Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Kebersamaan Azza Dan Daffa


__ADS_3

Pagi harinya Daffa terbagun dan meraba sisi tempat tiduenya. Rupanya Azza sudah susuk terlebih dahulu. Dengan cepat ia meraih pakaian yang berserakan miliknya dan memakainya kembali.


Ia meraih telponnya dan menelpon asistennya.


"Zainal. Bawakan pakaianku ke rumah Azza!" perintahnya.


Ia mematikan telponnya dan berjalan keluar kamar. Tercium aroma masakan yang menggugah selera.


"Kamu masak apa?" Daffa langsung memeluk Azza yang sibuk mencuci panci dan wajan bekas memasak.


"Lepas, Daff. Kamu menggangguku!" ucap Azza.


"Apa aku benar-benar mengganggumu? Bagaimana kalau aku mengganggumu seperti tadi malam?" goda Daffa.


Anggia menunduk dalam, pipinya merona. Ia mengutuk dirinya yang terbuai dengan sikap Daffa padanya yadi malam padahal sebelumnya ia sangat marah pada lelaki itu.


"Daff, sebaiknya kamu mandi sana. Setelah itu kita sarapan!" Azza mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah. Aku akan mandi. Tapi setelah mandi kamu maukan aku peluk?" goda Daffa.


Tangan Azza bergerak tanpa sadar mencubit pergelangan tangan Daffa yang masih melingkar di perutnya. Lelaki ini begitu pandai mengaduk-aduk perasaannya.


"Baiklah. Baiklah. Aku akan mandi, jangan di cubit lagi."


Daffa melepaskan pelukannya dan berjalan kearah kamar mandi yang terdapat di ruang dapur tersebut. Tetapi sebelum itu ia mencuri kecupan di bibir Azza sehingga membuat wanita itu menatap horor padanya.


Tok tok tok


"Sayang, tolong bukakan pintu. Pasti Zainal yang datang!" teriak Daffa dari kamar mandi.


Azza bergegas ke pintu depan. Ia terkejut saat mendapati Daniyal yang berdiri di depan pintu.


"Azza, katanya kamu sudah menikah dengan lelaki brengs*k. Mana lelaki yang sudah membuatmu sengsara itu?"


Daniyal langsung masuk kekediaman Azza dan mencari-cari keberadaan lelaki yang di maksud olehnya.


"Daniyal, jangan mengganggunya. Dia sudah bertanggung jawab. Biarkan aku hidup bersamanya."


"Ma'afkan aku karena pada saat itu aku tidak ada di dekatmu. Aku ada kegiatan di luar daerah!" Menatap Azza dengan rasa bersalah.


"Siapa dia, Azza!!?" tanya Daffa dengan suara dingin. Menatap Daniyal dengan tatapan tajam.


"Dia, dia adalah ---."


"Aku adalah kakak angkat Azza. Kamu lelaki brengs*k itukan? Yang sudah merusak masa depannya," tunjuk Daniyal tepat di depan wajahnya.


"Alasan yang bulshit!" maki Daffa.


"Aku tidak ingin kamu terlalu dekat dengannya, apalagi mengatas namakan hubungan kalian dengan kata kakak ataupun sepupu."


Tangan Daffa menarik Azza supaya berdiri di sisinya. Ia mengalungkan tangannya di pinggang Azza. Membuat wanita muda itu menegang.

__ADS_1


"Haha... santai saja. Aku tidak akan macam-macam seperti yang ada di pikiranmu itu!" sahut Daniyal.


"Lagi pula, aku kesini hanya ingin berkenalan dengan saudara iparku saja!" tambahnya lagi.


"Melihat suamimu cemburu seperti ini aku merasa senang. Karena dia mulai menyukaimu," bisik Daniyal tepat di telinga Azza.


"Apa yang kamu bisikkan padanya. Jangan katakan kalau kamu yang menghasutnya."


"Percuma saja aku datang kesini kalau ternyat aku sedang mengganggu waktu kalian berdua."


Daniyal tidak menghiraukan Daffa. Matanya tertuju pada titik merah di leher Azza.


"Apa yang kamu lihat!" Daffa segera menutupi leher istrinya dengan membetulkan rambut Azza. Sedangkan Azza sudah merasa tidak berpijak di lantai lagi karena saking malunya.


"Cepat keluar! Kamu mengganggu!" usir Daffa. Ia kesal dengan lelaki asing yang dekat dengan Azza tersebut.


Daffa langsung menghimpit Azza ke dinding.


"Jangan katakan kalau dia adalah kekasihmu."


Azza menggeleng.


"Dia bukan kekasihku. Dia memang benar kakak angkatku," sahut Azza dengan bergetar.


Azza memejamkam matanya saat tangan Daffa menyentuh dahinya. Sentuhan Daffa berubah jadi belaian dan menjalar ke pipi, hidung dan terakhir bibirnya. Tanpa aba-aba Daffa langsung melum*t bibir ranum yang sejak tadi menggugah seleranya.


Ia mengangkat Azza kearah kamar mungil tersebut dan kembali melakukan penyatuan untuk yang kesekian kalinya.


"Rasanya sangat nikmat!" gumam Daffa setelah mereka selesai melakukannya. Tangannya bergerak membelai kepala Azza.


Azza terdiam mendengarnya. Ia berpaling dan menatap Daffa yang sudah memejamkan matanya.


Tok tok tok


"Ada tamu. Aku akan membukakan pintu untuknya!"


Azza memgangkat tangan Daffa dan menggesernya.


"Kamu diam saja disitu. Aku tidak ingin orang lain melihatmu dalam keadaan seksi seperti itu. Biar aku saja yang membukanya!" tolak Daffa.


Azza hanya mengangguk dan menaikkan selimut hingga sebatas dadanya.


"Zainal mana pakaianku?" ucap Daffa setelah ia mendapati Zainal yang berdiri di balik pintu.


"Ini." Zainal menyerahkan paperbag yang ada di tangannya.


Zainal memperhatikan dengan seksama keadaan Daffa, mulai dari rambutnya yang acak-acakan hingga Daffa yang hanya berbalut handuk saja.


"Jangan menatapku seperti itu. Kamu sepertinya sangat tergoda denganku dan memiliki kelainan."


"Sialan kamu. Aku masih normal dan masih menyukai wanita. Aku hanya tidak menyangka saja kamu bisa memenangkan hatinya secepat ini," ucap Zainal.

__ADS_1


"Diamlah. Azza sedang istirahat di kamar!" ucap Daffa.


Zainal terkekeh mendengarnya. Ia mengerti apa saja yang barusan terjadi diantara mereka.


"Kamu tunggu disini. Aku akan mandi sebentar, setelah itu ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu!"


Zainal mengangguk.


Setelah Daffa selesai mandi, ia segera menghampiri Azza yang masih bergelung di atas ranjang. Wanita itu terlihat menggemaskan di matanya.


"Za, mandi dulu. Setelah itu kita sarapan."


"Sarapan? Bukankah ini sudah hampir siang?" gumam Azza.


Daffa terkekeh mendengarnya. "Iya, sarapannya tadi sudah kita lakukan bersama. Bagaimana kalau kita makan siang lagi disini?" goda Daffa.


Azza menatap horor kearah Daffa. Ia bergegas berlari kearah kamar mandi. Sedangkan Daffa segera berjalan kearah ruang tamu.


"Cari keberadaan Alfa. Aku ingin berbicara berdua dengan dirinya mengenai Anggia!" perintah Daffa.


"Kenapa harus Alfa?" tanya Zainal.


"Karena Alfa harus bertanggung jawab atas apa yang sudah di tanamnya dan dia juga yang harus menuainya. Jangan sampai anak itu nasibnya sama seperti nasib Anggia."


"Baiklah. Aku akan segera mencarikan informasi keberadaannya untukmu."


"Besok sore aku sudah harus bertemu dengannya. Ingat! Jangan telat!"


Zainal memgangguk.


"Hari ini aku ke kantor agak siangan. Sebaiknya kamu cancel dulu jadwalku."


Zainal tersenyum, ia senang mendengarnya apalagi sekarang wajah Daffa terlihat sangat segar dan berseri-seri.


Selepas Azza dan Daffa sarapan. Daffa membawa Azza pulang kekediaman ibunya.


"Azza, kenapa kamu tidak pulang kemarin? mama sangat mengkhawatirkanmu," sambut Rika.


"ma'afkan Azza ma, Azza tidak memberi tahu mama terlebih dahulu kemarin. Azza hanya berkunjung ke makam orang tua Azza sekaligus Azza melihat rumah Azza."


"Tidak apa-apa sayang. Mama justru senang melihat kalian bersama pagi ini!" sahut Rika.


"Kalau begitu, Azza aku titipkan pada mama. Aku mau pergi ke kantor sekarang ma!" celetuk Daffa.


Azza segera meraih tangan Daffa dan mengantarnya hingga ke pintu utama. Mata Azza terpaku saat mendapati sebuah mobil yang memasuki halaman setelah Daffa menghilang dari pandangannya.


Anggia keluar dari mobil miliknya setelah mobil berhenti tepat dihadapan Azza.



__ADS_1



***


__ADS_2