
Daffa melangkah ke kamar untuk melihat keadaan istrinya, rupanya Anggia sedang tertidur pulas. Ia menatap Anggia dengan penuh tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita ini tadi siang.
Daffa berjalan menuruni anak tangga, melihat setiap sudut ruangan mencari keberadaan bibi Nur.
"Bibi...!" teriak Daffa.
Bergegas bi Nur menghampirinya.
"Ada apa, Tuan?" tanya bi Nur.
"Siapa yang tadi siang datang bertamu?" tanya Daffa.
"Saya tidak mengenalinya, tuan. Dia seorang lelaki muda seumuran dengan tuan," jawab bi Nur.
Daffa mengerutkan dahinya, ia tidak tahu lelaki mana yang di maksud oleh bi Nur. Apakah Alfa, sepupunya Anggia atau lelaki lain? Tapi setahunya Anggia hanya punya satu teman lelaki yang dekat dengannya itupun sepupunya, Alfa.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Daffa.
"Saya juga tidak mendengarnya dengan jelas. Karena nyonya menyuruh saya untuk segera mengantarkan minuman buat tuan."
"Tapi lelaki itu mengatakan kalau nyonya adalah saudarinya, adik kandungnya," sahut bi Nur mengingat pertama kali Akhmar mengatakan pada Anggia di hadapannya.
Daffa semakin mengerutkan keningnya, ia tidak tahu kalau Anggia mempunyai seorang kakak yang seumuran dengannya. Apakah mereka kembar? Seumuran?
"Ya sudah. Bibi lanjutkan saja kegiatan bibi, nanti aku tanya sama Anggia saja."
"Baik, tuan."
Daffa kembali ke kamarnya, rupanya Anggia sudah membuka matanya.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apa lebih baik?" tanya Daffa bertubi-tubi, menghampiri Anggia.
Anggia mengangguk. "Aku lebih baik sekarang," sahutnya.
Tangan Daffa bergerak perlahan menyentuh pipi Anggia. Meraih helaian rambutnya dan meletakkannya kebelakang telinga.
"Sini aku peluk biar perasaan kamu semakin lebih baik."
Tangan Daffa sudah menggapai tubuh Anggia dan mengungkungnya tanpa sempat Anggia menolak.
"Kamu sudah selesaikan?" tanya Daffa.
Anggia mengangguk samar.
"Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang, sebagai ganti rugi beberapa hari yang terlewat?" tanya Daffa mulai bergairah.
"Tunggu dulu sayang. Kamu harus minum jamu buatanku terlebih dahulu," ucap Anggia.
"Jamu? Tapi tanpa jamu pun aku juga sudah kuat, sayang," Daffa terkekeh.
"Iya, aku tau tapi jamu membuatmu lebih tahan lama," sahut Anggia.
Daffa mengernyit mendengarnya. "Darimana kamu tahu, sayang? Apa kamu belajar dari mba google?"
"Ibuku yang bilang begitu. Mama selalu membuatkan papa minuman seperti itu, agar papa tidak sakit karena kecapekan olahraga ranjang," sahut Anggia asal.
"Hahaha... kamu bisa aja," ucap Daffa. Ia membiarkan begitu saja Anggia menjauh dari pelukannya dan keluar kamar yang mereka tempati.
Tidak berapa lama Anggia muncul dengan segelas minuman berwarna kuning pekat di tangannya.
Ia menyerahkannya pada Daffa, membuat Daffa begitu kesusahan meneguk ludahnya saat melihatnya.
"Ayo diminum sayang, biar stamina kamu lebih prima," ucapnya.
Daffa hanya menurut saja. Ia tidak ingin menolak minuman yang sengaja dibuatkan oleh istri tercintanya.
Setelah tandas, ia meraih air putih yang tergeletak di atas nakas.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah kamu merasakan hal yang berbeda?" tanya Anggia.
Daffa mencoba mengenali sesuatu yang di maksud oleh Anggia dengan 'berbeda'. Tapi ia tidak merasakan apapun juga selain perasaan kantuk yang tiba-tiba datang menyerangnya.
"Ayo kita mulai sayang!" goda Anggia dengan nada sensual.
Anggia segera naik keatas ranjang ia memeluk Daffa dan membiarkan Daffa menciumi dan melum*t bibirnya. Tapi belum sempat Daffa memperdalam ciumannya, ia sudah jatuh dan tertidur pulas.
Anggia tersenyum licik melihatnya. Ia meraih handphone yang ada di nakas dan menekan nomor seseorang.
"Alfa, aku ingin bertemu denganmu di tempat biasa!" ucapnya setelah telpon tersambung.
Anggia segera turun kebawah, ia menyopir sendiri tanpa ingin di sopiri oleh sopir pribadinya. Tidak ingin sopir melaporkan kegiatannya pada Daffa.
Sesampainya di tempat tujuan, ia melihat Alfa sudah menunggunya.
"Apa kabar sayang?" tanya Alfa meraih Anggia dan mencium jidatnya.
"Aku baik!" sahut Anggia.
Alfa menatap Anggia dengan intens dari atas hingga kebawah.
"Hei. Jangan menatapku seperti itu. Ada apa denganmu hari ini. Kamu seperti menguliti diriku hidup-hidup," ucap Anggia.
Alfa terkekeh mendengarnya. "Aku hanya ingin melihat dirimu setelah menjadi milik orang lain."
"Sayang, aku tetap milikmu. Walaupun aku menikah dengannya tapi aku tetaplah kekasihmu. Kamu yang aku cintai, bukan dia," sahut Anggia.
"Lalu kenapa kamu justru menikah dengannya. Seharusnya kamu menikah denganku saja, sayang."
"Fa, dengarkan aku ya. Kita akan menikah tapi nanti!" tekan Anggia.
"Kapan? Nanti kapan Anggia? Apakah setelah kamu hamil anaknya ataukah setelah kamu mencintainya?"
Alfa terlihat emosi.
"Percaya sama aku, hal yang kamu khawatirkan itu tidak pernah terjadi. Aku tetap mencintai kamu."
Anggia meraih tangan Daffa dan menggenggamnya erat.
"Aku tidak dapat memegang janjimu. Aku yakin jika suatu saat nanti kamu pasti akan tergoda dengannya. Bahkan kamu juga pasti akan mencintainya. Karena kamu setiap hari hidup berdampingan dengannya." Alfa begitu merasa cemburu.
"Sayang, jangan meragukanku seperti itu. Rasanya kamu juga membuat hubungan kita tidak semanis dulu," sahut Anggia sambil menyeruput jus yang ada di depannya.
"Tapi menurutku, kamu yang membuat hubungan ini renggang. Kamu menolak menikah denganku dengan alasan ibumu yang sakit. Aku rasa itu hanya alasanmu saja."
Anggia mendesah. "Sayang, aku mengajakmu untuk bertemu disini bukan karena aku ingin berdebat denganmu. Ada sesuatu yang lain yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Anggia.
"Dan kita juga sudah sering membicarakan ini!" sahut Anggia. "Bukankah kamu sudah menyetujuinya," tambah Anggia.
Daffa menatap sekilas kearah tangannya yang masih digenggam oleh Anggia.
"Katakan saja, aku akan mendengarkanmu!" Alfa mengalihkan pembicaraan.
"Tadi siang ada Akhmar datang ke rumah. Dia mengatakan kalau dia adalah kakakku. Beda ibu tapi sama ayah," ucap Anggia.
"Apa responmu?" tanya Alfa mulai serius mendengarkan ucapan kekasihnya.
"Aku katakan padanya kalau ayahku sudah meninggal!" sahut Anggia.
Alfa membelalakkan matanya. "Kenapa kamu menolaknya, bukankah selama ini kamu juga penasaran dengan sosok ayahmu!" sahut Alfa.
"Tidak lagi setelah tahu kebenarannya. Dia lelaki yang egois dan selalu menyakiti perasaan mama. Aku bahkan sangat membenci wanita yang juga sudah mengambil dia dari ibuku."
Tatapan Anggia nanar, seperti tersimpan kemarahan yang mendalam.
"Ibuku semakin depresi karena dia bahkan mama terkadang semakin tak terkendali."
__ADS_1
Daffa menggenggam erat tangan Anggia yang mulai berkeringat.
"Akhmar? Siapa dia dan kenapa aku tidak mengenalinya?" tanya Alfa.
"Lelaki yang tempo lalu menabrakku waktu itu dan membuatku marah. Dia teman satu kampusku!" sahut Anggia.
"Aku sekarang tambah membencinya karena ibuku!"
"Sudah. Jangan di ingat lagi masa sulit dan pahit itu. Sekarang kamu sedang bersamaku, maka lakukanlah hal yang manis. Atau kita kerumahku sekarang saja," ucap Alfa.
Anggia mengangguk dan berdiri mengikuti Alfa tanpa tahu bahwa ada orang lain yang mengikuti dirinya.
Sesampainya di rumah Alfa, mereka masuk kedalam dan berbicara sampai puas bahkan mereka juga menghabiskan waktu bersama tanpa memikirkan seseorang yang sedang tertidur di rumah karena pengaruh obat tidur.
***
"Bos! Ada perintah apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" Asra berdiri di hadapan Angga.
"Cari tahu lelaki yang bersama menantuku di kafe tadi. Aku tidak yakin kalau mereka hanya sebatas saudara sepupu. Nyatanya interaksi mereka mengatakan kalau hubungan diantara mereka itu lebih!" sahut Angga.
"Dia bahkan sudah menikah dan masih dalam masa bulan madu, kenapa justru keluar rumah dan bertemu dengan lelaki lain. Apakah Daffa yang mengizinkannya keluar?" tanya Angga.
"Bos. Mungkin saja benar kalau bos kecil mengizinkannya. Tidak mungkin ia keluar rumah tanpa sepengetahuan bos kecil," sahut Asra.
"Kamu memang benar. Tapi kelakuannya itu mencerminkan sesuatu yang lain dalam pandangan orang lain," sahut Angga.
"Aku mengerti, bos!" ucap Asra.
"Tapi kenapa bos mengizinkan bos kecil untuk menikahinya kalau bos besar tidak merestui mereka?"
"Hei. Aku bukan tidak merestui mereka. Aku hanya tidak suka saja dengan gadis pilihan Daffa. Daffa terlalu keras kepala dan tidak bisa diatur. Bahkan setiap kali aku selalu berdebat dengannya," sahut Angga.
"Itu sama saja bos, dengan kamu tidak merestui mereka."
"Terserah kau sajalah menilai. Tapi entah kenapa aku sangat tidak menyukai Anggia. Dia sosok yang mempunyai tujuan tertentu untuk menikah dengan anakku."
Angga kembali mendesah. "Kamu tahukan kalau aku selalu berdebat mengenai pilihan Daffa, karena aku tidak menyetujuinya sama sekali."
Asra mengangguk.
"Bukankah bos sudah mencari tahu tentang menantu bos, jauh hari sebelum pernikahan."
"Iya, aku memang mencari tahu. Tapi aku tidak yakin dengan hasil akhirnya. Semua itu seperti memanipulasi diriku, semuanya palsu dan yang asli tersimpan dengan apik," sahut Angga.
"Kita lihat saja bos, sekaligus aku akan mencari tahu tentang hubungan mereka." sahut Asra.
"Sayang. Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya tadi aku mendengar nama Anggia dan Daffa disebut-sebut," celetuk Rika tiba-tiba.
"Bukan apa-apa sayang," sahut Angga.
Ia merasa senang dengan kedatangan istrinya.
"Asra, sekarang kamu keluar. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama istriku," usir Angga pada Asra.
"Oke bos. Selamat berbulan madu!"
Asra mengerti dan segera keluar ruangan untuk memberikan mereka waktu berdua.
Rika hanya menggeleng saja mendengar ucapan suaminya dan juga Asra. Belum sempat ia meletakkan bokongnya di kursi, Angga sudah mengangkat tubuhnya terlebih dahulu, membawanya masuk kedalam kamar pribadinya.
Dan kalian tahulah apa yang selanjutnya terjadi.
•
•
•
__ADS_1
*****