
Selama beberapa hari ini Daffa terlihat sibuk di kantornya. Bahkan ia lembur beberapa hari kedepan. Ia juga menunda waktunya untuk bertemu dengan Anggia. Agar pekerjaannya cepat selesai dan bisa cuti menikah selama beberapa hari kedepan. Sekaligus ia merencanakan untuk pergi berbulan madu.
"Daffa, bagaimana dengan proyek kita yang belum rampung?" Zainal masih berdiri dihadapan Daffa. Ia memberikan sejumlah laporan yang diminta oleh atasannya.
"Semua proyek itu aku serahkan padamu untuk sementara waktu. Kamu yang urus!" Daffa masih sibuk membubuhi tanda tangan di beberapa berkas yang tergeletak diatas mejanya.
"Ini! Laporan ini sebaiknya kamu perbaiki. Ada beberapa kesalahan disini!" tunjuk Daffa pada berkas yang ada di tangannya.
Zainal mengangguk. "Apa sebaiknya kamu cuti lebih awal?"
Daffa mengangkat kepalanya dan menatap Zainal dengan intens.
"Maksudku agar badanmu lebih segar di hari pernikahanmu nanti. Juga kamu tidak kelelahan saat berkumpul bersama istrimu!"
Daffa terdiam mendengarnya. Ia memang sangat lelah akhir-akhir ini tapi ia tetap akan menghabiskan waktunya sebelum benar-benar ia menghabiskannya buat Anggia.
"Apa keluargamu sudah menyetujui tentang pernikahanmu?"
Lagi. Daffa mengangkat kepalanya dan menatap Zainal dengan tajam.
"Maksudku__," ucapan Zainal terjeda.
"Aku tidak menyuruhmu untuk mewawancarai diriku. Apa sekarang profesimu beralih menjadi seorang reporter atau seorang tukang gosip!?" ketus.
Zainal terdiam mendengarnya. Ia memang cerewet dan banyak bertanya. Sudah mendapat kode tatapan dari Daffa untuk menyuruhnya diam, tapi Zainal tetap saja meneruskan ucapannya.
"Kamu bereskan pekerjaanmu terlebih dahulu. Apakah kamu tidak melihat kalau aku sekarang sedang bekerja?" Melemparkan berkas tadi kearah Zainal.
Zainal mengangguk dan segera meraih berkas tersebut. Ia tidak takut dengan kemarahan Daffa. Itu hal yang biasa saja baginya.
"Apalagi?" tanya Daffa dengan malas saat melihat Zainal yang masih berdiri didepannya.
"Kamu kena sindrom menikah Daff, hingga membuatmu stress begitu!" sahut Zainal dengan ledekan. Ia berjalan keluar ruangan yang ditempati oleh Daffa dengan cepat sebelum Daffa melemparnya dengan laptopnya.
10 menit lemudian.
Tok tok tok
Daffa tampak kesal karena ulah Zainal yang sangat suka mengganggunya disaat dirinya sedang sibuk-sibuknya seperti ini. Apakah dirinya tidak punya pekerjaan.
"Masuk!" ucap Daffa tanpa melihat kearah pintu.
"Ada apa lagi? Apa pekerjaanmu sudah selesai ataukah ada hal yang tidak berguna lagi yang ingin kamu sampaikan padaku." Masih fokus menatap berkasnya.
Daffa mengangkat kepalanya saat tidak mendapat jawaban dari asistennya tersebut. Ia terperanjat saat mendapati ibunya yang berdiri dan menatapnya dengan mata melotot.
"Apa kamu bilang! Mama tidak berguna!?" Rika berjalan kearah Daffa dan menarik telinga anaknya.
"Aduh duh duh, sakit ma!" teriak Daffa, walaupun sebenarnya tarikannya sama sekali tidak terasa.
Rika merasa kasihan dan segera melepaskan tangannya. Ia merasa bersalah kini, tapi ucapan Daffa sungguh keterlaluan, mengatakan kalau dirinya tidak berguna.
"Ada apa mama kemari?"
Rika kembali melotot menatap anaknya. "Kamu mengusir mama secara halus?" sindir Rika.
"Bukan begitu ma. Biasanya mama sangat jarang mengunjungi kantorku dan selalu mengunjungi kantor papa."
__ADS_1
Rika mendesah, anaknya sangat pelupa kalau berhubungan dengan pekerjaan.
"Hari ini kamu pergi ke butik, fitting gaun pengantin sekaligus sesi pemotretan!"
"Iya ma, nanti selepas aku menyelesaikan pekerjaanku!"
"Sekarang Daffa. Apakah kamu tidak kasihan pada Anggia yang sudah menunggui dirimu di bawah sejak beberapa menit yang lalu?" desak Rika.
Daffa seketika langsung berdiri mendengarnya. Ia segera bergegas berjalan kearah ibunya.
"Iya ma, aku akan segera turun," mengecup pipi Rika singkat.
"Dasar anak itu. Urusan Anggia, dia langsung melupakan segalanya," gerutu Rika sambil menggelengkan kepalanya.
***
"Sayang. Ma'af aku kelamaan ya?" Daffa meraih wajah Anggia dan mengecup dahinya singkat membuat seluruh mata karyawannya menatap kearah mereka.
Anggia menggeleng. Ia msih pada posisinya, duduk di kursi sofa yang ada di lobi tersebut.
"Kenapa tidak langsung keatas saja?"
"Sayang. Bukankah kita ingin cepat menyelesaikan urusan kita. Kalau aku keatas yang ada justru akan tertunda beberapa jam kedepan," Anggia mengerling kearah Daffa.
Daffa tersenyum, ia mencubit hidung Anggia dengan lembut.
"Ayo kita berangkat sekarang!" Daffa menatap kearah jam tangannya sembari menarik tangan Anggia dengan lembut.
"Setelah ini kita akan menemui papa. Kamu tidak keberatankan?" tanya Daffa.
Anggia hanya bisa mengangguk saja sambil memasang sealtbethnya.
Daffa tersenyum mendengarnya. Ia akui kalau hati ibunya sangatlah sulit di temukan pada wanita lainnya. Ia begitu penyabar dan selalu mengalah walaupun itu menyakitkan karena ia yakin pada akhirnya kebahagiaan memeluk mereka.
"Jadi, kamu tadi ke kantor bersama mama?" tanya Daffa.
"Iya. Mama dan sopirnya yang menjemput Anggia, setelah itu baru kami ke kantormu."
Daffa tersenyum mendengarnya. Ia tahu kalau mamanya juga pasti sangat menyukai Anggia dan akan selalu setuju dengan keputusannya.
Sesampainya di butik, mereka langsung di sambut oleh pemilik butik.
Anggia segera mencoba gaun yang khusus dirancang untuknya. Ia terlihat begitu cantik dengan gaun mewah yang sengaja di pesan oleh Daffa. Hingga membuat Daffa terperangah melihatnya.
"Coba lihat kekasihmu, dia sampai melongo begitu karena saking terpesonanya dengan dirimu." Nova berbisik.
Mereka tertawa cekikikan setelahnya karena sejak tadi Daffa tidak dapat melepaskan tatapan matanya pada sosok Anggia.
Daffa berdehem setelah ia menyadari kalau dirinya di perhatikan beberapa karyawan yang lainnya. Bahkan ia juga menjadi ledekan kekasihnya sendiri.
Ia memberi kode pada Anggia bahwa dirinya akan menghukum Anggia nantinya setelah mereka dari butik tersebut.
Pemotretan pun juga sudah usai dan sekarang mereka sedang menuju kearah kantor ayahnya, Angga.
Anggia melirik beberapa kali kearah Daffa saat para karyawan Angga menyapanya.
"Kenapa sayang, apakah kamu gugup?" tanya Daffa.
__ADS_1
Anggia menggeleng. Ia merasakan Daffa mempererat tautan tangan mereka.
"Jangan gugup, masih ada aku disini."
"Aku tidak gugup sayang," sahut Anggia.
"Tanganmu dingin," ucap Daffa.
Anggia hanya mengulas senyum tipisnya sambil menatap pintu ruangan direktur yang ada dihadapan mereka.
Tok tok tok
"Masuk!" terdengar interupsi dari dalam. Daffa membuka pintu dengan hati-hati. Matanya mengedar menatap kearah ruangan ayahnya. Tampak Daffian sedang memejamkan matanya bersandar di sofa.
"Daffa! Ada apa kamu kemari, nak?"
Daffian membuka matanya dengan perlahan, menatap kearah saudaranya dan calon iparnya. Senyum ramahnya terbit.
"Papa tidak suka aku berkunjung kemari?" tanya Daffa dengan pura-pura sedikit merajuk. Matanya melirik kearah Daffian.
"Bukan begitu Daff. Papa hanya kaget saja karena tidak biasanya kamu datang kekantor papa secara dadakan begini."
"Dia kesini bersama calon mantu kita sayang, apa kamu tidak melihat orang sebesar ini berdiri disamping anakmu?" Rika tiba-tiba datang di belakang mereka dan menimpali. Suasana tampak semakin ramai.
"Owh jadi ini calon menantu papa? Kenapa tidak bilang sejak tadi?" Angga meraih tangan istrinya dan mengecup singkat dahi Rika.
"Pa, jangan disini, kasian yang jomblo!" sahut Daffian merasa iri dengan kemesraan ayah dan ibunya.
"Makanya Daffian, kamu cari gadis untuk kamu nikahi. Lihat kakak kamu, sebentar lagi dia akan menikah," sahut Rika.
Daffian mendesah saat di ingatkan mengenai ini. "Daffi sedang berusaha ma, dan gadis itu sangat sulit untuk didekati," Daffi tampak frustasi.
"Belajar dong dari papa bagaimana cara menaklukkan hati seorang wanita," sahut Angga merasa bangga.
"Oh iya, papa ingin bicara berdua dengan calon mantu papa, apa kamu tidak keberatan Anggia?"
Anggia mengangguk saja sambil mengukir senyum tipis miliknya.
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita makan siang keluar," ucap Angga. "Kamu tidak keberatankan sayang hari ini tidak makan siang bersamaku," ucap Angga lagi.
"Tidak apa-apa sayang. Aku bisa makan bersama anak-anak. Nikmatilah waktumu bersama menantu kita," sahut Rika.
"Pa, jangan lama-lama memonopoli Anggia!" ucap Daffa.
"Tidak akan," sahut Angga.
"Anggia, kalau terjadi sesuatu padamu, katakan saja padaku," Daffa membelai rambut Anggia.
"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu pada calon menantu papa karena papa akan melindunginya!"
Anggia dan Angga keluar ruangan tersebut dan menyisakan mereka bertiga.
•
•
•
__ADS_1
*******