Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Penelusuran


__ADS_3

Ingatlah! Bahwa dirimu adalah putaran waktu. Ketika satu hari saja telah berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu


______________________________________


Anak buah Eland kembali menyiksa tawanan tersebut dengan kejam.


"Katakan siapa yang mengirimmu!?" tanyanya dengan bentakan. "Kalau kamu tidak mengatakannya maka gergaji ini yang akan bicara!" desisnya dingin.


Tawanan tersebut tampak ketakutan. Ia tidak masalah dilukai secara fisik, asal jangan sampai anggota tubuhnya yang dihilangkan. Lalu bagaimana ia harus bekerja untuk mencari penghidupan untuk ibunya yang sakit dan tua renta. Akhirnya ia mengangguk dengan lemah.


"Lepaskan dia dan berikan dia makan dan minum terlebih dahulu. Dia pasti memerlukan tenaga untuk berbicara!" perintah Eland.


Angga masih diam menatap kearah tawanan tersebut. Seandainya dirinya berada diposisi ayahnya, sudah pasti dia tidak akan memberinya makan dan melepaskannya begitu saja.


"Anan, bagaimana dengan keberadaan menantuku? Apakah kamu sudah bisa melacak keberadaannya?" tanya Eland pada orang kepercayaannya.


"Ma'af tuan, posisi mereka selalu berpindah-pindah sehingga kami kesulitan dalam melacaknya," sahut Anan dengan sedikit menundukkan kepalanya karena merasa gagal dalam misinya.


"Rupanya mereka mau main kucing-kucingan denganku. Baiklah kalau begitu, maka aku yang akan menjadi anjingnya." Eland tersenyum misterius.


"Taktik mereka dalam mengecoh kita sangat pandai, tapi mereka tidak berpikir kalau lawan yang dihadapi adalah salah dan tidak sepadan dengan mereka," sahut Eland lagi.


"Berbeda kalau mengecoh si bodoh ini, pasti sampai kapanpun dia tidak akan menemukan istrinya," lanjut Eland sambil menatap Angga dengan sedikit kekehan.


Angga meringis mendengar ayahnya yang mengatakan kalau dirinya bodoh, bahkan sejak tadi ayahnya selalu menyebutnya bodoh.


"Pa, Angga tidak sebodoh itu, Angga masih cerdas. Buktinya Angga mampu memimpin perusahaan milik papa," sahutnya bangga.


"Itu bodoh namanya kalau hanya satu bidang saja yang kamu mampu, sedangkan mengenai kebenaran di masa lalu kamu selalu mengelaknya tanpa mau mencari tahu terlebih dahulu. Bahkan kenyataan kalau istrimu tidak bersalah saja, kamu tidak mau tahu!"


Angga kembali meringis, ia akui kalau dirinya memang egois dan buta dalam meraba semuanya. Ia menatap Eland yang menatapnya tajam.


"Tuan, tawanan kita ingin mengatakan kebenarannya!"


Eland mengangguk dan berjalan kearah tawanan mereka bersama dengan Angga.

__ADS_1


"Ampuni saya Tuan. Saya masih ingin hidup tenang setelah ini. Tanpa kembali terikat dengan orang yang menyuruh saya," mohonnya dengan seluruh badan yang bergetar.


Eland mengangguk. "Kamu tenang saja. Semua yang kamu khawatirkan tidak akan pernah terjadi. Katakan padaku, siapa yang sudah menyuruhmu untuk membawa menantuku?"


Ya. Tawanan tersebut adalah orang yang dimintai oleh Rika tumpangan saat dia ingin kabur dari vila milik Eland sore itu.


"Tuan Yakub dan tuan Bigas lah pelakunya!" sahut tawanan tersebut dengan takut-takut. Ketakutannya semakin terpancar setelah melihat wajah Angga yang menggelap.


"Sudah kuduga sebelumnya, karena setelah Helena dan Anton tertangkap, Yakub justru melarikan diri." Angga terlihat sangat murka.


"Jadi kamu sudah tahu kalau pamanmu lah pelaku sebenarnya. Lalu kenapa kamu masih menyembunyikan kebenarannya dari istrimu, anak bodoh?"


Angga melirik kearah Eland dengan wajah cemberut. "Jangan sebut dia pamanku papa karena mulai hari dimana aku mengetahui kebenarannya, dia bukanlah pamanku lagi!" Rahang Angga tampak menggeletuk menahan amarahnya.


"Lalu siapa yang bernama Bigas, nama itu terdengar asing di telingaku?" tanya Angga dengan suara yang sudah memancarkan kemarahan.


"Di- di-a adalah saudaranya tuan Yakub," ucapnya terbata. Ia tampak mengkerut melihat mata Angga yang memancarkan api neraka.


"Dan dimana keberadaan mereka sekarang?" desis Angga dingin.


"Ada 7 titik keberadaan mereka. Saya hanya tahu 3 tempat saja, selebihnya saya tidak tahu." Tertunduk dalam sambil menggenggam tangannya erat.


"Baiklah kalau begitu, kamu yang akan menjadi petunjuk jalan bagi kami," sahut Angga yang sudah merubah ekspresinya menjadi sedikit tenang namun tatapannya masih setajam tatapan elang mencari mangsa.


Tawanan tersebut mengangguk kaku. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menurut pada mereka.


"Baiklah! Tugas untuk mencari menantu papa, papa serahkan padamu. Dapatkan menantu papa dan bawa pulang dirinya tanpa ada kekurangan sedikitpun. Kalau tidak, maka burungmu tidak akan dapat menyelam lagi," bisik Eland di ujung kalimatnya.


Angga menatap horor kearah ayahnya. Disaat genting seperti ini, masih sempat-sempatnya ayahnya mengancam dirinya.


"Papa tenang saja, Rika pasti akan kembali dengan selamat!" sahut Angga yakin. "Dan burungku pasti bisa melebarkan sayapnya dan bertelur," tambah Angga lagi.


Eland memgangguk dan menepuk bahu Angga, memeluknya sesaat dan kembali melepasnya.


"Hati-hati di jalan dan jangan gegabah dalam mengambil tindakan. Ingat! Berpikir dahulu sebelum bertindak."

__ADS_1


Angga mengangguk mendengar petuah ayahnya. Rasa bahagia bercampur dengan rasa sedih yang mendalam. Ia bahagia karena masih bisa memdengar gurauan ayahnya, namun ia merasa sedih karena istrinya tidak bersamanya.


Mereka berangkat ketitik pertama. Dimana jalan yang mereka tempuh hanyalah jalan setapak. Dengan langkah hati-hati dan mengendap-endap mereka mendekati sebuah pondok yang berada ditengah hutan kayu putih tersebut. Tidak ada seorang pun disana, bahkan tanda-tanda keberadaan mereka juga tidak dapat terbaca.


"Mereka tidak ada disini tuan!" ucap Alfred, salah satu pemimpin dari anak buah miliknya yang ditugaskan untuk mencari keberadaan Rika.


Angga tampak kecewa mendengarnya, ia kembali berbalik dan berjalan kearah mobil mereka yang terparkir di tepi jalan raya. Berjarak sekitar 200 m dari tempat mereka berada sekarang.


Pondok tersebut tidak tampak dari tepi jalan karena tertutupi oleh pohon-pohon yang sangat tebal. Lahannya masih tidak terjamah oleh manusia walaupun keberadaannya ditepi jalan raya.


Mobil mereka kembali memacu membelah jalan beraspal menuju kearah hulu. Karena titik kedua berada tidak jauh dari titik pertama.


"Bukankah ini jalan milik tambang batu bara?" gumam Angga menatap mobil truck yang berlalu lalang membawa muatan dibelakangnya.


"Iya, tuan. Disini memang jalan milik batu bara dan jalannya tembus menuju kearah Hulu Sungai," sahut sopir mereka.


Angga menatap kearah Asra yang duduk di depannya. Bukan itu yang di pikirkannya tapi mengenai si pemilik tambang tersebutlah yang muncul dibenaknya.


"Bukankah Habi sangat hapal dengan lokasi ini, semuanya ini adalah miliknya. Bagaimana kalau kita meminta titik-titik lokasi yang sering rawan kejahatan." Asra memberi saran yang kebetulan sepemikiran dengan Angga.


Angga tampak berpikir sejenak, rasanya ia sedikit menolak usul tersebut karena kepergiannya ke Kalimantan tidak diketahui banyak pihak.


"Rasanya tidak perlu As, cukup kita meminta petunjuk pada tawanan kita. Dia pasti memberikan lokasi yang akurat," sahut Angga.


Asra mengangguk saja mendengar usulannya yang ditolak oleh Angga.


"Apa ada tanda-tanda kalau kita sudah mendekati titik kedua?" tanya Angga memastikan.


Asra segera menghubungi Alfred melalui sambungan seluler miliknya. Mobil Alfred memimpin didepan mereka. Dan masih ada beberapa buah mobil lagi dibelakang mereka milik anak buah Angga.




__ADS_1


********


__ADS_2