya.
Angga tersenyum setelahnya. Ia kembali mencium puncak kepala Rika sebelum benar-benar melangkah meninggalkan Rika.
Mata Rika beralih menatap sepasang keluarga kecil yang berjalan kearahnya.
"Mama! Aina kangen!" Aina berlari dan menubruk tubuh Rika begitu saja. Ia memeluk erat Rika seiring dengan langkah Alvaro yang mendekat.
"Sayang, mama juga kangen Aina," sahut Rika menyudahi pelukan mereka.
"Sayang, mama Rikanya jangan di gelayut begitu. Kasihan dedeknya di dalam perut mama Rika, nanti terjepit loh," ucap Alvaro. Ia menatap lembut Aina yang begitu melihat Rika langsung menempel padanya.
Semua itu juga tidak pernah luput dari perhatian para awak media. Mereka seakan berlomba mencari berita yang penuh sensasi.
Aina langsung membelalakkan matanya, menatap kearah Rika dan diangguki olehnya. Aina kembali menatap kearah perut Rika yang mulai menonjol.
"Hore!! Aina sebentar lagi punya dedek bayi!!" Aina berjingkrak senang mendengarnya.
__ADS_1
"Pa, nanti kalau dedeknya sudah keluar, kita sering main kesini ya!" pinta Aina. Ia sudah tahu bahwa Rika hanyalah orang lain baginya, tetapi selamanya ia akan tetap memanggil Rika dengan sebutan mama.
Rika menatap kearah Alvaro yang langsung menganggukkan kepalanya menyetujui usul Aina tersebut. Matanya beralih menatap kearah wanita yang berada di belakang Alvaro. Sejak tadi wanita tersebut hanya diam saja sambil memperhatikan cengkrama mereka.
"Siapa dia Sam? Aku sepertinya pernah melihatnya sebelumnya."
Alvaro menarik tangan Nadia dan memeluk pinggangnya posesif.
"Dia istriku, ibu kandung Aina."
Rika membelalakkan matanya, senyum cerah kembali terbit di bibirnya. Rasanya hari ini kebahagiaan datang bertubi-tubi. Rasa syukur Rika panjatkan tak terhingga.
"Jadi?" tanya Rika.
"Aku menemukannya saat menolongmu dan menyelamatkanmu saat kamu di culik. Ternyata dia juga ada disana. Tapi sayang, waktu itu dia mengalami amnesia."
Rika terkejut mendengarnya. Senyumnya yang terkembang perlahan luntur, digantikan dengan tatapan iba.
"Hei. Jangan menatapnya seperti itu!" peringat Alvaro.
Rika kembali mengukir senyumnya. Ia melihat Alvaro yang semakin memeluk erat Nadia sehingga membuat istrinya terlihat merona.
"Selamat ya untuk pasangan yang sedang menjalani masa bulan madu kedua!" ledek Rika.
"Aku tunggu loh kabar baiknya," sahut Rika lagi. Membuat Nadia tertunduk malu dengan pipi yang merona.
"Pasti, aku akan mengalahkanmu dalam hal anak. Kita lihat saja nanti, banyak kalian yang punya anak atau banyakan aku," tantang Alvaro dengan nada bercanda.
"Tidak semudah itu kawan. Sekarang milikku lebih unggul karena didalam sana ada dua janin sekaligus." Angga tiba-tiba datang dan langsung menimpali. Ia juga memeluk erat Rika. Bahkan tatapannya terhadapa Alvaro tampak bersahabat.
"Apa?! Jadi anakmu kembar!?" Bukan Sam yang menyahut tetapi Nadia.
Rika dan Angga mengangguk secara bersamaan.
"Wah!! Selamat ya, bibit unggulmu ternyata sangat sukses!" Alvaro meraih tangan Angga dan menjabatnya.
__ADS_1
Sedangkan Aina sudah tampak sibuk bersama Eland dan juga Rani.
"Sayang! Apa kabar? Oma sangat merindukanmu!" Oma Sa'adah berlari dan memeluk Rika erat. Bahkan ia beberapa kali menciumi pipi Rika layaknya menciumi pipi Aina.
"Sudah dong Oma, kasian mereka terjepit!"
Oma mendelik kearah Alvaro setelah mendengar penuturannya. Kemudian menatap kearah perut Rika yang tampak lebih menonjol. Bahkan usia kehamilan dan ukuran perutnya tidaklah sesuai. Karena pertumbuhan janin kembar memang lebih cepat membesar di bandingkan dengan kehamilan tunggal.
"Duh, sayang! ma'afkan Oma ya. Oma tidak melupakan kalian. Oma hanya sedikit lupa," Oma membelai perut Rika dengan hati-hati dan lembut.
Angga menghangat setelah melihat sikap keluarga Alvaro yang sangat baik terhadap istrinya. Ia melupakan perseteruan dan persaingan diantara mereka. Bahkan mereka menjalin kerjasama diantara perusahaan yang mereka miliki.
Bahkan kini, mereka layaknya seperti anggota keluarga saja. Angga juga tidak merasa keberatan dengan panggilan Aina padanya. Aina selalu memanggilnya ayah setiap kali mereka bertemu.
Acara yang diadakan oleh Angga mengalami sukses besar. Karena semua orang tahu bahwa pernikahan Angga yang gagal dengan Helena hanyalah sebuah jebakan dan rekayasa yang di pasang oleh Angga untuk memerangkap Helena dan juga Yakub.
Rasa kagum mereka semakin besar setelah mengetahui kebesaran hati istri seorang Angga. Bahkan wanita itu hidup dengan penuh cinta.
Para wartawan juga meliput munculnya ayah Angga dan perkenalannya di tengah publik. Serta terkuaknya pembunuhan masa silam yang terjadi pada kembaran Eland, yaitu Erland.
Banyak dari mereka mendo'akan kebahagiaan dan kesejahteraan buat rumah tangga Rika dan Angga.
Di ujung pojok sana, Angga dan Rika hanya tersenyum saja menatap seluruh tamu undangan yang berhadir di acara mereka. Genggaman tangan mereka tidak pernah terlepas. Bahkan mereka terhanyut dalam cinta mereka berdua.
"Aku cinta kamu selamanya, istriku," ucap Angga sambil meraih kening Rika dan mengecupnya singkat. Rika terhanyut dibuatnya, tatapan sendunya menatap penuh haru atas cinta yang didapatnya dari seorang Angga.
Ia tidak menyangka kalau cinta yang diawali dengan dendam harus berakhir dengan sejuta kebahagiaan. Bahkan Angga tidak hanya imam baginya, tapi juga seorang penyokong dikala dirinya sedang lemah dan lengah.
Rika menyandarkan kepalanya kedada suaminya, merasakan degup jantung yang menggila tapi berirama. Seirama degup jantung miliknya.
Rika bertekad bahwa dia akan setia selamanya pada Angga, suaminya.
***
END
__ADS_1