
Daffa tampak ragu untuk mengetok pintu utama kediaman orang tuanya. Ia ingin kembali, tapi langkahnya terhenti saat terdengar suara Rika memanggilnya.
"Daffa? Sejak kapan kamu berada disitu?" tanya Rika.
"Ada apa denganmu. Apakah kamu ada masalah?" memperhatikan anaknya dengan seksama.
"Ma! Ma'afkan Daffa ma! Ma'af!!"
Daffa merangkul kedua kaki ibunya dan bersimpuh.
"Daff, masuk. Kita bicarakan di dalam!"
Rika menarik Daffa dan membawanya masuk kedalam rumah.
"Sekarang ceritakan masalahmu pada mama?" sahut Rika lembut setelah melihat Daffa tenang.
"Ma' Daffa memperkosa seorang gadis tadi malam!"
Deg.
Mata Rika membulat bahkan ia juga membenarkan jilbabnya yang berada di dekat telinganya.
Daffa mengangguk.
"Apa? Kamu memperawani seorang gadis!!?" Rika berteriak terkejut. Tangannya tanpa sadar melayang ke pipi anak pertamanya. Setelah ia sadar, ia menatap tangannya yang bergetar.
Ini adalah kali pertama dirinya menampar anaknya dengan tangannya sendiri. Tapi anaknya memang sungguh keterlaluan. Memperkosa gadis lain sedangkan dirinya sudah memiliki tempat untuk membuang miliknya. Apa ada dengan mereka?
Sedangkan Daffa hanya tertunduk dan semakin merasa bersalah. Ia pasrah dengan semua kemarahan ibunya dan ini kali pertama wanita berhati lembut dan berhati malaikat itu marah padanya.
"Kenapa kamu lakukan hal hina itu!!?" Rika masih berteriak marah. "Bahkan kamu juga sudah menenggak minuman haram itu!"
"Kemana istrimu dan ada apa dengan rumah tanggamu?" Rika kembali melunak. Ia terisak karena merasa gagal dalam mendidik anaknya.
"Ma, ma'afin Daffa. Daffa khilaf!" Daffa berjalan kearah ibunya dan bersimpuh di kaki Rika. Membuat Rika mundur selangkah, ia tidak menatap sedikitpun kearah anaknya.
Ada rasa kecewa luar biasa yang mendarah daging di dirinya. Bahkan ia juga merasa sangat marah pada dirinya.
Dimana kesalahannya dalam mendidik anak-anaknya hingga mereka melakukan kesalahan besar yang sulit untuk di ma'afkan.
"Minta ma'aflah pada gadis yang kamu perkosa itu. Bertanggung jawablah." Sahut Rika. Ia masih berdiri seperti semula, membelakangi Daffa.
"Ibu tidak akan mema'afkanmu sebelum gadis itu mema'afkanmu!" sambungnya lagi sambil berpaling kearah pintu yang terbuka dengan keras.
Angga datang dengan keadaan yang sangat berantakan. Ia begitu terkejut mendengar kabar yang di sampaikan oleh kepala pelayannya, bahwa Rika memukul anaknya.
Setahunya Rika adalah istrinya yang sangat lembut dan sabar. Bahkan cobaan hidup seperti apapun dia selalu ikhlas menerimanya. Tapi kali ini apa yang membuatnya semarah ini.
"Ada apa ini!!?" suara Angga terdengar menggelegar mengisi kekosongan udara yang ada di sekeliling mereka. Ia menatap kearah Rika dan Daffa secara bergantian.
"Tanyakan saja pada putramu ini!?" sahut Rika masih dengan suara tegas.
__ADS_1
Daffa semakin menundukkan kepalanya. Ia siap apabila di hajar oleh ayahnya. Ini memang kesalahannya. Seandainya ia tidak mendapati istrinya tidur bersama lelaki lain di hotel, ia tidak akan mabuk dan memperkosa seorang gadis di jalan.
"Minuman laknat!" gumamnya di dalam hati. Daffa benar-benar menyesal karena sudah menuruti hawa nafsunya.
"Daffa! Kamu ceritakan pada papa apa yang sebenarnya terjadi?" Angga berusaha bersikap lembut pada anaknya. Ia meraih bahu anaknya dan mengajaknya berjalan kearah ruang kerjanya.
"Kita bicara disini saja sebagai seorang lelaki dan antara lelaki dengan lelaki." Angga menepuk bahu anaknya.
Pintu kembali terbuka, Rika datang membawa sebuah teko dan gelas kosong. Rupanya ia menyuguhkan minuman untuk suaminya yang baru pulang kerja. Keduanya tampak berpaling menatap kearah Rika. Daffa kembali menundukkan kepalanya saat mendapati ibunya yang tidak mau menatapnya sama sekali.
"Aku hanya mengantarkan minuman saja untuk kalian berdua. Bicaralah dari hati ke hati, karena laki-laki mengerti perasaan laki-laki lainnya," sahut Rika.
Daffa masih tertunduk, ia benar-benar ingin minta ma'af pada ibunya tapi ibunya tidak akan mema'afkannya sebelum gadis itu mema'afkannya. Ia merasa hancur sekarang.
"Bicaralah! Ceritakan pada papa apa yang sebenarnya terjadi?" Angga membuyarkan lamunan Daffa.
Daffa meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia menatap Angga yang terlihat tenang di matanya. Perasaannya tiba-tiba gugup untuk mengakui semuanya.
"Sebenarnya...," Daffa tidak meneruskan kata-katanya. Ia masih ragu untuk menyampaikannya. Pastilah dirinya akan babak belur karena di hajar oleh ayahnya.
"Sebenarnya apa? Ada apa dengan dirimu? Kemana Daffa yang tegas dan kenapa hanya ada Daffa yang gagu," Angga terkekeh karena baru kali ini ia melihat keadaan anaknya sekacau ini.
Ia memang tidak tahu akar permasalahannya seperti apa. Tapi ia ingin mendengar langsung pengakuan dari mulut anaknya pada dirinya.
"Pa! Ma'afkan Daffa pa, Daffa khilaf. Daffa tidak sengaja melakukannya!" Daffa tiba-tiba bersimpuh di kaki ayahnya. Sama persis dengan apa yang di lakukannya terhadap ibunya tadi.
"Coba kamu ceritakan pelan-pelan pada papa, papa pasti akan membantumu," Angga meraih bahu anaknya. Baru kali ini ia melihat anaknya yang rapuh di balik kekeras kepalaannya.
"Apa!!?" Angga melotot dan sangat terkejut dibuatnya. Pantas saja istrinya sangat marah pada anaknya karena kelakuan anaknya sangat menyakiti perasaan wanita itu.
Tangan Angga bergerak ingin memukuli anaknya tapi ia menahannya. Percuma ia memukulinya karena itu bukan satu-satunya penyelesaian masalahnya.
Daffa mengangguk, ia terlihat pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh ayahnya padanya. Ia tidak berani menatap Angga dan melihat sorot kekecewaan di mata ayahnya.
"Kenapa bisa terjadi!?"
Angga masih mempertahankan dirinya dari amarahnya yang ingin meledak. Ia meraih secangkir teh dan menghirupnya.
Kepala Daffa terangkat, hal yang diduganya tidak terjadi. Ayahnya masih terlihat bersikap tenang di depannya.
"Apa kamu mempunyai masalah besar dalam rumah tanggamu? Ataukah karena hal yang lain?"
"Ma'afkan Daffa pa. Daffa malu pada papa dan mama karena sudah melawan ucapan papa dan mama sebelumnya." Daffa semakun tertunduk dalam. Ia masih bersimpuh di lantai seperti posisinya semula.
"Sebenarnya Anggia bukanlah wanita baik-baik seperti yang Daffa kira. Itu hanya kedoknya semata!" Daffa tampak emosi sangat mengingat istrinya.
Bagimana ia tidak marah, pernikahan mereka masih seusia jagung, istrinya sudah selingkuh di depannya.
Angga masih diam menatap Daffa, ia masih ingin mendengarkan penjelasan anaknya tersebut.
"Anggia menyelingkuhi Daffa pa dengan lelaki lain!" ucap Daffa lagi.
__ADS_1
"Dan lelaki itu adalah kekasihnya sejak lama. Apa kamu tahu hal itu?" Angga kembali bertanya. Ia memejamkan matanya sesaat sambil menghembuskan napasnya. Apa yang di takutkannya benar-benar terjadi. Penyesal pun percuma karena nasi sudah menjadi bubur.
"Kenapa papa tau? Apakah sejak pertama papa sudah mengetahui semuanya?" Daffa menatap ayahnya dengan intens.
"Ya, papa tau semuanya, bahkan papa juga tau kalau Anggia tidak mencintai kamu sama sekali!"
Daffa kembali tertunduk saat ia mengingat penolakan dan ketidak setujuan kedua orang tuanya, bahkan termasuk kakeknya.
"Kamu terlalu keras kepala sehingga kamu tidak bisa menerima saran dari orang tua." Angga menjeda sesaat menatap kearah Daffa.
"Masih ada satu lagi pa yang menjadi teka-tekiku."
Angga terdiam. "Apa?"
"Anggia selalu memberiku obat tidur setiap kali aku meminta jatahku dan sekarang dirinya sedang hamil."
"Itu masalah gampang. Tapi papa tidak akan membantumu sekarang. Kamu selesaikan sendiri saja dulu masalahmu. Kalau kamu sudah tidak bisa lagi, kamu bisa minta tolong pada papa!"
"Dan sekarang, jadikan semua ini sebagai pelajaran untukmu dalam hidup." Masih menatap Daffa.
"Dan cari tahu siapa wanita yang sudah kamu perkosa. Bertanggung jawablah sebagai lelaki sejati!"
Daffa mengangguk, "Pasti pa, Daffa akan mencarinya walaupun petunjuknya sangat sedikit," sahut Daffa yang terlihat ragu. Karena ia sama sekali tidak mengingat wajah gadis itu tadi malam bahkan ia benar-benar tidak mengingat wajahnya.
"Lain kali kalau kamu ada masalah, kamu bisa datang pada papa dan membaginya dengan papa. Papa pasti akan membantumu!"
Daffa terhenyak mendengarnya, ada perasaan sendu menjalar di sanubarinya. Ia merengkuh lelaki paruh baya yang ada di hadapannya.
"Pa, ma'afkan kesalahan Daffa selama ini, selalu melawan dan menyusahkan kalian berdua. Daffa janji akan menyelesaikan semuanya sebelum kalian malu."
"Anak pintar!" Senyum Angga mengembang. Ia mengangkat tangannya dan membelai kepala putra pertamanya.
Rasanya ia kembali pada beberapa tahun yang lalu. Saat mereka masih kecil dan selalu merengek dan bergantung padanya. Angga menyapu ujung matanya yang berembun.
"Kamu janji harus bertanggung jawab dan mencari wanita itu!" Angga melepaskan pelukan mereka dan menepuk-nepuk bahu putranya dengan senyum haru yang terukir di bibirnya.
Daffa mengangguk dan segera berdiri berlalu dari hadapan ayahnya setelah ayahnya mengangguk mengizinkannya keluar.
Saat pintu terbuka, mata Daffa tidak sengaja menatap ibunya yang terlihat duduk gelisah di kursi yang berada tidak jauh dari ruang kerja milik ayahnya.
Ingin rasanya ia mendekat pada ibunya tapi ibunya terlihat enggan untuk menatapnya. Ia benar-benar merasa patah karena sudah membuat syurganya sakit hati dan kecewa.
Daffa melangkah meninggalkan kediaman orang tuanya dengan tangan yang terkepal erat. Ada emosi yang menguasai jiwanya saat ia kembali mengingat perselingkuhan istrinya. Rasa cintanya menguap sudah. Yang ada hanya rasa marah, kecewa dan benci karena di khianati.
Ia memacu mobilnya kearah kediamannya untuk melihat keadaan istrinya yang suka bermain sandiwara.
•
•
•
__ADS_1
*****