Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Extra Part : Kabar Tidak Menyenangkan


__ADS_3

"Pa, ada apa papa memanggilku kesini? Apa ada hal yang sangat penting?" tanya Angga.


"Kamu ya, tidak berubah sama sekali. Papa hanya ingin bertemu denganmu justru kamu bilang hal yang penting." Eland berdecak tidak suka dengan sikap anaknya tersebut.


"Papa hanya merindukan kalian saja setelah sekian lama papa tidak melihat cucu dan menantu papa," lanjut Eland lagi.


"Aku pikir ada apa, Pa." Angga meraih gorden yang ada di depannya. Menyingkapnya dan menatap kearah luar rumah, tepatnya di taman samping rumah milik Eland. Rika sedang sibuk bersama kedua anaknya dan juga pengasuhnya.


"Ada rindu di hati papa dan itu adalah hal yang penting bukan?" celoteh Eland sambil meraih kopi yang tertinggal sekali tegukan saja.


Tok tok tok


"Masuk!" Perintah Eland. Angga berbalik dan mendapati Andi orang kepercayaan ayahnya berjalan kearah mereka.


"Katakan saja kalau ada hal penting yang ingin kamu sampaikan!" perintah Eland.


Andi mengangguk dan menatap sekilas kearah Angga. Ia menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda ia memberi hormat pada anak tuannya.


"Tentang nona Haruyan, ma'af Tuan. Kami tidak bisa menemukan data mengenai dirinya. Masa lalu nona Haruyan sepertinya memang sengaja di sembunyikan, dan itu membuat kami kesulitan mencari tahu tentang dirinya." Andi menyahut dengan perasaan bersalah.


"Baiklah. Perempuan itu memang sedikit misterius. Dia sangat tidak menyukai keramaian dan juga tidak ingin kehidupan pribadinya terekspos. Aku mengerti itu." Eland mengangguk sambil tangan sebelah kanannya memegang dagunya, menilai.


"Sekali lagi, ma'afkan saya Tuan!"


"Tidak apa-apa. Kalau tidak ada hal penting lainnya, silahkan kamu kembali bekerja."


Andi mengangguk mendengar ucapan Eland. Ia segera keluar dari ruang keluarga yang ditempati oleh Eland dan Angga.


"Kenapa papa menyelidiki wanita itu? Apakah dia sudah merugikan perusahaan papa?" tanya Angga.


"Tidak. Papa hanya ingin saja menyelidikinya. Hitung-hitung sebagai kewaspadaan papa pada dia!" Eland kembali menghirup kopi terakhir dari gelasnya.


"Tidak ada yang mencurigakan darinya, Pa," sahut Angga.


"Ya, papa tahu," jawab Eland. Ia masih bersikap tenang sedangkan Angga masih menatapnya penuh selidik.


"Apa bukan karena hal yang lainnya?" Angga masih penasaran dengan sikap ayahnya. Ia menatap Eland yang tampak bersikap tenang dengan tatapan curiga.


"Tidak ada. Hanya itu saja!" Jeda Eland.


"Tidak mungkin juga papa mengkhianati ibumu!" Jawabnya lagi.

__ADS_1


Angga terkekeh mendengarnya, ayahnya sangatlah setia kepada almarhumah ibunya. Rupanya pupuk cinta yang di berikan oleh ibunya tidak pernah habis di sisa usia ayahnya.


"Bukan masalah itu pa. Angga percaya kalau papa cinta mati sama mama," sahut Angga di iringi kekehan.


"Hemm. Apakah kamu tahu tentang kabar terakhir mengenai Helena?" Eland mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin mengungkit masa lalu yang membuat dirinya kembali merasa bersalah karena tidak mampu untuk melindungi istrinya. Ia menatap serius kearah Angga.


Angga hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia benar-benar sudah melupakan keberadaan wanita tersebut jika saja ayahnya tidak mengingatkannya mengenai itu semua.


"Memangnya ada apa dengan dirinya, Pa?" tanya Angga.


"Dia sudah melahirkan dan anak yang di lahirkannya berjenis kelamin laki-laki," jawab Eland.


Angga terperangah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh ayahnya.


"Apa?! Helena hamil? Kenapa bisa?" Angga menatap tidak percaya kearah ayahnya.


"Bukankah selama ini aku selalu menjaga benihku dan tidak sembarangan membuangnya!" gerutu Angga lagi, ia begitu marah mendengarnya. Ia memang sempat pacaran dengan Helena selama beberapa tahun tapi ia tidak pernah melakukannya selain pelukan dan ciuman.


"Bukan! Bukan itu masalahnya!" Eland menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya bukan dirimu yang menjadi ayah biologisnya," sahut Eland lagi.


"Tunggu dulu. Jadi selama ini dia sudah menghianatiku?" Angga tampak berpikir sesaat.


"Kamu benar. Tidak sia-sia ayah mendidikmu menjadi orang yang pintar dan mengerti." Eland bertepuk tangan.


"Tapi yang jelas. Hanya Helena sendirilah yang tahu siapa ayah kandung dari anaknya." Sahut Eland lagi.


Angga diam memandangi ayahnya.


"Dan ada satu kabar lagi. Dia akan menjalani masa tahanan selama 2 tahun saja."


Angga membelalakkan matanya menatap tidak percaya pada ayahnya.


"Pa. Kenapa bisa begitu? Bukankah selama ini kejahatannya pada keluarga kita tidak bisa di ma'afkan lagi," Angga terlihat geram.


"Seharusnya pengacara keluarga kita menuntutnya lebih!" tambah Angga.


"Helena tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu. Ia hanyalah alat yang digunakan oleh ayahnya untuk menghancurkan kita, termasuk juga pamanmu!" sahut Eland.


"Walaupun dia adalah alat, dia tetap bersalah. Dan perannya disini adalah sebagai pembantu!" sahut Angga. Ia masih tidak terima dengan keputusan yang di ambil oleh pihak pengadilan.

__ADS_1


"Kita tidak tahu keadaannya di dalam sana. Bisa saja dia sudah taubat dan tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi." Eland menjeda.


"Atau juga ia berlaku baik didalam sana. Ia punya tanggung jawab sekarang bahkan tanpa suami!" tambah Eland lagi.


"Lupakan saja Helena pa. Dia tidak akan menjadi masalah bagi kita apabila dia tidak menyentuh ataupun mendekati keluarga kita!" Angga berdesis.


"Tenang saja Angga, dia tidak punya kekuatan sekarang untuk menyerang kita, kecuali kamu tergoda dengan dirinya untuk yang kedua kalinya," Eland tersenyum miring saat mendapati Angga yang menatap ayahnya dengan sedikit kesal.


"Tidak akan pa dan tidak akan pernah lagi. Karena sekarang aku punya bidadari syurga." Senyum Angga mengembang sambil matanya beralih menatap kearah Rika dan anak-anaknya yang memasuki ruang keluarga yang mereka tempati.


"Duh anak papa, senang bermainnya?" Angga meraih Daffian dari tangan Nia dan menggendongnya. Sebaliknya, Eland meraih Daffa dari tangan Rika.


"Uhh cucu kakek yang lucu," Eland menciumi pipi cucunya yang terlihat gembul hingga membuat Daffa tertawa cekikikan. Ia begitu senang bersama kakeknya. Membuat Angga berpaling pada ayahnya.


"Apa Daffa sangat menyukai kakek?" tanya Angga yang sudah berada dekat dengan Daffa.


Sedangkan Daffa hanya berceloteh seadanya saja kemudian kembali tertawa sambil meraih wajah Eland.


"Kenapa anak itu sangat tidak menyukai diriku," gerutu Angga masih menatap iri melihat kedekatan ayahnya dan anak pertamanya.


Entah kenapa Daffa selalu menolak saat ayahnya ingin mengasuhnya ataupun mengajaknya bermain. Dia lebih lengket bersama ibunya. Bahkan ia terkadang tidak suka saat melihat Angga yang dekat dengan Rika. Terkadang hal itu membuat Angga frustasi.


Daffa juga sulit berbaur bersama orang yang baru dilihatnya. Tapi dengan Eland dia sanga jarang bertemu, Daffa justru terlihat sangat akrab layaknya bertemu setiap hari. Tapi itulah bukti kalau diantara mereka ada benang pengikat yang tak kasat mata dan juga hubungan darah.


Berbeda dengan Daffian, dia sangat penurut dan mau diajak bermain dengan siapa saja.


"Hahaha... papa yang bodoh!" sahut Eland saat mendapati Angga yang menatap iri kearahnya.


"Aku tidak bodoh pa, hanya Daffa yang sulit bersamaku!" sahut Angga tidak terima dengan ucapan ayahnya. Apalagi ayahnya memojokkan dirinya tepat dihadapan istri dan kedua anaknya.


"Jangan sebut kata-kata itu lagi didepan mereka." Angga mengingatkan membuat Eland merasa bersalah karena mengucapkan kata-kata tidak pmtas di hadapan kedua cucunya, walaupun niatnya adalah bercanda, tapi itu tetaplah salah.


Walaupun mereka tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Eland, tapi ia tetap ingin menjaga kata-kata di hadapan anak-anaknya. Karena anak-anak adalah peniru yang hebat dan pendengar yang jeli.





*****

__ADS_1


__ADS_2