Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Mawar Merah


__ADS_3

"Kamu!? Ngapain kamu ada disini?" Febry memberengut menatap kearah Daffi.


"Aku ingin melihat keadaanmu," sahut Daffi enteng.


"Tidak perlu. Aku sudah sehat seperti sediakala apalagi setelah di tinggalkan oleh cowok yang katanya bertanggung jawab," sindir Febry melirik kearah Daffian.


"Hei... Aku meninggalkanmu karena suatu alasan. Lagi pula kekasihmu sudah datang untuk menunggumu. Dan itu juga saran darinya."


"Sudah tahu!" jawab Febry cepat.


"Kalau sudah tahu kenapa menyalahkanku."


"Tentu saja aku menyalahkanmu karena kamu yang membuat aku hampir celaka. Beruntungnya aku tidak jantungan. Kalau tidak, maka aku akan mengikutimu kemana saja sebagai arwah yang gentayangan!"


Daffi melotot mendengarnya.


"Hei! Kamu sehat begini kenapa justru membicarakan arwah gentayangan!" sela Daffi.


"Pulanglah, aku malas melihat wajahmu hari ini!"


"Kamu mengusirku setelah apa yang kulakukan sekarang?"


Daffa menatap tidak percaya kearah Febry yang mengangguk dengan ringan.


"Iya. Kau membuatku sakit mata. Di tambah lagi dengan penampilanmu yang berantakan semakin membuatku malas untuk melihatmu!"


Febry memindai penampilan Daffian, bajunya berantakan bahkan tidak rapi, rambutnya juga acak-acakan.


"Apa urusannya penampilanku dan dirimu!" sahut Daffian kesal.


"Ada lah!! Sudah kubilang sejak tadi kalau aku sakit mata melihat kamu disini sepagi ini! Kamu merusak pemandangan!"


Daffi tampak geram mendengarnya.


"Hei tidakkah kamu berterima kasih padaku karena aku menyempatkan diriku untuk mengunjungimu sepagi ini. Bahkan aku datang dengan tergesa tanpa menyiapkan apapun juga karena takut keadaanmu memburuk!"


"Jangan mengada-ada kamu. Aku sehat begini malah kamu bilang memburuk. Bukankah kemarin kamu sudah tau bagaimana keadaanku. Aku hanya luka lecet lalu bagaimana bisa kamu mengatakan seolah-olah aku hampir tidak bernapas lagi." Menatap Daffi dengan marah.


"Oh... atau jangan-jangan semalam kamu hanya mengantarku saja lalu pergi meninggalkanku begitu saja tanpa tahu keadaanku yang sebenarnya," selidik Febry.


Daffi menatap tidak percaya kearah Febry.


"Atau kamu mengharapkan diriku celaka dan keadaanku memburuk!" tuduhnya lagi.


"Kalau bicara itu jangan sembarangan!! Jangan menuduhku tanpa ada bukti. Mulutmu itu seenaknya saja!" balas Daffi kesal.


"Aku tidak pernah berharap seperti itu!" tambahnya lagi.


"Lalu ucapanmu tadi itu apa? Kamu berharap kan dengan mengatakan keadaanku memburuk?" tanya Febry.


"Tidakkah dia mengerti kalau itu sebagai bentuk kepedulianku terhadapnya." Daffi membatin. Ia menatap Febry dalam.


"Dasar cowo cabe-cabean!"


Daffi melotot mendengarnya.


"Aku?" tunjuknya menatap kearah Febry.

__ADS_1


"Tentu saja kamu. Memangnya siapa lagi cowok yang ada disini?" Febry berdecih.


"Aku rasa itu cocok untukmu, karena aku cowok tampan dan cool!" sahut Daffi percaya diri.


"Tidak seperti kamu, hidung pesek dan lebar!"


Febry melotot mendengarnya, ia memasang ancang-ancang ingin memukul Daffi tetapi urung setelah melihat kedatangan Andra.


"Daffi? Kamu sudah ada disini sepagi ini?" tanya Andra menatap curiga kearah Daffian.


"Iya, aku kemari hanya ingin melihat keadaannya saja setelah apa yang aku lakukan padanya kemarin!" sahut Daffi.


"Oh begitu."


Daffi melirik kearah Febry yang tampak memasang senyum manis kearah Andra, ia berdecih melihat tingkah Febry yang sangat berbeda memperlakukannya.


"Memang ya kalau di depan orang yang di cinta itu senyum yang di pajang, sedangkan kesalnya di pendam!" sindir Daffian.


Febry melotot mendengarnya, ia menatap tajam kearah Daffi. Ingin rasanya ia mengacak-acak mulut Daffi agar tidak bicara konyol lagi.


"Pulang sana. Kamu menggangguku!" bisik Febry kearah Daffi. Membuat Andra memperhatikan mereka berdua.


"Ehmm... sepertinya kalian sangat akrab sekali. Berbeda dari bayanganku sebelumnya. Apakah kalian sudah sangat lama saling mengenal?"


Febry tampak semakin geram dengan Daffian yang tidak mengerti dengan ucapan pengusirannya. Sehingga kekasihnya menanyakan hal ini.


"Sayang. Jangan pedulikan dia. Dia pagi-pagi kesini juga hanya untuk memastikan keadaanku saja. Setelah ini dia juga akan pulang." Febry melirik tajam kearah Daffi.


"Siapa juga yang ingin pulang. Aku masih ada urusan dengan Tante Ambar!" sahut Daffian acuh. Matanya menatap kearah Ambar yang berjalan kearah mereka dengan minuman di tangannya.


"Iya Tante. Andra baru saja sampai sini Tante," sahut Andra sopan.


"Kalau begitu Tante kedalam dulu!"


"Tunggu Tante, aku ingin bicara berdua sama Tante!"


Daffian menghentikan langkah Ambar.


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita bicara di tempat lain saja," sahut Ambar.


Ambar dan Daffian menuju kearah samping rumah Ambar. Duduk di kursi yang ada di taman kecil tersebut.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, apakah mengenai Febry yang terluka karenamu?" tanya Ambar.


"Kamu tenang saja. Tante tidak menganggap ini sebagai masalah. Tante hanya menganggapnya sebagai kecelakaan saja, lagi pula keadaan Febry juga baik-baik saja sekarang!" tambah Ambar.


"Bukan masalah itu Tante, tapi masalah yang lain!" sahut Daffian.


"Tentang apa?" tanya Ambar menatap Daffian intens.


"Tentang Azza!"


Daffian menatap Ambar yang beranjak berdiri. Ia mengikuti pergerakan wanita di depannya.


"Apa yang ingin kamu tahu tentang Azza. Tante tidak mempunyai informasi mengenai dirinya."


"Aku hanya ingin tahu mengenai keluarganya, orang tuanya!" sahut Daffi.

__ADS_1


Ambar berbalik dan kembali duduk di samping Daffian.


"Tidak ada yang perlu kamu tahu tentang orang tuanya. Karena mereka sudah lama meninggal. Bahkan sejak Azza berusia remaja. Dan dia juga tidak memiliki sanak saudara."


"Benarkah yang Tante katakan ini. Apakah Tante tidak merasa kalau Azza lebih mirip dengan Aina?"


Ambar terdiam mendengarnya. Ia kembali mengingat rupa Aina, memang ada kemiripan diantara mereka berdua.


"Kemiripan diantara dua orang yang tidak ada hubungan kerabat itu memang kerap terjadi dan hal itu biasa saja. Bahkan banyak kita menemukan kalau mereka hampir serupa tetapi tidak ada tali persaudaraan diantara mereka. Jadi, menurut Tante itu adalah hal yang wajar!" sahut Ambar.


"Benarkah? Tetapi aku lihat Tante terlihat gelisah saat aku menanyakan tentang keluarga Azza. Apa ada yang Tante sembunyikan mengenai dirinya?" selidik Daffian.


Ambar terdiam mendengarnya, ia tersenyum dan menatap Daffian dengan tenang.


"Sebaiknya kamu tidak perlu mengungkit hal ini karena Tante tidak ingin ada yang tersakiti karena hal ini bahkan terluka karenanya. Anggap saja pembicaraan kita hari ini tidak ada!" sahut Ambar.


"Tante, kenapa Tante berkata begitu padaku. Apakah ada hal yang sedang Tante sembunyikan?" desak Daffian.


"Pulanglah. Tante masih ada kesibukan yang belum Tante lakukan!" ucap Ambar. Ia berjalan meninggalkan Daffian yang terpaku menatapnya.


"Ma'afkan aku Daffian. Aku tidak ingin Azza terluka dan dalam keadaan bahaya kalau kamu tahu siapa sebenarnya keluarga Azza," gumam Ambar membatin.


Sepanjang perjalanan, Daffi hanya memikirkan ucapan Ambar. Ia sama sekali tidak paham, apa yang membuat wanita itu lebih memilih untuk tidak menceritakan mengenai orang tua Azza padanya. Apakah benar kalau Azza adalah saudara Aina.


"Aina?" Daffi menepuk jidatnya sekali karena sudah melupakan keberadaan gadis itu sekarang. Seandainya ia tidak di desak oleh ibunya untuk melihat Febry maka ia tidak akan datang sepagi ini ke rumah gadis tomboy tersebut.


Daffi menghentikan mobilnya saat ia melewati toko bunga yang sudah buka. Menatap kearah seorang pembeli bunga yang lainnya yang sedang berdiri di sampingnya.


"Jadi, siapa nama gadis yang dulu sempat menjaga toko bunga ini untuk Anda?" tanya lelaki asing yang berdiri bersisian dengan Daffian pada pemilik toko bunga tersebut.


"Namanya Mahya. Kenapa? Apakah Anda ada perlu dengannya?" sahut pemilik toko bunga.


"Aku hanya mencari keberadaannya saja. Dia adalah saudaraku yang melarikan diri dari rumah," sahut lelaki tersebut.


"Apakah kamu tahu keberadaannya sekarang?" tanyanya lagi.


"Aku tidak tahu. Dia berhenti bekerja disini secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Dan untuk identitasnya aku juga tidak mengetahuinya."


Lelaki asing tersebut mengangguk dan segera berlalu dari sana setelah mengucapkan terima kasihnya.


"Ma'af Tuan, Anda mau membeli bunga apa?" tanyanya beralih pada Daffian.


"Seikat mawar merah dan seikat mawar hitam!" sahut Daffian.


"Baiklah. Anda tunggu sebentar disini!"


Daffian bergegas menuju kearah mobilnya setelah mendapatkan apa yang di carinya. Ia menatap sesaat kearah lelaki asing tadi yang sedang berbicara di telpon dengan seseorang.


"Aku akan ke rumah sakit saja. Aina pasti sudah berangkat pada jam begini," menatap kearah jam tangannya dan memacu mobilnya dengan kecepatan rata-rata.





*****

__ADS_1


__ADS_2