
Sesampainya di kediamannya, Daffa disambut oleh pelayannya. Matanya mengedar keseluruh penjuru rumahnya untuk mencari keberadaan istrinya. Tercium aroma masakan dari arah dapur.
"Siapa yang masak?" Daffa berhenti dan menatap pelayannya yang masih mengikuti di belakangnya.
"Nyonya, Tuan," sahut pelayan tersebut dengan menundukkan sedikit kepalanya.
"Kapan dia pulang!?" Nada suara Daffa terdengar kembali dingin.
"Ma'af Tuan, nyonya tidak pergi kemana-mana. Semalaman nyonya menunggui kedatangan tuan," sahut palayan tersebut gelisah dengan meremas tangannya.
Daffa hanya bisa menyunggingkan senyum sinisnya mendengar penuturan pelayan tersebut. Ia memperhatikan gestur pelayan tersebut dengan seksama.
"Main sandiwara lagi? Baiklah akan aku layani," gumam Daffa dalam hatinya.
Ia melangkah lebar kearah dapur untuk melihat keadaan istrinya. Sesampainya disana ia memindai tubuh istrinya dari atas sampai kebawah. Ada perasaan jijik menghinggapi dirinya saat melihat tubuh istrinya.
"Perempuan hina dan munafik!" Maki Daffa dalam hati.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Anggia berbalik dan tersenyum berlari kearah suaminya. Ia bergerak ingin memeluk suaminya, namun Daffa sudah menangkisnya terlebih dahulu.
Ia berdehem sesaat untuk kembali mengubah raut wajahnya yang kaku.
"Ma'af sayang, aku tidak sengaja." Daffa berjalan menghampiri Anggia yang terhuyung karena tangkisannya tadi.
"Aku belum mandi, honey!" Daffa menciumi seluruh tubuhnya dengan raut yang dibuat-buat jijik.
"Baiklah. Kamu mandi terlebih dahulu. Sebentar lagi sarapan akan siap," Anggia tersenyum kearah suaminya.
Daffa hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Anggia yang menatapnya dengan nanar. Ia mengepalkan tangannya dengan penolakan Daffa. Ia merasa terhina karena baru kali ini Daffa menolak dirinya.
Senyum yang semula menghias bibirnya perlahan sirna tergantikan dengan aura marah dan kesal luar biasa.
Anggia meraih handphone yang ada di dalam kantong bajunya. Ia menekan nomor seseorang.
"Halo. Sayang, ma'af aku meninggalkanmu sepagi tadi," Anggia berpaling berjalan kearah dapur tanpa tau bahwa ada kuping yang berlindung di balik pintu.
"Kamu taukan kalau suamiku akan curiga apabila aku tidak pulang," jawab Anggia lagi dengan suara manja.
"Tenang saja. Aku pasti akan menjaga diriku dengan baik," jawabnya lagi sambil mengakhiri sambungan telpon.
Daffa bergegas berjalan meninggalkan ruangan dapur dengan perasaan marah luar biasa. Haruskah ia tetap bersandiwara meladeni wanita ular tersebut.
Daffa menyugar rambutnya frustasi. Belum lagi ia harus mencari identitas gadis yang di perkosanya tadi malam.
Gadis itu? Daffa bergegas ke kamar mandi setelah teringat pada gadis yang di perkosanya tadi malam.
Setelah beberapa menit lamanya ia sudah siap dengan pakaian lengkapnya, bahkan sudah terlihat lebih baik.
"Sayang. Sarapan sudah siap!" Anggia berteriak di balik pintu kamarnya.
Daffa hanya acuh saja sambil meraih kunci mobil miliknya. Ia membuka pintu dan mendapati Anggia yang berdiri di depan pintu.
"Gia. Aku ada rapat dadakan pagi ini. Jadi aku tidak bisa sarapan bersamamu. Ma'af ya sayang," Daffa meraih kepala istrinya dan membelainya dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Semua pergerakan itu membuat Anggia terpaku. Ia merasa kalau Daffa sudah berubah dalam hitungan jam saja. Ada apa dengan lelaki itu pagi ini dan kenapa ia memperlakukan Anggia sekaku itu.
Biasanya ia tidak pernah menolak ajakan Anggia untuk sarapan bahkan Daffa selalu memberikannya ciuman sebagai ucapan selamat pagi, tapi kali ini berbeda. Ia berpaling menatap Daffa yang sudah membuka pintu utama dan menghilang di balik pintu tersebut.
Daffa memacu mobilnya dengan perasaan gelisah. Pikirannya hanya terpaku pada gadis yang di perkosanya tadi malam. Ia menghentikan laju mobilnya saat ia merasa tidak fokus dengan jalanan.
Beberapa kali ia memukul stir mobil dan menatap kearah kanan dan kiri jalanan. Matanya beralih menatap kearah handphone yang tergeletak di dasboardnya.
Dengan gerakan cepat ia membuka pesan misterius yang terkirim semalam untuknya dari seseorang yang tidak di ketahui. Pesan itu menyampaikan tentang keaadaan dan keberadaan istrinya di kamar hotel dan lengkap dengan nomor kamarnya.
"Siapa pemilik nomor ini dan kenapa dia tahu tentang Anggia dan apa tujuannya memberitahukan padaku," gumam Daffa masih fokus menatap handphonennya.
Daffa menatap handphonenya nanar saat ada panggilan masuk dari asistennya.
"Zai, ada apa?" Daffa mendesah setelahnya.
"Kamu dimana?" terdengar suara cemas dari seberang sana.
Daffa terkekeh setelah mendengar kecemasan asisitennya.
"Aku ada di jalan xxx," jawab Daffa sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Aku akan kesana. Kamu tunggu aku dan jangan kemana-mana," Zainal mengakhiri sambungan telponanya.
"Dasar Zainal, disini siapa yang jadi bosnya dan siapa yang lancang mengakhiri pembicaraan," gerutu Daffa masih menatap handphone yang panggilannya sudah di akhiri oleh asistennya.
Perut Daffa terdengar berbunyi keroncongan. Ia segera turun dari mobilnya dan menatap sekelilingnya, rupanya ada resto yang dekat dan sudah buka.
Dengan gaya elegant ia duduk pada meja yang ada di ruangan tersebut. Seorang waitres datang dan menghampirinya. Menyapanya dengan sopan dan menyuguhkan buku menu kehadapannya.
Setelah waitres tersebut berlalu, mata Daffa kembali mengedar memandangi ruangan restoran tersebut. Memindai setiap penghuni yang tidak seberapa jumlahnya, bahkan bisa di hitung menggunakan jari.
Matanya beralih pada pojok ruangan, menatap seorang gadis yang tampak kucel dan beranatakan, sedang duduk membelakanginya.
"Apakah restoran ini juga menerima seorang pengemis?" gerutunya pada dirinya sendiri.
Sekali lagi ia menatap kearah gadis yang terlihat kucel tersebut. Pakaiannya tampak robek di beberapa tempat, Daffa merasa kasihan melihatnya. Bahkan tatapan gadis itu terlihat putus asa. Ia tidak memperdulikan di sekelilingnya yang sejak tadi menatap kearahnya.
"Hei. Apa yang sedang kamu lihat?" Zainal datang dan duduk tepat di hadapan Daffa. Ia menghalangi pandangan Daffa dari gadis kucel tersebut.
Zainal beralih menatap kearah pandangan Daffa. Tawa seketika terdengar dari mulutnya.
"Selera kamu tiba-tiba berubah. Dan sekarang sepertinya kamu sangat tertarik dengan gadis yang berpenampilan kucel dan acak-acakan."
Daffa seketika langsung melotot mendengar ucapan sahabatnya. Ia kesal di buatnya, pagi hari yang semakin berantakan menurutnya.
"Iya. Aku tau kalau kamu memiliki istri yang cantik dan glamour di rumah. Bahkan kamu sangat mencintainya," sahut Zainal lagi.
Daffa tampak geram mendengarnya saat ia di ingatkan mengenai Anggia. Kejadian semalam kembali berputar di benaknya, rasa laparnya seketika langsung menghilang.
"Kamu! Ikuti aku sekarang juga!" Daffa berdiri dan berjalan meninggalkan meja yang di tempatinya dengan meninggalkan sejumlah uang ces di atas meja sebagai pengganti makanan yang sempat ia pesan tadi.
"Hei, bukankah kita ingin sarapan. Kenapa kita mesti pergi!" protes Zainal.
__ADS_1
Daffa tetap berjalan dan tidak menghiraukan ucapan Zainal yang pada akhirnya mengikutinya di belakang.
Mereka memasuki mobil dengan Zainal yang berada di balik kemudinya.
"Kita ke toko bunga yang ada di jalan xxx!" Perintah Daffa pada Zainal.
"Untuk apa kita kesana? Bukankah itu berlawanan dengan arah kantor?" protes Zainal.
"Ikuti saja perintahku atau kamu mau aku pecat!" Daffa menatap kesal kearah Zainal.
Zainal hanya mampu meringis dan mengangguk. Kalau mengenai pemecatan, apapun perintah dari sahabat sekaligus atasannya tersebut pasti akan di turutinya.
"Memangnya ini hari apa sehingga kamu tertarik untuk membeli bunga?" Zainal masih mengoceh sambil menyetir.
"Apa jangan-jangan istrimu sedang ngidam bunga?" Zainal menatap sekilas kearah Daffa.
"Berarti kamu menganggap dia kunti," sahut Daffa.
Daffa kembali berdecak tidak suka mendengar ucapan Zainal tersebut. Ia seketika berubah menjadi dingin, dan mengalihkan tatapannya kearah tepi jalanan.
Zainal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku selidiki disana," sahut Daffa. Ia masih tetap dengan sikap dinginnya.
Sedangkan Zainal hanya diam saja. Ia tahu kalau Daffa sedang berada pada waktu yang tidak tepat apabila dia terus-menerus menggodanya.
"Dan itu akan menjadi tugasmu yang selanjutnya," sambung Daffa lagi.
Zainal hanya mengangguk saja. Apabila menyangkut tugas, ia akan sangat serius dalam menanggapinya.
"Kemarin. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan kenapa kamu meninggalkan rapat tiba-tiba? Apa ada masalah denganmu?"
Daffa berbalik menatap Zainal.
"Anggia menyelingkuhiku kemarin!" sahut Daffa tenang.
"Apa!!? Bagaimana bisa!!? Lelaki sempurna seperti dirimu bisa di selingkuhi oleh seorang wanita!!?"
Zainal memginjak remnya mendadak. Dan beruntungnya tidak ada satu mobil pun di belakang mereka.
"Hei. Menyetir yang benar. Kalau tidak maka kita akan mati sia-sia disini!!" teriak Daffa.
"Ma'af bos, aku hanya terkejut saja," menyengir.
"Pantas saja kamu tidak kembali lagi. Bahkan ponsel milikmu juga mati!" sahut Zainal kembali menjalankan mobilnya.
•
•
•
***
__ADS_1