
Anggia menatap sekilas kearah Azza dan melewatinya tanpa menyapanya sedikitpun.
"Mama...!!" menghampiri Rika yang duduk di ruang tamu.
"Anggia? Apa kabar?" sapa Rika yang kebetulan sedang duduk bersama Angga di ruang tamu.
"Seperti yang mama lihat." Menatap sekilas kearah Angga yang menatap dirinya juga sekilas.
"Sayang, papa mau berangkat sekarang. Baik-baik di rumah dengan menantu!" ucap Angga mengecup dahi Rika sekilas.
Rika mengangguk sambil meraih tangan suaminya dan menciumnya takzim.
Saat melewati Azza, tangan Angga bergerak membelai kepala Azza sekilas. Membuat Anggia tidak suka melihatnya.
"Bagaimana dengan ngidam kamu?" tanya Rika.
"Tidak ada yang spesial ma, semuanya berjalan normal. Aku bersyukur karena bayi ini tidak pernah menyusahkan ayahnya sama sekali walaupun ayahnya jarang pulang," sindir Anggia sambil melirik kearah Azza yang masih berdiri disana.
Tangannya bergerak membelai perutnya yang mulai membuncit.
"Oh... itu bagus sayang. Kamu bisa bersikap mandiri. Tapi kalau kamu ngidam sesuatu jangan di tahan ya, kalau tidak ada Daffa kamu bisa memintanya pada mama ataupun papa."
"Iya ma. Mama tenang saja. Mas Daffa pasti mau mengabulkan permintaannya." Kembali melirik kearah Azza.
"Azza, kamu sekarang siap-siap buatkan makanan untuk makan siang suami kamu!" perintah Rika.
"Ma, biar aku saja yang menyiapkannya. Mas Daffakan juga suamiku," pinta Anggia.
"Gia, bukannya mama melarang kamu. Kamu hanya sedang hamil. Mama takut kamu kecapekan dan terjadi apa-apa dengan kandunganmu."
"Tapi ma, aku baik-baik saja. Coba mama lihat."
"Tidak Gia. Wanita hamil muda seperti kamu harus banyak istirahat."
Anggia tersenyum dan melirik kearah Azza, ia mengepalkan tangannya erat. Merasa di sisihkan dari suaminya sendiri.
Ia merasa iri dengan Azza karena dia yang menyiapkan makanan buat suami mereka. Dan sekarang dia harus ikhlas berbagi suami walaupun sebenarnya ia tidak rela.
Menyeesal dirinya menyia-nyiakan orang yang tulus mencintainya hanya demi permainan ibunya dan juga keserakahannya. Tapi ia berjanji untuk mengambil kembali hati Daffa yang sudah mulai menjauhinya.
"Gia, kamu tidak apa-apa?"
Anggia melirik kearah Rika dan mengangguk. Rupanya ia sedikit melamun tadi hingga tidak menyadari kalau Azza sudah menjauh dari mereka.
"Ma, aku mau ke kamar mandi dulu!"
Rika mengangguk.
"Hati-hati!"
"Iya ma."
Anggia berjalan kearah dapur, ia menghampiri Azza yang sedang sibuk memotong sayuran. Bukannya justru ke kamar mandi seperti tujuan awalnya tadi.
"Apa kamu sekarang bahagia karena sudah menikah dengan Daffa?"
Pergerakan Azza terhenti. Ia menatap sekilas kearah Anggia.
"Tentu saja aku bahagia! Aku tidak hidup sendirian lagi," sahut Azza tersenyum tipis.
"Kamu bahagia di atas penderitaan perempuan lain. Apalagi perempuan itu sekarang sedang mengandung. Apa kamu menyadari hal itu?"
Senyum Azza menghilang, ia melirik kearah perut Anggia yang sedikit menonjol. Ada rasa bersalah menghinggapi benak Azza. Tapi ia juga tidak akan menikahi Daffa seandainya semua itu tidak terjadi. Bisa saja sekarang janin itu juga tumbuh di dalam perutnya.
"Semua wanita itu punya takdir masing-masing. Ada yang di madu dan ada yang menjadi madu. Semuanya tidak ada yang salah. Yang salah itu adalah seorang pelakor dan aku bukan pelakor," sahut Azza.
"Benarkah?"
Azza kembali menatap kearah Anggia yang menatapnya intens.
"Bagaimana kalau kamu berada di kedudukanku. Apa kamu masih mampu untuk berbicara seperti itu?"
"Dan apakah di benarkan kelakuan seorang perempuan yang dengan sengaja merebut suami orang?"
"Mba, sudah aku bilang kalau takdir seseorang itu sudah ada yang menentukan. Seandainya aku mampu menolak maka aku juga tidak akan mau menjadi istri muda."
"Dan asal mba tau ya, aku menikahi mas Daffa karena dia yang meminta dan memaksaku. Bukan aku yang merayu dan mengambilnya dari mba Gia."
Anggia menggenggam erat tangannya. Ada emosi yang terasa melonjak di dalam dada.
"Tapi kamu tidak tahukan kalau wanita yang paling di cintainya adalah aku. Dia hanya sedang berpetualang saja sekarang tapi nanti dia pasti akan melepaskanmu dan kembali padaku!"
Azza hanya melirik sekilas kearah Anggia, ia meneruskan kembali kegiatannya yang tertunda tanpa menghiraukan Anggia.
"Benarkah dia hanya berpetualang saja. Lalu kenapa dia selama beberapa hari ini selalu bersamaku. Sedangkan kamu lebih membutuhkan sosok suami untuk berada di sisimu, justru kesepian di rumahmu?" celetuknya.
Lagi, Anggia menggenggam tangannya erat. Ia geram dengan gadis belia yang ada di hadapannya ini. Selalu terlihat acuh dan tidak ada mimik sedih dan sakit hati di setiap sindirannya.
"Tentu saja dia disini karena beberapa hari ini memang jatahmu kan?" Anggia tersenyum miring.
__ADS_1
"Anggia! Kamu sedang di dapur?" Rika datang menghampiri mereka berdua.
"Eh. Iya ma. Sedang melihat Azza memasak sekaligus ingin memberitahu makanan apa yang di sukai oleh mas Daffa."
"Oh itu. Kebetulan juga Azza sudah mengetahuinya. Jadi kamu tidak perlu repot-repot ikut ke dapur. Cukup istirahat saja, kamu sedang hamil Anggia."
"Baiklah!"
Akhirnya Anggia meninggalkan Azza yang berada di dapur. Ia melangkah menuju kearah ruang keluarga.
"Bagaimana kalau yang mengantar makanan nanti aku saja ma," tersenyum menatap Rika.
"Tidak usah, kamu nanti kelelahan. Sebaiknya kamu menunggu Daffa pulang saja!" sahut Rika.
Rika meraih remot televisi dan menghidupkan acara favoritnya.
***
Di kantornya Daffa terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Zainal sudah duduk di hadapannya.
"Aku sudah menemukan keberadaan Alfa. Dia sekarang sedang menuju ke ibukota."
Daffa mengerutkan dahinya.
"Apakah dia menghilang?"
"Tidak. Dia hanya memantau usaha kulinernya saja yang berada di provinsi lain."
"Aku pikir dia sedang kabur keluar negri!" sahut Daffa.
"Sepertinya, ucapannya pada Anggia tempo lalu itu hanya sebagai alasannya saja," tambahnya lagi.
"Aku yakin pasti ada sesuatu yang lain mengenai retaknya hubungan mereka. Bukan karena kamu ataupun Anggia yang tetap bertahan dalam hubungan kalian berdua," sahut Zainal.
"Apa dia sudah bosan dengan Anggia?" gumam Zainal.
"Kita akan tahu kebenarannya nanti setelah kita menemui Alfa."
"Siapkan berkasnya untuk kita melakukan kerja sama dengannya!" perintah Daffa.
"Semua sudah siap, kita hanya tinggal menunggu waktu untuk bertemu saja!" sahut Zainal dengan nada santai.
***
Daffa dan Alfa sedang berhadapan di sebuah ruangan privat yang sudah di atur oleh Zainal sebelumnya. Sebuah ruangan privat yang terdapat di restoran terkenal di kota itu.
Sudah sejak 5 menit yang lalu mereka hanya saling menatap.
"Tidak mungkinkan kalau hanya urusan bisnis saja?"
Daffa terkekeh mendengarnya. Ia menarik napas sesaat.
"Iya. Kamu benar. Aku mengajakmu bertemu untuk kepentingan bisnis hanyalah alasan saja," sahut Daffa.
"Apa ini mengenai Anggia?" tanya Alfa serius.
Daffa mengangguk.
"Kenapa lagi dengan dirinya? Dan aku rasa diantara kalian berdua tidak ada permasalahan yang seriuskan?"
"Apa kamu yakin kalau diantara kami tidak ada masalah?" tanya Daffa.
"Apa maksudmu?" Alfa terkekeh mendengarnya.
"Maksudku, kenapa kamu meninggalkan wanita yang kamu cintai dan di saat ia mengandung darah dagingmu?"
Alfa terdiam mendengarnya, kembali menatap Daffa dengan tatapan intens.
"Apa yang sedang kamu bicarakan ini? Aku tidak mengerti sama sekali!" elak Alfa.
"Tidak mengerti? Benarkah?" Daffa menatap Alfa dengan sinis.
Alfa mengangguk samar, tangannya terkepal erat.
"Aku sudah tau semuanya. Tanpa kalian beritahu pun aku juga sudah tau semuanya. Dan aku tidak sebodoh yang kalian berdua pikirkan!" Daffa berdesis.
"Aku sudah melepaskan Anggia untukmu, lalu sekarang apakah itu salah bagimu?" tanya Alfa tenang. Ia berterus terang sekarang.
"Itu tidak salah sama sekali. Tetapi yang menjadi kesalahanmu adalah meniduri dan menghamili wanita yang berstatus sebagai istri orang lain!"
Ada sedikit amarah dalam nada suara Daffa.
"Aku menidurinya karena kami saling mencintai bahkan kami sudah menjadi kekasih jauh sebelum kamu masuk ke dalam hubungan kami!" tekan Alfa.
Matanya menatap tajam Daffa.
"Aku yang hadir lebih dulu di kehidupannya justru kamu yang memaksa untuk memilikinya. Apakah kamu pikir ini adil untukku!!?" ucap Alfa lagi dengan nada emosi.
Daffa masih diam mendengarkan.
__ADS_1
"Kami melakukan hubungan terlarang itu jauh sebelum dia menikahimu. Dan sekarang wanita itu bisa kamu miliki. Tentu saja aku marah, kesal, kecewa dan sakit hati."
"Dia tidak mencintaimu tetapi kamu bisa memiliki dirinya. Dan sekarang di saat dia sudah hamil anakku, dia tetap mempertahankan pernikahan kalian. Seperti apalagi luka yang harus aku tanggung. Sebab itu aku menyerah." Alfa melemah.
"Kenapa kamu menyerah? Bukankah perjuanganmu untuk memenangkan hatinya sudah hampir mencapai final."
"Tidakkah kamu berpikir kalau usaha dan perjuanganmu selama ini sia-sia?"
Daffa masih bersikap tenang.
"Aku tidak bisa!" sahut Alfa.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Daffa.
"Karena tante Ra masih dalam keadaan tidak stabil."
"Apa maksudmu?" tanya Daffa.
Alfa terkekeh mendengar pertanyaan Daffa. Ia merasa lucu dengan lelucon yang di lontarkan oleh Daffa.
"Kamu sangat lama mengenal Anggia tetapi kamu tidak tahu apa-apa mengenai dirinya," ucap Alfa.
Daffa terhenyak mendengarnya.
"Bahkan kelainan mental yang di miliki oleh tante Ra sendiri kamu tidak tahu," sambung Alfa.
Daffa terdiam. Ia kembali mengingat Anggia yang setiap kali selalu membeli obat ke apotik dengan berdalih bahwa obat tersebut adalah suplemen.
"Sejak kapan?" tanya Daffa.
"Sejak lama. Aku tidak tahu yang pastinya. Tetapi dia akan sangat keras di setiap keputusannya, apapun itu."
"Apakah Anggia sedang di tekan oleh ibunya untuk menikahi diriku sehingga Anggia selalu menghindar dariku selama kami menikah?" Daffa membatin.
"Sekarang kamu sudah tahu kalau Anggia dalam keadaan yang tertekan. Aku harap kamu tidak pernah mengecewakan dirinya. Apapun yang terjadi ke depannya padamu, kamu harus ikhlas menghadapinya," ucap Alfa dengan tulus.
"Aku punya penawaran yang lain," sahut Daffa.
"Penawaran? Apa maksudmu?" tanya Alfa.
"Aku akan menceraikan Anggia karena selama kami menikah aku tidak pernah menyentuh dirinya dan dia juga sudah mengandung anakmu. Tadi kamu juga sudah mengakuinya!"
"Tapi, kalau kamu menceraikannya, bagaimana dengan hidupnya!" tanya Alfa emosi.
"Kenapa? Kamu khawatir?" menarik napas. "Seharusnya kamu khawatir pada dieimu sendiri, karena di saat kami sudah menikah tetapi kamu masih menjalin hubungan dengannya. Dan menjadi pengacau dalam rumah tanggaku!"
"Dan aku ingin kamu yang bertanggung jawab tentang kehidupan Anggia. Nikahi dia demi anak kalian. Jangan sampai anak kalian mengalami nasib seperti Anggia. Dan Anggia bernasib tragis seperti ibunya."
Alfa terhenyak mendengarnya.
"Aku tidak bisa!" tolak Alfa setelah ia teringat dengan ancaman Rahiyang padanya untuk menjauhi Anggia.
"Kenapa kamu tidak bisa!" teriak Daffa murka. "Kamu yang menidurinya, menikmatinya dan kamu juga yang menghamilinya. Tapi kenapa harus aku yang menanggung beban dan aibnya!!"
Wajah Daffa memerah menahan marah. Ingin rasanya ia layangkan tinju ke wajah lelaki yang berada di depannya.
"Kalau kamu takut pada tante Ra, biar aku yang menghadapinya!"
"Bukan itu masalahnya!" ucap Alfa.
"Apa masalahnya?" desak Daffa.
"Masalah adalah tante Ra akan membuat Anggia dan bayinya dalam bahaya kalau aku masih berhubungan dengannya. Dan aku tidak mau itu terjadi pada mereka!"
"Bagaimana kalau kita pikirkan ini secara bersama-sama. Tapi kamu harus berjanji padaku untuk menikahi Anggia setelah aku menceraikannya."
"Apa kamu benar mau melepaskan Anggia untukku, bukankah selama ini kamu sangat mencintai dia."
"Sekarang bukan itu pertanyaan yang harus kamu ajukan!" sahut Daffa kesal.
"Aku hanya ingin tahu!" sahut Alfa.
"Aku sudah tidak mencintainya lagi setelah pengkhianatan yang kalian lakukan di belakangku. Bahkan rasa sakit hati sudah mendarah daging di tubuhku. Tetapi tetap saja aku tidak bisa membencinya. Aku hanya ingin melepaskannya saja!" jawab Daffa.
"Secepatnya!" sahut Daffa lagi.
"Baiklah. Aku akan menikahinya kalau kamu benar-benar melepaskannya!"
Daffa mengangguk, ia berdiri.
"Aku rasa pertemuan kita sampai disini saja."
Menyodorkan tangannya kearah Alfa. Alfa menyambutnya dengan perasaan senang tak terhingga. Pada akhirnya ia yang akan memenangkan semuanya.
•
•
•
__ADS_1
*****