Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Pergi ke Rumah Tahanan


__ADS_3

Daffa kembali menghampiri Daffian yang masih berada di ruang keluarga dengan beberapa berkas di tangannya.


"Kenapa tadi buru-buru pergi? Apakah kamu tidak sabar untuk membuat keponakan untukku?" canda Daffian acuh.


"Aku hanya mengambil beberapa berkas saja," sahut Daffa.


"Kamu yakin ingin bekerja disini? Disini berisik loh." Daffian membesarkan volume televisi yang di tontonnya.


"Apa-apaan kamu Daffian. Kecilkan volume televisi itu! Kamu persis seperti anak kecil!" perintahnya dengan kesal.


"Baiklah-baiklah!" Daffian kembali mengecilkan suara televisi tersebut.


"Coba kamu perhatikan identitas Azza."


Daffian menatap kearah berkas yang di serahkan oleh Daffa. Ia membulatkan matanya setelah melihat nama Azza.


"Kenapa aku tidak tahu nama panjang Azza," gumam Daffian. "Jadi yang di carinya adalah Azza. Ada hubungan apa diantara mereka?"


Daffa langsung mendelik tidak suka mendengar pertanyaan Daffian.


"Istriku tidak seperti itu!" ketusnya.


Daffian langsung melongo dibuatnya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa yang salah dengan pertanyaanku," gumam Daffian.


"Tadi siang Azza di hampiri oleh Anan dari perusahaan Bajang," ucap Daffa.


"Apakah itu mantan pacarnya?" ceplos Daffian lagi membuat Daffa mendesah kesal.


"Aku tidak tahu masalah itu, Azza juga tidak pernah bercerita padaku mengenai kehidupannya sebelum bersamaku. Tetapi kata Zainal, Anan menyerahkan selembar kertas pada Azza dan memintanya tanda tangan disitu."


"Untuk apa? Ini kedengarannya aneh. Tidakkah kamu bertanya pada Azza?" tanya Daffian mulai serius.


"Aku tidak tahu dan untuk itu aku sedang menyelidikinya. Dan sampai sekarang aku juga belum berhasil menemukan orang tua kandung Azza. Aku takutnya itu menjadi beban pikiran untuknya, juga berpengaruh pada janin yang di kandungnya."


"Tunggu! Apa maksudmu dengan orang tua kandungnya?"


"Ya, selama ini ternyata Azza di pelihara oleh pembantu dari orang tua angkatnya. Dan entah karena alasan apa pembantunya membawa Azza pergi dari kediaman orang tua angkatnya."


"Lalu, dimana orang tua angkat Azza yang memiliki sertifikat tentang dirinya?" tanya Daffian.


"Mereka sudah meninggal karena suatu kecelakaan. Entah kecelakaan yang di sengaja atau tidak. Tetapi yang pasti, di keluarga mereka terjadi perebutan hak waris dan penolakan terhadap Azza yang hanya berstatus sebagai anak angkat," sahut Daffa.


"Ini seperti...." Daffian membelalakkan matanya. "Aina...," gumamnya.


"Aku sedang serius bicara denganmu. Kamu justru memikirkan Aina. Sudahlah kalau begitu lebih baik aku ke kamar saja untuk melihat keadaan Azza."


"Daff, tunggu! Aku ada rencana untukmu!" ucap Daffian membuat langkah Daffa terhenti.


"Katakanlah rencanamu!" ucap Daffa.


***


Keesokan harinya sesuai dengan rencana Daffian. Azza sudah kembali duduk di sebuah kafe yang biasa di tempatinya. Daffa sengaja membuat Azza menunggu dirinya tanpa memberitahu pada Azza terlebih dahulu mengenai rencananya. Ia mengatakan pada Azza bahwa dirinya mengajak Azza untuk makan siang di kafe favorit Azza.


"Halo gadis, kita bertemu lagi," Anan sudah duduk di hadapan Azza. Membuat Azza membelalakkan matanya.


"Sudah sangat lama sejak kita tidak bertemu lagi. Dan kamu sudah sebesar ini." Anan terkekeh.


"Apakah maksudmu itu bahwa dirimu selalu bersamaku sebelumnya dan sangat mengenalku?" tanya Azza sedikit penasaran.

__ADS_1


"Jangan bahas itu dulu adik manis. Kita bahas yang kemarin saja karena kedatanganku kesini pastilah ingin meneruskan hal yang sempat tertunda kemarin."


Azza hanya menatapnya sekilas kemudian mengaduk jus yang ada di depannya.


"Aku hanya ingin tahu mengenai orang tuaku saja, kenapa kamu begitu sulit untuk mengatakannya?" sahut Azza cemberut.


"Aku bukannya tidak mau untuk memberitahukanmu mengenai itu. Tetapi harus kamu tahu bahwa sebuah informasi yang rahasia dan penting itu ternilai tinggi harganya. Tidak semurahan gosip yang biasa di bicarakan oleh sekumpulan wanita."


"Apa maksudmu? Apakah kamu ingin memerasku!" Azza berdiri dengan tatapan tajamnya.


"Aku katakan padamu, aku tidak punya harta apapun. Aku orang miskin begitu juga dengan orang tuaku. Jadi, tidak ada gunanya kamu terus-menerus meminta harta padaku!"


Azza benar-benar emosi. Lelaki ini mencoba untuk memerasnya berulang kali.


"Hahaha.... Aku tidak yakin kalau kamu tidak memiliki harta peninggalan apapun dari orang tuamu. Apakah kamu mengetahui tentang itu Mahya Azza Rumaisa."


Tangan Azza terkepal erat. Ingin rasanya ia membungkam lelaki yang berada didepannya. Lancang sekali ia berkata kalau Azza memiliki harta peninggalan orang tuanya.


"Aku sudah katakan padamu kalau diriku tidak punya harta warisan sepersen pun. Apakah pekerjaan seorang pembantu dan buruh tani begitu menjanjikan sehingga kamu berkata seperti itu. Dan aku tidak yakin kalau kamu benar-benar mengenal diriku dengan baik sebelumnya."


Dengan cepat Azza meraih dompet yang ada di hadapannya bermaksud ingin meninggalkan lelaki tersebut.


"Apakah kamu yakin kalau orang yang membesarkanmu sekarang adalah orang tua kandungmu?" Anan ikut berdiri dan menghampiri Azza.


"Sudah aku katakan sebelumnya bahwa aku mengetahui perjalanan hidupmu dan sangat mengenal orang tuamu."


Azza menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Anan.


"Tetapi kamu memerasku!" sahut Azza cukup keras.


"Hei... tenang sedikit gadis kecil. Jangan membuat onar sehingga kamu akan malu sendiri." Menatap kesekeliling mereka yang sudah di tatap beberapa orang sejak tadi.


Azza membelalakkan matanya mendengar ucapan Anan barusan. Apakah ia salah dengar. Orang tua angkat? Bukankah orang tuanya yang sekarang juga adalah orang tua angkatnya. Lalu dimana orang tua kandungnya? Setragis itukah hidupnya yang terus di lempar dari satu keluarga kekeluarga lainnya.


"Kenapa? Apakah kamu sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui semuanya?"


Azza tampak berpikir, ia kembali duduk di kursinya dengan bungkam.


"Sekarang sudah jelas bukan kalau kamu hanya seorang pengacau di keluarga kami. Kamu tidak pantas mendapatkan harta keluarga kami. Karena kamu hanyalah anak pungut!"


Anan mengeluarkan kertas yang sempat ingin di tandatangani oleh Azza kemarin.


"Tanda tangan disini maka aku akan membeberkan rahasiamu! Dan setelah ini aku tidak akan mencarimu lagi."


Dengan tangan gemetar Azza meraih bolpoin dan siap ingin menandatanganinya.


"Apa-apaan ini! Kenapa kamu membuat istriku ketakutan!" Daffa datang dan merebut kertas yang ada di hadapan Azza.


"Dan apa ini?" Menatap kertas tersebut dan membacanya. "Surat pengalihan harta warisan!" gumam Daffa.


"Kamu ingin memeras istriku!" Menyorot Anan dengan tatapan tajamnya. "Apakah kamu tidak puas dengan hartamu yang sekarang?" Gigi Daffa tampak bergemelatuk. Matanya memerah, ingin rasanya ia menghajar lelaki kurang ajar tersebut, yang bisanya hanya menindas wanita yang lemah.


"Aku tidak salah. Aku hanya ingin mengambil hakku sebagai keluarga kandung. Sedangkan dirinya hanyalah anak pungut di keluarga kami, kenapa harus aku memberikan dan berbagi harta warisan padanya!" tunjuk Anan tepat di wajah Azza.


"Tuan Anan yang terhormat. Kami tidak perlu mengetahui lebih jauh mengenai orang tua angkat Azza yang pertama. Aku bisa mencarikan informasi untuknya. Sedangkan harta keluargamu, kami juga tidak memerlukannya!" ucap Daffa dengan amarah.


"Azza! Sekarang kamu tandatangani berkas itu!" perintah Daffa masih menatap Anan dengan tajam.


Dengan cepat Azza membubuhkan tandatangannya. Ia menatap Daffa dengan rasa bersalah.


"Ambil ini tuan Anan. Pergilah dari sini dan jangan pernah ganggu istriku lagi. Dan mulai sekarang! Kalian berdua putus hubungan. Tidak ada lagi hubungan saudara diantara kalian!"

__ADS_1


Daffa menarik tangan Azza menjauhi Anan yang tersenyum miring mendengarnya.


"Sekarang kamu ikut aku!" Daffa membukakan pintu mobil untuk Azza.


"Ma'afkan aku Daff tidak memberitahumu sebelumnya mengenai ini!" sesal Azza.


"Sayang. Jangan khawatirkan itu. Kamu perhatikan dirimu dan juga bayi kita maka aku akan merasa sangat senang karenanya."


Azza tersenyum manis mendengarnya di sertai dengan sebuah anggukan.


Mobil yang mereka tumpangi melaju kearah tempat yang ingin di tuju oleh Daffa.


"Penjara?" Azza menatap Daffa dengan heran. "Untuk apa kita kesini, Daff? Apakah kamu ingin menjenguk keluargamu?" tanya Azza sesampainya mereka di depan rumah tahanan.


"Ikutlah denganku maka kamu akan tahu nanti."


Azza mengangguk dan mengikuti setiap langkah Daffa.


"Zainal. Dimana wanita itu?" Daffa berjalan mengikuti langkah Zainal.


"Sebaiknya kita menunggunya datang di ruang besuk saja!" sahut Zainal.


Tidak berapa lama, keluarlah wanita yang berusia 43 tahun. Menatap Daffa dan Zainal kemudian beralih menatap kearah Azza. Ia terkesiap sesaat.


"Kalian. Untuk apa kalian datang kesini lagi?" tanyanya ketus. "Aku tidak akan menjawab pertanyaan kalian kalau kalian menanyakan masalah yang sama berulang kali." Menatap Zainal dengan acuh.


"Kami kesini hanya ingin meminta sedikit informasi mengenai hal yang sudah aku tanyakan kemarin. Apakah kamu sudah memikirkannya tadi malam?" Zainal menatap dingin wanita paruh baya di depannya.


"Aku tetap tidak akan memberitahukannya padamu. Aku tidak ingat! Lagi pula tidak ada untungnya bagimu memberitahu mengenai itu. Kalian juga tidak dapat meringankan masa kurunganku!"


Daffa tampak marah mendengarnya. Ingin rasanya ia memukul wanita di depannya ini seandainya dia bukanlah seorang wanita.


"Dengan kamu memberitahu kami memang tidak mengurangi masa tahananmu. Tetapi perlu kamu ingat. Dengan memberitahukan semua itu pada kami maka kamu dapat mengurangi rasa bersalahmu!"


Wanita itu terperanjat, menatap kearah Daffa. Ia terdiam sesaat seperti sedang berpikir.


"Aku yakin, selama ini hidupmu sangatlah tidak tenang karena terus di kejar oleh bayangan masa lalumu dan rasa bersalahmu. Bahkan aku yakin dalam setiap tidurmu, kamu pasti selalu di hantui oleh mimpi burukmu karena banyaknya kesalahan masa lalu yang kamu lakukan!"


Wanita itu tertunduk mendengarnya, keringat bermunculan di jidat dan pelipisnya. Tangannya terkepal erat.


"Hahaha... aku tidak akan memberitahukanmu tentang semua itu. Aku tidak ingin wanita itu bahagia apabila bertemu dengan anak kandungnya. Aku membencinya karena dia kembali dan mengambil lelaki yang seharusnya menjadi milikku!" teriak wanita paruh baya tersebut.


"Aku sudah sekian lama bersabar dan menantikan kematiannya. Sepuluh tahun aku menunggu tetapi hasilnya tetap sama. Lelaki itu tetap memilih untuk setia dengan istrinya walaupun istrinya sempat di romurkan meninggal."


"Dan kalian semua pergi dari sini!!" teriak wanita itu.


"Pergi!!! Pergi!!! Aku benci melihatmu. Benci!! Wajahmu persis wajah ibumu!!" Pergi!!!" teriaknya dengan menatap Azza penuh kebencian.


Azza tampak ketakutan dan segera memeluk Daffa.


"Bawa wanita itu kedalam dan jam besuk sudah berakhir!" ucap sipir wanita yang menunggu disana.


"Baiklah. Sebaiknya kita pulang saja. Kamu jangan takut lagi!" Daffa menenangkan Azza yang terkejut mendengar amarah wanita tadi.





*****

__ADS_1


__ADS_2