
"Sepagi ini kamu sudah rapi. Memangnya kamu mau kemana Daffian?"
Rika tampak sibuk membantu bi Mini untuk menyiapkan sarapan mereka.
"Hari ini aku akan menjemput Aina, sekaligus mengantarnya ke rumah sakit."
"Sarapan dulu Daffian, tidak terlambat juga bagimu untuk berangkat."
Rika bergegas menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Sedangkan Daffa dan Angga sudah berjalan kearah ruang makan.
"Bagaimana dengan keadaan Azza, Daff? Apakah masih muntah-muntah dan pusing?" tanya Rika.
"Tidak ma, dia baru saja menyelesaikan sarapannya. Bubur yang mama buatkan untuknya, dia sangat menyukainya."
"Benarkah? Kalau begitu mama akan memasakkannya bubur yang sama setiap hari." Rika terlihat senang mendengarnya.
"Tapi ma, sepertinya Azza menyukai menu yang berbeda terhadap rasa makanan kecuali cemilannya."
"Cemilan apa?" tanya Rika.
"Kacang kulit. Dia juga memintaku untuk memasakkan toge yang di rebus."
Daffian langsung tertawa mendengarnya, bahkan ia menutupi mulutnya saat Angga melirik kearahnya.
"Ternyata seorang CEO sepertimu juga harus terjun ke dapur demi memasak toge yang di rebus," sela Daffian.
"Itu lebih baik lagi Daffian. Karena aku sudah berkembang hampir menjadi tiga. Sedangkan kamu masih satu, belum nambah jadi dua," ejek Daffa.
"Sialan kamu," maki Daffian.
"Daff, kamu harus lebih perhatian lagi dengan Azza apalagi ia mungkin sedang dalam masa yang tidak menyenangkan, dalam tahap awal kehamilan, muntah-muntah, pusing, pilih-pilih makanan dan perasaan yang berubah-ubah. Itu hal yang wajar kecuali berlebihan."
"Bukankah umur kehamilannya sudah 5 minggu lebih? Kenapa baru sekarang ia menampakkan gejala seperti itu?"
"Daff, kehamilan tiap wanita itu berbeda dan cara ngidam mereka juga unik. Tidak ada yang sama antara wanita yang satu dan yang lainnya. Juga tidak ada yang sama antara hamil anak pertama dan anak kedua ataupun anak seterusnya," sahut Rika.
"Seharusnya kamu senang Daff, istri kamu ngidam sekarang. Itu artinya kamu merasakan susahnya menjadi suami yang siaga," ceplok Daffian terkekeh senang.
"Kamu bahagia ya melihat aku kesusahan," sahut Daffa cemberut.
"Tentu saja aku bahagia apalagi kalau kamu menjadi seorang lelaki yang takut pada istrimu. Itu akan lebih menarik lagi untukku." Daffian tertawa lepas.
"Ufffs ma'af kalau Daffian tidak sopan," menatap kearah Rika dan Angga yang kembali menatapnya dengan penuh peringatan.
"Sarapan dulu. Setelah ini kalian berdua boleh berangkat," ucap Rika.
__ADS_1
"Siap ma!" sahut Daffian dan Angga bersamaan.
"Ma, aku sarapannya di kamar saja bersama Azza."
"Baiklah Daff. Makanannya biar bibi yang bawakan."
"Ma, aku sudah selesai. Aku berangkat sekarang!"
Daffi mengakhiri makannya, meraih tangan Rika dan menciumnya juga tangan Angga.
"Kamu langsung ke kantor, Daffian?"
"Tidak pa, aku ke rumah Aina terlebih dahulu baru ke kantor."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Daffian sudah berdiri di depan pintu rumah Alvaro, ingin mengetok pintu tetapi tertahan gerakannya setelah mendengar percakapan antara Alvaro dan Aina.
"Kamu sudah sangat dewasa Aina, kapan kamu menikah?" desak Alvaro membuat wanita berusia 26 tahun tersebut mendesah.
"Pa, jangan ungkit masalah ini lagi. Nanti aku juga akan menikah bila waktunya tiba," sahut Aina merasa tidak senang.
"Umur kamu sudah matang Na, tapi pacar saja kamu tidak punya. Bagaimana papa tidak gelisah mengenai hal ini. Lagi pula adikmu sendiri sekarang sudah hamil," tambah Alvaro.
"Pa, sekali lagi jangan papa ungkit masalah jodoh. Semua sudah ada yang atur, hanya tinggal tunggu waktunya saja." Aina kembali membela diri.
Nadia muncul dengan menjinjing tas kerja milik suaminya.
"Aku sudah punya pacar, Ma, Pa. Jadi kalian lupakan saja rencana perjodohan kalian padaku."
"Siapa pacarmu? Apakah Daffian?" Alvaro terkekeh mendengarnya.
"Setiap kali selalu kamu menjadikan Daffian sebagai tamengmu. Kapan kamu bisa membebaskan dirinya dari kasalahan yang kamu buat?"
Aina berdiri dan menatap Alvaro dengan lembut.
"Pa, kali ini aku mengatakan yang sebenarnya. Aku memang benar-benar sudah menjalin hubungan dengannya. Aku tidak main-main seperti dulu lagi."
"Benarkah? Bukankah kamu sendiri dulu pernah mengatakan kalau kamu tidak ingin menikahi lelaki yang usianya lebih muda darimu. Tapi sekarang apa? Kamu tidak bisa menipu papa Na, dengan alasan palsumu itu."
"Tapi pa, ini benar," Aina menjawab lebih tegas.
"Tidak ada tapi-tapian Na, besok kita mengadakan pertemuan dengan mereka. Papa harap kamu tidak menggagalkan rencana papa."
Alvaro berjalan meninggalkan Aina yang terpaku di tempatnya. Harus dengan cara apalagi ia menolak papanya.
__ADS_1
"Daffian...," Llirih Aina saat mendapati Daffian yang berada di balik pintu.
"Selamat pagi, sayang," Daffian menyapa dengan lembut seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Sambil menyerahkan sebuket bunga mawar merah.
"Kamu.... Apakah sudah lama berada di luar sini?" tanya Aina ragu. Ia meraih sebuket mawar merah yang di berikan oleh Daffian.
"Tidak Ai... aku baru saja, memangnya kenapa?" Daffian menyembunyikan kebenarannya.
Aina menatap penuh selidik kearah Daffian.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita jalan sekarang saja."
Selama di dalam mobil, Aina tampak gelisah. Bahkan ia terlihat murung dari biasanya.
"Ai... Kamu kenapa? Apakah ada sesuatu yang sedang mengganggumu?"
Aina menarik napas sejenak, melirik kearah Daffian yang menatapnya sekilas.
"Tidak ada Daff. Aku hanya memikirkan pekerjaanku saja. Akhir-akhir ini jadwalku sangat padat."
"Benarkah? Tapi tidak biasanya kamu begitu, memikirkan pekerjaan yang selama ini kamu anggap sebagai bagian dari dirimu. Bahkan kamu sekalipun tidak pernah memberatkan pekerjaan itu sebelumnya."
"Benar Daffian sayang, aku tidak apa-apa." Aina kembali mengelak dan menyembunyikannya lebih dalam lagi.
"Ayolah. Berbagi padaku apa salahnya sih. Aku bukan anak kecil lagi Ai. Percaya padaku kalau aku sudah mampu memikul beban di pundakku."
Aina terkekeh mendengarnya.
"Daffian, kamu bukan kuli loh yang harus memikul beban di pundakmu."
Daffian tersenyum mendengarnya. Rupanya hubungan mereka masih rapuh. Dengan Aina yang memberikan kepercayaan krisis padanya, itu artinya ia harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan hati wanita ini.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya bekerja. Ma'af aku tidak bisa mengantarmu sampai ke ruanganmu."
"Tidak apa-apa, Daffian. Aku bisa sendiri. Nanti makan siang kamu tidak perlu menjemputmu soalnya hari ini jadwal istirahatku lebih awal."
"Baiklah kalau begitu. Aku berangkat dulu."
Daffian melajukan mobilnya meninggalkan Aina yang masih menatap dirinya. Ternyata Aina semakin berusaha menghindarinya. Kenapa Aina tega padanya dan menyimpan semuanya sendirian saja. Tidakkah ia berharga di mata Aina sehingga masalah seperti itu ia tidak mampu untuk berbagi.
Daffian memukul stir mobilnya beberapa kali hingga menimbulkan bunyi klakson yang panjang.
•
•
__ADS_1
•
***