Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Canggung


__ADS_3

Rika dan Ambar sedang duduk bersama di ruang keluarga kediaman Rika.


"Kotak apa itu Mbar?" tanya Rika.


"Kamu akan tahu sendiri setelah Azza membukanya nanti. Tapi kuharap kamu tidak terkejut mendapatinya."


"Oh iya. Bagaimana kabar mereka?" tambah Ambar.


"Baik dan sepertinya mereka benar-benar saling jatuh cinta. Aku bersyukur karena pada akhirnya Daffa mampu memenangkan hati Azza." Rika tersenyum.


"Iya. Kamu benar. Takdir baik berpihak pada mereka walaupun awalnya mereka begitu kesulitan menjalani hubungan yang di awali dengan kesalahan dan kekhilafan."


"Tidak semua yang bahagia itu di awali dengan kebahagian juga, tetapi bahagia itu kalau kita pandai membawa diri," sahut Rika.


"Kamu benar. Menjalani rumah tangga itu harus banyak sabarnya karena setiap kesabaran akan berbuah manis pada akhirnya."


"Mama! Kalian disini rupanya!" Daffi berjalan menghampiri keduanya.


"Duh Daffi sekarang kamu sudah dewasa ya tapi kapan nikah Daff?" tanya Ambar.


Daffi tersenyum mendengarnya.


"Belum ada calon tante, masih dalam pengejaran!" sahutnya.


"Apakah sesulit itu mengejar wanita yang kamu cintai? Dari sisi mananya sehingga ia selalu menolak dirimu?" tanya Ambar.


Daffi terkekeh mendengarnya.


"Dia hanya terlalu gengsi saja untuk mengakuinya!" sahut Daffi percaya diri.


"Kamu beruntung sekarang, Ka. Dicintai oleh 3 lelaki sekaligus walaupun dulu kehidupanmu di bawah wajar."


Rika menggeleng. "Jangan mengungkit yang dulu. Semua sudah berakhir dan kini semua itu sudah terbayar. Bahkan bayarannya lebih manis daripada yang aku bayangkan dulu."


"Iya. Aku sangat bahagia sekarang melihat kamu hidup seperti ini," sahut Ambar.


"Mama!!" teriak Febry sambil berjalan menghampiri keduanya.


"Husss! Anak perawan jangan seperti itu, teriak-teriak. Nanti tidak laku!" hardik Ambar.


Febry menatap cemberut kearah ibunya dan duduk di samping Ambar. Matanya beralih menatap kearah Daffi yang sejak tadi memperhatikannya.


"Apa lihat-lihat!" Melotot.


"Sayang. Tidak boleh bicara seperti itu, apalagi dengan orang yang lebih tua usianya dari kamu."


"Biarin aja ma, lagian dia selalu mengejekku!" adu Febry.


Daffi melotot mendengarnya.


"Katanya tomboy tapi manja!" cibir Daffi.


"Siapa bilang aku manja!" sahut Febry.


"Itu buktinya!" tunjuk Daffi dengan dagunya.


"Bergelantungan pada ibumu seperti bayi raksasa yang sedang menyusu!"


Febry geram mendengarnya. Ia menatap tajam kearah Daffi yang memeletkan lidahnya.


"Sudah. Jangan berdebat lagi. Kalian sudah dewasa, bukan anak kecil lagi," tegur Rika.


"Tuh... dengarkan kata tante!" Febry menjulurkan lidahnya.


"Yang tua harus mengalah sama yang muda!" sambung Febry.


Daffi hanya berdecak saja.


"Aku tidak setua itu!" sahutnya kesal.


"Tetap lebih tua dari aku!" sahut Febry.


"Sudah. Sudag. Kalian selalu ribut setiap kali bertemu, kalau kalian berjodoh bagaimana?" tanya Ambar.


Sunyi.


Ruangan itu langsung senyap dalam sekejap.


Febry dan Daffi saling menatap, Febry mengalihkan pandangannya terlebih dahulu sebelum pipinya terasa memanas.


"Daffi!"


Daffi berpaling saat namanya di panggil. Aina sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


"Aina!" Daffi berjalan kearahnya kemudian menggandeng Aina kearah mereka.


"Aku tidak akan berjodoh dengannya karena ada wanita lain yang sangat aku cintai!" sahut Daffi menggenggam erat tangan Aina.


"Wanita yang kamu maksud itu adalah wanita yang katanya selalu menolakmu itu?" Febry terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


"Kasian sekali nasibmu, mengejarnya hingga beruban tetapi ujung-ujungnya kandas! Di-to-lak!!!" tambahnya lagi.


Aina menggenggam erat tangannya, menatap kearah gadis yang ingin di jodohkan dengan Daffi, seperti itulah yang ia dengar tadi.


"Daff, aku ada perlu sesuatu. Bisakah kamu membantuku sekarang?" tanya Aina menghadap Daffi.


Daffi menatap kearah jam tangannya.


"Sekarang?" ulang Daffi. Aina mengangguk.


"Aku tidak bisa Ai. Tapi 1 jam kemudian aku bisa. Bagaimana?"


Aina tampak berpikir. Sebelumnya Daffi tidak pernah menolak semua permintaannya walaupun ia terdesak dengan pekerjaannya. Tapi sekarang sejak ada Febry Daffi sedikit demi sedikit berubah. Bahkan ia juga tidak semanis dulu pada dirinya.


"Kenapa perasaanku sakit saat ia mulai berubah?" Aina membatin. Matanya menatap kearah Daffi yang sejak tadi menatap Febry.


"Biasanya tatapan hangat itu hanya untukku!" Aina kembali membatin.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Nanti kamu jemput aku ya!" pinta Aina.


Daffi mengangguk.


"Bahkan dulu dia yang selalu menawarkan sesuatu padaku, bukannya aku yang harus meminta!" ucap Aina dalam hati.


Ia melangkah keluar ruangan dan berbalik sesaat memperhatikan Daffi yang tidak mengantarnya sampai ke pintu utama seperti biasanya.


"Beginikah rasanya kehilangan, apa arti perasaanku ini? Apakah aku hanya takut kehilangan sosok Daffi yang selalu dekat denganku dan selalu ada untukku. Ataukah ini perasaan...? Tidak. Tidak. Aku yakin ini hanya perasaan takut kehilangan saja! Dan perasaan tidak biasa tanpa dirinya," gumam Aina saat mengendarai mobilnya.


"Daff, kenapa Aina tidak diantar seperti biasa?" tanya Rika heran.


"Daffi ada kesibukan ma, Daffi pergi dulu!" ucap Daffi tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


"Biarkan saja aku merenggangkan hubungan sesaat di antara kami. Agar aku terbiasa nantinya tanpa kamu Ai...," bisik Daffi dalam hatinya.


Rika menggeleng melihat tingkah Daffi yang tidak biasa. Apakah dia sudah menyerah untuk mengejar wanita impiannya itu ataukah mereka sekarang sedang ada permasalahan yang lain.


"Rika! Sepertinya kami juga harus pulang. Nanti kapan-kapan aku kesini lagi!"


Ambar berdiri bersama Febry yang masih menggelantungi lengan ibunya.


"Iya. Hati-hati di jalan!" sahut Rika saat mengantar kepergian mereka hingga ke pintu utama.


Sedangkan Daffi berjalan kearah ruangan kerja ayahnya. Masuk dan duduk di sofa.


"Akhir-akhir ini kamu selalu keluyuran Daffian!"


Daffi mendesah mendengar peringatan ayahnya untuk yang kesekian kalinya.


"Tidak apa-apa, pa!"


"Kamu tidak bisa membohongi papa. Karena papa dulu juga pernah muda dan mengalami masalah percintaan seperti dirimu. Tetapi papa masih beruntung dan tidak seperti kamu." Angga terkekeh.


"Papa apa-apaan sih, itu namanya meledek anak sendiri pa, bukannya menyemangati!" sahut Daffi cemberut.


"Iya. Papa tau. Kamu hanya salah trik saja dalam mengejar dirinya."


Daffi memperhatikan Angga dengan seksama.


"Mulai sekarang kamu benahi dirimu dulu dan berhenti keluyuran Daffian, sebaiknya kamu benahi pekerjaanmu juga. Setiap kali kamu selalu menyuruh bawahanmu yang melakukannya. Bagaimana kamu mau menghidupi anak istrimu kelak," nasehat Angga.


"Dan bagaimana bisa wanita tertarik padamu kalau kamu tidak mapan, Daffi!"


"Iya pa, Daffi juga sudah sadar kalau usaha Daffi yang begitu keras memperjuangkannya agar mendapatkannya masih berbuah nihil. Mungkin saja dengan Daffi berubah maka dia juga berubah!" sahut Daffi.


"Bagus! Kalau kamu sadar. Kamu harus menyeimbangkan antara keduanya, sayang. Jangan hanya mementingkan egomu saja, yang ada kamu justru kecewa!"


"Iya, pa. Mulai besok Daffi akan membenahi pekerjaan Daffi. Siapa tahu tentang kehidupan Daffi bisa seberuntung Daffa!" sahut Daffi terkekeh.


"Iya. Kamu harus menemukan wanita yang layak untuk kamu dan juga keluarga kita. Walaupun mereka dari rakyat biasa tetapi mereka mampu menjunjung tinggi kehormatan dan martabat keluarga."


"Tapi sayangnya Daffi sudah terpikat pada wanita yang bukan dari kalangan rakyat biasa, pa!" sahut Daffi.


"Hahaha... apapun mengenai itu, lakukanlah selama itu baik untukmu. Tapi ingat satu hal, jangan sampai kamu mencintai wanita yang salah dan cinta justru membuatmu buta dan menghancurkanmu!"


"Lagi pula perjalanan hidupmu masihlah sangat panjang."


"Siap pa! Daffi akan selalu ingat nasehat papa."


***


Satu jam kemudian Daffi sudah nangkring manis di depan kediaman Alvaro menunggu wanita pujaannya keluar rumah.


"Daffi... apa kabar sayang?" Oma berjalan tergesa-gesa kearahnya.


"Hati-hati Oma!" sahut Daffi.


Oma Sa'adah terkekeh.


"Kamu sangat mirip dengan ibumu, begitu baik dan juga ramah walaupun sering tersakiti."

__ADS_1


"Daffi tidak apa-apa Oma!" sahut Daffi. Ia berdehem sesaat.


"Oma juga tau kalau kamu sangat mencintai cucu Oma. Dan apakah kamu ingin tahu kenapa Aina hingga sekarang masih lajang?" bisik Oma.


Daffi mendekat. Matanya melirik kearah anak tangga.


"Boleh Oma, beritahu padaku rahasianya!" bisik Daffi juga.


"Dia itu sebenarnya tidak bisa menemukan kriteria lelaki yang baik menurut pandangannya!" ucap Oma.


Daffi melotot mendengarnya. "Termasuk aku Oma?" Daffi menunjuk pada dirinya sendiri.


Oma menggeleng pelan. "Itu untuk lelaki yang usianya di atas dirinya. Dia tidak memasukkan lelaki muda dari dirinya dalam kriterianya!" sahut Oma.


Daffi mendesah lesu.


"Tapi kamu tenang saja. Oma tahu sebenarnya Aina sangat menyukai dirimu hanya saja dia gengsi dengan jarak usia diantara kalian. Oma yakin tentang itu!" ucap Oma.


"Jangan menghiburku Oma, tidak akan berpengaruh!" sahut Daffi.


"Hei... Oma tidak menghiburmu. Oma berkata benar. Dan Oma sangat mendukung hubungan kalian nantinya."


"Akhir-akhir ini aku lihat Aina juga sering melamun dan kadang terlalu gembira. Perasaan macam apa itu namanya kalau bukan sedang jatuh cinta!" ucap Oma.


Daffi hanya diam menatap Oma.


"Tidak apa-apa Rika tidak jadi menantuku dulu tapi anaknya akan jadi mantuku!" sahut Oma gembira.


Daffi membelalakkan matanya.


"Apa maksud perkataan Oma?" tanya Daffi penasaran.


"Oh itu. Dulu ayahnya Aina begitu...!"


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


Aina datang dan memotong ucapan Omanya dan juga Daffi. Menatap mereka bergantian.


"Oh bukan apa-apa!" sahut Oma cepat. Pura-pura membetulkan baju Daffi.


"Besok Oma akan katakan satu rahasia lagi mengenai Aina saat dia ingin tidur." Oma berbisik.


Daffi mengangguk. "Makasih Oma."


Aina memicing curiga melihat mereka saling berbisik. Ia memindai penampilan dirinya, mungkin saja ada yang salah.


"Ya sudah. Oma istirahat saja. Kami mau berangkat sekarang!" ucap Aina.


Oma mengangguk dan segera masuk ke kamarnya.


"Daffi, apapun yang dikatakan Oma padamu, jangan di ambil hati. Karena Oma sudah mulai pikun!"


Daffi menatap Aina dalam.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Aina merona tanpa ia sadari.


Daffi semakin menatapnya. Bahkan diakhiri dengan kekehan.


"Aku lebih percaya pada Oma daripada pada dirimu sendiri!" ucap Daffi.


"Karena Oma lebih mengenali dirimu daripada kamu mengenal dirimu sendiri."


"Apa yang Oma bilang?" desak Aina.


"Tidak ada," sahut Daffi.


"Kamu sedang bohong nih!" tangan Aina bergerak menggelitik pinggang Daffi hingga membuat Daffi kegelian.


"Stop Ai. Ampun!!" ucap Daffi.


Aina menghentikan aksinya dan membenarkan pakaiannya. Ia tidak sadar kalau dirinya sedang memeluk Daffi.


"Ma'af. Aku tadi tidak bermaksud begitu!" ucap Aina canggung.


"Biasa aja Ai. Biasa juga kamu sampai naik keatas kepalaku!" ucap Daffi menggoda.


Aina menunduk. Entah kenapa hari ini ia selalu merasa canggung saat berdekatan dengan Daffi.


"Ayo Ai kita berangkat sekarang!"


"Apa?" tanya Aina bingung, tidak mendengar apa yang Daffi katakan.


"Aku bilang ayo kita berangkat sekarang!"


Aina mengangguk dan berjalan beriringan.



__ADS_1



*****


__ADS_2