
Sesampainya Daffa dan Zainal di depan toko bunga tersebut. Toko tersebut masih tutup, keadaan di sekelilingnya juga tampak sepi karena toko tersebut memang berada di tempat yang jarang terdapat bangunan.
"Kita akan menunggu sampai toko itu buka!" ucap Daffa masih fokus menatap kearah toko yang tidak ada tanda-tanda kapan akan buka.
Iya yakin kalau gadis itu bekerja di toko bunga tersebut karena hanya ada bangunan toko itu yang terdapat disana.
Zainal yang merasa heran segera berbalik dan menatap Daffa dengan penuh selidik.
"Memangnya untuk apa kamu menunggu toko tersebut buka? Bukankah masih ada banyak toko bunga yang lain di kota ini?" heran Zainal.
"Bukan masalah bunga yang aku inginkan tapi masalah bunga yang ternodai yang ingin aku ketahui," sahut Daffa masih dengan nada dinginnya.
"Apa maksudmu?" Zainal memperhatikan Daffa dengan seksama. Ia merasa perubahan Daffa di pagi hari ini sangat drastis. Bahkan ia seperti orang yang senggol bacok.
"Aku tidak mengerti dengan bunga yang ternoda seperti kamu maksudkan." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Daffa mendesah, menutup matanya sesaat dan kembali membukanya. Ia menatap Zainal dengan intens.
"Kamu akan tahu jawabannya setelah toko itu buka!" Daffa kembali beralih menatap kearah toko yang rollingnya sudah bergerak naik ke atas.
"Ayo kita kesana!" Ajak Daffa yang hanya di angguki oleh Zainal dengan banyak teka-teki berkecamuk di kepalanya.
"Kamu minta rekaman CCTV tadi malam dan minta mereka untuk menghapusnya. Kalau mereka menolak, berikan sejumlah uang seperti yang mereka inginkan," ucap Daffa setelah ia melihat kamera CCTV yang terpasang di luar bangunan toko tersebut.
Zainal mengangguk mengerti walaupun ia tidak tahu masalah apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Setelah melakukan percakapan yang panjang dengan pemilik toko bunga tersebut, akhirnya Zainal bisa mendapatkan apa yang di minta oleh atasannya.
Ia berjalan dan menghampiri Daffa yang masih menunggunya di luar toko sambil menatap kearah seberang jalan. Zainal menyerahkan file tersebut kepada atasannya. Dengan cepat Daffa memasukkan file tersebut ke dalam laptop miliknya dan memutar ulang kejadian semalam.
Dengan perasaan tegang ia menantikan detik-detik yang akan terjadi selanjutnya setelah gadis itu menghampiri dirinya. Matanya melotot saat melihat wajah gadis tersebut, pikirannya kembali melayang pada beberapa menit yang lalu.
"Kita ke restoran yang kita singgahi tadi!" perintah Daffa.
Ia masih memperhatikan rekaman tersebut, bahkan sesekali ia meringis saat melihat dirinya yang memaksa gadis tersebut untuk melayani nafsunya.
"Apa kamu yakin rekaman yang ada di toko tadi sudah di hapus?" tanya Daffa. Matanya beralih menatap Zainal yang menyetir di depannya.
Zainal mengangguk sambil matanya melirik kearah kaca spion yang terletak di depannya.
"Tentu saja karena aku sendiri yang melakukannya setelah rekaman itu aku salin," jawab Zainal.
"Sebenarnya ada apa dengan rekaman itu?" tanya Zainal lagi. Ia begitu penasaran dibuatnya tapi ia tidak berani untuk menontonnya sendiri.
"Mengenai hidup dan matiku!" jawab Daffa tegas.
"Apa maksudmu?" untuk yang kesekian kalinya, Zainal kembali melontarkan pertanyaannya.
"Kamu akan tahu nanti setelah kita sampai di restoran tadi."
Lagi, hanya teka-teki yang di berikan oleh Daffa. Membuat Zainal semakin penasaran tapi ia merasa tidak pantas untuk banyak bertanya.
Dengan langkah tergesa Daffa segera masuk ke restoran tersebut setibanya mereka disana. Matanya memindai setiap pengunjung yang duduk di setiap meja.
Ia tidak sadar kalau gadis yang di carinya tadi sempat menatapnya sesaat sebelum mobil milik Febry meninggalkan restoran.
Daffa menghampiri resepsionis dan menanyakan keberadaan gadis gembel yang di lihatnya tadi.
Perasaannya berkecamuk karena merasa tidak puas dengan jawaban resepsionis tersebut.
Gadis gembel tadikah yang di perkosanya semalam. Sungguh penampilan gadis itu acak-acakan dan sangat buruk.
__ADS_1
"Zai, kita harus mendapatkan gadis gembel tadi, bagaimanapun caranya!" perintah Daffa pada Zainal.
Sedangkan Zainal hanya mengangguk saja.
Mereka segera masuk kembali ke dalam mobil.
"Kita akan kemana lagi?" tanya Zainal.
"Ke kantor saja!" sahut Daffa.
Tangan Daffa mengusap wajahnya, ia benar-benar frustasi di buatnya. Seandainya ia lebih awal mengetahuinya maka tidak akan sesusah ini ia mencari gadis gembel tadi.
"Cetak foto gadis itu dan carikan dia untukku!" perintahnya lagi.
Zainal kembali mengangguk walaupun sebenarnya ia tidak mengerti dengan situasi yang terjadi. Tetapi ia yakin kalau Daffa memiliki urusan yang besar dengan gadis tadi.
Sesampainya di kantor yang ada Daffa hanya melamun saja bahkan rapat dan pertemuan dengan sejumlah klien di tunda olehnya.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" heran Zainal.
"Kamu seperti orang yang baru putus cinta saja!" tambahnya lagi.
Daffa mendesah. Ia mengetok-ngetokkan bolpoin ke atas meja.
"Ini lebih dari orang yang baru putus cinta!" sahut Daffa.
Ia bersandar pada kursi miliknya matanya menewarang.
"Apa sebenarnya isi rekaman tadi sehingga kamu menyuruhku untuk menghapusnya?" Zainal begitu penasaran.
Daffa menatap sesaat kearah Zainal. Ia memijat dahinya sesaat.
"Aku meniduri seorang gadis yang bukan siapa-siapa bagiku. Bahkan aku melakukannya berulang kali dan memaksanya."
Zainal terhenyak mendengarnya. Ia tidak berkedip sedikitpun bahkan ia juga tidak mampu untuk membuka suaranya.
"Sebenarnya kejadian ini berawal saat kita meeting kemarin."
Zainal masih ingat saat Daffa tiba-tiba pergi dari pertemuan yang sedang berlangsung dalam keadaan marah sehingga membuat dirinya yang menggantikan Daffa.
"Aku mendapatkan sebuah notifikasi dari nomor yang tidak di kenal. Ia mengatakan tentang perselingkuhan Anggia di sebuah kamar hotel." Mendesah.
"Dia juga mengirimiku foto mereka yang tertidur dalam satu selimut."
Wajah Daffa kembali memerah saat mengingat semua itu.
"Awalnya aku tidak percaya. Tetapi dia mengirimiku alamat dan juga nomor kamar hotel tersebut."
"Karena penasaran, aku ingin memeriksanya sendiri. Dan ternyata benar apa yang di katakan oleh orang itu bahwa dia tidur dengan lelaki lain!" ucap Daffa.
"Apa kamu tahu siapa lelaki yang bersamanya?" tanya Zainal.
Daffa mengangguk.
"Laki-laki yang selama ini selalu di panggilnya atas nama sepupu. Bahkan baru hari kemarin aku tahu kalau Anggia selama ini selalu saja menipuku!" berdesis.
"Kenapa tidak kamu labrak saja dia bersama selingkuhannya?" heran Zainal.
"Aku hanya ingin tahu saja sandiwaranya akan bertahan sampai mana. Dan juga aku ingin tahu apa alasannya mau menikah denganku," sahut Daffa.
"Bukankah Anggia saat ini sedang hamil? Bagaimana kalau anak itu anak kamu?" tanya Zainal.
__ADS_1
Daffa terdiam mendengarnya.
"Aku tidak yakin mengenai itu. Siapa tahu anak itu anak lelaki lain! Buktinya saja ia masih mampu tidur dengan lelaki itu di saat dia sedang hamil," sahut Daffa.
"Bukankah selama ini aku selalu di berinya obat tidur setiap kali aku menginginkannya. Berarti selama ini aku tidak pernah melakukannya bersama dirinya," sambung Daffa lagi.
"Apa kamu seyakin itu?" tanya Zainal.
Daffa beralih menatap sahabatnya. Ada keseriusan dalam pertanyaannya.
"Kita akan menghubungi dr Aina. Aku ingin dia yang mengurus kehamilan Anggia. Dan juga aku ingin melakukan tes DNA pada bayi itu!"
"Baiklah. Aku akan menghubunginya. Tapi bukankah lebih baik kalau dirimu menemani dirinya untuk memeriksa kandungannya terlebih dahulu."
Daffa melirik tajam kearah Zainal.
"Bukan. Bukan itu maksudku. Kamu jangan salah paham dulu. Aku mengatakan ini agar kamu tahu berapa usia kandungannya dan kamu bisa membandingkan usianya dengan usia pernikahan kalian."
Daffa tampak berpikir. Ia mengangguk kemudian.
"Lalu. Bagaimana dengan nasib gadis yang sudah kamu nodai itu Daff?"
Daffa kembali merasa frustasi saat di ingatkan mengenai itu. Apalagi setelah ia teringat dengan kemarahan ibunya.
"Aku akan bertanggung jawab!" sahut Daffa mantap.
"Berarti kamu berpoligami!"
"Tidak. Aku tidak akan melakukannya karena ini yang pertama untuk gadis itu."
"Lalu bagaimana nasib Anggia? Bukankah dia sedang hamil. Apa kamu tega menceraikannya?"
"Apa kamu sedang mengasihani wanita itu atau kamu sedang membelanya?"
Tatapan Daffa menajam.
"Tetapi perlu kamu tahu Zai, aku juga tidak bisa mema'afkan perselingkuhannya begitu saja, Zai. Apalagi selama ini dia selalu saja menipu diriku!" sahut Daffa dengan amarah.
"Tapi dia hamil, Daff."
"Belum tentu itu darah dagingku, bisa sajakan darah daging lelaki selingkuhannya!"
"Iya. Sebaiknya kamu istirahat saja dahulu. Aku akan mencari informasi mengenai gadis tadi sekaligus mencari keberadaannya."
Daffa mengangguk.
"Oh iya. Kenapa kita tidak langsung saja tadi menanyakannya pada pemilik toko bunga tersebut?" ucap Zainal.
Zainal memukul kepalanya sendiri. Ia terkekeh dengan dirinya yang juga ikut panik.
"Benar juga! Sebaiknya kamu saja yang kesana dan menanyakannya!" perintah Daffa.
"Baiklah! Aku akan pergi sekarang saja!" sahut Zainal berdiri.
•
•
•
*****
__ADS_1