Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 77


__ADS_3

Kini Afika sudah berada di mension, dia merutuki betapa ceroboh dan bod*ohnya dirinya yang tiba-tiba memberikan kecupan singkat pada Adrian tadi. Sungguh, Afika merasa ingin menghilang saja. Ia tidak tahu, bagaimana harus menghadapi Adrian jika Adrian sudah pulang bekerja.


"Apa mungkin trauma ini hilang dengan sendirinya?" gumam Afika sambil memegang da*danya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan jika pipi Afika merona hanya karena mengingat kejadia tadi di perusahaan. "Jika memang ini sudah pulih, aku mungkin sudah siap." Lanjutnya kemudian.


"Memperjuangkan, memperbaiki dan mempertahankan." Itu lah perkatanaan Baby yang pernah terlontar dari mulutnya saat Afika bercerita pada malam itu. Dan kata-kata itu terus tergiang-ngiang saat ini di benak Afika. Ya, bukan kah memang perkataan Baby benar, jika kita mencintai maka perjuangkan dia, perbaiki apa yang harus di perbaiki dan juga pertahankan apa yang harus di pertahankan..


Singkat cerita..


Adrian memutuskan untuk pulang lebih awal.. Di sepanjang perjalanan, Adrian terus tersenyum mengingat kejadian tadi. Ini pertama kalinya dalam sejarah pernikahan dirinya dengan Afika. Ciuman sekilas Afika mampu membuat hati Adrian berbunga-bunga. Adrian sudah bisa bernafas dengan lega karena sudah yakin jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Sayang.." Teriak Adrian saat membuka pintu mension. Pertama kali yang Adrian cari buka Lion, tapi justru sang istri yang sejak tadi ia rindukan. "Apa yang kau lakukan? Sudah aku katakan, tugasmu hanya menjaga Lion saja." Ucap Adrian saat melihat saat ini Afika sedang memegang sapu.


Jumlah art sangat banyak di mension ini. Hanya saja, Afika sengaja melakukan hal demikian agar bisa membuang pikiran negatifnya yang terus saja berputar bagai sebuah kaset film.


"Sri.!" Teriak Adrian, membuat Sri berlari menghampiri Adrian. " Mulai hari ini, siapa pun di mension ini jika aku melihat istriku memegang sapu lagi. Maka semua yang bekerja di mension ini akan aku pecat!" Ancam Adrian membuat Sri menelan ludahnya secara kasar.


"Maaf tuan. Saya akan memastikan itu tidak akan terjadi lagi."


Adrian tersenyum. Bukan hal yang muda membuat istrinya itu mengikuti keinginannya. Adrian hanya ingin Afika menjadi istrinya yang bisa menikmati semua uang yang dia miliki, bukan malah menjadi istri yang memegang sapu. Adrian sengaja mengancap Sri dan para art lainnya agar Afika mau mendengarkan ucapannya. Karena jika menyangkut hal demikian, maka Adrian pastikan Afika pun tidak akan mau memegang sapu lagi.


Adrian langsung berjalan menaiki anak tangga, membuat Afika langsung meletakkan sapu dan mengikuti langkah Adrian.


"Adrian, tidak seperti itu juga. Ingin keinginanku, kenapa harus membawa bi Sri dan yang lainnya." Bela Afika sambil mengikuti langkah Adrian yang kini masuk ke dalam kamarnya. Afika yang tanpa sadarpun ikut masuk ke dalam kamar Adrian. "Adrian! Kenapa diam saja? Harusnya kau jawab?" Perkataan Adrian mampu membuat langkah kaki Adrian terhenti. Kini Adrian menoleh ke arah Afika.


"Aku mendengarmu sayang. Maaf, tapi hanya itu yang bisa aku katakan agar kamu tidak lagi memegang benda itu." Kini Adrian perlahan melangkah mendekat ke arah Afika. "Aku lelah ingin istirahat."


"Te-terus? Kenapa mendekat jika ingin istirahat. Harusnya berbaring. Bukan malah mendekati ku."


"Aku rindu istriku, sebelum istirahat aku ingin memeluk tubuh istriku terlebih dahulu." Dan benar saja Adrian langsung memeluk tubuh Afika. Dan sama seperti tadi, kini Afika tenang di dalam pelukan Adrian. "Aku mencintaimu sayang." Bisik Adrian.

__ADS_1


••••


Saat ini Afika dan Adrian sedang berada di ruang keluarga menikmati nonton dan memakan cemilan buah. Namun seketika mata Afika tertuju pada Nadi yang berjalan mendekat, hingga membuat Adrian spontan menutup mata Afika, namun Afika kembali berusaha menyingkirkan tangan Adrian.


"Permisi tuan, nyonya. Saya ingin menemani nona Baby ke acara reuni kampusnya." Kata Nadi dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Sampai jam berapa?" tanya Adrian sambil melirik jam besar yang berada di dinding.


"Sampai acara selesai tuan. Dan saya tidak tahu, tapi saya akan menjaga nona Baby dengan sangat baik."


"Nadi, kau kah itu? Ahhhh, kau tampan sekali Nadi." Puji Afika hingga membuat Adrian cemberut.


"Sudah sana pergi. Ingat! Jaga Baby sebaik mungkin, jangan biarkan dia minum terlalu banyak."


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Ehhhh.." Adrian berhadem agar Afika tidak memuji Nadi lagi.


"Yakin Nadi itu tidak memiliki keluarga? Yakin kalau Nadi itu biasa-biasa saja? Tapi kok aneh, dia bisa memiliki wajah yang begitu tampan dan juga seperti keturunan negara Turki." Jika di pandang memang siapa pun tidak akan menyangkah jika Nadi hanya seorang pengawal. Dan pasti jika orang pertama kali melihat Nadi, maka orang akan berfikir jika dirinya adalah seorang pengusaha. Karena bentuk wajahnya yang begitu tampan dan berkarismatik. Juga tinggi tubuhnya yang sama dengan Adrian.


"Dia memang yatim piatu, aku melihat sendiri dia sering ke makam kedua orang tuanya." Kata Adrian.


"Apa dia tidak memiliki keluarga lain?"


"Tidak! Dia hanya seorang diri. Dan maka dari itu aku membawanya dari jalan. Dan dia juga meminta padaku agar di tugasnya menjaga di mension saja. Entah kenapa dia sangat tidak suka berada di luar."


"Waoo, Nadi sepertinya penuh dengan misteri."


"Jadi bagaimana dengan acara liburan kita?" Tanya Adrian mengalihkan perbincangan mereka tentang Nadi.

__ADS_1


"Sepertinya Lion sudah waktunya minum susu." Afika langsung berdiri ingin mencoba kabur dari Adrian namun dengan cepat Adrian menarik tangan Afika sehingga membuat Afika terjatuh di atas pangkuan Adrian. "Adrian." Panggil Afika.


Kini Adrian memeluk tubuh Afika. Melingkarkan tangannya ke tubuh Afika.


"Sayang dengarkan aku. Hubungan itu ibarat rumah, jika ada yang rusak maka harus di perbaiki bukan mengganti rumah. Dan kau adalah rumahku, jika ada yang luka, atau sakit maka sama-sama kita akan mengobatinya., Aku tahu, aku salah, jadi ayo kita belajar sama-sama terbuka. Aku tahu, kau masih trauma. Tapi percayalah, tidak ada Adrian yang dulu lagi. Yang ada hanya Daddy Lion yang mencintai segenap hati keluarga. Kau adalah rumahku, tempat ku pulang sayang." Ucapan Adrian mampu membuat Afika terharu, lalu Afika memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Adrian.


"Maafkan aku Adrian." Kini Afika mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian, sambil menyandarkan kepalanya di badan Adrian. "Alu sudah memaafkan mu. Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau menganggapku sebagai rumah mu." Ucap Afika dengan lirih menahan air mata agar tidak menetes.


Adrian langsung melerai pelukannya.


"Sayang kau bilang apa barusan? Coba ulangi." Pinta Adrian.


"Aku sudah memaafkan mu."


"Bukan, bukan yang itu.. Terima kasih.. Terima kasih apa?" Adrian mengingatkan.


Afika tersenyum sungguh ia tahu, kalimat apa yang ingin Adrian dengarkan. Namun secepat kilat Afika berdiri dan langsung berlari menjauh dari Adrian.


"Sayang, coba ulangi sekali lagi."


"Sayang, sudah waktunya Lion minum susu." Teriak Afika, membuat Adrian tersenyum hingga membuat deretan giginya yang tersusun rapih terlihat.


"Terima kasih sayang. Sudah bertahan hingga sampai saat ini."


...Memperjuangkan, memperbaiki, dan mempertahankan. Bukan, kata menyerah, lalu manggantikan....


Cinta itu ibarat rumah, jika lampu yang rusak maka yang di ganti hanya lampunya saja, bukan mengganti rumahnya.


...Tamat...

__ADS_1


__ADS_2