Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 66


__ADS_3

"Tuan, nyonya dan tuan muda Lion sudah kembali ke mension." Ucap Rio saat mendapat kabar dari Nadi.


"Kembali? Apa yang terjadi? Aku kira istriku dan Lion akan tinggal di sana."


Lalu Rio mengatakan pada Adrian tentang Sulis yang datang ke panti, dan berbicara hanya berdua pada Afika. Dan semenjak itu, Afika langsung memutuskan untuk pulang.


"Apa yang terjadi." Gumam Adrian. "Rio, sekarang juga kita pulang,!"


"Tapi tuan, bagaimana dengan kerjasama..." Ucapan Rio menggantung.


"Keluargaku lebih penting dari pada kerjasama itu. Uang tidak masalah bagiku" tegas Adrian.


•••


Adrian langsung berlari masuk ke dalam mension saat mobil yang di kendari oleh Rio tiba di mension.


"Lion, sayang. Daddy pulang." Teriak Adrian menggema. Tidak ada sahutan sama sekali

__ADS_1


"Lion, sayang." Ulang Adrian saat membuka pintu kamar Lion, namun tidak menemukan sang pemilik kamar. "Sri, dimana istri dan anakku?" Tanya Adrian


"Nyonya ada di taman belakang, sedangkan Lion dia berada di kamar nona Baby."


Dengan segera Adrian berlari menuju taman belakang, dan mendapati Afika yang saat ini sedang duduk di kursi sambil menghadap ke kolam renang.


Perlahan Adrian duduk tepat di samping Afika. "Bagaimana kabarmu? Maaf karena pekerjaan aku tidak pulang beberapa hari ini."


"Afika, maafkan aku, maaf. Beri aku satu kesempatan."


"Jangan terus meminta padaku Adrian." Kata Afika yang mampu membuat Adrian langsung menoleh ke arah Afika, kini Adrian melihat jelas mata Afika yang saat ini sedang berkaca-kaca.


"Kau tahu Adrian sakitnya bagaimana? Kau tahu, bagaimana hatiku selama ini. Bukan cuman hatiku, tapi ragaku semua sakit Adrian, sakit.. Sakit.." Ucap Afika dan untuk pertama kali ia berbicara panjang pada Adrian.


"Afika.."


"Kau jahat Adrian, kau jahat. Kau sudah menghancurkan aku, baru sekarang kau gampang sekali minta maaf padaku." Afika mengatur nafas yang kini sudah terasa sesak akibat mengingat masa lalu yang begitu pahit. "Apa aku pernah melawanmu? Apa aku pernah ada salah? Kau selalu menoreh luka Adrian, luka yang begitu dalam sampai aku trauma, kau tahu itu? Aku trauma Adrian.." Kini air mata yang ia tahan sejak tadi, harus bercucuran jatuh membasahi pipi mulus Afika. "Aku hancur Adrian. Harusnya dulu kau percaya, jika aku hamil anakmu. Harusnya dulu kau tidak ragu padaku. Dulu, aku masih bisa memahami kelakukan mu padaku, aku tahu semua itu hanya salah paham. Tapi aku tidak bisa memahami saat kau meragukan kehamilanku."

__ADS_1


"Maafkan aku, maaf." Kini Adrian memberanikan diri menggenggam tangan Afika.


"Aku tahu, kau memiliki uang, kekuasaan dan segalanya. Tapi ingat, ada satu hal yang tidak bisa di tukar dengan uang, yaitu cinta. Cinta Adrian, uang mu tidak akan bisa membeli cinta."


Adrian menyesali apa yang telah terjadi selama ini.


"Pukul aku, pukul aku Afika, asal itu bisa membuatmu bahagia. Pukul" kini Adrian menarik tangan Afika dan menuntun untuk memukul badannya.


"Kau jahat! Sangat jahat Adrian." Kata Afika sambil terus memukul dada bidang milik Adrian.


Adrian terdiam, menerima pukulan yang di berikan oleh Afika. Pukulan yang tidak ada apa-apanya di bandingkan pukulan yang telah ia berikan dulu pada Afika. Setelah beberapa saat, saat pukulan Afika mulai melemas, kini Adrian memberanikan diri memeluk tubuh Afika dan membiarkan Afika menangis di dalam pelukannya.


"Maafkan aku Afika, maaf." Lirih Adrian yang juga ikut menangis.


Baby yang melihat Adrian dan Afika di taman, pun ikut menangis. Ia berharap ini adalah awal yang akan membawa mereka ke kehidupan yang akan bahagia, setelah apa yang mereka sama-sama dapatkan.


"Aku memaafkan mu sebagai ayah dari anakku, tapi sebagai istri, maaf aku belum bisa." Lirih Afika saat melepas pelukan Adrian.

__ADS_1


Adrian tersenyum, setidaknya sudah ada satu langkah yang membawanya semakin dekat dengan Afika. Dan saat Adrian dengak ingin menghapus air mata di pipi Afika, dengan cepat Afika menepis tangan Adrian.


"Aku belum memaafkan mu."


__ADS_2