
"Daffian, kita mau makan siang kemana?" Aina menatap heran Daffian yang menyetir kearah tempat yang bukan biasanya mereka singgahi.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat."
"Kemana?" tanya Aina.
"Kamu akan tahu sendiri nanti!" sahut Daffian.
Aina hanya diam saja sambil menatap kearah jalanan yang mereka lewati hingga tiba di tempat tujuan yang Daffian singgahi pagi tadi.
"Toko bunga?" menatap Daffi. "Untuk apa kita kesini? Apakah kamu ingin membeli bunga?" Aina menatap heran Daffi.
"Bukan."
"Lalu? Kamu tidak seperti mba Kuntikan yang suka makan bunga?" Aina terkekeh.
"Tidak sayang. Kalau hal aneh yang boleh di makan, maka aku akan memakanmu saja sampai habis, tetapi kita akan menikah terlebih dahulu," sahut Daffian sambil menggandeng Aina.
"Memangnya aku kue," gumam Aina memukul lengan Daffian lembut.
Daffian terkekeh mendengarnya.
"Lalu ada hal apa yang membuatmu kemari?"
"Aku hanya ingin tahu apa yang di cari lelaki misterius tadi hingga berlama-lama mengintai rumah kami."
"Apa maksudmu Daffian?"
"Turunlah. Akan aku jelaskan nanti. Sebaiknya kamu ikuti aku saja terlebih dahulu."
Aina mengangguk dan mengikuti langkah Daffian yang berjalan kearah toko bunga.
"Mas mau cari bunga apa?" tanya pemilik toko bunga.
"Bukankah mas ini yang pagi tadi membeli mawar merah dan mawar hitam?" Ia menatap Daffi dan Aina bergantian.
"Mawar hitam?" Aina menatap kearah Daffi.
"Apa maksudnya Daff?" Aina menatap intens kearah Daffian.
"Mawar hitam itu bunga yang di minta oleh ayahku untuk ibuku!" ucap Daffi. Ia beralih menatap penjaga toko bunga tersebut.
"Begini Mba, dia kekasihku dan kami kesini mencari sahabatnya. Kalau tidak salah dulu dia pernah bekerja disini."
Aina mengerutkan dahinya tidak mengerti tetapi Daffian merangkulnya dengan sangat erat dan memberikan beberapa kode untuk mengikuti permintaannya.
Pemilik toko menatap Aina dan Daffian bergantian.
"Ma'af, kalau boleh tahu siapa ya namanya?" tanya pemilik toko.
"Namanya Mahya. Iyakan sayang!?" ucap Daffi kembali mengerling kearah Aina.
"Iya benar. Namanya Mahya," sahut Aina dengan tersenyum paksa mengikuti permainan Daffian. Matanya mendelik kearah Daffi dengan rasa cemburu.
"Oh dia. Dia sudah lama berhenti bekerja disini."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Daffian pura-pura terkejut.
"Iya. Tentang alamatnya dan juga nomor handphonenya, ma'af kami tidak memilikinya. Soalnya dia tidak pernah memberitahukan alamatnya tinggal dan juga dia tidak punya handphone."
"Memangnya kalian ada perlu apa dengannya? Perasaanku tadi pagi juga ada lelaki yang mencarinya. Kalau tidak salah mengaku sebagai saudaranya."
Aina kembali menatap kearah Daffian, ia tersenyum manis.
"Kami sudah lama tidak bertemu dengannya dan ada hal penting yang ingin kami sampaikan padanya tetapi kami juga kehilangan kontak dengannya beberapa saat yang lalu," sahut Aina.
"Sekali lagi ma'afkan aku yang tidak dapat membantu kalian memberikan keterangan tentang Mahya."
"Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu. Terima kasih banyak untuk informasinya."
Aina menarik Daffian kearah mobil mereka. Ia menatap Daffian kesal. Bagaimana tidak kesal, baru kemarin mereka jadian, Daffian sudah menanyakan perempuan lain di hadapannya.
"Jelaskan padaku siapa itu Mahya!?"
"Sayang. Dia bukan siapa-siapanya aku. Aku hanya tidak sengaja mendengar percakapan lelaki misterius yang mengintai rumahku tadi pagi."
"Apa maksudmu? Dan apa hubungannya dengan wanita yang bernama Mahya ini?"
"Aku tidak tahu pasti. Aku hanya tanpa sengaja mendengar percakapan mereka pagi tadi, lelaki itu mencari wanita yang bernama Mahya. Tetapi saat aku pulang kerumah tadi pagi untuk mengambil berkas milik ayahku yang ketinggalan. Aku menemukan lelaki tersebut sedang mengintai kediaman kami."
Aina terkejut mendengarnya.
"Apakah kemungkinan ada wanita yang bernama Mahya di rumah kalian. Siapa tahu mereka adalah pembantu rumah tangga kalian."
Daffian menggeleng.
"Seharusnya kalau dirinya ingin mencari seseorang, dia tidak perlu mengintai rumah kalian seperti itu. Bukankah dengan bertanya pada satpam dia lebih bisa mendapatkan informasi yang akurat," sahut Aina.
"Iya. Kamu benar. Aku yakin kalau dia ada motif lain."
"Sebaiknya kamu selidiki orang tersebut, bisa saja dia sangat berbahaya atau juga mata-mata perampok!" ucap Aina.
"Iya. Sepulang kantor nanti aku akan mulai menyelidikinya. Sebaiknya kita mencari tempat untuk makan siang terlebih dahulu."
Aina mengangguk setuju.
***
Sudah 1 jam lamanya Daffian berada di ruangan CCTV rumahnya. Ia memperhatikan video yang terjadi pagi tadi.
"Daffian! Kakakmu sudah pulang dari berbulan madu!" teriak Rika dari balik pintu.
"Iya ma, Daffi akan segera keluar!" sahutnya.
"Daffa? Bagaimana perjalanan bulan madu kalian?" Daffian sudah berada di ruang keluarga.
"Sangat menyenangkan. Menikahlah Daffian agar kamu merasakan apa yang aku rasakan dan mendayung bersama menuju ke pulau impian setiap saat!"
Daffi hanya memutar bola matanya malas.
"Kalian ketinggalan berita. Daffian sudah jadian dengan Aina dan sebentar lagi dia juga akan melamar Aina," Rika menyela.
__ADS_1
"Benarkah? Kenapa tidak mengirimkan kabar padaku Daffi?" tanya Daffa.
"Aku tidak mau mengganggu acara kalian berdua untuk membuatkan ku keponakan yang banyak."
Azza tersipu malu mendengarnya.
"Azza, sebaiknya kamu istirahat terlebih dahulu. Kamu pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh," ucap Rika.
"Iya sayang sebaiknya kamu istirahat. Aku akan mengantarkanmu ke kamar," ucap Daffa.
"Alasannya selalu begitu, baru beberapa detik duduk disini malah ingin ke kamar!" cibir Daffian.
"Aku hanya sedang sibuk Daffian kalau ke kamar. Biar pesananmu cepat jadi," sahut Daffa tersenyum.
Daffian melongo mendengarnya.
"Baiklah. Buat yang banyak ya, kalau perlu buat 3 atau 4 sekali keluar nanti!" teriak Daffian.
"Memangnya anak ayam!" sahut Daffa menggandeng Azza menaiki anak tangga.
"Oh iya ma. Di rumah kita ini apakah ada wanita yang bernama Mahya?" tanya Daffian.
"Mahya?" Rika mengerutkan dahinya. "Jangan bertanya yang aneh-aneh deh Daffian. Kamu sudah tahu dengan jelas kalau di rumah kita tidak ada orang baru," sahut Rika.
"Memangnya kenapa?" Rika menatap penuh tanya.
"Bukan apa-apa ma," sahut Daffian cepat. "Mama sebaiknya istirahat saja, aku akan ke ruang kerja papa."
Rika mengangguk.
"Pa, apakah akhir-akhir ini kita ada memiliki musuh dalam dunia bisnis?" tanya Daffian setibanya di hadapan Angga.
"Memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu lagi?" tanya Angga sambil menutup berkasnya.
"Aku hanya waspada saja pa, siapa tahu mereka berniat mencelakakan keluarga kita."
"Itu tidak akan terjadi Daffian, selama papa, kamu dan Daffa menjaga keluarga kita dengan baik."
"Bagaimana hasilnya?" tanya Angga.
"Aku belum menemukan bukti apapun. Bahkan identitas lelaki itu juga belum di ketahui."
"Apa kamu perlu bantuan papa untuk menyelidikinya?"
"Tidak perlu pa, sebaiknya papa cukup menjaga mama saja."
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kamu cepat mendapatkan hasil dari penyelidikan ini."
"Baik pa."
•
•
•
__ADS_1
****