Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Bau


__ADS_3

Aku tak mampu menolak pesonamu, sebab itu aku terbuai dengan dirimu


______________________________________


1 minggu kemudian


Angga dan Rika sudah kembali ke ibukota. Mereka tidak memboyong ikut serta Eland karena dirinya menolak berangkat bersama. Dia masih sangat menyukai tempat tinggalnya dengan semua tanaman sawitnya, dan memilih untuk tetap tinggal disana.


Sedangkan keadaan Angga sudah berangsur membaik. Bahkan luka tembakan pada punggungnya sudah benar-benar sembuh, hanya saja ia masih menahan hasratnya karena Rika sama sekali belum memberikan lampu hijau untuknya.


Seperti sekarang ini, Angga tengah sibuk-sibuknya dengan berkas-berkas miliknya di ruang kerjanya, karena sangat banyak pekerjaan yang harus di handelnya. Sejak tadi ia berharap agar Rika datang ke tempatnya dan bercinta disana.


Namun, semua itu hanyalah angannya saja yang belum kesampaian, sebab sejak tadi Rika tidak ada muncul sama sekali ketempatnya.


Setelah selesai pekerjaannya, Angga bergegas berjalan kearah kamarnya. Ia berencana ingin menghabiskan malam panjangnya memadu kasih bersama istrinya. Karena ia sangat lama tidak menunaikan hasratnya.


Sungguh, selama seminggu ini dia sangat tersiksa dengan keadaannya yang diharuskan berpuasa pasca dalam penyembuhan. Dipicu dengan keberadaan Rika yang berada disampingnya. Padahal menurutnya, semua itu tidak perlu menjadi alasan yang sebenarnya. Sungguh konyol larangan dokter tersebut.


Angga bersiul senang saat mencapai pintu kamarnya. Beberapa kali tangannya bergerak menyisir rambutnya dengan jari-jemarinya. Bahkan ia juga merapikan sedikit bajunya yang terlihat mulai kusut.


Senyum di bibirnya mulai tersungging manis saat membayangkan istrinya yang sudah siap dengan gaun tidur seksinya diatas ranjang.


Kepalanya menggeleng membayangkan semua itu. Seharusnya tadi ia meminta pada istrinya terlebih dahulu untuk bersiap.


"Berhenti!!" teriak Rika saat Angga sudah masuk kedalam kamar dan berbalik ingin menutup pintu kamarnya. Ia berbalik dan menatap kearah Rika dengan gerakan dagunya penuh tanya.


Seketika senyumnya langsung hilang. Bayangan mengenai Rika berbusana lingeria seksi hancur sudah. Bagaimana tidak hancur, keadaan istrinya di atas ranjang sungguh mengerikan. Dengan rambutnya yang acak-acakan dan terurai bebas. Bahkan pakaiannya baju tidur yang kebesaran dan panjang. Yang paling ngeri adalah matanya yang melotot dan memerah menatap kearahnya. Bahkan tangan Rika tampak sibuk menjepit hidungnya.


"Mas! Keluar!!" teriak Rika lagi.


Angga yang tadinya ingin mendekat kearahnya, langsung di urungkannya dan menghentikan langkahnya. Ia menatap penuh tanya kearah istrinya yang masih menutup rapat hidungnya.

__ADS_1


"Ada apa?" heran Angga. Ia masih berdiri pada posisinya.


"Mas bauuuu!!"


Angga melotot mendengar ucapan Rika. Menatap horor kearah istrinya. Dengan cepat dirinya mengangkat tangannya dan mencium keteknya berulang kali hingga membuat Rika merasa jijik dan segera berlari kearah kamar mandi.


"Hey. Mas tidak bau sayang. Mas wangi!!" teriak Angga saat melihat istrinya yang sudah menutup rapat kamar mandi.


Samar-samar Angga mendengar gemericik air yang keluar dari kran. Sepertinya Rika sedang mencuci wajahnya atau juga mencuci tangannya.


"Mas bau. Sangat bauuuu!!"


Terdengar teriakan Rika dari arah kamar mandi.


Sekali lagi Angga mencium dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak merasakan bau pada badannya karena sejam yang lalu dirinya baru saja selesai mandi.


"Haruskah aku mandi lagi?" Gumam Angga. "Kalau tidak mandi, maka malam indahku bisa berantakan!" gerutunya sambil berjalan keluar kamar untuk menuju kearah kamar mandi yang lain.


"Sayang! Bagaimana? Aku sudah wangi bukan?" Angga melongok di depan pintu kamar mereka. Ia sengaja tidak masuk sebelum Rika mengangguk terlebih dahulu. Rika hanya terdiam menatapnya.


Ia mencoba masuk kedalam kamarnya. Semerbak aroma sabun tercium mengisi seluruh ruangan kamar.


"Kamu bau sabun, ya Allah! Baunya sangat menyengat!!" Rika kembali menutup hidungnya.


Kenyataannya, Angga kembali mendapat penolakan dari istrinya. Angga tampak menggaruk kepalanya sekali lagi karena merasa sangat bingung dengan keadaan istrinya.


"Mandi sekali lagi. Jangan pakai sabun!" Rika kembali berlari kearah kamar mandi. Ia mencoba mencari udara yang belum tercemari oleh aroma sabun yang dipakai oleh Angga. Rasanya bau sabun tersebut sangat pahit.


Angga kembali membaui dirinya. Ia merasa kalau aroma tersebut sangatlah normal, bahkan sabunnya pun tercium sangat harum dan lembut.


Ia kembali melenggang dari kamarnya untuk mandi sekali lagi. Matanya menatap kearah kamar mandi yang tertutup sangat rapat. Kucuran air kembali terdengar dari dalam kamar mandi. Entah apa yang sedang di lakukan Rika didalam sana.

__ADS_1


Beberapa kali Rika membasuh mukanya untuk menormalkan keadaannya. Ia merasa mual dan pusing setiap kali Angga mendekat kearahnya.


Bukan kemauannya untuk menolak keberadaan Angga, namun ia merasa sangat sensitif terhadap bau-bauan. Bagaimana mungkin ia membiarkan semua itu kalau pada akhirnya dirinya kembali mual dan pusing.


Tok tok tok


Rika bergegas membuka pintu kamar mandi. Ia menatap kearah Angga yang rambutnya masih tampak basah. Rika merasa bersalah karena sudah dua kali dirinya menyuruh Angga untuk mandi, dengan alasan yang tidak masuk akal sama sekali.


"Sayang, bagaimana diriku, apakah masih bau atau sudah wangi?" Angga mendekat kearah Rika namun masih menjaga jarak yang aman. Ia tidak ingin membuat istrinya kembali lari ke kamar mandi karena dirinya.


Rika tersenyum dan mengangguk. Hidungnya berusaha membaui tubuh Angga. Aman! Tubuh Angga masih tercium normal.


"Yuhu!!" teriak Angga sambil meraih tubuh Rika dan membopongnya keatas ranjang. Meletakkannya dengan perlahan, menindihnya. Matanya menatap kearah wajah Rika yang terlihat malu. Bahkan dikedua pipinya terlihat semburat merah.


"Sayang, rambutmu masih basah. Sebaiknya kamu keringkan terlebih dahulu." Mengubah pembicaraan untuk mengalihkan suasaana yang terasa canggung dan memalukan baginya.


"Siapa tadi yang membuatnya basah?" Tersenyum menggoda kearah Rika yang sudah menutup wajahnya dengan bantal.


Angga membukanya dan menatap Rika dengan intens. Rika ingin memalingkan wajahnya, tapi tangan Angga sudah menahannya terlebih dahulu. Matanya beralih menatap kearah bibir Rika yang terlihat mungil dan tipis.


Ia meneguk ludahnya kasar. Mendekatkan wajahnya kearah wajah Rika hingga hidung mereka saling bersentuhan.


Angga memejamkan matanya saat bibir mereka bertaut. Ia memperdalam ciumannya, mencecapi manisnya bibir mungil tersebut. Mengulum dan menjilatnya bahkan memasukkan lidahnya mengabsen seluruh gigi-gigi milik Rika.


Dengan wajah menahan gairah, ia melepaskan seluruh pakaian milik dirinya dan juga Rika. Dengan penuh gairah juga mereka mengarungi malam panjang mereka hingga beberapa ronde kemudian hingga subuh. Luar biasa, hasrat mereka sudah tersalurkan.




__ADS_1


********


__ADS_2