Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Jamu


__ADS_3

"Sayang. Kamu sudah pulang?" Anggia menyembunyikan handphone miliknya dan segera menghampiri Daffa yang berada di depan pintu.


"Iya." sahut Daffa. Ia meraih kepala Anggia dan mengecupnya di dahi dan pipi. Tidak lupa ia juga mengecup bibirnya singkat.


"Katanya kamu tadi keluar?" menatap Anggia.


"Iya sayang, aku keluar tadi siang karena teman lamaku si Aida memgajak ketemuan," sahut Anggia berbohong.


Daffa mengangguk.


"Sebaiknya kamu mandi saja dulu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," Anggia bermaksud berjalan tapi tangannya sudah di tarik oleh Daffa.


"Sebelum mandi aku ingin melakukannya satu kali," pinta Daffa.


Anggia terlihat gelisah, ia melirik kearah seluruh penjuru kamar.


"Tapi aku sedang datang bulan," ucap Anggia.


"Apa!? Datang bulan?" Ekspresi terkejut. "Bukankah kemarin kamu baru saja selesai datang bulan?"


"Iya. Kemarin memang selesai. Tapi sekarang ada lagi. Sepertinya memang belum tuntas," sahut Anggia dengan mimik wajah merasa bersalah.


"Ya udah. Tidak apa-apa sayang," sahut Daffa tapi matanya menatap kearah bawah,burungnya sudah tegak berdiri.


Anggia ikut menatap kebawah, ia segera memalingkan wajahnya setelah tahu yang di maksud oleh Daffa adalah perkakasnya.


"Gimana kalau kamu mandi, aku yang menggosok badanmu!" saran Anggia.


"Yang ada dia semakin sulit di tidurkan!" Sahut Daffa mendesah. Ia merasa frustasi dengan kedaaannya sekarang yang kepalang tanggung. Pulang kantor lebih awal hanya karena ingin minta jatah setelah teringat istrinya yang sudah bersih dari datang bulan.


"Aku bantu mengeluarkannya untukmu, bagaimana?" Anggia terpaksa menawarkan diri.


Daffa menatap dirinya dengan nanar. Tangannya bergerak mencubit hidung Anggia.


"Mulai nakal ya sekarang!" sahutnya gemas.


Anggia tertunduk dan menatap kakinya saja hingga Daffa mengangkat dagunya. Ia mencium Anggia dengan lembut hingga membuat Anggia terkejut karena refleks.


"Jangan di sapu!" ucap Daffa setelah ia menyudahi ciuman mereka.


Anggia menahan tangannya yang bergerak ingin menyapu bekas ciuman Daffa.


"Tidak perlu melakukannya untukku karena aku tidak perlu itu. Dia bisa tidur dengan sendirinya," sahut Daffa.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan pakaian untukmu."


Bergegas Daffa memasuki kamar mandi dan melakukan ritualnya selama kurang lebih 15 menit, berendam dengan air dingin.


"Mana pakaianku, sayang?" Daffa keluar kamar mandi dan menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Diatas ranjang!" sahut Anggia. Tangannya bergerak menyudahi ketikannya di handphone.


"Kamu sedang apa?" Menghampiri Anggia.


"Mengirim pesan pada Alfa. Dia mengajak ketemuan besok!"


"Alfa? Ada apa dengan sepupumu itu?" Menatap heran.


"Entahlah. Sepertinya dia sedang ada masalah dengan pacarnya," sahut Anggia asal.


"Jangan terlalu dekat dengannya. Walaupun dia sepupumu tapi dia juga laki-laki yang bisa jatuh cinta pada seorang wanita."


Anggia terdiam mendengarnya tapi beberapa detik kemudian terdengar kekehan dari ujung bibirnya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Itu tidak akan terjadi sayang. Aku bisa menjaga diriku sendiri," tersenyum.


"Tapi sayang, aku tidak suka kamu terlalu sering bertemu dengannya!"


"Daff, aku tidak ingin berdebat masalah ini lagi. Bukankah tempo hari kita juga berdebat tentang ini."


"Bisakah kamu mendengarkan aku Anggia untuk tidak menemuinya dan berduaan bersamanya," sahut Daffa.


"Daff, besok aku bertemunya di rumah mama. Jadi kami tidak berduaan. Kamu tenang saja, aku akan menjaga sikapku. Dan kejadian tempo hari itu tidak akan terulang lagi."


Daffa hanya menatap Anggia sekilas. Ia tetap tidak suka dengan usul istrinya tersebut.


"Kalau begitu, ayo kita kebawah dan makan malam. Sudah lama sekali rasanya kita tidak makan malam bersama," ucap Anggia.


"Sayang, ma'afkan aku karena beberapa hari ini sibuk di luar. Tapi aku melakukannya juga untuk kelangsungan hidup kita." Daffa menatap Anggia dengan tatapan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa sayang, aku hanya merindukan suasana ramai saja," sahut Anggia.


"Ya sudah. Besok temui aku di kantor dan jangan lupa bawa bekal. Kita makan siang bersama," membelai kepala Anggia.


***


Malam harinya.


Daffa menatap istrinya yang sudah tertidur pulas, bahkan wanita itu tidak bergerak sama sekali.


Daffa berjalan menuju kearah dapur untuk mencari jamu yang disimpan oleh Anggia.


"Eh tuan? Sedang apa tuan di dapur?" tanya bi Nur.


"Bibi, belum tidur?" Daffa menoleh.


"Belum. Sebentar lagi tuan. Kalau tuan ada perlu biar saya saja yang melakukannya untuk tuan."


"Oh iya bi, jamu yang biasanya Anggia buat dimana letaknya?" tanya Daffa santai.


"Iya bi, jamu yang biasanya Anggia buat untukku!" sahut Daffa.


"Ma'af tuan, saya tidak tahu tentang jamu itu. Dan di dapur sini tidak ada jamu yang tuan maksud. Memangnya kenapa tuan?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin meminum jamu itu saja, kebetulan aku lelah sekali," sahut Daffa.


Daffa menatap tempat yang sempat ia obrak-abrik tadi, sedikit berantakan.


"Biar bibi saja yang membereskannya. Tuan istirahat saja. Nanti kalau bibi ketemu sama jamunya, bibi akan memberitahukan pada tuan!"


"Baiklah kalau begitu, aku keatas dulu. Ma'af ya bi, sudah membuatmu bekerja larut malam."


Daffa melangkah ke kamarnya, Anggia masih pada posisinya.


"Dimana kamu menyembunyikan jamu itu Anggia dan kenapa kamu menyembunyikannya dariku," Daffa membatin.


Keesokan harinya.


Anggia sudah bangun terlebih dahulu, matanya bergerak dan menatap sekelilingnya. Ia terperanjat saat dirinya berada di dalam kamar, padahal dirinya semalam sedang tertidur di ruang keluarga sambil menunggu Daffa selesai bekerja.


"Sayang. Kamu sudah bangun?" Anggia tersenyum melihat Daffa yang sudah membuka matanya.


Daffa hanya bergumam tidak jelas.


"Ma'af ya tadi malam aku ketiduran saat menunggu dirimu?"


"Tidak apa-apa sayang. Lain kali sebaiknya kamu tidak perlu menunggu seperti itu. Aku biasa melakukannya sendiri."

__ADS_1


"Tapi kamu sekarang sudah punya istri, jadi wajar saja aku menemanimu saat bekerja!"


Tangan Daffa bergerak membelai kepala istrinya.


"Baiklah kalau begitu, sekarang lebih baik kamu mandi. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu," tambah Anggia.


"Baiklah." Daffa segera duduk dan meraih kepala Anggia mengecupnya dengan singkat.


Selepas mandi, ia menatap tempat tidur yang sudah rapi bahkan pakaiannya sudah tersedia diatas ranjang. Tapi keberadaan istrinya sama sekali tidak terlihat.


Daffa berjalan kearah meja makan, istrinya sudah duduk dengan cantik di sana dengan pakaian yang sudah rapi. Membuat Daffa mengernyit heran.


"Kamu sudah rapi sayang?"


"Iya Daffa, aku tadi juga mandi menggunakan kamar mandi yang lain," sahut Anggia.


"Kenapa tidak satu kamar mandi saja denganku?" goda Daffa.


"Yang ada bukannya mandi Daff, justru kita melakukan hal yang lain."


"Seperti apa?" goda Daffa.


Anggia hanya mengukir senyum menggodanya. Ia membuka tas miliknya dan mengeluarkan sebuah kertas.


"Kamu jadikan hari ini berkunjung ke kantorku?" meraih segelas susu.


"Ma'af Daff, sepertinya hari ini tidak bisa. Aku ada kesibukan bersama mama."


Anggia meraih kertas dari dalam tas miliknya.


"Daff, tolong kamu tandatangani ini!"


"Ini apa?" Daffa meraihnya.


"Itu penggalangan dana untuk anak yatim piatu!" sahut Anggia.


Daffa membacanya sekilas. Ia segera membubuhi tanda tangan disana tanpa pikir panjang.


"Kamu pergi bersama siapa? Apakah Alfa?"


Anggia mengangkat kepalanya setelah mendengar pertanyaan dari Daffa yang terdengar tidak suka.


"Tidak. Aku pergi bersama mama! Aku membatalkan pertemuanku dengan Alfa demi kamu," sahut Anggia.


Anggia meraih kertas tersebut dan kembali memasukkan kedalam tasnya. Daffa melirik sesaat kedalam tas istrinya. Handphone milik istrinya tampak berkedip menyala.


Dengan segera Anggia meraihnya bersamaan dengan sebuah benda yang terjatuh, serbuk kekuningan yang di bungkus plastik transparan.


"Seperti jamu?" gumam Daffa. Ia menatap Anggia yang sudah berdiri tanpa menyadari kalau jamu miliknya terjatuh dari dalam tasnya.


Daffa berdehem sesaat, ia berjongkok dan meraihnya saat Anggia berdiri membelakanginya. Dengan segera ia memasukkan jamu itu kedalam tasnya.


"Ayo Daff, kita sarapan sekarang. Mama sebentar lagi juga akan sampai!" ajak Anggia.


Daffa hanya mengangguk. Sesekali matanya melirik kearah Anggia yang tampak tenang di matanya. Wanita ini seperti tidak memiliki beban dan masalah sepanjang hidupnya.


"Aku sudah selesai. Aku duluan ya, kasian mama menunggu didepan kelamaan!" ucap Anggia berdiri.


Ia mengecup pipi Daffa singkat dan berjalan meninggalkan Daffa yang memperhatikannya dengan lekat.



__ADS_1



*****


__ADS_2