
Tok tok tok
Aina berjalan kearah pintu kamarnya, membuka dengan perlahan. Tampak sesosok perempuan berusia paruh baya sedang berdiri di ambang pintu, menatapnya sekilas kemudian menunduk hormat.
"Non, orang yang pagi tadi datang lagi kemari," ucap bibi Yati memberi tahu.
"Siapa?" Aina mencoba mengingat lelaki yang di maksud oleh Bi Yati.
"Itu loh Non, lelaki ganteng yang tadi pagi kemari. Dia sudah berada di bawah dan sedang menunggu Non Aina untuk turun."
"Rendy?" tanya Aina memastikan.
"Saya tidak tahu siapa namanya. Yang pasti dia ingin bertemu dengan Non."
Aina mengangguk dan berjalan kearah ruangan tamu. Melewati anakan tangga sambil menatap kearah lelaki yang berdiri membelakangi dirinya.
"Ada apa lagi kamu kesini? Bukankah kita sepakat untuk tidak saling mengusik mulai hari ini."
Aina berdiri tepat di anak tangga terakhir, menatap Rendy dengan penuh tanya.
Rendy membalikkan badannya, menatap sendu kearah Aina. Seolah ucapan Aina barusan adalah sebuah pengusiran untuknya, sebuah pernyataan bahwa hatinya menolak kehadiran Rendy untuk yang kesekian kalinya.
"Ada sesuatu yang aku lupakan dan sudah seharusnya aku sampaikan padamu."
"Apa?" tanya Aina masih bertahan pada posisinya.
Rendy mendekat kearahnya, menatap Aina dengan serius. Membuat gadis itu menatap waspada kearahnya.
"Malam ini aku sudah harus kembali keluar negri. Benar apa yang kamu katakan kalau kita lebih baik hidup dengan tujuan masing-masing. Karena kita tidak akan pernah bisa bersatu lagi."
Aina terdiam mendengarnya.
"Besok adalah hari pernikahanku. Apakah kamu tidak ingin memenuhi undanganku?" tanya Aina.
Rendy menggeleng. "Masih ada urusan yang mesti aku selesaikan tepat waktu. Terlebih lagi aku tidak bisa menunggu untuk itu. Jadi, aku datang kemari untuk berpamitan padamu sekaligus...." Rendy menjeda.
"Sekaligus apa?" desak Aina dengan tidak sabar.
"Sekaligus aku menalakmu," sahut Rendy lirih. "Sebagai tanda bahwa kita benar-benar sudah resmi bercerai."
Aina terdiam mendengarnya. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Itu akan lebih baik bagimu. Jadi, kamu bisa hidup tenang dengannya tanpa bayanganku. Lagi pula, diantara kita sudah lama putus hubungan."
Aina menatap Rendy yang tersenyum kearahnya. Ia membuang muka, melihat senyum getir tersebut.
"Bagaimana kalau kamu duduk dulu, aku akan membuatkan minuman untukmu," tawar Aina.
"Tidak perlu. Aku juga terburu-buru. Sekitar 30 menit lagi pesawatku akan lepas landas."
Rendy menatap kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai pintu."
__ADS_1
Rendy mengangguk membiarkan wanita yang masih ia cintai untuk bersamanya hingga beberapa detik kedepan.
"Aina, ma'af kalau selama kamu hidup bersamaku, aku tidak pernah memberikanmu apa-apa, juga tidak membuatmu bahagia. Aku hanya memberikan rasa trauma padamu."
Rendy meraih tangan Aina dan menggenggamnya erat.
"Tidak apa-apa Ren. Semuanya juga sudah berlalu. Aku tidak pernah menyesali apa yang sudah menimpa kita. Dan besok aku sudah memulai hari yang baru."
Aina menarik tangannya dari genggaman Rendy, meraba tengkuknya sekilas.
Rendy berbalik kearah Aina saat mereka mencapai pintu.
"Aku menalakmu Aina!" ucap Rendy sekali lagi dengan tatapan serius.
"Semoga kamu bahagia hidup bersama Daffian hingga maut memisahkan kalian. Aku juga sudah ada seseorang yang akan tinggal bersamaku."
Aina hanya mengangguk samar. Ia sama sekali tidak punya perasaan lagi terhadap Rendy, sehingga ia merasa sangat lega setelah mendengar pernyataan Rendy barusan. Walaupun kenyataannya bahwa hubungan pernikahan mereka sudah lama statusnya bercerai, sejak Rendy tidak memberikannya nafkah setelah bertahun-tahun lamanya.
"Terima kasih untuk semuanya," lirih Aina.
Rendy mengangguk dan melangkah meninggalkan Aina yang menatapnya hingga memasuki sebuah taksi.
"Kenapa dia begitu terburu-buru?" Alvaro berdiri tepat di belakang Aina, membuat gadis itu sedikit terperanjat.
"Papa! Kenapa tidak bilang-bilang kalau sedang berada di belakangku!" Aina terlonjak sambil memegang dadanya.
"Memangnya papa harus bilang apa? Kamu habisnya terlalu konsentrasi padanya," sahut Alvaro menunjuk dengan dagunya.
"Siapa juga yang konsentrasi Pa, kayak mau ujian saja!"
"Memangnya ada urusan apa dirinya begitu terburu-buru?" ulang Alvaro sekali lagi.
"Ada urusan yang perlu dia tangani!" sahut Aina cepat.
"Aku dengar kalau perempuan yang ingin di nikahinya dulu sedang terbaring di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan dan koma selama 1 bulan belakangan ini."
"Benarkah? Perempuan yang tunangan bersamanya dulu?" Aina menatap tak percaya kearah Alvaro. "Darimana papa tau mengenai hal itu?"
"Kemarin papa bertemu dengan papanya Rendy. Dia menceritakan semuanya pada papa, termasuk keadaan Rendy sekarang di luar negri."
"Bagaimana mungkin ia meninggalkan wanita itu dalam keadaan sakit seperti itu?"
"Dia hanya kecewa pada keluarga perempuan itu karena sudah menipu dirinya. Dan dia juga sedikit tertekan karena terus di paksa bersama wanita itu. Jadi, hal seperti itu sudah pantas untuk membayar kesalahan mereka."
"Tapi aku rasa kalau dia sebenarnya mencintai wanita itu. Yang salah hanya orang tua gadis itu. Jadi, tidak pantas ia menyakiti gadis itu."
Alvaro menggeleng mendengarnya.
"Besok adalah pernikahanmu. Jadi, sudah seharusnya kamu tidak perlu memikirkan masalah orang lain yang tidak berhubungan lagi dalam hidupmu. Cukup kamu pikirkan persiapan apa yang sudah kamu buat untuk acara besok."
Aina tersenyum mendengarnya. Alvaro begitu dekat dengannya, bahkan lebih dekat dari Nadia, ibunya.
"Jangan tidur telat, nanti badanmu tidak fit untuk menghadapi acara besar. Lagi pula, kamu juga harus menyiapkan mentalmu untuk membuang rasa gugupmu."
__ADS_1
"Iya, pa. Aina akan tidur tidak lama setelah ini." Aina masih mengukir senyum manisnya, membayangkan Daffian sekarang.
"Apakah kamu sedang merindukannya?"
Aina berhenti berpikir, berpaling kearah Alvaro dengan pipi bersemu merah.
"Apaan sih, Pa! Aina sedang tidak memikirkannya!" sahut Aina menutupi perasaannya.
"Benarkah? Lalu siapa yang kemarin selalu menatap layar handphonenya berulang kali. Bahkan selalu menggerutu saat tidak ada notifikasi darinya."
Alvaro menaik turunkan alisnya menggoda Aina.
"Tidak kok Pa. Kemarin Aina hanya menunggu pesan dari rumah sakit."
"Bukannya kamu sudah cuti, jadi soal pekerjaan sudah papa gantikan dengan dokter lain," sahut Alvaro.
Aina hanya melirik sekilas kearah Alvaro,tidak mampu untuk berkata-kata. "Aina ngantuk dan mau ke kamar!"
Aina berlari meninggalkan Alvaro yang menggeleng melihat tingkah Aina yang terlihat malu.
"Anak itu. Kalau rindu ya bilang rindu, tidak usah pakai acara gengsian segala," gumamnya.
***
Di ruang keluarga, Daffian sedang komat-kamit bersama Daffa dan Angga juga Asra. Ia sedang belajar ijab qabul untuk persiapan besok agar tidak salah saat pengucapan.
"Bagaimana? Apakah sudah benar?" tanya Daffian melirik kearah ketiganya.
"Iya. Semuanya benar bahkan sejak awal tadi kamu sudah benar Daffian," sahut Angga.
"Lalu, dimana letak kesulitanmu?" tanya Daffa.
"Aku hanya takut lupa karena saking gugupnya saat duduk di samping Aina." Sahut Daffian.
"Papa yakin kalau kamu tidak akan segugup itu. Bahkan papa yakin kalau kamu pasti bisa mengatasi semuanya. Bukankah kamu sudah sangat sering menghadapi banyak orang dan juga memimpin rapat," tambah Angga.
"Yang ini pasti rasanya beda loh Pa, jangan samakan dengan meeting!" sahut Daffian.
"Itu lebih baik dan mampu membuatmu lebih rileks. Daffa yang sudah 2 kali nikah saja tidak segugup kamu."
Daffian terkekeh mendengarnya. "Daffa kan memang sudah di takdirkan mempunyai banyak istri. Jadi dia menghadapi pernikahan pasti santai-santai saja."
Daffa melirik tajam kearahnya, meraih sebuah kertas, meremasnya dan melemparnya kearah Daffian.
"Sialan kamu mengatakan kalau aku di takdirkan punya istri banyak. Yang ada aku hanya punya satu istri, Azza!"
Daffa tampak kesal karenanya, membuat Daffian terkekeh senang melihat tingkah Daffa.
"Akhirnya, terbayar sudah yang kemarin!" sahut Daffian senang.
•
•
__ADS_1
•
***