
Daffa saat ini sedang berada di ruang meeting bersama para karyawannya. Handphone miliknya bergetar, ia menjeda pembicaraannya sesaat dan melihat notif dari handphone miliknya.
Sebuah foto yang di kirim oleh nomor yang tidak di kenal, Anggia sedang bercumbu dengan seorang lelaki yang perawakannya cukup di kenal oleh Daffa. Bahkan latar belakang mereka seperti berada di sebuah kamar hotel.
"Jika kamu masih ragu, datang dan lihat langsung ke kamar 705, hotel xxx," nomor tak di kenal.
Rahang Daffa mengeras, tatapan matanya tajam bahkan gemelatuk giginya terdengar. Tanpa sadar ia menggebrak meja membuat semua karyawan terkejut dan menatap kearahnya. Tanpa aba-aba ia berdiri dan meninggalkan meeting yang sedang berlangsung begitu saja.
Menimbulkan banyak tanya dari para karyawannya. Bahkan baru kali ini mereka melihat kemarahan atasan mereka. Padahal dia sebelumnya adalah pimpinan yang baik dan murah senyum.
Daffa memacu mobilnya dengan kecepatan penuh bahkan ia menyelip setiap mobil yang menghalangi jalannya.
Perjalanan yang harusnya memakan waktu 40 menit dia habiskan hanya dalam 20 menit.
"Aku ingin kunci sirep dari kamar 705!" ucap Daffa pada resepsionis, setibanya ia di hotel yang sesuai dengan alamat nomor misterius yang di kirimkan padanya.
"Ma'af tuan, kami tidak bisa memberikan kunci tersebut pada Anda, mengganggu privasi tamu kami," sahut resepsionis tersebut dengan takut-takut.
"Di dalam sana ada istriku bersama orang lain. Apakah hotel kalian mau aku tutup!?" ancam Daffa marah.
"Tapi__."
"Telpon bosmu sekarang juga, katakan padanya kalau Daffa Rahardian ingin menuntut hotel ini karena melindungi perselingkuhan!"
Resepsionis tersebut terbelalak setelah mendengar nama Daffa Rahardian. Dengan gemetar ia menyerahkan kunci yang di minta oleh Daffa.
"Tutup mulutmu mengenai semua ini. Ingat, kariermu berada di tanganku. Kalau sampai bocor mengenai semua ini, maka kamu adalah orang pertama yang aku cari!"
Resepsionis tersebut mengangguk samar bahkan ia gemetar dan berkeringat dingin karena saking takutnya.
Dengan perasaan tidak karuan, ia berjalan melewati setiap lorong hotel yang di laluinya. Bahkan langkahnya setengah berlari sambil mencari-cari keberadaan kamar hotel dengan nomor 705.
"Cepat buka kamar ini!" perintah Daffa pada petugas hotel yang bersamanya, membuat petugas hotel tersebut kicep.
Setelah pintu kamar terbuka, amarah Daffa semakin naik ke ubun-ubun. Ia melihat sendiri kalau istrinya sedang tertidur di samping lelaki yang selalu di sebutnya sebagai sepupu. Bahkan mereka tidur hanya di tutupi oleh selimut yang sama dan tanpa baju.
Daffa melangkah maju, tapi ia kembali mundur. Percuma ia membangunkan Anggia, semua pengkhianatannya sudah di depan mata dan rasanya itu membuatnya sangat sakit. Lebih sakit dari apapun di dunia ini. Wanita yang paling di percaya dan paling di cintainya tega mengkhianatinya.
Daffa kembali berbalik dan memacu mobilnya kesembarang arah. Bahkan ia memutari kota yang luas itu berkali-kali hingga malam hari. Hingga matanya melihat sebuah club malam yang sudah buka.
Dengan langkah gontai ia masuk kedalam club malam, pikirannya benar-benar kalut.
Duduk di depan sebuah bar yang terdapat seorang bartender di depannya.
"Kocktail!" pesan Daffa.
Bartender memperhatikan Daffa dengan seksama karena ia baru kali ini melihat keberadaan Daffa disini bahkan pakaiannya dalam keadaan acak-acakan. Dia pikir kalau Daffa pasti sudah di campakkan oleh kekasihnya di lihat dari segi wajahnya yang masih muda.
"Apa yang terjadi denganmu, sepertinya kamu sangat kacau hari ini?" tanya Bartender tersebut sambil meracik minuman yang di pesan oleh Daffa.
"Istriku selingkuh dengan lelaki yang disebutnya sebagai sepupu!"
Bartender tersebut memperhatikan wajah Daffa dengan seksama. Ia merasa kasihan dengan Daffa. Lelaki di depannya ini sepertinya masih muda dan sudah menikah serta memikul tanggung jawab yang besar.
"Berapa usiamu?" tanya Bartender.
"21 tahun!" sahut Daffa.
"Seharusnya di usiamu sekarang ini kamu masih harus bersenang-senang bersama teman-temanmu," gumamnya.
__ADS_1
Tawa Daffa pecah, ia meraih minuman haram tersebut dan langsung meneguknya sampai tandas.
Daffa memejamkan matanya saat merasakan sensasi minuman tersebut melewati tenggorokannya. Rasa panas membakar mengaliri perutnya, tapi lebih panas lagi hatinya.
"Tambah lagi!" pintanya.
"Karena aku takut kehilangannya maka aku menikahinya di usia semuda ini. Tapi ternyata cintaku tidak cukup untuknya, juga semua hartaku!"
Ia kembali menenggaknya dengan cepat.
Bartender hanya menatap miris kearah Daffa yang sudah mulai meracau.
"Lagi!!" Daffa menyodorkan gelasnya. Ini yang ke-4 ia meminta ditambahkan.
"Cukup! Kamu sangat mabuk!" tolak bartender tersebut.
"Seharusnya kamu menyelesaikan permasalahan kamu dengan bicara baik-baik, bukan melampiaskannya dengan cara mabuk seperti ini," ucap Bartender.
Hanya minum 3 gelas saja, Daffa sudah sempoyongan bahkan kepalanya sangat pening.
"Aku ingin pulang dan menghampiri istri tercintaku!" racaunya.
"Tapi tuan, Anda sedang mabuk dan berbahaya kalau menyetir dalam keadaan mabuk!" sahut petugas club malam.
"Aku tidak mabuk. Aku hanya pusing dan aku masih normal!"
Daffa mendorong petugas club malam tersebut yang ingin menolongnya.
"Tuan, saya akan menghubungi seseorang untuk menjemput tuan!" ucapnya.
"Tidak perlu. Aku masih bisa menyetir!"
Daffa memacu mobilnya dengan kecepatan tidak beraturan bahkan sepanjang jalan ia terus saja tertawa, mentertawakan kelakuan istri bodohnya.
Tiba-tiba ia merasakan perutnya bergejolak, ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.
Tepat di tempat yang sepi, ia menghentikan mobilnya. Daffa menatap sekitarnya, tampak di seberangnya sebuah toko bunga yang sudah tutup.
Bergegas ia turun dari mobil dan memuntahkan semua isi perutnya. Hingga ia mendengar sebuah suara lembut dan merdu di belakangnya.
"Tuan! Apakah tuan baik-baik saja?"
Seorang gadis dengan penampilan sederhananya sedang berdiri dan memperhatikan Daffa yang sedang muntah. Ia merasa kasihan dan bermaksud ingin menolongnya.
Daffa berbalik, ia memindai penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.
"Cantik!" gumamnya diselingi dengan tawanya. "Tapi kalian muarahan!" sambungnya meracau.
Membuat perempuan tersebut menyadari kalau lelaki di depannya ini sedang mabuk. Tercium dari aroma mulutnya yang berbau alkohol dan menusuk.
Ia bergerak mundur, tapi belum beberapa langkah tangannya sudah di cekal dan di tarik oleh Daffa.
"Kamu sangat cantik dan aku menyukaimu!!" racau Daffa dan melempar gadis tersebut ke dalam mobil.
"Tuan! Sadar tuan, Anda sedang mabuk!" teriak gadis tersebut.
Ia tidak bisa berlari karena Daffa sudah mengunci pintu mobil dan menindih tubuhnya.
Seluruh tubuh gadis tersebut bergetar, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tangisnya pecah saat Daffa sudah berhasil melepaskan seluruh pakaiannya.
__ADS_1
"Tolooonngggg!!" teriak gadis itu sambil meronta-ronta, tapi percuma saja. Yang ada justru dirinya semakin kehabisan tenaga.
Ia kembali meronta-ronta sekuat tenaga saat Daffa menciuminya, tapi Daffa lebih kuat dari dirinya hingga ia tidak berdaya lagi karena Daffa memegang tangannya dengan kuat.
"Toooollll...." teriakannya tenggelam dengan bungkaman mulut yang di berikan oleh Daffa.
Percuma ia berteriak kalau pada akhirnya keperawanannya sudah berhasil di rampas oleh Daffa.
Entah kenapa suasana di sekitar mereka yang biasanya masih ada orang berlalu lalang pada jam begini, malam ini justru terlihat sangat sepi.
Tangis gadis itu pecah saat Daffa sudah menggesekkan miliknya pada milik gadis tersebut. Dan sekuat tenaga ia menahan perih saat Daffa berhasil menerobos miliknya, rasanya badannya terbelah dua.
Tanpa ampun Daffa menggenj*tnya hingga ia puas dan memuntahkan miliknya di dalam sana.
Sedangkan gadis manis tersebut terus-menerus menangis dan mengutuki setiap perbuatan Daffa padanya. Bahkan ingin rasanya ia menghancurkan kepala lelaki brengsek yang sudah tertidur di sampingnya setelah puas memuaskan hasrat binatangnya.
Dengan tangan gemetar, ia memungut pakaiannya yang sudah robek di beberapa bagian. Beruntungnya pakaian itu masih bisa di pakai. Bahkan rambutnya juga sangat berantakan dan acak-acakan. Tapi ia tidak perduli dengan semua itu.
Ia takut kalau lelaki brengs*k itu akan bangun dan kembali memangsa dirinya.
Gadis itu memaksakan dirinya untuk pergi menjauhi Daffa yang sangat berbahaya menurutnya. Menyesal ia menghampiri lelaki tersebut. Seharusnya ia tadi segera pulang saja ke rumah tanpa menghiraukan lelaki yang ternyata mabuk tersebut.
Dengan langkah gontai Azza meraih sepeda motornya yang terparkir di halaman toko bunga tempatnya bekerja. Ia tidak ingin pulang sekarang, bisa-bisa sahabatnya akan marah padanya melihat keadaannya yang kacau balau.
Ia menatap jam di pergelangan tangannya, hari sudah hampir subuh. Rupanya lelaki tadi menidurinya sampai berjam-jam lamanya.
Azza masih merasakan rasa perih yang luar biasa di selangkangannya. Bahkan yang lebih perih lagi ada pada hatinya.
Lelaki brengs*k itu bahkan melakukannya berulang kali tanpa berhenti. Airmata Azza kembali menetes saat mengingat kejadian yang memilukan tersebut.
***
Daffa menyipitkan matanya saat matahari megenai wajahnya. Ia bangun dan menatap di sekitarnya. Toko bunga masih tutup.
"Apa yang terjadi padaku tadi malam?" gumam Daffa sambil menatap kesekelilingnya. Ia menatap dirinya sendiri dan alangkah terkejutnya saat mendapati dirinya tanpa celana.
Matanya beralih menatap kearah burungnya yang tampak memutih karena banyaknya sisa-sisa sp*rma yang mengering.
Matanya beralih menatap kearah kursi mobilnya yang meninggalkan bercak darah.
Dengan sekuat tenaga ia kembali mengingat kejadian tadi malam. Matanya membulat setelah ia mengingat bayangan yang melintas di benaknya. Ia menyadari kalau dirinya sudah memperkosa seorang gadis yang tidak di kenalnya. Penyatuan itu samar-samar muncul di ingatannya, bahkan rasa membumbung tinggi masih sedikit ia rasakan.
"Seperti itukah rasanya bercinta?" gumamnya tanpa sadar.
"Bodoh, bodoh, bodoh!!" Daffa mengumpati dirinya sendiri yang melakukan hal bejat pada seorang gadis.
Matanya kembali memindai sekitarnya, perasaannya semakin kalut. Bahkan kali ini ia membuat kesalahan yang sama seperti istrinya, selingkuh.
Hah, masih pantaskah ia disebut sebagai istri. Tapi nyatanya ia sudah menipu dan mengkhianati suaminya sendiri.
Daffa kembali mengumpat, tapi umpatan kali ini bukan tertuju padanya tapi tertuju pada istrinya.
Dan sekarang dirinya harus apa, karena sudah melakukan hal yang salah.
•
•
•
__ADS_1
*****