Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 74


__ADS_3

Afika berusaha mengusap air matanya yang terus jatuh tanpa henti. Luka yang sakit namun tak berdarah, luka yang amat sangat-sangat mampu membuat Afika jatuh hingga ke dasar. Perkataan Adrian yang bilang cinta kepada wanita lain membuat Afika menjadi sakit hati.


"Nadi." Sapa Baby saat melihat Nadi yang saat ini sedang berada di lantai satu. Beruntung sekali Baby yang tadi keluar melakukan pekerjaan dan saat kembali ke perusahaan dirinya melihat Nadi. "Kau sudah siap menjadi asistenku? Ahh, aku tidak menyangkah secepat itu Nadi mau menjadi asistenku., Ah siapa juga sih yang mau menolak menjadi asisten wanita yang sangat cantik ini." Ucapnya sambil memuju dirinya sendiri.


"Aku! Aku nona. Aku yang menolak dengan mentah-mentah menjadi asistenmu. Hanya saja, tuan memberikan perinta jadi mau tidak mau aku harus menurut. Tapi tidak sekarang, karena aku belum siap." Batin Nadi.


"Kenapa diam saja, ohh jangan bilang kau terpesona dengan kecantikanku?" Kata Baby sambil mengibas rambutnya agar Nadi semakin terpesona. Tapi nyatanya Nadi hanya memberi reaski tersenyum tipis yang menandakan Nadi tidak suka dengan penampilannya.


"Aku datang ke sini dengan nyonya Afika."


"Apa? Afika datang? Dimana dia, aku ingin mengajaknya ke ruanganku."


"Dia ada di ruangan tuan, sedang membawa bekal makan siang untuk tuan dan juga untuk nona Baby."


"Ahhh, kakak iparku dia memang sungguh baik, tidak ada yang dapat menandinginya." Kini Baby, berjalan meninggalkan Nadi seorang diri.


Baby tidak sabar ingin bertemu dengan Afika dan ingin sekali Baby mengajak Afika untuk berjalan berkeliling dan mengenalkan pada seluruh karyawan jika Afika adalah kakak iparnya, istri dari Adrian sang pemilik perusahaan.


Namun saat Baby keluar dari lift dirinya bahkan tidak melihat Afika, justru Baby melihat dengan jelas jika Inggrid keluar dari ruangan Adrian dengan tangis. Baby tidak ingin berbicara pada Inggrid dan tidak ingin menggubris Inggrid yang melewati dirinya sambil menangis.

__ADS_1


"Rio, dimana Afika?"


"Nyonya..." Belum menjawab sepenuhnya, Baby langsung membuka pintu ruangan Adrian.


"Kak di mana Afika?" Tanya Baby pada Adrian yang saat ini sedang duduk di kuris kebesarannya.


"Afika, yah ada di mension. Kenapa mencarinya di sini? Atau sesuatu sedang terjadi di mension?" Pikir Adrian.


"Kak, tadi Afika datang membawakan kak Adrian bekal makan siang. Tapi kenapa Afika tidak ada disini?"


"Maaf tuan. Tadi nyonya datang dan saat membuka pintu nyonya melihat ada nona Inggrid." Ucap Rio perlahan.


Kini Adrian panik dan langsung menghubungi Afika namun panggilannya tidak terjawab sama sekali.


Adrian lalu membuka cctv dan melihat memang benar jika Afika datang membawakan bekal padanya. Di satu sisi Adrian merasa sangat bahagia, tapi saat Adrian melihat Afika menangis dia langsung ikut merasa sedih. Karena membuat wanita yang ia cintai kembali menangis karena kesalapahaman.


Adrian langsung berlari keluar ruangan menemui Afika yang saat ini sedang menangis di tangga.


Flashback

__ADS_1


"Adrian, apa kau mencintaiku? Katakan! Katakan jika kau mencintaiku Adrian. Kau tahu, aku sangat mencintaimu Adrian.." Ucap seorang wanita yang tak lain adalah Inggrid mantan pacar Adrian. Jelas sekali Afika tau siapa wanita itu karena dulu mereka sempat tinggal bersama di mension hutan.


"Ya, aku memang mencintaimu." Ucap Adrian lalu diam sesaat dan Adrian kini mengambil bingkai foto yang terletak di atas meja kerjanya. "Tapi itu dulu Inggrid. Sekarang, aku sama sekali tidak mencintaimu. Karena wanita ini sudah mengambil seluruh hatiku." Ucap Adrian sambil tersenyum melihat foto Afika. Foto yang sudah sejak lama ia pajang di atas meja kerjanya.


"Adrian! Kau bohong. Kau tidak mencintainya, kau hanya mencintaiku."


"Tidak Inggrid. Tidak ada cinta yang tersisah untukmu walau sedikit pun. Aku sudah memiliki istri dan juga seorang putra. Aku mencintai istriku, sangat mencintainya."


"Sayang buka matamu. Aku percaya masih ada sedikit cinta yang tersisa untukku. Ayo kembali padaku, aku berjanji akan selalu berada di sisimu dan tidak lagi meninggalkan mu Adrian. Percayalah, aku mencintaimu Adrian."


"Keluar!" Sentak Adrian yang muak melihat Inggrid yang menangis di hadapannya. Sungguh Adrian tidak tahu kenapa dirinya dulu bisa mencintai wanita yang pandai sekali bersilat lidah. "Keluar Inggrid, Sekarang!" Suara keras dan lantang Adrian mampu membuat Inggrid takut, tapi Inggrid masih mencoba peruntungan, sempat saja dirinya bisa kembali dengan Adrian.


"Tapi sayang."


"Jangan panggil aku sayang dengan bibir busukmu itu. Sekarang juga keluar, atau aku akan mengancurkan hidupmu, membeberkan semua kelakuan mu ke hadapan publik yang sangat gemar bermain pria di luar sana."


Perkataan Adrian mampu membuat Inggrid terperangah. Ya, Inggrid memang beberapa kali melakukan malam panas di luar sana dengan pria yang dekat dengannya.


"Keluar!" Bentak Adrian yang mampu membuat Inggrid keluar dengan air mata yang jatuh ke pipinya.

__ADS_1


__ADS_2