Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Permintaan Rahiyang


__ADS_3

Rahiyang berjalan cepat kearah kediaman Angga, wajahnya tampak emosi.


"Daffa! Kenapa kamu menceraikan Anggia di saat ia sedang hamil anakmu!!?" tanya Rahiyang keras.


"Anakku? Coba mama tanya pada Anggia sekali lagi, anak siapa yang sudah di kandungnya? Apakah benar kalau itu adalah anakku?"


Rahiyang menggenggam tangannya erat. Ia tampak geram mendengarnya. Semua ini salah Anggia yang terlalu lemah menghadapi Daffa.


"Kalau semua orang tidak percaya, maka aku akan melakukan tes DNA untuk membuktikan pada semua orang kalau anak itu bukan anakku."


"Dan perlu mama tahu kalau selama pernikahan kami, aku sama sekali tidak pernah menyentuh Anggia."


Semua di sana tidak terkejut lagi, termasuk Azza yang sedang berjalan kearah ruang tamu dengan nampan di tangannya.


"Setiap kali aku ingin menyentuhnya, dia selalu memberiku obat tidur yang di racik dalam sebuah jamu. Dan itu membuatku sangat kecewa padanya."


"Yang membuatku semakin marah padanya adalah di saat aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali, dia justru tidur dengan lelaki lain. Dan sekarang, dia hamil anak lelaki itu." Menarik napas.


"Apakah harus aku juga yang bertanggung jawab? Sementara anak itu bukan anakku. Seandainya Anggia menolak sejak awal untuk menikahiku maka kekecewaanku padanya tidak akan seperti ini," ucap Daffa panjang lebar.


"Tapi itu tidak harus membuatmu menikahi perempuan lain. Kamu masih bisa menyelesaikan semuanya. Lagi pula Anggia sekarang sudah menyesali perbuatannya." Menatap Azza yang justru terpaku berdiri disana menatap kearah Rahiyang.


"Aku menikahinya juga karena kesalahan Anggia. Seandainya Anggia tidak tidur dengan laki-laki lain di depan mataku, maka aku tidak akan mabuk dan khilaf malam itu," Daffa berjalan kearah Azza.


"Tetapi aku bersyukur, karena semua itu membuatku sadar bahwa Anggia bukanlah wanita yang baik untukku. Dan dialah wanita yang selama ini aku cari."


"Apa? Kamu mencintainya? Dengan begitu cepat ksmu melupakan Anggia. Padahal cintamu sudah bertahan sangat lama pada Anggia.


"Ya. Aku mencintai Azza," sahut Daffa keras, membuat Azza terkejut. Begitupun dengan Rahiyang.


"Perselingkuhannya memusnahkan rasa cintaku dalam sekejap. Sama seperti setumpuk jerami yang di lahap api hanya dalam hitungan detik saja!"


"Jadi, aku harap mama menerima perceraian kami tanpa ada permusuhan diantara kita."


Rahiyang bertepuk tangan.


"Hebat! Semua lelaki memang sama, di saat yang bersamaan mereka pasti melakukan kesalahan atas nama khilaf."


"Dan disaat seorang istri sedang hamil, laki-laki selalu melakukan perselingkuhan," menatap Daffa dengan sinis.

__ADS_1


"Tetapi sekarang aku tidak akan mempermasalahkan itu lagi. Asalkan perusahaan Galuh Sari milik kalian, kalian serahkan padaku," ucapnya enteng.


Semua yang ada disana kembali terbelalak mendengar permintaan Rahiyang.


"Dan ini surat pengalihan perusahaan yang sudah di tanda tangani oleh Daffa!" ucap Rahiyang menyerahkan surat pernyataan tersebut di hadapan Daffa.


Rahiyang tersenyum puas melihat mereka yang terpaku melihat semua itu. Sebentar lagi keluarga Angga akan sedikit kacau.


"Aku tidak pernah menanda tangani surat itu!" bantah Daffa murka.


"Tapi tanda tanganmu sudah terlampir disini. Walaupun kamu mengelak sekalipun itu akan sia-sia saja!" sahut Rahiyang.


"Ternyata benar kalau selama ini kamu mempunyai tujuan tertentu terhadap keluarga kami. Bahkan kamu memaksa Anggia untuk menikahi Daffa, padahal dia sudah memiliki kekasih. Entah tujuan apa yang ada dibalik semua ini," Angga turut berbicara.


"Iya. Aku memang punya tujuan mendekati keluarga kalian. Untuk merebut kembali hak milikku!" sahut Rahiyang.


Angga terkekeh mendengarnya.


"Walaupun seribu tanda tangan milik Daffa kamu dapatkan, itu tidak akan mengubah nama pemilik perusahaan tersebut."


"Kenapa? Karena pemilik perusahaan itu adalah seseorang yang tidak akan aku sebutkan namanya. Daffa? Dia hanya menjalankannya saja dan mengelolanya. Tidak ada haknya untuk mengalihkan ataupun mengambil alih," sambung Angga.


Rahiyang terlihat gemetar karena murka pada mereka. Usahanya selama ini ternyata sia-sia. Seharusnya ia beli saja semua saham milik investor yang ada di perusahaan itu. Ternyata kelicikan kalah dengan kebenaran.


"Siapa sebenarnya kamu Rahiyang? Dan kenapa kamu menyimpan kalung ini?" Angga memperlihatkan sebuah kalung liontin biru yang baru saja terjatuh dari leher Rahiyang.


Rahiyang terkejut menatapnya, tangannya meraba lehernya.


"Itu milikku!!" sahutnya ingin merebut kembali kalung tersebut.


"Aku sangat mengenali kalung ini. Kalung ini dibuat khusus hanya untuk keturunan Rahardian saja. Tidak ada kalung seperti ini di dunia. Bahkan kalung ini bentuknya sama seperti milik ayahku." Menatap Rahiyang dengan intens.


"Apa hubunganmu dengan pamanku!?" Angga menatap Rahiyang dengan tajam.


Rahiyang tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Angga tersebut.


"Apa yang kamu ketahui tentang pamanmu? Jangan katakan kalau dirimu mengenal dekat dengan dirinya." Masih tertawa, sedetik kemudian Rahiyang merubah tatapannya menjadi serius.


"Dia hidup sungguh memprihatinkan, seumur hidupnya, dia hanya menjadi bayangan seorang Eland!!" teriak Rahiyang murka. Matanya memerah. Tangannya menunjuk kearah Eland.

__ADS_1


"Tutup mulutmu. Dia hidup layak dan tidak seperti yang kamu ucapkan!" Angga ikut emosi.


Tawa Rahiyang kembali membahana.


"Tidak ada yang baik mengenai dirinya. Bahkan keadaannya hingga sekarang tidak di ketahui oleh dunia. Bahkan dunia hanya tahu kalau keturunan kalian hanyalah Eland seorang." Menggenggam tangannya kuat.


"Kamu terlalu suka menduga-duga. Sebaiknya simpan saja tuduhanmu itu pada ayahku karena semua akan sia-sia saja. Apalagi dirimu sudah bukan siapa-siapa lagi di keluarga ini. Hubungan besan di antaara kita sudah berakhir semenjak penghianatan Anggia pada Daffa."


Tatapann Rahiyang semakin nyalang.


"Aku berhak ikut campur semuanya, karena apa? Karena aku anak kandung Erland yang tidak kalian akui!!" teriak Rahiyang.


Deg.


Kalung yang berada di tangan Angga terjatuh, ia merasa seluruh tubuhnya membeku. Kebenaran apalagi ini?


"Dan perusahaan yang sekarang sedang di pimpin oleh Daffa, perusahaan Galuh Sari itu seharusnya milikku. Kenapa kalian tidak menyerahkannya padaku?"


Angga kembali terpaku mendengarnya, begitupun juga dengan Eland yang baru memasuki ruangan tersebut sekembalinya dari kamar mandi.


"Jadi kamu adalah putrinya Erland yang dulu pernah di ceritakan olehnya?" sahut Eland tenang.


Rahiyang berbalik dan menatap Eland dengan sinis.


"Bukankah kalian yang membuat keadaan kami sangat memprihatinkan dan tinggal di panti dengan semua kekurangan. Kalian tidak mengakui ibuku sebagai menantu di keluarga kalian karena ibuku miskin dan yatim piatu!" hardik Rahiyang.


"Kamu salah Rahiyang. Kami sama sekali tidak pernah membuangmu. Kebenaran ini baru sekarang kami mengetahuinya," Eland mencoba membujuk Rahiyang.


"Kamu bohong!! Lalu kenapa kehadiran ayahku tidak di akui di keluarga kalian!!?" kembali berteriak.


"Dia selalu menjadi bayanganmu, dunia juga tidak mengetahui mengenai keadaan kalian yang sebenarnya kembar!"


Eland menunduk, semua ini bukanlah kesalahan siapa-siapa. Karena tidak hanya keberadaan Erland yang di sembunyikan dari publik, tetapi juga dirinya. Bahkan keberadaan mereka banyak tidak di ketahui oleh orang lain. Tapi orang tua mereka melakukan itu semua karena mereka mempunyai banyak musuh. Sebab itu mereka di sembunyikan.


Dan juga Erland yang dulu sempat di culik oleh orang lain.



__ADS_1



*****


__ADS_2